<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poskolonial - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/poskolonial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jun 2023 14:21:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Poskolonial - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Malas atau Antikapitalis? Wacana Rasis dalam Kolonialisme</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/06/malas-atau-antikapitalis/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=malas-atau-antikapitalis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sawyer Martin French]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jun 2023 14:20:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1097</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alatas, Syed Hussein. 1977. The Myth of the Lazy Native: A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism [Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial]. Penerbit Frank Cass. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/malas-atau-antikapitalis/">Malas atau Antikapitalis? Wacana Rasis dalam Kolonialisme</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/The_Myth_of_the_Lazy_Native_cover_-e1687531796430-191x300.jpg?resize=191%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="191" height="300" class="size-medium wp-image-1098 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/The_Myth_of_the_Lazy_Native_cover_-e1687531796430.jpg?resize=191%2C300&amp;ssl=1 191w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/The_Myth_of_the_Lazy_Native_cover_-e1687531796430.jpg?w=400&amp;ssl=1 400w" sizes="(max-width: 191px) 100vw, 191px" />Alatas, Syed Hussein. 1977. </span><i><span style="font-weight: 400;">The Myth of the Lazy Native: A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism </span></i><span style="font-weight: 400;">[Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial]. Penerbit Frank Cass.&nbsp;</span></p>
<hr>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari zaman kolonial hingga hari ini, orang-orang pribumi di Asia Tenggara seringkali dicap dengan stereotip sebagai bangsa yang pemalas. Dalam karya monumental bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">The Myth of the Lazy Native</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syed Hussein Alatas membongkar mitos ini dan menjejaki asal-usul penyebutan “malas” dalam ideologi kapitalisme kolonial. Gambaran </span><i><span style="font-weight: 400;">inlander</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang malas justru dibaca sebagai konstruksi untuk menjustifikasi penjajahan serta mengabaikan perlawanan terhadap rezim kolonial.&nbsp;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">The Myth of the Lazy Native</span></i><span style="font-weight: 400;"> pertama kali terbit pada 1977, satu tahun sebelum </span><i><span style="font-weight: 400;">Orientalisme </span></i><span style="font-weight: 400;">oleh Edward Said lahir. Mirip dengan tesis Said, Alatas berargumentasi bahwa gambaran para penulis Barat atas bangsa-bangsa Timur senantiasa didistorsi dengan bias Eurosentris. Namun, jika karya Said kadang kala dituduh ahistoris lantaran membicarakan “Barat” dan “Timur” secara esensialis, sosiolog kelahiran Bogor ini justru menempatkan wacana Orientalis dalam sejarah kolonialisme dan proses ekonomi politik yang materiil. Alatas memaparkan bagaimana penjajah Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol sengaja menghancurkan kekuatan bangsa-bangsa pribumi lalu menghina ketika mereka menolak dieksploitasi dalam berbagai proyek perkebunan dan industri pertambangan milik penjajah. Bagi Alatas, Orientalisme merupakan hasil dari sejarah penjajahan.&nbsp;</span></p>
<p><b>Dari Pujian ke Ejekan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di masa awal ketika kapal-kapal Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara, bangsa-bangsa pribumi sering kali dipuji atas keterampilan mereka dalam kerajinan, pertanian, dan industri-industri kecil. Para saudagar dari Jawa, Melayu, dan Filipina juga terkenal sebagai kekuatan komersial besar yang pandai dan rajin dalam berdagang.&nbsp;&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, sejak abad ke-18, citra tersebut mulai berubah. Tiba-tiba, para pribumi yang dulu dipuji, mulai diejek dan dijuluki sebagai pemalas. Apa alasannya?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara garis besar, ada dua penjelasan yang ditawarkan Alatas atas kemunculan wacana ini. Pertama, kolonialisme berdampak besar pada masyarakat pribumi, sengaja menghancurkan kelas pedagang dan menyebarkan berbagai penyakit seperti malaria serta penggunaan candu. Kedua, definisi “malas” (</span><i><span style="font-weight: 400;">lazy</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">indolent</span></i><span style="font-weight: 400;">) dalam ideologi kolonial mengabaikan kerja keras yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari para petani dan nelayan. Pasalnya, para penjajah hanya menghargai kerja dalam industri-industri milik kolonial yang umumnya ditolak oleh masyarakat pribumi.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sayangnya, wacana rasis tersebut tidak selesai dengan kemerdekaan dan pengusiran penjajah. Kata Alatas, stereotip tentang pribumi malas tetap memengaruhi wacana akademik dan kebijakan pemerintah. Jika dipantau lagi, setelah hampir setengah abad sejak penerbitan buku ini, sepertinya mitos pribumi malas masih belum mati juga, dan kritik Alatas tetap relevan di masa kini.&nbsp;</span></p>
<p><b>Kapitalisme Kolonial</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alatas menegaskan bahwa “kapitalisme kolonial” di Asia Tenggara identik dengan monopoli. Kejayaan Belanda di bidang komersial diraih dengan kehancuran para pesaing dari bangsa-bangsa lokal melalui berbagai perjanjian dengan penguasa tempatan yang menjamin hak perdagangan eksklusif bagi Belanda. Alhasil, VoC (</span><i><span style="font-weight: 400;">Vereenigde Oostindische Compagnie</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) menjadi satu-satunya aktor besar dalam perdagangan, sehingga kelas pedagang pribumi lambat laun menghilang.&nbsp;</span></p>
<div id="attachment_1099" style="width: 235px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1099" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Syed_Hussein_al-Attas.jpg?resize=225%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="225" height="300" class="wp-image-1099 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Syed_Hussein_al-Attas.jpg?resize=225%2C300&amp;ssl=1 225w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Syed_Hussein_al-Attas.jpg?w=274&amp;ssl=1 274w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /><p id="caption-attachment-1099" class="wp-caption-text">Syed Hussein Alatas</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Gara-gara kolonialisme, kehidupan masyarakat pribumi menjadi kurang dinamis. Kegiatan ekonomi mereka dibatasi pada subsistensi dan perkebunan yang menyuplai Kompeni dengan berbagai komoditas yang mereka pasarkan. Ekonomi perkebunan diimplementasikan berlandaskan hierarki rasial yang mensubordinasi pekerja pribumi di bawah kalangan elit kulit putih. Di Jawa, dinamika tersebut muncul dalam sistem kerja paksa atau </span><i><span style="font-weight: 400;">cultuurstelsel</span></i><span style="font-weight: 400;">. Semua keengganan dan perlawanan bangsa pribumi terhadap sistem yang tidak manusiawi disalahtafsirkan oleh ideologi kolonial sebagai bukti kemalasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada skala lokal, para pendatang dari Tionghoa memenuhi peran sebagai pedagang-pedagang kecil. Dalam sistem rasial Belanda, hanya pribumi yang dikenakan kerja paksa, sehingga memungkinkan para pedagang asing untuk mendominasi kegiatan pasar. Konyolnya, kenyataan struktural ini lalu tercerminkan dalam wacana tentang “pribumi malas,” dan mereka kerap dibandingkan dengan bangsa Tionghoa yang dianggap rajin dalam bekerja dan berdagang.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Alatas, kolonialisme justru menghalangi perkembangan ekonomi di tengah masyarakat Asia Tenggara. Alih-alih dimekarkan oleh kolonialisme atau dibiarkan berkembang secara mandiri, tanah jajahan dihisap dan direpresi. Seandainya elit lokal tidak dihancurkan dan disubordinasi sebagai kelas birokrat kolonial, Alatas berkeyakinan bahwa masyarakat pribumi pasti bisa meraih modernisasi secara mandiri dengan menyerap teknologi dan pemikiran yang sedang berkembang di Barat.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian pembahasan Alatas terinspirasi oleh analisis Jose Rizal, seorang sarjana Filipina dari era kolonial yang pada 1890 menuliskan tentang “kemalasan bangsa Filipina.” Rizal mengakui bahwasannya bangsa Filipina terbelakang dan bersifat malas. Namun, ia tegaskan bahwa fenomena tersebut justru </span><i><span style="font-weight: 400;">hasil</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari penjajahan Spanyol yang telah membunuh sebagian besar penduduknya, merepresi, dan mencuri dari pengusaha-pengusaha lokal. Bagi Alatas, sama seperti Rizal, kebanyakan kekurangan dalam masyarakat pribumi justru bisa dilacak penyebabnya kepada proses penjajahan.&nbsp;</span></p>
<p><b>Malas atau Antikapitalis?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, layak dipertanyakan, apakah sifat “malas” yang disoroti para penjajah benar-benar harus dilihat sebagai kekurangan? Atau mungkinkah ada konflik dalam nilai yang membedakan ideologi penjajah dan kehidupan pribumi secara fundamental?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Jawa, sistem </span><i><span style="font-weight: 400;">cultuurstelsel</span></i><span style="font-weight: 400;"> dijustifikasi oleh kaum konservatif Belanda dengan alasan bahwa bangsa Jawa terlalu malas untuk dipekerjakan, kecuali kalau dipaksa. Di Semenanjung Melayu, bangsa Melayu dianggap terlalu sulit diatur, sehingga pemerintah kolonial Inggris mengimpor pekerja-pekerja dari Tiongkok dan India selatan untuk dikerahkan (secara terpaksa) dalam perkebunan karet dan pertambangan timah. Apakah fenomena ini benar-benar membuktikan bahwa masyarakat pribumi adalah pemalas?&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja tidak. Alatas membantah mitos tersebut dengan menegaskan bahwa menyambung hidup di masyarakat petani atau nelayan pasti membutuhkan kerja keras. Kalau pribumi itu malas, ia pasti sudah lama punah. Namun, para penulis Eropa yang menjuluki demikian sebetulnya tidak pernah benar-benar melihat kehidupan desa di Jawa atau </span><i><span style="font-weight: 400;">kampong</span></i><span style="font-weight: 400;"> di Malaya. Menurut Alatas, para penjajah hanya menghargai nilai kerja sebagai “bekerja” ketika aktivitas tersebut terjadi dalam produksi kapitalis yang menguntungkan penjajah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang membuat bangsa Melayu diberi julukan sebagai pemalas adalah penolakan mereka untuk dijadikan alat dalam sistem produksi kapitalisme kolonial” (72). Orang pribumi boleh saja bersusah payah menanam padi atau melaut mencari ikan, tetapi selama tidak mau diupah rendah sebagai buruh perkebunan tebu atau tambang timah, ia akan dianggap pemalas di mata penjajah.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, orang-orang Tionghoa yang didatangkan ke Semenanjung Melayu dipuji sebagai pekerja yang baik dalam citra penjajah Inggris. Mereka mau (atau biasanya ditipu atau dipaksa) bekerja untuk mendapatkan upah harian (yang jarang juga cair) demi keuntungan kolonial. Mirip dengan orang-orang Tamil dari India selatan yang didatangkan dengan tujuan yang sama. Dalam sebuah tulisan oleh seorang Inggris, mereka diibaratkan sebagai hewan bagal yang mudah dipekerjakan.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kapitalisme –terlebih kapitalisme kolonial –membutuhkan sumber daya manusia murah yang tenaganya bisa dihisap demi keuntungan sebesar-besarnya. Entah melalui penggusuran petani atau dengan penculikan dan perbudakan, sistem kapitalis selalu berusaha memastikan adanya kelas pekerja untuk dieksploitasi. Proses proletarisasi tersebut tidak mungkin terjadi tanpa perlawanan. Namun konyolnya, perlawanan tersebut justru dipahami oleh para penjajah sebagai semacam cacat dalam bangsa pribumi. Jika ideologi kolonial melihat sikap pribumi sebagai bukti sifat pemalas, Alatas mendorong kita untuk menafsirkan kembali serta menghargai makna “malas” sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim kapitalis dan kolonial.</span></p>
<p><b>Siapa yang Malas? Siapa yang Salah?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ironisnya, Alatas mencatat bahwasannya kaum kulit putih sendiri hampir tidak pernah terlibat dalam kerja keras dalam dunia kolonial Asia Tenggara. Mereka semua dimanjakan oleh hidup serba gampang karena dilayani terus oleh pembantu, </span><i><span style="font-weight: 400;">babu, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau kuli. Mereka adalah kelas yang tidak produktif dan parasitik, bertambah kaya atas upaya orang-orang yang dijajah. Di dunia kolonial, yang malas justru adalah si penjajah.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Alatas, wacana rasis yang sudah terbukti absurd ini bisa dipahami sebagai hasil dari “kegagalan dalam bertanggung jawab” (</span><i><span style="font-weight: 400;">misplaced responsibility</span></i><span style="font-weight: 400;">). Para penjajah “menyalahkan para pribumi untuk masalah-masalah yang mereka ciptakan sendiri” (205). Penjajahan telah menghancurkan kelas pedagang pribumi, mensubordinasi bangsa pribumi di dalam hierarki rasial, menyebarkan candu, memperluas sistem perbudakan, dan menyebabkan peningkatan kasus malaria.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, mereka berani menyalahkan pribumi sebagai bangsa pemalas?&nbsp;</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/malas-atau-antikapitalis/">Malas atau Antikapitalis? Wacana Rasis dalam Kolonialisme</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1097</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Teori Imperialisme, Masihkah Relevan? Taktik Negara Kaya Mempertahankan Ketimpangan</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/12/teori-imperialisme-masihkah-relevan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=teori-imperialisme-masihkah-relevan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rizaldi Ageng Wicaksono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2022 14:17:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=992</guid>

					<description><![CDATA[<p>King, Samuel T. 2021. Imperialism and The Development Myth: How Rich Countries Dominate in The Twenty-first Century (Imperialisme dan Mitos Pembangunan: Dominasi Negara-Negara Kaya di abad ke-21). Penerbit Universitas Manchester Press.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/12/teori-imperialisme-masihkah-relevan/">Teori Imperialisme, Masihkah Relevan? Taktik Negara Kaya Mempertahankan Ketimpangan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/imperialism-and-the-development-myth.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-993 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/imperialism-and-the-development-myth.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/imperialism-and-the-development-myth.jpg?w=333&amp;ssl=1 333w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" />King, Samuel T. 2021. </span><i><span style="font-weight: 400;">Imperialism and The Development Myth: How Rich Countries Dominate in The Twenty-first Century </span></i><span style="font-weight: 400;">(Imperialisme dan Mitos Pembangunan: Dominasi Negara-Negara Kaya di abad ke-21). Penerbit Universitas Manchester Press.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Telah lebih dari satu abad teori imperialisme Lenin dikonsumsi oleh masyarakat dunia, khususnya akademisi dan aktivis. Namun, apa itu imperialisme? Lebih jauh, masih perlukah teori imperialisme digunakan ketika membicarakan wacana geopolitik global kontemporer?</span><span style="font-weight: 400;"> Samuel T. King dalam buku ini menjawab dengan tegas: penting. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Imperialism and The Development Myth (How Rich Countries Dominate in The Twenty-first Century</span></i><span style="font-weight: 400;">), King menceburkan diri dalam sebuah perdebatan teoretis yang telah dilakukan sejak lama oleh berbagai akademisi dan peneliti Marxis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa di antaranya termaktub dalam perdebatan antara David Harvey dengan Prabhat Patnaik dan Utsa Patnaik. Mengaitkan dengan kebutuhan atas sumber daya alam pembangkit listrik, <a href="https://books.google.com/books/about/Seventeen_Contradictions_and_the_End_of.html?id=EDg_AwAAQBAJ">Harvey</a></span> <span style="font-weight: 400;">merefleksikan bagaimana pengurasan bersih kekayaan dari Timur ke Barat yang telah berlaku selama lebih dari dua abad, telah berbalik arah, khususnya semenjak India Timur terkenal sebagai pembangkit tenaga listrik dalam ekonomi global</span><span style="font-weight: 400;">. <a href="http://cup.columbia.edu/book/a-theory-of-imperialism/9780231179799">Utsa &amp; Prabhat</a></span><span style="font-weight: 400;"> menegaskan bahwa selama ini tidak ada perpindahan kekayaan, karena di satu sisi, negara Barat tidak dapat memproduksi komoditas di Asia karena masalah geografis. Itulah mengapa produksi yang berhubungan dengan komoditas sumber daya alam didorong tanpa harus membahayakan arus uang di kota (dan/atau negara imperialis).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Chris Harman dan Alex Callinicos dalam kritik mereka juga berupaya mempresentasikan teori Lenin dengan menghilangkan substansi dari teori imperialisme, yakni monopoli. Dalam argumen tersebut, tampak bagaimana neoliberalisme dipandang berhasil mendongkrak perkembangan ekonomi di negara-negara dekolonisasi. Salah satu fakta lain adalah bagaimana perkembangan industri di Tiongkok yang menantang dominasi Amerika Serikat, bahkan melampaui pertahanan dominasi unipolarisme (penguasaan satu negara terhadap negara lain –baik dalam segi militer, ekonomi, maupun budaya). </span></p>
<div id="attachment_994" style="width: 210px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-994" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/Sam-King.jpeg?resize=200%2C200&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="200" class="wp-image-994 size-full" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/Sam-King.jpeg?w=200&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/Sam-King.jpeg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/Sam-King.jpeg?resize=45%2C45&amp;ssl=1 45w" sizes="auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px" /><p id="caption-attachment-994" class="wp-caption-text">Sam King</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembahasan utama dalam buku ini merupakan upaya King dalam mempertahankan teori imperialisme, dan relevansinya saat ini. Pertama, ia menggugat anggapan akademisi yang percaya bahwa teori Lenin tentang imperialisme telah usang. Kedua, King juga menantang para pendukung teori imperialisme yang secara parsial menyadur dan mereproduksi teori tersebut. Ia menjelaskan kedua pandangan itu dalam buku yang terdiri dari lima bab. </span><span style="font-weight: 400;">Pada bab awal, King menunjukkan keterbelahan dunia di era neoliberal dalam kacamata geopolitik yang didorong oleh ketimpangan ekonomi politik global. Dalam bab dua, ia meninjau berbagai literatur beraliran Marxist yang menegasikan teori imperialisme, dan selanjutnya membahas Tiongkok yang kini dipandang sebagai ancaman bagi negara-negara imperialis </span><i><span style="font-weight: 400;">status quo. </span></i><span style="font-weight: 400;">Di bab tiga, King membicarakan teori imperialisme Lenin secara mendalam dengan menghubungkan konsep monopoli dan nilai guna kerja manusia yang dikemukakan oleh Marx dalam Das Kapital. Pada bab empat, King menggunakan teori imperialisme sebagai pisau untuk menganalisis situasi geopolitik kontemporer. Di bab akhir, King membantah pandangan akademisi yang menyebutkan Tiongkok sebagai negara imperialis baru. Ia berupaya membongkar alasan terselubung mengapa negara imperialis membombardir Tiongkok dengan berbagai propaganda media dan embargo ekonomi. </span></p>
<p><b>Negara yang Terbelah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembahasan tentang negara yang terbelah-belah dalam kutub ‘negara kaya’ (yang jumlahnya segelintir) dan ‘negara miskin’ (sebagai mayoritas penduduk dunia) ditunjukkan melalui data yang mudah ditelusuri, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita masing-masing negara. Jika dianalisis, 59,8 persen PDB per kapita dunia dikuasai oleh 32 dari 194 negara yang jumlahnya kurang dari 1 miliar penduduk dunia (13,6 persen). Sementara, 148 negara lainnya hanya menguasai 37,5 persen PDB per kapita yang di dalamnya terdapat 6 miliar lebih penduduk dunia (atau sebesar 85 persen dari total populasi). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Sam, penggunaan data PDB per kapita merupakan cara paling tepat –meski tentu ada kekurangan –untuk menganalisis ketimpangan antarnegara, ketimbang menggunakan analisis paritas daya beli (PDB-</span><i><span style="font-weight: 400;">purchasing power parity</span></i><span style="font-weight: 400;">). Ini didasari atas argumen bahwa PDB adalah ukuran pendapatan yang diterima oleh kelas pemilik modal (kapitalis) dengan kelas tak berpemilik modal (buruh) untuk menjual komoditas keseluruhan yang mereka miliki. PDB dengan demikian sangat berguna untuk membandingkan nilai pasar global (harga) produk tenaga kerja per orang.</span></p>
<div id="attachment_996" style="width: 460px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-996" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/graph-1.jpg?resize=450%2C418&#038;ssl=1" alt="" width="450" height="418" class="wp-image-996" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/graph-1.jpg?w=712&amp;ssl=1 712w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/12/graph-1.jpg?resize=300%2C279&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /><p id="caption-attachment-996" class="wp-caption-text">Gambar 1: GDP per kapita (sumber: Bank Dunia)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Angka-angka yang disajikan King dalam buku ini diambil dari situs web resmi Bank Dunia, di mana semua orang bisa mengakses data pekembangan angka PDB per kapita dari seluruh negara. Meskipun data PDB per kapita yang disadur dari Bank Dunia berhenti pada 2016, argumen King mengenai negara yang terbelah dan ketimpangan semakin menajam saat ini, masih menunjukkan ketepatan analisis jika kita lihat pada gambar di atas. </span></p>
<p><b>Latar Belakang Peminggiran Teori Imperialisme</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bab dua dan tiga, King menyelami latar belakang historis para penulis beraliran Marxist yang menolak imperalisme. Dalam bab ini, secara jelas King menantang para pemikir Marxist kontemporer yang banyak bermukim di negara Dunia Pertama laiknya Harvey (Amerika Serikat), Callinicos dan Harman (Inggris). </span><span style="font-weight: 400;">Menurut King, penolakan atas teori imperialisme di abad ke-21 dilandasi pada sejarah perjuangan antiimperialisme semenjak abad ke-20 yang terbagi dalam dua gelombang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gelombang pertama dimulai ketika teori imperialisme dicetuskan oleh Lenin. Terutama pada Perang Dunia I, ketika teori imperialisme digunakan sebagai alat analisis untuk menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut sama sekali merugikan kelas buruh. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya, tidak ada keuntungan yang didapatkan bagi kelas buruh ketika negara saling berperang. Itulah mengapa kelas buruh di negara-negara yang berperang harus mengorganisasi diri mereka untuk menolak agenda perang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gelombang kedua bertitik tolak pada peristiwa perjuangan pembebasan nasional di negara-negara terjajah, terutama pada rentang waktu pasca Revolusi 1917 Uni Soviet yang menghidupkan Kongres Komunis Internasional.</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam <a href="https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1920/jun/05.htm">laporan Lenin pada kongres kedua</a></span><span style="font-weight: 400;">, ia kembali menekankan bagaimana imperialisme semakin kuat, dengan mencontohkan fakta tentang dunia yang terbelah-belah. Lenin memperkirakan sekitar 70 persen populasi global hidup di wilayah dengan situasi ekonomi politik yang ditindas. Ini menjadi faktor mengapa perjuangan pembebasan nasional negara-negara terjajah harus dimenangkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakhirnya Perang Dunia I dan II yang berimplikasi pada kemerdekaan bangsa terjajah dari kolonialisme pendudukan militer, diikuti dengan masuknya negara-negara dekolonisasi menuju pasar tenaga kerja global, dianggap menandai tamatnya dominasi negara adidaya seperti Jerman, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan Jepang atas wilayah-wilayah pendudukan mereka. Melalui analisis historis, diikuti dengan pembahasan pemikir Marxist kontemporer yang meminggirkan teori imperialisme Lenin, King menyimpulkan bahwasannya imperialisme dalam narasi dominasi negara adidaya terhadap negara tertindas tak lagi relevan. </span><span style="font-weight: 400;">Fakta masuknya ekonomi Tiongkok ke pasar kapitalisme pun membawa keyakinan lebih tinggi bagi para revisionis teori ini untuk semakin mempercayai bahwa konsep imperialisme sudah tak signifikan.</span></p>
<p><b>Pengaplikasian Teori Imperialisme di Era Kontemporer </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab tiga merupakan kelanjutan upaya King menyelami teori imperialisme dan pengaplikasiannya terhadap perkembangan ekonomi politik kontemporer. Jika di bab sebelumnya King fokus pada pemblejetan argumen para penentang, pada bagian ini ia mencoba menganalisis relevansi teori imperialisme Lenin. Menurut King, sikap Lenin mengartikulasikan teori imperialisme sangat penuh kehati-hatian. Pasalnya, imperialisme selalu memiliki beberapa aspek utama, di antaranya monopoli, parasitisme, pembusukan, eksploitasi, berlanjutnya produksi komoditas, reaksi politik dan meningkatnya kontradiksi sosial akut, serta konflik.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian ini, pembaca awam akan dibingungkan dengan berbagai definisi teoretis khas Marxist yang jarang dikonsumsi masyarakat di Indonesia. Apalagi tatkala King mengulas perdebatan teori ilmiah atas kajian imperialisme secara lebih mendalam. Namun, karena penelitian King merupakan hasil riset doktoral filsafat, wajar jika nuansa perdebatan dalam buku ini sangat kental dengan perang wacana teoretis. Namun sebetulnya spektrum teoretis tersebut hanya terjadi di awal pembahasan saja, karena kemudian ia lebih lanjut memperdalam makna monopoli, dikaitkan dengan fakta relevan di lapangan. Salah satu contohnya misalnya persoalan riset dan pengembangan dalam ranah produksi yang menjadi inti monopoli di abad ke-21, dan hanya tersentralisasi di negara-negara imperialis.</span></p>
<p><b>Kapital Monopoli dan Nonmonopoli</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab empat buku ini mencoba membangun argumen bagaimana produksi komoditas dalam kapitalisme kontemporer masih mempertahankan ‘perpindahan tidak setara’ dalam rantai produksi global. Ia memperdalam pembahasan dari bab sebelumnya yang menyatakan bahwa dekolonisasi sebagai upaya pemerataan proses (ekonomi politik) yang akan memakmurkan Dunia Ketiga adalah semu. </span><span style="font-weight: 400;">King menyajikan data empiris mengenai rantai produksi global oleh berbagai perusahaan multinasional –baik yang bermarkas di negara Dunia Pertama maupun di Dunia Ketiga –dengan mengkaji tentang pembagian kerja. Ia membongkar rantai produksi komoditas bermerek dari Dunia Pertama yang memindahtangankan kerja perakitan mereka ke negara Dunia Ketiga.</span><span style="font-weight: 400;"> Contoh kasusnya adalah perusahaan Apple yang mengalihdayakan produksi ke Foxconn (Taiwan), tetapi tetap mempertahankan riset dan pengembangan perangkat lunak, desain, dan peranti teknologi di California. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, Apple secara efektif memangkas modal produksi, mengingat upah buruh perakit peranti di Tiongkok jauh lebih murah ketimbang Amerika Serikat. Di sisi lain, Foxconn tidak diberikan hak untuk mengakses hasil riset sebagai implikasi dari rezim hak paten dalam hukum internasional. Namun, pembagian kerja seperti ini hanya terjadi dalam produksi komoditas canggih. Komoditas yang relatif lebih mudah untuk diproduksi seperti tekstil atau alas kaki, tidak dikontrol oleh negara Dunia Pertama. Kasus ini merupakan contoh empiris bagaimana monopoli terjadi secara masif, menegaskan relevansi teori imperialisme Lenin di abad ke-21. </span></p>
<p><b>Tiongkok Bukan Negara Imperialis</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bab terakhir, buku ini menunjukkan kesalahan fatal bagi para penganut Marxist yang mempercayai bahwa Tiongkok merupakan negara imperialis baru. Dalam penyelidikan, King menunjukkan bahwa eskalasi riset dan pengembangan di Tiongkok masih jauh terbelakang dibandingkan dengan geliat di negara imperialis, padahal ekspansi perusahaan multinasional begitu menggeliat. Itulah mengapa menurut King, perang dagang yang melibatkan Huawei beberapa waktu belakangan tidak akan dimenangkan oleh Tiongkok. Hal tersebut terjadi karena Huawei belum mampu menciptakan </span><i><span style="font-weight: 400;">chip </span></i><span style="font-weight: 400;">mereka sendiri, alih-alih menggunakan material dari perusahaan berbasis di Amerika Serikat. Sehingga, kendati Tiongkok menunjukkan perkembangan industri pesat setelah masuk ke pasal global, mereka tidak akan mampu menyusul dominasi Amerika Serikat dan negara inti imperialis lain. King juga mengkritik propaganda oleh Amerika Serikat yang cenderung rasis. </span></p>
<p><b>Kesimpulan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara umum, buku ini memberikan gambaran jelas untuk memahami mengapa hampir seluruh negara-negara Dunia Ketiga tidak dapat meningkatkan kualitas produksi secara mandiri, misalnya dengan mengubah industri manufaktur padat karya ke industri modal. Fakta ini memunculkan pertanyaan lanjutan untuk kita: apakah dekolonisasi sudah benar-benar direalisasikan secara tuntas?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kekurangan dalam buku ini yakni munculnya berbagai wacana teoretis yang khas digunakan oleh intelektual Marxis. Hal tersebut membuat tulisan semakin sulit dipahami oleh pembaca di Indonesia, mengingat adanya sejarah kelam Genosida 65 yang banyak menyensor berbagai literatur Marxist bahkan hingga kini. Latar belakang Samuel T. King sebagai seorang doktor di dunia akademik, serta aktivitas dia dalam organisasi politik kepartaian membuat penelitian ini memiliki bobot berbeda pada kesimpulan akhir. Ia tak hanya berhenti pada relevansi teori imperialisme Lenin di abad ke-21 belaka. Lebih jauh, King mendorong persatuan kelas pekerja di negara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga untuk bersama-sama menghancurkan sistem kapitalisme dan imperialisme; moral intelektual yang sudah sangat jarang ditemui di lingkungan akademik kita hari ini. </span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/12/teori-imperialisme-masihkah-relevan/">Teori Imperialisme, Masihkah Relevan? Taktik Negara Kaya Mempertahankan Ketimpangan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">992</post-id>	</item>
		<item>
		<title>De Postkoloniale Spiegel: Refleksi Diri ‘Mantan’ yang Toxic</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/10/de-postkoloniale-spiegel/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=de-postkoloniale-spiegel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rhomayda A. Aimah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2022 15:06:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=968</guid>

					<description><![CDATA[<p>Honings, Rick, Coen van ‘t Veer &#038; Jacqueline Bel (eds.). 2021. De Postkoloniale Spiegel: De Nederlands-Indische Letteren Herlezen [Cermin Poskolonial: Membaca Kembali Sastra Hindia-Belanda]. Leiden University Press.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/10/de-postkoloniale-spiegel/">De Postkoloniale Spiegel: Refleksi Diri ‘Mantan’ yang Toxic</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/de-postkoloniale-speigel-e1666968189822-200x300.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-969 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/de-postkoloniale-speigel-e1666968189822.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/de-postkoloniale-speigel-e1666968189822.jpg?w=400&amp;ssl=1 400w" sizes="auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px" />Honings, Rick, Coen van ‘t Veer &amp; Jacqueline Bel (eds.). 2021. </span><i><span style="font-weight: 400;">De Postkoloniale Spiegel: De Nederlands-Indische Letteren Herlezen</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Cermin Poskolonial: Membaca Kembali Sastra Hindia-Belanda]. Leiden University Press.</span></p>
<hr>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika membaca sejarah nasional Indonesia, sangat mudah melihat Belanda sebagai ‘mantan’ yang </span><i><span style="font-weight: 400;">toxic</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Disebut ‘mantan’ karena Indonesia pernah punya masa lalu dengannya, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">toxic</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena ‘si mantan’ ini eksploitatif, rasis, seksis dan </span><i><span style="font-weight: 400;">abusive</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, persepsi yang bagi Indonesia sangatlah lumrah ini, ternyata tidak mudah disadari oleh Belanda.</span><span style="font-weight: 400;"> Buku </span><i><span style="font-weight: 400;">De Postkoloniale Spiegel </span></i><span style="font-weight: 400;">(2021), yang secara harfiah berarti ‘cermin poskolonial’ ini, memang layaknya sebuah cermin tetapi dalam wujud fiksi-fiksi Hindia-Belanda yang biasanya disebut </span><i><span style="font-weight: 400;">Nederlands</span></i><span style="font-weight: 400;">&#8211;</span><i><span style="font-weight: 400;">Indische letteren</span></i><span style="font-weight: 400;">. Melalui karya-karya fiksi Belanda tentang relasi Belanda dan Indonesia pada masa lalu tersebut, Belanda kali ini tidak mengamati dirinya sebagai ‘mantan yang menawan’ melainkan sedang berusaha untuk mengkonfrontasi segala keburukannya selama ratusan tahun ketika berada di Indonesia. Berhasilkah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Editor </span><span style="font-weight: 400;">buku</span><span style="font-weight: 400;"> ini menjelaskan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">De Postkoloniale Spiegel </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah salah satu upaya Belanda sebagai sebuah bangsa untuk melihat ke masa lalunya secara lebih kritis dan bahkan berhadapan dengan kejahatannya sendiri. </span><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, kemunculannya tidaklah serta merta. </span><span style="font-weight: 400;">Mereka melihat pendekatan poskolonial ini sebagai efek dari dinamika masyarakat Belanda yang kini merupakan sebuah masyarakat multi-etnis (</span><i><span style="font-weight: 400;">multi-etnische samenleving</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya pribadi mau tidak mau turut mengaitkan perkembangan ini dengan gerakan Black Lives Matter sebagai pemicunya, yang gaungnya mengglobal melampaui Amerika, dan magnitudonya secara politis sangatlah besar. Beberapa tahun terakhir, misalnya, protes yang terjadi di Eropa menuntut ditumbangkannya patung-patung kolonisator dengan rekam jejak jahat di Asia dan Afrika; tahun ini Belanda akhirnya meminta maaf kepada eks-koloninya, Indonesia, atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, setidaknya selama masa perang kemerdekaan Indonesia; dan raja Belgia sampai hari ini masih saja dituntut untuk secara formal meminta maaf atas kolonisasi Kongo.</span></p>
<div id="attachment_971" style="width: 160px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-971" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-5.-Baboe-met-kind-op-Java-1867-Koleksi-Perpustakaan-Universitas-Leiden-KITLV-e1666969351222-150x300.png?resize=150%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="150" height="300" class="wp-image-971 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-5.-Baboe-met-kind-op-Java-1867-Koleksi-Perpustakaan-Universitas-Leiden-KITLV-e1666969351222.png?resize=150%2C300&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-5.-Baboe-met-kind-op-Java-1867-Koleksi-Perpustakaan-Universitas-Leiden-KITLV-e1666969351222.png?w=350&amp;ssl=1 350w" sizes="auto, (max-width: 150px) 100vw, 150px" /><p id="caption-attachment-971" class="wp-caption-text">Baboe met kind op Java (1867) &#8211; Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden KITLV</p></div>
<p><i><span style="font-weight: 400;">&nbsp;De Postkoloniale Spiegel</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah sebuah proyek penelitian yang melibatkan banyak kontributor yang terdiri dari peneliti senior, peneliti muda, laki-laki, perempuan, dari Eropa dan Indonesia. Meskipun secara spesifik membahas sastra Hindia-Belanda, buku ini relevan untuk dibaca oleh siapapun yang ingin melihat dinamika pembacaan sejarah kolonialisme. Karya-karya yang dikaji di sini sangat beragam. Dan, meskipun teori besarnya adalah poskolonialisme, setiap penulis mengadopsi teori-teori yang lebih spesifik sesuai dengan karya sastra yang dianalisa di bab mereka masing-masing. </span><span style="font-weight: 400;">Buku ini mengkaji fiksi Hindia mulai dari karya klasik Multatuli </span><i><span style="font-weight: 400;">Max Havelaar</span></i><span style="font-weight: 400;"> (1860) yang cukup kritis saat itu, hingga yang terbaru, </span><i><span style="font-weight: 400;">Lichter dan Ik</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Dido Michielsen, 2021) yang memberikan suara lantang pada para </span><i><span style="font-weight: 400;">Nyai</span></i><span style="font-weight: 400;">. Di antara kedua karya tersebut, dikaji pula penulis-penulis kanon (seperti Louis Coupers, P.A. Daum, E. du Perron, Carry van Bruggen, Maria Dermoût dan Jeroen Brouwers); penulis perempuan (seperti Annie Foore, Mina Kruseman, Melati van Java dan Thérèse Hoven); novelis Indonesia yang menulis dalam bahasa Belanda (Suwarsih Djojopuspito dan Arti Purbani); serta penulis cerita remaja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini menyajikan narasi tandingan untuk melawan hegemoni arus utama yang bertahan berpuluh-puluh tahun seperti yang tertuang dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Oost-Indische Spiegel </span></i><span style="font-weight: 400;">(1972) karya Rob Nieuwenhuys, ‘dewanya’ sastra Hindia. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">De Postkoloniale Spiegel</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span> <span style="font-weight: 400;">Hindia-Belanda tidak melulu tentang glorifikasi dan romantisme </span><i><span style="font-weight: 400;">tempo doeloe</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena di sana, terlalu banyak masalah yang belum terselesaikan.</span></p>
<p><b><i>Vergangenheitsbewältigung</i></b><b> versi Belanda</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian pendahuluan, editor buku ini mengelaborasi beberapa hal penting, seperti latar belakang penyusunan buku, landasan-landasan teori terutama poskolonialisme dan orientalisme, dan logika pembagian babnya. P</span><span style="font-weight: 400;">embahasan dibuka dengan merunut secara singkat asal muasal kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda</span><span style="font-weight: 400;">, yang baru pada abad ke-19 secara efektif menjadi koloni Belanda hingga tahun 1945 (kecuali Nieuw-Guinea). Namun demikian, </span><span style="font-weight: 400;">meskipun Indonesia telah merdeka, memori orang Belanda tentang masa kolonial di ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">de Oost</span></i><span style="font-weight: 400;">’ (timur) masih tetap hidup. Di Belanda, pasar malam tahunan tetap diadakan, kuliner Indonesia sudah begitu melokal, dan tema Hindia-Belanda tetap ditulis di berbagai media dan dibuatkan filmnya. Tapi lensa yang dipakai untuk melihat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">de Oost</span></i><span style="font-weight: 400;">’ ini seringnya masih nostalgis dan kolonial.</span></p>
<div id="attachment_972" style="width: 249px" class="wp-caption alignright"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-972" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-4.-Moet-je-naar-huis-C.-Jetses-ilustrasi-Ot-en-Sien-in-Nederlandsch-Oost-Indie-2001-e1666969468681-239x300.png?resize=239%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="239" height="300" class="wp-image-972 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-4.-Moet-je-naar-huis-C.-Jetses-ilustrasi-Ot-en-Sien-in-Nederlandsch-Oost-Indie-2001-e1666969468681.png?resize=239%2C300&amp;ssl=1 239w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-4.-Moet-je-naar-huis-C.-Jetses-ilustrasi-Ot-en-Sien-in-Nederlandsch-Oost-Indie-2001-e1666969468681.png?w=500&amp;ssl=1 500w" sizes="auto, (max-width: 239px) 100vw, 239px" /><p id="caption-attachment-972" class="wp-caption-text">Moet je naar huis (C. Jetses) &#8211; ilustrasi Ot en Sien in Nederlandsch Oost-Indië (2001)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena Belanda hari ini adalah sebuah </span><i><span style="font-weight: 400;">multi-etnische samenleving</span></i><span style="font-weight: 400;">, tekanan untuk melihat bangsa-bangsa lain sebagai bangsa yang setara dan tuntutan untuk melihat masa lalu dengan pendekatan yang lebih kritis menjadi semakin besar. Pada tahun 2016, sebuah proyek penelitian sejarah besar-besaran bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Independence</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span><i><span style="font-weight: 400;"> Decolonization</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span><i><span style="font-weight: 400;"> Violence and War in Indonesia</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span><i><span style="font-weight: 400;"> 1945-1950</span></i><span style="font-weight: 400;"> diinisiasi oleh pemerintah Belanda untuk menginvestigasi kekerasan dalam perang kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini adalah kolaborasi lembaga-lembaga negara Belanda untuk kajian linguistik, geografi dan etnografi (KITLV), sejarah militer (NIMH), dan dokumentasi perang (NIOD). Hasil penelitian ini kemudian menjadi dasar bagi Perdana Menteri Belanda pada awal tahun 2022 untuk menyampaikan permintaan maaf atas nama Belanda kepada Indonesia. </span><span style="font-weight: 400;">Belanda masih terus berjibaku dengan masa lalu kolonialnya, atau yang disebut oleh editor sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">Vergangenheitsbewältigung</span></i><span style="font-weight: 400;"> versi Belanda, meminjam konsep Jerman </span><i><span style="font-weight: 400;">Vergangenheitsbewältigung</span></i><span style="font-weight: 400;"> (‘mengelola masa lalu’) untuk mengkonfrontasi gelapnya sejarah bangsa sendiri di seputaran Perang Dunia I</span><span style="font-weight: 400;">I. Bedanya, Belanda terkesan tidak ‘segalak’ Jerman sehingga proses </span><i><span style="font-weight: 400;">Vergangenheitsbewältigung</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya agak telat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sarjana-sarjana Belanda mulai membaca ulang sejarah kolonial Belanda. Fasseur (1969) sebenarnya sudah melaporkan adanya kekerasan selama perang kemerdekaan, lalu Limpach (2016) menjelaskan bahwa ternyata kekerasan itu terstruktur, dan Hagen (2018) menunjukkan segala macam perlawanan terhadap penguasaan Hindia-Belanda yang berlangsung berabad-abad. Sejarawan mulai memperhitungkan perspektif Indonesia juga, tidak melulu Belanda. Dalam tulisan Bossenbroek (2020), misalnya, Diponegoro dan Soekarno juga memainkan peran kunci. Van Reybrouck menulis </span><i><span style="font-weight: 400;">Revolusi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2020) dan merekam ingatan saksi mata dari Indonesia yang pada tahun 1945 masih sangat muda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Vergangenheitsbewältigung</span></i><span style="font-weight: 400;"> Belanda dianggap sudah mulai berjalan.</span></p>
<p><b>Teori-teori utama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Argumen mendasar untuk menjadikan sastra sebagai sumber kajian sejarah dan menyusun buku ini adalah bahwa k</span><span style="font-weight: 400;">arya sastra sangatlah krusial, bukan hanya karena teks adalah representasi dari sebuah kenyataan, tapi karena ia juga menciptakan sebuah kenyataan</span><span style="font-weight: 400;"> (Meijer, 2005). Untuk sampai pada poskolonialisme,</span><i><span style="font-weight: 400;"> Orientalisme </span></i><span style="font-weight: 400;">(Said, 1978) menjadi referensi penting. </span><span style="font-weight: 400;">Karya sastra tidak hanya mewakili opini individu, namun ditentukan oleh sebuah kompleksitas – teks, pengetahuan dan obyek – yang kemudian dinamakan diskursus (meminjam Foucault</span><span style="font-weight: 400;">). Dan, diskursus orientalis ini begitu kuat dan bisa menentukan interpretasi terhadap kenyataan pada level personal. Alhasil, gambaran tentang Timur (</span><i><span style="font-weight: 400;">Orient</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">de Oost</span></i><span style="font-weight: 400;">) ini justru banyak memberikan informasi tentang Barat (bagaimana Barat berpikir) daripada tentang Timur itu sendiri. Kita jadi tahu bahwa dalam diskursus kolonial, Barat memiliki visi dirinya secara lebih unggul dan dominan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sastra, gambaran Timur yang selalu negatif adalah diskursus kolonial yang bisa dideteksi. Orang Timur yang disamakan dengan binatang atau yang digambarkan “malas, penurut, kotor, pembohong, bodoh dan di atas itu semua: ‘beda’” adalah contohnya (hlm. 17). </span><span style="font-weight: 400;">Mengidentifikasi sang ‘liyan’ (</span><i><span style="font-weight: 400;">othering</span></i><span style="font-weight: 400;">) atau yang disebut Morrison (1992) sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">exclusionary mechanisms</span></i><span style="font-weight: 400;"> diperhatikan secara khusus dalam buku ini karena merupakan salah satu karakteristik yang muncul berulang dalam pendekatan kolonial, yakni menganggap Belanda superior sekaligus melihat Indonesia sebagai yang lain, asing, dan berbeda (</span><i><span style="font-weight: 400;">other</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<div id="attachment_973" style="width: 310px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-973" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/10/Ilustrasi-3.-Gezigt-of-Lebak-C.W.M.-van-de-Velde-1846-koleksi-Perpustakaan-Universitas-Leiden-KITLV.jpg?resize=300%2C212&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="212" class="wp-image-973 size-medium"><p id="caption-attachment-973" class="wp-caption-text">Gezigt of Lebak (C.W.M. van de Velde, 1846) &#8211; koleksi Perpustakaan Universitas Leiden KITLV</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Memiliki perspektif yang lebih inklusif (terlepas dari ras, kelas atau gender) adalah salah satu metode untuk berpikir kritis (poskolonial). Editor menegaskan bahwa yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">postkolonial</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam buku ini bukanlah periode setelah kolonialisme (seperti dalam ‘Post-Soeharto’ atau ‘post-reformasi’), melainkan merupakan pendekatan kritis terhadap teks-teks kolonial (hlm. 18). Karena itu, argumen Spivak (1988) tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">gender</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">subaltern</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjadi penting. Boehmers (1995, 2008) juga dijadikan rujukan untuk teori poskolonial yang secara khusus bisa diterapkan dalam fiksi, karena menurutnya, sastra kolonial dan poskolonial tidak hanya mengartikulasikan kepentingan kolonial atau kepentingan nasionalis, tetapi juga berkontribusi untuk membentuk, mendefinisikan, dan menjelaskan kepentingan-kepentingan tersebut.</span></p>
<p><b>Sastra Hindia-Belanda dalam tiga periode</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seluruh novel dan cerpen yang dikaji dalam buku ini dibagi ke dalam tiga periode besar sesuai kronologinya, yaitu ‘Het oude Indië’ (Hindia Lama) abad ke-19, ‘Van Indië naar Indonesië’ (dari Hindia ke Indonesia) pada paruh pertama abad ke-20, dan periode 1945 hingga sekarang.</span><span style="font-weight: 400;"> Sastra dalam periode pertama, meskipun ada yang cukup kritis terhadap pemerintah Belanda saat itu (seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">Max Havelaar</span></i><span style="font-weight: 400;">), atau cukup feminis (</span><i><span style="font-weight: 400;">Het huwelijk in Indië</span></i><span style="font-weight: 400;">), ternyata masih kolonial. </span><span style="font-weight: 400;">Tidak ada penolakan terhadap kolonialisme dalam karya-karya tersebut. Kesimpulan yang ditarik adalah bahwa hegemoni diskursus kolonial begitu kuat sehingga untuk memiliki pemikiran di luar itu sulit dilakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Awal abad ke-20 merupakan periode diberlakukannya kebijakan politik etis, yang dipicu oleh terbitnya “Een eereschuld” yang ditulis Conrad Theodore van Deventer (1899) di </span><i><span style="font-weight: 400;">De Gids</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pemerintah Belanda mulai mendirikan fasilitas umum seperti sekolah dan irigasi. Dilihat dari karya-karya sastra yang dibahas, meskipun stereotip kolonial masih kental di awal, namun novel Suwarsih Djojopuspito </span><i><span style="font-weight: 400;">Buiten het gareel</span></i><span style="font-weight: 400;"> ternyata bisa sangat anti-kolonial dan mulai merambah ke aktivisme nasionalis Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di periode terakhir, ketika Belanda sudah bukan bagian dari Indonesia lagi (atau sebaliknya), pembahasan utamanya adalah bagaimana para penulis Belanda berhadapan dengan kenyataan yang baru.</span><span style="font-weight: 400;"> Di awal periode ketiga ini, meskipun karya-karya mereka bernuansa post-kolonial (ditulis setelah runtuhnya kolonialisme), ternyata perspektifnya masih kolonial. Rasisme tetaplah masalah besar. Namun pendekatan poskolonial sudah terlihat dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Lichter dan ik</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika perspektifnya tidak lagi Belanda-sentris, melainkan perempuan, nyai, dan lokal (Jawa).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akhirnya, sejarah tidak bisa diubah, tapi perspektif bisa. Saya senang karena setiap peneliti di buku ini, ketika menjelaskan sebuah argumen (abstrak), secara spesifik menunjukkan kata-kata yang problematis dalam buku yang mereka kaji (konkrit). Ini membantu pembaca mengenali pemikiran-pemikiran yang sifatnya kolonial dalam bentuk tulisan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, belajar dari kisah ‘mantan’, Indonesia apa kabar? </span><i><span style="font-weight: 400;">Vergangenheitsbewältigung</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya sudah sampai mana nih?</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/10/de-postkoloniale-spiegel/">De Postkoloniale Spiegel: Refleksi Diri ‘Mantan’ yang Toxic</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">968</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Banda Neira: Kapitalisme, Kolonialisme, dan Bencana Krisis Global</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/07/sejarah-banda-neira/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sejarah-banda-neira</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tedy Harnawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2022 07:44:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=834</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ghosh, Amitav. 2021.“The Nutmeg’s Curse: Parables For A Planet in Crisis” (Kutukan Pala: Perumpamaan Untuk Sebuah Planet Dalam Krisis). Penerbit University of Chicago Press.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/07/sejarah-banda-neira/">Sejarah Banda Neira: Kapitalisme, Kolonialisme, dan Bencana Krisis Global</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/nutmeg-curse.jpg?resize=350%2C525&#038;ssl=1" alt="" width="350" height="525" class="alignright wp-image-835" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/nutmeg-curse.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/nutmeg-curse.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w" sizes="auto, (max-width: 350px) 100vw, 350px" />Ghosh, Amitav. 2021. </span><i><span style="font-weight: 400;">The Nutmeg’s Curse: Parables For A Planet in Crisis</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><span style="font-weight: 400;">Kutukan Pala: Perumpamaan Untuk Sebuah Planet Dalam Krisis</span><span style="font-weight: 400;">). Penerbit </span><span style="font-weight: 400;">Universitas Chicago</span><em><span style="font-weight: 400;">.</span></em></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam buku ini, </span><span style="font-weight: 400;">Amitav Ghosh menyatakan bahwa bencana global terhadap ekologi dan populasi sama sekali bukan permasalahan baru dalam peradaban umat manusia</span><span style="font-weight: 400;">. Pernyataan itu penting karena alam cenderung dianggap sebagai ruang atau komoditas terutama dalam historiografi sejarah global. Ia mengungkapkan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">sampai saat ini eksploitasi terhadap alam terus menjadi pola pertumbuhan ekonomi dunia</span><span style="font-weight: 400;">. Alam telah lama sekali mempengaruhi pemikiran dan perilaku manusia sehingga harus ditempatkan sebagai subyek pembentukan sejarah. </span><span style="font-weight: 400;">Lalu, konsekuensi apa yang dibawa ketika kita membicarakan alam atau </span><i><span style="font-weight: 400;">nature</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai entitas hidup dalam konteks imperialisme dan kapitalisme?</span></p>
<p><b>Penaklukan Banda: Alam Sebagai Objek</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bab-bab awal, Ghosh menarasikan sejarah perdagangan pala oleh Belanda pada abad ke-17 di Kepulauan Banda untuk mengeksplorasi hubungan manusia yang eksploitatif terhadap alam.</span><span style="font-weight: 400;"> Maluku yang dianugerahi gugusan kepulauan Banda yang indah, berada pada wilayah terpencil karena berada di wilayah palung laut paling dalam di Indonesia dengan beberapa gunung api vulkanik. Karena kondisi ekologis tersebut, Banda menghasilkan buah pala yang menjadi komoditas perdagangan rempah-rempah global. </span><span style="font-weight: 400;">Sejak awal, VOC melihat Banda semata-mata sebagai wilayah sumber daya alam karena menumbuhkan pohon pala yang menjadi tanaman endemik</span><span style="font-weight: 400;">. Maka, Banda menjadi medan perebutan orang-orang Eropa, yaitu Belanda, Inggris, dan Spanyol.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ghosh memulai dengan peristiwa sejarah untuk menjelaskan fenomena krisis ekologi yang dilakukan oleh Persekutuan Dagang VOC (</span><i><span style="font-weight: 400;">Vereenigde Oostindische Compagnie</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span><span style="font-weight: 400;"> Ketika itu, Belanda berkembang dalam era kedigdayaan imperium ekonomi, sains dan budaya yang mereka sebut sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">The</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Dutch Golden Age</span></i><span style="font-weight: 400;">. Namun, kemajuan imperialisme Belanda (dan Eropa Barat secara umum) merupakan praktik eksploitasi terhadap alam dan sumber daya manusia.</span></p>
<div id="attachment_836" style="width: 236px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-836" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/Amitav_Ghosh_by_Gage_Skidmore.jpg?resize=226%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="226" height="300" class="wp-image-836 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/Amitav_Ghosh_by_Gage_Skidmore.jpg?resize=226%2C300&amp;ssl=1 226w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/Amitav_Ghosh_by_Gage_Skidmore.jpg?w=400&amp;ssl=1 400w" sizes="auto, (max-width: 226px) 100vw, 226px" /><p id="caption-attachment-836" class="wp-caption-text">Amitav Ghosh</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita mengikuti narasi Ghosh tentang penaklukan Banda oleh VOC </span><span style="font-weight: 400;">yang dipicu oleh suatu kejadian aneh yang terjadi pada malam hari 21 April 1621.</span> <span style="font-weight: 400;">Saat itu, Belanda sudah berniat melakukan pengusiran terhadap orang-orang Banda dari Desa Selamon di Pulau Lonthor. Namun, sebuah lampu tiba-tiba terjatuh ke lantai di depan seorang pejabat VOC yang bernama </span><span style="font-weight: 400;">Martijn Sonck</span><span style="font-weight: 400;">. Ia merasa ketakutan dan menganggap kejatuhan lampu itu sebagai sebuah pertanda buruk bahwa orang-orang Banda mulai menyerang Belanda. Tanpa pertimbangan politik yang matang, Sonck </span><span style="font-weight: 400;">dan beberapa penasihatnya menembakkan peluru ke udara bertubi-tubi di tengah kegelapan meskipun orang-orang Banda tidak terlihat melakukan penyerangan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jendral VOC, sudah tiba di Banda dengan armada lebih dari lima puluh kapal dan pasukan lebih dari dua ribu orang. Ia menugaskan Sonck untuk menguasai beberapa rumah dan berunding kepada para tetua adat untuk meninggalkan desa. Coen mendengar suara tembakan itu dari kejauhan dan seketika murka. Ia menganggap orang-orang Banda telah melakukan konspirasi untuk menjatuhkan Belanda. Coen dan tentara Belanda memulai kampanye pengusiran dengan mencoba membujuk penduduk Banda untuk meninggalkan rumah mereka dengan damai. Namun, hanya beberapa yang tetap tinggal, sementara banyak penduduk lain memilih untuk melarikan diri ke hutan dan ke luar pulau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">VOC mengubah strategi dengan mengundang para tetua dan </span><i><span style="font-weight: 400;">orang kaya</span></i><span style="font-weight: 400;"> (syahbandar) ke kapalnya dan mereka berjanji akan pergi meninggalkan pulau dengan damai bersama para perempuan dan anak-anak. Namun Coen terlanjur menaruh curiga lalu mengumumkan kepada Dewan VOC bahwa mereka memilih untuk mati daripada menyerah. Para Dewan kemudian sepakat dan menyetujui sebuah resolusi yang menyatakan bahwa Selamon akan dibumihanguskan. </span><span style="font-weight: 400;">Pasukan VOC membakar dan membunuh orang-orang di Selamon dan menawan para laki-laki, perempuan dan anak-anak untuk menjadi budak di Jawa dan Sri Langka. Pulau Lontor menjadi kosong.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tragedi itu diterjemahkan Ghosh sebagai reaksi dari intuisi yang dipengaruhi oleh alam Banda yang malam itu gelap gulita tanpa sinar bulan. Suara-suara alam, gerak angin dan kegelapan membuat seseorang cemas dan takut terhadap ancaman yang datan</span><span style="font-weight: 400;">g. Selain itu, perlu digarisbawahi bahwa penaklukan wilayah oleh VOC juga dipengaruhi adanya ketidakseimbangan kekuasaan antara orang-orang VOC dan masyarakat Selamon yang berakibat pada penggusuran, penghancuran wilayah dan bahkan pembunuhan terhadap masyarakat. Orang-orang Selamon tidak mampu menandingi armada dan kekuatan pasukan militer Belanda karena mempunyai strategi politik, pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk menyerang penduduk Banda.</span></p>
<p><b>Desakralisasi dan Depopulasi: Perspektif Global</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bab-bab pertengahan, Ghosh menerangkan bahwa manusia bukan satu-satunya jiwa yang mampu memberikan makn</span><span style="font-weight: 400;">a. Maka, </span><span style="font-weight: 400;">kepercayaan animisme dan dinamisme yang mempercayai benda-benda memiliki spirit merupakan proses pemaknaan manusia yang bersumber dari alam</span><span style="font-weight: 400;">. Namun sayangnya, nilai-nilai spiritual itu yang coba dihapus oleh pengetahuan Barat pada abad ke-17.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Ghosh,</span><span style="font-weight: 400;"> imperialisme dan kolonialisme Eropa bukan hanya praktik penaklukan terhadap alam tetapi juga penguasaan terhadap sistem kepercayaan</span><span style="font-weight: 400;">. Ekspansi wilayah direncanakan dengan basis ideologi Barat tentang bagaimana orang Eropa memaknai alam yang disebut sebagai “metafisika”. Sejarah metafisika Eropa mengalami lompatan dalam pemikiran manusia yang mendefinisikan alam sebagai entitas yang mati dan bisu, sedangkan keberadaan manusia menjadi pusat entitas kehidupan. Sistem pemaknaan tersebut merupakan usaha desakralisasi yang menganggap alam sebagai “material” karena memiliki kualitas fungsi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Metafisika” kemudian berubah menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">ideology of conquest</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mendorong proyek kolonialisme Eropa di belahan dunia lain, misalnya penaklukan Amerika dan perdagangan budak orang-orang Afrika di wilayah Samudera Atlantik. </span><span style="font-weight: 400;">Orang Eropa memberi nama baru untuk menghapus sistem kepercayaan lokal dengan membubuhi kata “</span><i><span style="font-weight: 400;">New</span></i><span style="font-weight: 400;">” yang berarti “</span><i><span style="font-weight: 400;">Baru</span></i><span style="font-weight: 400;">” untuk wilayah yang berhasil dikuasai, seperti New England dan New Amsterdam</span><span style="font-weight: 400;">. Penaklukan tersebut melahirkan kesadaran tentang superioritas dan kelas penguasa. Pendirian daerah baru orang-orang Eropa di Benua Amerika telah menyingkirkan entitas kultural dan suku-suku asli yang dinilai “primitif”. </span><span style="font-weight: 400;">Mode pemikiran itu juga telah membunuh para penyihir perempuan miskin di Eropa yang dianggap pemuja setan dan suku-suku di Karibia yang dianggap kanibal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsekuensi dari penaklukan wilayah adalah depopulasi.</span><span style="font-weight: 400;"> Depopulasi ini merupakan tahap rekolonisasi di mana penduduk lama diusir dan penduduk baru didatangkan untuk menjadi pemukim. </span><span style="font-weight: 400;">Setelah Coen menguasai monopoli pala, terjadi tatatan sosial baru di Banda.</span><span style="font-weight: 400;"> Pertama, Belanda mengubah tanah-tanah menjadi perkebunan pala yang dimiliki oleh orang-orang keturunan Belanda (</span><i><span style="font-weight: 400;">perkeniers</span></i><span style="font-weight: 400;">) sebagai tuan tanah. Kedua, tuan tanah mempekerjakan para buruh kontrak, narapida, dan budak yang didatangkan dari beberapa wilayah di Semenanjung India, Jawa, Kalimantan, dan wilayah lain. Jumlah budak semakin banyak untuk membangun perkebunan pala yang lebih luas. Ketiga, Banda menjadi wilayah kosmopolit karena perkawinan campur dari kelompok ras dan multietnis yang berasal dari banyak wilayah. Pengusiran orang-orang Banda dari pulau membentuk masyarakat baru yang multikultur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu hal penting lainnya bahwa kekerasan menjadi sebuah metode klasik manusia untuk menguasai alam atau mendirikan koloni baru</span><span style="font-weight: 400;">. Elemen kekerasan tentu saja menjadi konteks yang sangat relevan sekaligus kontroversial dalam kasus-kasus dalam sejarah masa lalu dan kontemporer. Kekerasan banyak menyentuh isu lingkungan ke dalam medan konflik agraria seperti perampasan tanah, pembukaan lahan atau penggusuran. </span><span style="font-weight: 400;">Menurut Ghosh, aksi kekerasan oleh Coen dan pasukannya di Banda dapat dikatakan sebagai aksi “</span><i><span style="font-weight: 400;">genosida</span></i><span style="font-weight: 400;">” karena melibatkan perencanaan sistematis untuk mengusir dan membantai etnis tertentu.</span> <span style="font-weight: 400;">Meskipun keuntungan yang dihasilkan dari perdagangan pala di Banda telah menghasilkan laba hingga empat ratus persen, penaklukan Banda oleh VOC adalah penghancuran seluruh jaringan hubungan non-manusia yang menopang cara hidup tertentu.</span><span style="font-weight: 400;"> VOC menjadi kompi dagang yang paling unggul dan populer seantero Eropa Barat dan mendorong persaingan ekonomi diantara negara imperial Eropa Barat.</span></p>
<p><b><i>The Hidden Force</i></b><b>: Alam Sebagai Subjek </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab-bab terakhir, Ghosh menguraikan narasi dari pertanyaan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah kepercayaan atau tradisi lama sudah musnah dari generasi baru pada pendatang</span></i><span style="font-weight: 400;">?</span><span style="font-weight: 400;">” </span><span style="font-weight: 400;">Dengan tegas, Ghosh menjawab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Ia memberikan kejutan sudut pandang jika alam yang mempengaruhi manusia, bukan sebaliknya.</span><span style="font-weight: 400;"> Alam mempunyai kemampuan dan kekuatan tersembunyi yang memberi makna pada manusia. M</span><span style="font-weight: 400;">eskipun manusia tidak ada, alam akan terus hidup dan bergerak untuk merespon kondisi dan perubahan di sekitarnya. </span><span style="font-weight: 400;">Alam mampu menyimpan respon dan memori dari aktivitas manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ghosh memilih judul bab terakhir dengan frase “Hidden Force”. </span><span style="font-weight: 400;">Pemilihan itu cukup merepresentasikan sebuah kekuatan tersembunyi yang misterius namun kuat. </span><span style="font-weight: 400;">Kata itu diambil dari judul novel yang diterjemahkan dari bahasa Belanda, </span><i><span style="font-weight: 400;">De Stille Kracht</span></i><span style="font-weight: 400;">, yang ditulis oleh Louis Couperus, seorang sastrawan keturunan Indo-Eropa yang keluarganya telah lama bermukim di Hindia Timur sejak abad ke-18.</span><span style="font-weight: 400;"> Novel itu menjadi kanon sastra Belanda yang menyingkap adanya dorongan kuat dari alam Hindia Timur yang misterius dan penuh takhayul. Kehidupan masyarakat kolonial sebenarnya penuh dengan kecemasan dan ketakutan yang mengancam kekuasaan Eropa. P</span><span style="font-weight: 400;">emeran utamanya, Van Oudijck, adalah seorang Residen Belanda yang merasa terganggu dengan suara-suara aneh dan menolak kepercayaan lokal.</span><span style="font-weight: 400;"> Ghosh menuliskan,</span></p>
<blockquote><p><i><span style="font-weight: 400;">Dia (Van Oudijck), yang percaya dirinya berada di tempat yang telah ditaklukkan dan diatur sejak lama, sekarang mendapati dirinya berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat dia kendalikan atau pahami. Dia tidak mampu, terlepas dari upaya terbaiknya, untuk membungkam suara-suara yang membuat diri mereka terdengar di sekitarnya.</span></i></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Gambaran dalam fiksi itu menunjukkan bahwa nilai-nilai kultural dari alam tidak hilang meskipun sebuah wilayah telah diduduki dan digantikan oleh orang-orang baru.</span><span style="font-weight: 400;"> Perlahan-lahan, Van Oudijck mulai tenggelam dan percaya terhadap keberadaan spiritual yang mengitarinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengalaman personal juga dialami Ghosh ketika mendatangi Banda dan tinggal di sebuah hotel yang dibangun oleh Des Alwi, seorang penulis dan pemerhati cagar budaya dari Banda yang telah meninggal.</span><span style="font-weight: 400;"> Alwi menulis dalam bukunya bahwa jarang orang-orang yang tinggal di Banda menyebut dirinya sebagai “Orang Banda asli”. Tetapi, semua orang akan dianggap orang Banda jika mereka mengikuti adat Banda dan berbicara dialek Banda-Melayu. </span><span style="font-weight: 400;">Di antara masyarakat Banda yang kosmopolit, kepercayaan terhadap leluhur Banda tetap hidup. Mereka masih percaya pada kekuatan gaib seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">foe-foe</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">orang halus</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang terus menjaga Pulau Banda.</span></p>
<div id="attachment_841" style="width: 360px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-841" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/monumen.jpg?resize=350%2C234&#038;ssl=1" alt="" width="350" height="234" class="wp-image-841 size-full" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/monumen.jpg?w=350&amp;ssl=1 350w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/monumen.jpg?resize=300%2C201&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/monumen.jpg?resize=272%2C182&amp;ssl=1 272w" sizes="auto, (max-width: 350px) 100vw, 350px" /><p id="caption-attachment-841" class="wp-caption-text">Monumen untuk mengenang korban penaklukan J.P. Coen. (Foto oleh Amitav Ghosh)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sekitar hotel, ada sebuah sumur yang dijadikan tempat pembuangan terhadap empat puluh orang Banda yang dibunuh oleh Belanda setelah peristiwa 1621</span><span style="font-weight: 400;">. Orang-orang di Banda merekam jejak peristiwa penaklukan Banda sampai sekarang. Des Alwi kemudian membangun monumen untuk memperingati seluruh orang Banda yang menjadi korban. Tidak jauh dari sumur itu, terdapat rumah-rumah bertiang yang luas bekas kediaman para pejabat VOC pernah tinggal. Banyak cerita yang mengatakan hantu-hantu dan </span><i><span style="font-weight: 400;">orang halus</span></i><span style="font-weight: 400;"> berdiam di rumah-rumah itu. Di salah satu rumah besar, ada sebuah ruangan yang konon adalah tulisan seorang pejabat Belanda yang bunuh diri karena dihantui oleh roh penduduk Banda yang terbunuh dalam penaklukan. Alam menyimpan memori lebih lama dari peristiwa itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendekatan Ghosh dalam buku ini sangat penting sebagai arah baru penulisan historiografi Indonesia yang cenderung mengabaikan peran alam dalam sejarah proses pembentukan imperialisme, kolonialisme bahkan nasionalisme yang didominasi oleh politik dan ekonomi. Sebagai sebuah tulisan, buku ini juga harus dilihat tidak hanya sebagai esai historis, namun juga sebagai refleksi ekologis di mana lingkungan terus menjadi objek ekspansi dan eksploitasi manusia. </span><span style="font-weight: 400;">Untuk itu, cukup fundamental jika kita meletakkan peran alam sebagai subjek sejarah yang mempengaruhi kehidupan dan ekologi antara manusia dan alam.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/07/sejarah-banda-neira/">Sejarah Banda Neira: Kapitalisme, Kolonialisme, dan Bencana Krisis Global</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">834</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bisakah Non-Eropa Berpikir? Eurosentrisme dan Perebutan Ruang Otoritas Pengetahuan</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/06/bisakah-non-eropa-berpikir/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bisakah-non-eropa-berpikir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hilmy Firdausy]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2022 05:56:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Kritis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=815</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dabashi, Hamid. Can Non-Europeans Think? [Bisakah Non-Eropa Berpikir?]. London: Zed Books, 2015.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/06/bisakah-non-eropa-berpikir/">Bisakah Non-Eropa Berpikir? Eurosentrisme dan Perebutan Ruang Otoritas Pengetahuan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=192%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="192" height="300" class="size-medium wp-image-816 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=192%2C300&amp;ssl=1 192w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=654%2C1024&amp;ssl=1 654w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=768%2C1202&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=981%2C1536&amp;ssl=1 981w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?resize=1308%2C2048&amp;ssl=1 1308w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/71VsFA2ejUL.jpg?w=1401&amp;ssl=1 1401w" sizes="auto, (max-width: 192px) 100vw, 192px" />Dabashi, Hamid. </b><b><i>Can Non-Europeans Think? [Bisakah Non-Eropa Berpikir?]</i></b><b>. London: Zed Books, 2015.</b></p>
<hr>
<blockquote><p><i><span style="font-weight: 400;">“Fuck You, Walter Mignolo!”&nbsp; &#8211; </span></i><span style="font-weight: 400;">Slavoj Zizek</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku yang terbit pada tahun 2015 ini adalah rekaman dari polemik yang dialami Hamid Dabashi, seorang pemikir poskolonial dengan beberapa filsuf Eropa pada tahun 2013. Pemicunya adalah sebuah artikel yang Dabashi tulis untuk merespons artikel lainnya yang ditulis oleh Santiago Zabala dengan judul </span><a href="https://www.aljazeera.com/opinions/2012/12/25/slavoj-zizek-and-the-role-of-the-philosopher"><span style="font-weight: 400;">“Slavoj Zizek and The Role of Philosopher”</span></a><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Tanpa disangka, artikel Dabashi mendapat banyak sorotan, termasuk kritik dan olokan dari pihak-pihak yang tidak sependapat dengannya. Meski begitu, tak sedikit juga yang sependapat; Walter Mignolo dan Aditya Nigam adalah dua di antaranya (40).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam artikel Zabala tersebut, Dabashi melihat riak-riak eurosentisme dan pengekalan cara pandang imperial. </span><span style="font-weight: 400;">Hal ini bisa dimaklumi. Sebagai salah seorang pemikir poskolonial, Dabashi mengakrabi banyak model tulisan dan karya yang menyimpan tendensi kolonialistik. Termasuk juga, dia terbiasa mengawasi dengan cermat letupan-letupan orientalistik yang bergerak di bawah upaya-upaya monopoli kebenaran, termasuk monopoli otoritas yang sepertinya muncul dalam tulisan Zabala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Santiago Zabala dalam artikelnya tersebut menulis,&nbsp;</span></p>
<blockquote><p><i><span style="font-weight: 400;">“Ada banyak filsuf penting dan aktif hari ini ini: Judith Butler di Amerika Serikat, Simon Critchley di Inggris, Victoria Camps di Spanyol, Jean-Luc Nancy di Prancis, Chantal Mouffe di Belgia, Gianni Vattimo di Italia, Peter Sloterdijk di Jerman dan Slavoj Zizek di Slovenia, belum lagi mereka yang ada di Brasil, Australia, dan Cina.” (63)</span></i></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian pertama bukunya, Hamid Dabashi mengupas artikel Santiago Zabala. </span><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana yang tergambar dari satu potong paragraf di atas, Zabala secara tidak sadar ditengarai telah mengidap penyakit eurosentrisme. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks signifikansi “filsafat hari ini”, Zabala dengan rinci menyebut para filsuf Eropa dan tampaknya tidak merasa penting untuk melakukan hal yang sama dalam konteks non-Eropa. Ya, Zabala memang menyebut Brazil dan Cina, akan tetapi tak satupun nama filsufnya yang disebut di sana</span><span style="font-weight: 400;"> (64).</span></p>
<div id="attachment_818" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-818" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/dabashi.jpg?resize=300%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="300" class="wp-image-818 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/dabashi.jpg?resize=300%2C300&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/dabashi.jpg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/dabashi.jpg?resize=45%2C45&amp;ssl=1 45w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/dabashi.jpg?w=400&amp;ssl=1 400w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-818" class="wp-caption-text">Hamid Dabashi</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Masalah yang tampaknya sepele ini menjadi problem serius bagi Dabashi. </span><span style="font-weight: 400;">Potongan paragraf dalam artikel tersebut adalah penampakan bagaimana eurosentrisme masih berupaya merebut otoritas dan universalitas. Apa yang dinamakan “filsafat hari ini” adalah filsafat Eropa itu sendiri. Konsekuensi lainnya menurut Dabashi adalah, hari ini, filsafat orang Eropa disebut “filsafat”, sedangkan filsafat Islam atau non-Eropa disebut “etno-filsafat”</span><span style="font-weight: 400;"> (66). Ada perbedaan pengakuan perihal posisi di sini. </span><span style="font-weight: 400;">Eropa mendaku dirinya sebagai subyek pertama dan aktif, sekaligus menegaskan kalau non-Eropa lebih pantas diposisikan sebagai obyek yang pasif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, ini bukan lagi soal filsufnya, sebagaimana yang dituduhkan oleh Michael Marder (44), tetapi soal praktik berfilsafat yang punya tendensi superior, yakni seolah-olah tanpanya, tidak akan ada satu pemikiran pun yang dipandang bisa mencapai universalitas atau mendaku universal (64). Lebih jauh lagi, praktik berfilsafat semacam ini hanya mungkin lahir dalam sebuah iklim yang mewarisi keangkuhan imperial;</span><span style="font-weight: 400;"> terbiasa mendominasi dan mengambil alih suara-suara pinggiran yang berusaha terdengar.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana yang diakuinya, Dabashi memposisikan dirinya sebagai generasi pemikir pascakolonial. Baik dirinya maupun Mignolo mewarisi bahasa dan sistem kebudayaan yang sepenuhnya terinfeksi kehadiran kolonialisme (43). Karena itulah, Dabashi selalu menggunakan sudut pandang pascakolonial untuk memeriksa setiap sistem pengetahuan yang bekerja, yang melibatkan secara intensif relasi Barat-Timur. Dan untuk ini, Dabashi seringkali harus berterima kasih kepada Edward Said. Kontribusi dan pengaruh Said bagi tumbuhnya tradisi pembacaan kritis pascakolonial diurainya dalam bagian kedua buku ini (74).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bagian kedua, Dabashi menapaktilasi Edward Said (74-87). Dia bercerita bagaimana dirinya bertemu Said dan gagasannya dalam</span> <a href="https://monoskop.org/images/4/4e/Said_Edward_Orientalism_1979.pdf"><i><span style="font-weight: 400;">Orientalism</span></i></a><span style="font-weight: 400;"> (75-76). </span><span style="font-weight: 400;">Said digambarkan oleh Dabashi sebagai teman, guru sekaligus sosok heroik (79). </span><span style="font-weight: 400;">Bagi Dabashi, Said telah membukakan pintu untuk penemuan diri bagi banyak orang “kulit cokelat” yang selama berabad-abad telah kehilangan identitasnya. Said memberikan kepercayaan diri dan harapan, bahwa mereka juga bisa bersuara dengan lantang; mereka bisa berbicara atas nama dirinya sendiri, berpijak dengan kaki di atas tanah mereka sendiri </span><span style="font-weight: 400;">(77). Studi poskolonial yang digagas Said telah menjadi pintu bagi tumbuhnya kesadaran pascakolonial dalam diri intelektual bangsa-bangsa dunia ketiga, termasuk Dabashi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu kesalahan yang kerapkali bercokol dalam pikiran Barat adalah bayangan bahwa Timur-Tengah dan dunia ketiga masih begitu-begitu saja. Mereka tidak pernah berubah sejak leluhur mereka menginjakkan kaki di sana. </span><span style="font-weight: 400;">Pada bagian ketiga, dengan menjadikan Iran sebagai contohnya, Dabashi memperlihatkan bagaimana dinamika sosial-politik yang terjadi di Timur-Tengah bergerak dengan sangat dinamis, bahkan cenderung radikal</span><span style="font-weight: 400;"> (88). Ekses-ekses dan benturan-benturan yang seringkali terjadi, di satu sisi, memang tampak mendekatkan mereka kepada jurang konflik dan krisis elektoral (120). Namun, diakui atau tidak, </span><span style="font-weight: 400;">letupan-letupan problematika yang terjadi di Timur-Tengah telah menempa satu konstruksi kebudayaan yang memungkinkan mereka melahirkan para intelektual organik yang punya kesadaran dan aktualitas diri berikut kontur intelektualisme yang progresif.</span><span style="font-weight: 400;"> Dan kenyataannya, dampaknya tidak hanya bisa dirasakan dalam konteks Timur-Tengah, tapi juga oleh Eropa dan dunia secara umum.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata Dabashi;</span></p>
<blockquote><p><i><span style="font-weight: 400;">“Pagi telah pecah, dan ada banyak pawai sederhana dari pemuda di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, khususnya di sepanjang daratan Arab dan Muslim; semuanya mengenakan bandana hijau, dapat berbuat untuk saudara dan saudari mereka yang dibungkam di Iran. Mereka telah menyanyikan lagu asli mereka. Dan mereka tengah menunggu paduan suara global.” (122)</span></i></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang terjadi di Iran, Palestina dan wilayah lain di Timur Tengah tidak hanya membangkitkan kesadaran lokal, tapi juga telah sedikit menggerakkan kesadaran global.</span> <span style="font-weight: 400;">Relasi antara Barat dan Timur juga tidak lagi seketat dulu, tetapi sudah mulai cair</span><span style="font-weight: 400;"> dan gembok-gembok pintu yang selama berabad-abad ditutup, kini secara perlahan mulai dibuka. </span><span style="font-weight: 400;">Dengan kalimat lain, apa yang tampak di depan mata bukanlah praktik monopoli dan saling mendaku diri sebagai yang paling global serta universal. </span><span style="font-weight: 400;">Yang ada justru kenyataan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">dunia bergerak ke arah keragaman dan multikulturalisme. Dalam keberagaman ini, dialog bebas tendensi yang dilakukan dengan merdeka serta tulus adalah kuncinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian keempat, Dabashi kemudian mencoba membaca realitas yang terjadi di Timur-Tengah, seperti di Mesir, Iran, Syiria maupun wilayah lainnya (141).</span> <span style="font-weight: 400;">Pada wilayah-wilayah ini, Dabashi ingin memperlihatkan bahwa faktor pendorong dinamika sosial-politik tidaklah tunggal. </span><span style="font-weight: 400;">Terdapat hal-hal yang harus disyukuri, dan ada juga hal-hal yang harus diperbaiki. </span><span style="font-weight: 400;">Dabashi mengakui bahwa hambatan bagi kemerdekaan dan kedamaian di Timur Tengah tidak hanya lahir dari faktor-faktor eksternal, </span><span style="font-weight: 400;">seperti kehadiran bangsa-bangsa adidaya yang ikut campur urusan geopolitik sebuah negara, </span><span style="font-weight: 400;">tetapi juga dipengaruhi oleh faktor internal</span><span style="font-weight: 400;">, seperti kegagalan dalam memaknai tradisi, mendefinisikan eksistensi mereka di hadapan modernitas, yang pada akhirnya berefek pada perbedaan cara memandang serta menjalankan agenda-agenda kebudayaan, politik, sosial dan ekonomi. Perbedaan tersebut tak jarang berakhir pada perang saudara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, bagi Dabashi, perang yang kita saksikan kini bukan hanya sekadar perang fisik. Lebih krusial dari itu, perang yang terjadi adalah perang pengetahuan</span><span style="font-weight: 400;"> (265). Pengetahuan tentang apa? Ya tentang Timur Tengah dan Arab. </span><span style="font-weight: 400;">“Siapa mereka?” “Mengapa mereka seperti itu?” “Dan apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi masalahnya?”</span><span style="font-weight: 400;"> adalah pertanyaan-pertanyaan yang nyatanya tidak hanya dipikirkan oleh orang Arab, tetapi juga orang di luar Arab. Bahkan </span><span style="font-weight: 400;">dalam beberapa kasus, jawaban yang berasal dari intelektual non-Arab seringkali dianggap lebih otoritatif dibanding penjelasan yang coba diuraikan oleh orang Arab sendiri tentang masalah mereka sendiri.</span><span style="font-weight: 400;"> Tidak hanya di Arab, rezim pengetahuan semacam ini juga terjadi dalam konteks bangsa-bangsa pascakolonial.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang dipikirkan Hamid Dabashi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">“Can Non-Europeans Think?” </span></i><span style="font-weight: 400;">dan polemiknya dengan para filsuf Eropa merupakan gambaran betapa relasi Timur-Barat belum sepenuhnya cair. Kita masih melihat adanya tendensi eurosentrisme untuk memposisikan diri sebagai “yang universal”.</span><span style="font-weight: 400;"> Kita tidak sedang berbicara urusan sekadar kutip-mengutip referensi, tetapi lebih dari itu, masalah akan menjadi gawat kala universalisme rezim pengetahuan Eropa dijadikan alat untuk membenarkan segala bentuk invansi dan perang yang diinisasi Eropa untuk mencaplok wilayah-wilayah lain.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari ini, hal semacam itu bisa kita saksikan langsung ketika misalnya The New York Times dan media Barat dengan mudahnya memakai “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dies </span></i><span style="font-weight: 400;">(mati)” dan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Killed </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">terbunuh</span></i><span style="font-weight: 400;">)” ketika mengabarkan tertembaknya Jurnalis Palestina Shireen Abu Akleh oleh peluru Israel. Nama sang korban terpampang lengkap, tidak dengan nama penembaknya. Biarkan si pelaku tetap misterius, dan biarkan kebenaran tertutupi selamanya.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/06/bisakah-non-eropa-berpikir/">Bisakah Non-Eropa Berpikir? Eurosentrisme dan Perebutan Ruang Otoritas Pengetahuan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">815</post-id>	</item>
		<item>
		<title>CIA dan Penumpasan PKI: Melihat Peristiwa 1965 dalam Konteks Perang Dingin</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/11/cia-dan-penumpasan-pki-melihat-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cia-dan-penumpasan-pki-melihat-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sawyer Martin French]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2020 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Bevins, Vincent. 2020. The Jakarta Method: Washington&#8217;s Anticommunist Crusade &#38; The Mass Murder Program that Shaped Our World [Metode Jakarta: Proyek Antikomunisme Amerika Serikat dan Program Pembunuhan Massal Yang Telah Membentuk Dunia Kita]. Penerbit PublicAffairs. Pembantaian komunis pasca ’65 bukan hanya menjadi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, namun juga untuk<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/11/cia-dan-penumpasan-pki-melihat-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/11/cia-dan-penumpasan-pki-melihat-html/">CIA dan Penumpasan PKI: Melihat Peristiwa 1965 dalam Konteks Perang Dingin</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bevins, Vincent. 2020. <i>The Jakarta Method: Washington&#8217;s Anticommunist Crusade &amp; The Mass Murder Program that Shaped Our World </i>[Metode Jakarta: Proyek Antikomunisme Amerika Serikat dan Program Pembunuhan Massal Yang Telah Membentuk Dunia Kita]. Penerbit PublicAffairs.</p>
<hr />
<div><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/JakartaMethod_10c.jpg?resize=345%2C536&#038;ssl=1" alt="" width="345" height="536" class=" wp-image-50 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/JakartaMethod_10c.jpg?resize=193%2C300&amp;ssl=1 193w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/JakartaMethod_10c.jpg?w=435&amp;ssl=1 435w" sizes="auto, (max-width: 345px) 100vw, 345px" /></div>
<div>
<p>Pembantaian komunis pasca ’65 bukan hanya menjadi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, namun juga untuk seluruh dunia, begitu tulis Vincent Bevins, wartawan asli Amerika Serikat (AS), dalam <i>The Jakarta Method</i>. Ia menunjukkan bahwa pembantaian komunis di Indonesia merupakan kemenangan besar bagi pihak Amerika Serikat dalam Perang dingin, dan taktik-taktik kekerasan yang digunakan ditiru dalam kampanye-kampanye serupa di seluruh dunia. Pembunuhan dan penghilangan paksa menjadi bagian penting dalam strategi geopolitik AS untuk mendominasi negara-negara Dunia Ketiga.</p>
<p><b>Konteks Perang Dingin Sebelum 1965 </b></p>
<p>Bevins memulai cerita dalam bukunya dengan memaparkan latar belakang Perang Dingin. Setelah Perang Dunia kedua, dunia seakan-akan terbelah menjadi dua, yakni Blok Barat yang terdiri dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara kapitalis, dan Blok Timur yang terdiri dari Uni Soviet (URSS) beserta negara-negara komunis. Sisanya adalah “Dunia Ketiga” (<i>Third World</i>) yang terdiri dari negara-negara poskolonial, seperti Indonesia dan Brasil.</p>
<p>Buku ini kemudia menceritakan upaya-upaya AS dalam memerangi komunisme secara diam-diam di dunia ketiga (dan secara terbuka dengan senjata seperti di Vietnam) melalui peran CIA (<i>Central Intelligence Agency</i>, Badan Intelijen Negara AS).</p>
<p>Pada awal Perang Dingin, terdapat kebijakan dalam pemerintahan AS yang disebut “<i>the Jakarta Axiom</i>”. The Jakarta Axiom merupakan sebuah kebijakan yang menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga boleh bersikap netral dalam konflik permusuhan antara AS dan URSS. Namun, kebijakan ini berakhir pada tahun 1953 karena suasana politik di AS semakin menggila dengan ideologi antikomunisme (melalui “<i>McCarthyism</i>”). Ideologi antikomunisme tersebut hadir demi menjaga kepentingan pasar modal di negara-negara Dunia Ketiga.</p>
<p>Setelah tamatnya kebijkan <i>Jakarta Axiom</i>, setiap negara Dunia Ketiga yang tidak mendukung Blok Barat secara eksplisit dianggap ancaman bagi pemerintah AS. Atas alasan ini, CIA merekayasa kudeta di Iran pada tahun 1953 dan di Filipina, termasuk di Guatemala pada tahun berikutnya. Upaya ini terus berlanjut dengan memasukkan aktor-aktor pro-kapitalis dan Blok Barat ke dalam pemerintahan negara-negara tersebut.</p>
<p>Walaupun secara personal Soekarno bukanlah seorang komunis, tapi Ia mulai dianggap terlalu dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh pemerintah AS. Anggapan tersebut muncul lantaran sikap Soekarno yang anti pemerintahan AS dan tak segan menolak aliansi dengan AS dalam melawan Uni Soviet. Ditambah lagi, Indonesia menjadi tuan rumah bagi Konferensi Bandung (Konferensi Asia-Afrika) pada tahun 1955. Melalui konfrensi tersebut, Indonesia bersama negara-negara bekas jajahan lainnya mendeklarasikan hak-hak negara Dunia Ketiga dalam menentukan nasibnya sendiri dan bebas dari dominasi (neo)kolonial.</p>
<p>Bersamaan dengan Konferensi Bandung, CIA menghabiskan uang sebanyak 1 juta dolar dalam upaya untuk memenangkan Masyumi (sebagai unsur politik kanan dan antikomunis) di pemilu 1955. Para pemimpin AS semakin khawatir setelah melihat PKI mendapat 16.4 persen dari seluruh suara dalam pemilu tersebut, dan angka ini naik ke 27 persen dalam pemilu daerah tahun 1957.</p>
<p>Pada akhir 1950an ini, AS secara diam-diam mulai mulai menyokong para gerakan separatis di Indoensia yang secara terang-terangan antikomunis, seperti PRRI, Permesta, dan Darul Islam. Akan tetapi, lama-kelamaan pemerintah AS menyadari bahwa militer (yang dipimpin oleh Nasution) merupakan unsur paling anti-komunis diantara semua elemen. Maka, AS mulai merayu dan memberi dukungan kuat kepadanya. Sekitar tahun 1960, ribuan anggota TNI mulai dikirim untuk studi dan pelatihan di Amerika.</p>
<p>Pada awal tahun 1960an, di bawah presiden John F Kennedy (disingkat JFK), pemerintah AS mulai menggunakan strategi khusus dalam memerangi komunisme di negara-negara Dunia Ketiga. Pada saat itu, Iraq mempunyai partai komunis terbesar kedua (setelah Indonesia) dari negara-negara non-Soviet. Karenanya, di tahun 1963 CIA mendalangi kudeta untuk memenangkan partai Baath (yang antikomunis). Bahkan, AS turut memberikan daftar nama-nama anggota komunis untuk dibunuh, diculik, dan disiksa dalam penjara.</p>
<p>Kasus penting dalam strategi anti-komunis yang di waktu itu terbilang baru ini adalah kudeta militer di Brasil pada 1964 untuk menurunkan Presiden Jango—yang sedang mengkampanyekan program reformasi tanah. Penting dicatat bahwa dalam kasus ini, kudeta dilaksanakan tanpa bantuan AS secara terbuka—lain halnya dengan kudeta-kudeta anti-komunis sebelumnya seperti di Iran, Guatemala, dan Iraq. Namun, operasi ini dilaksakakan oleh tentara Brasil sendiri, yang sangat anti-komunis dan sudah lama memperoleh dukung dari pemerintah AS dalam kerjasamanya menumpas komunis.</p>
<p>Melalui kampanye Konfrontasi terhadap Malaysia yang dimulai oleh Soekarno pada 1963, AS mulai menjauh dari Soekarno dan menganggapnya bahaya karena dianggap teralalu “kiri”. Sejak saat itu, bantuan dari AS untuk Indonesia tiba-tiba berhenti mengalir, kecuali untuk ABRI.</p>
<p>Menjelang 1965, CIA mencari-cari jalan untuk memusnahkan PKI. Pihak yang dipercayakan di Indonesia dalam tugas ini adalah ABRI, khususnya Jendral Nasution dan Soeharto. Saat ini, terdapat dokumen-dokumen dari CIA yang mengatakan bahwa tujuan dari misi ini adalah untuk menggambarkan kudeta yang gagal oleh PKI dan pembalasan terhadapnya.</p>
<p><b>G30S dan Penumpasan PKI</b></p>
<p>Gerakan ini bernama G30S, terdiri dari segolongan pewira dari angkatan darat menculik dan akhirnya membunuh jendral-jendral besar pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Namun, G30S segera dikalahkan oleh Soeharto—yang anehnya tidak ditahan dalam peristiwa G30S. Soeharto lalu segera mencabut kekuasaan Soekarno dan menyelenggarakan propaganda besar, bahwa G30S merupakan rencana PKI untuk melakukan pembunuhan massal. Fitnah Soeharto juga menyasar pada Gerwani—organisasi perempuan besar yang memiliki kedekatan dengan PKI—melalui tuduhan bahwa para jenderal telah disiksa dengan kejam olehpara anggota Gerwani. Ilustrasi ini digambarkan dalam film propaganda “Pengkhianatan G30S/PKI”.</p>
<p>Banyak pertanda yang menunjukkan bahwa peristiwa G30S dan perkembangan politik setelahnya merupakan rencana CIA belaka untuk merekayasa penurunan Soekarno dan menghancurkan PKI. Tindakan Soeharto yang serba cepat serta gaya propaganda antikomunis yang digunakannya sangat mirip dengan ulah CIA dalam menumpas koomunisme di negara lain seperti Brasil, meskipun kenyataan yang sebenarnya masih gelap lantaran dokumen-dokumen dari CIA mengenai peristiwa ini masih dirahasiakan.</p>
<p>Penahanan dan pembunuhan massal terhadap PKI “sampai tuntas” di Indonesia dimulai dari Aceh pada tanggal 7 Oktober. “Operasi Penumpasan”—begitu disebutnya oleh ABRI—disambut riang gembira dengan bantuan dari pemerintah AS.</p>
<p>Selain bantuan senjata, CIA juga memberikan ABRI daftar nama-nama anggota PKI untuk dibunuh, ini persis seperti taktik yang digunakan di Guatemala (1954) dan Iraq (1963) sebelumnya. Setelah Supersemar dan jatuhnya Soekarno pada 10 Maret 1966, bantuan ekonomi dari AS pun langsung mengalir lagi. Soeharto membalas jasa AS tersebut dengan membatalkan rencana Soekarno untuk menasionalisasi minyak tanah dan membuka peluang untuk perusahaan tambang asing seperti Freeport.</p>
<p><b>Warisan 1965 terhadap Politik Global<br />
</b><br />
Peristiwa penumpasan PKI juga memiliki dampak penting terhadap politik internasional. Di Vietnam, di mana tentara Amerika memerangi pemerintah komunis sejak 1955, AS mulai bisa menerima kekalahannya lantaran telah ada partai komunis yang lebih besar se-Asia Tenggara yang berhasil dihancurkan.</p>
<p>Jatuhnya PKI—yang tidak angkat senjata sebagai upaya pertahanan diri—juga menjadi pelajaran bagi partai-partai komunis lain di Dunia Ketiga (misalnya Kamboja, Filipina, dan Chili) untuk mulai angkat senjata dan tidak bersandar pada politik demokratis.</p>
<p>Taktik yang digunakan dalam penumpasan PKI—terutama penghilangan paksa dan pembunuhan massal—juga diekspor dan digunakan dalam proyek-proyek antikomunis di negara-negara lain, seperti Guatemala, Brasil, Filipina, dan Sudan. Di Brasil, Chili, dan Argentina, program-program untuk menghilangkan unsur-unsur dan orang-orang komunis bahkan disebut “Operasi Jakarta” dan “Rencana Jakarta.” Di sini, “Jakarta” menjadi sinonim untuk pembunuhan antikomunis massal.</p>
<div id="attachment_51" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-51" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-2BAnticommunist-2Bextermination-2Bprograms-2Bmap.jpg?resize=750%2C486&#038;ssl=1" alt="" width="750" height="486" class="wp-image-51 size-full" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-2BAnticommunist-2Bextermination-2Bprograms-2Bmap.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-2BAnticommunist-2Bextermination-2Bprograms-2Bmap.jpg?resize=300%2C195&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-2BAnticommunist-2Bextermination-2Bprograms-2Bmap.jpg?resize=768%2C498&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-51" class="wp-caption-text">Peta pembunuhan massal antikomunis selama Perang Dingin</p></div>
</div>
<div>
<p>Program antikomunis global yang berhasil menghancurkan partai-partai komunis dengan pembunuhan massal ini mengakibatkan banyak negara-negara yang dulu memiliki semangat antikolonial melalui deklarasi Konferensi Bandung beralih menjadi sekutu-sekutu AS dan dikuasai oleh diktator-diktator. Berpusat di Chili, munculah “Operasi Condor,” yang merupakan jaringan internasional dengna tujuan untuk membunuh dan merepresi para komunis di seluruh Amerika Latin. Tugas ini dilaksanakan melalui kerjasama denga CIA dan berbagai kelompok fasis di negara-negara operasinya.</p>
<p>Pada tahun 1975, saat AS keluar dari Vietnam, di Indonesia masih ada banyak kamp-kamp penjara di mana para tahanan diwajibkan kerja paksa. Pada tahun yang sama, Soeharto juga menggunakan alasan anti-komunisme untuk menyerbu Timor Leste, padahal rezim di sana tidak berhubungan sama sekali dengan URSS, Tiongkok, atau Vietnam. Invasi terhadap Timor Leste ini tentu saja terjadi karena persetujuan AS. Perang yang berlanjut sampai tahun 1979 ini membunuh sepertiga dari seluruh penduduk Timor Leste.</p>
<p>Pada tahun 1979, terungkap bahwa rezim Pol Pot (Khmer Rouge) di Kamboja telah membunuh seperempat dari penduduk negaranya, dan Vietnam langsung menyerbu untuk menurunkannya. Tapi AS dan Soeharto tetap mendukung Pol Pot dan mencela intervensi (“agresi”) dari negara komunis seperti Vietnam.</p>
<p>Pada akhir dekade 1970an, ada sedikit pergeseran politik di Amerika Serikat di bawah presiden Jimmy Carter yang mulai kritis terhadap taktik-taktik brutal dalam Perang Dingin. AS berhenti mengekspor senjata ke negara-negara yang tidak menghormati “Hak Asasi Manusia” (HAM), yaitu negara-negara yang dalam pendiriannya terdapat keikutsertaan CIA! Penjualan senjata pun langsung diganti oleh sekutu-sekutu AS lain seperti Israel dan Taiwan. Melalui kemenangan Ronald Reagan pada pilpres tahun 1980, AS kembali lagi ke taktik-taktik antikomunis yang brutal.</p>
<p>Di tahun 1978 – 1983, militer di Guatemala melaksanakan kampanye pembunuhan massal untuk melawan komunisme. Kampanye ini secara khusus disertai dengan pembantaian orang-orang suku asli pribumi. Para tentara pembunuh ini juga didukung dan dilatih oleh pemerintah AS. Peristiwa ini memakan lebih dari 200,000 jiwa, termasuk dengan cara-cara pelenyapan paksa model “Jakarta.” Jumlah korban pembunuhan massal antikomunis di Amerika Latin mirip dangan jumlah korban ’65 di Indonesia.</p>
<p>Seiring jatuhnya URSS sekitar tahun 1990, perlahan-lahan operasi-operasi CIA dan perang-perang antikomunis menjadi lebih langka. Diktator-diktator yang bersekutu dengan AS pun akhirnya tumbang (dan dibiarkan oleh AS). Brasil, Indonesia, dan negara-negara lain memulai transisi ke demokrasi. Namun, warisan fanatasisme antikomunis masih mengakar kuat dan negara-negara tersebut terjerat dalam ekonomi kapitalis global beserta rezim-rezim internasional yang dikuasai Amerika Serikat.</p>
<p>Semangat dari Konferensi Bandung untuk Dunia Ketiga yang kuat dan mandiri bisa dibilang kini telah padam, dipadamkan oleh AS, CIA, dan sekutu-sekutunya.</p>
</div>
<div></div>
<div style="text-align: center;">* * *</div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/11/cia-dan-penumpasan-pki-melihat-html/">CIA dan Penumpasan PKI: Melihat Peristiwa 1965 dalam Konteks Perang Dingin</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">12</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Antropologi Marxisme Arab pada Era Poskolonial</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/09/antropologi-marxisme-arab-pada-era-poskolonial/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=antropologi-marxisme-arab-pada-era-poskolonial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sawyer Martin French]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2020 02:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Bardawil, Fadi. 2020. Revolution and Disenchantment: Arab Marxism and the Binds of Emancipation (Revolusi dan Kekecewaan: Marxisme Arab dan Ikatan-ikatan Emansipasi). Penerbit Universitas Duke.   Revolution and Disenchantment merupakan karya etnografi yang dengan peka dan teliti menceritakan perkembangan gerakan Marxis di Lebanon pada tahun 1960-70an. Tokoh-tokoh utama dalam cerita ini adalah para<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/09/antropologi-marxisme-arab-pada-era-poskolonial/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/09/antropologi-marxisme-arab-pada-era-poskolonial/">Antropologi Marxisme Arab pada Era Poskolonial</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family: arial;">Bardawil, Fadi. 2020. <i>Revolution and Disenchantment: Arab Marxism and the Binds of Emancipation</i> (Revolusi dan Kekecewaan: Marxisme Arab dan Ikatan-ikatan Emansipasi). Penerbit Universitas Duke. </span></strong></p>
<div>
<p><span style="font-family: arial;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/978-1-4780-0675-6_pr.jpg?resize=375%2C563&#038;ssl=1" alt="" width="375" height="563" class=" wp-image-55 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/978-1-4780-0675-6_pr.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/978-1-4780-0675-6_pr.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w" sizes="auto, (max-width: 375px) 100vw, 375px" /></span></p>
<hr />
<p><span style="font-family: arial;"> </span><i style="font-family: arial; font-size: inherit;">Revolution and Disenchantment</i><span style="font-family: arial; font-size: inherit;"> merupakan karya etnografi yang dengan peka dan teliti menceritakan perkembangan gerakan Marxis di Lebanon pada tahun 1960-70an. Tokoh-tokoh utama dalam cerita ini adalah para aktivis dan pemikir yang berkiprah di organisasi &#8220;Socialist Lebanon&#8221; (disingkat jadi SL), sebuah kelompok kiri Marxis yang tidak terikat pada Soviet. Fadi Bardawil, penulisnya, juga mengikuti tokoh-tokoh dari SL setelah bubarnya organisasi tersebut, dan pembaca menyaksikan berbagai upaya intelektualnya untuk menganalisis dinamika sosial dalam konteks yang semakin diwarnai oleh komunitas beragama alih-alih kelas ekonomi.</span></p>
<div>
<p>Dalam buku ini, antropolog lulusan Universitas Columbia itu menyajikan analisis yang sangat kaya, baik jika dilihat sebagai karya etnografi ataupun sebagai karya sejarah intelektual. Analisisnya memberikan kritik yang menarik terhadap narasi dominan dalam dunia akademik sekaligus menyumbangkan arsip pemikiran sebuah gerakan Marxis dari dunia Arab poskolonial.</p>
<p><b>“Kritik Epistemologi” terhadap Aktivis-aktivis Marxis di Dunia Islam<br />
</b><br />
Salah satu kesan terbesar dari <i>Revolution and Disenchantment</i> adalah perlawanan Bardawil terhadap sebuah kecenderungan dalam dunia akademik mutakhir yang ia sebut sebagai “kritik epistemologi” (<i>epistemology critique</i>). Jenis kritik ini terinspirasi dari argumen Edward Said dalam <i>Orientalisme </i>yang mengkaji kolonialisme dengan fokus ke ranah wacana dan pemikiran, bukan sekadar pada penjajahan dalam bentuk material. Maka darinyam di samping “orientalisme” sendiri terdapat istilah “<i>self-Orientalizing</i>” (meng-oriental-kan diri), sebuah julukan yang diberikan kepada orang-orang dari bangsa terjajah yang ikut percaya pada narasi Orientalis dan supremasi Barat.</p>
<p>Tuduhan semacam itu sudah cukup sering dilontarkan dari pemikir-pemikir poskolonial di Barat kepada berbagai jenis aktivis di negara-negara berkembang yang pendekatannya dianggap kebarat-baratan. Misalnya seperti tuduhan Saba Mahmood bahwa para pemikir Islam liberal merupakan “sekutu imperialisme,” atau kritik Joseph Massad bahwa aktifis-aktifis LGBT di dunia Arab punya perspektif yang orientalis dan pro-imperialisme Amerika.</p>
<p>Narasi tersebut juga sering diidentikkan dengan gerakan-gerakan Marxis dari dunia Islam. Dalam <i>Orientalisme</i>, Said sendiri sudah menunjukkan bahwa Marx terbawa pandangan yang rasis terhadap Dunia Timur, dan fakta demikian ini sering dirujuk sebagai bukti bahwa para aktivis komunis tersebut pun termasuk golongan <i>self-orientalizing </i>itu.</p>
<p>Menurut Bardawil, tuduhan ini berbau esensialisme yang simplistik karena menyaring semua aktor ke dalam dikotomi antara dua kelompok: yang “otentik” pada budayanya sendiri, dan yang kebarat-baratan, terayu oleh kerangka pemikiran penjajahnya, pengkhiat epistemologis.</p>
<p>Bardawil menegaskan bahwa tidak pantas kalau pemutaran ideologi dan teori secara global dilihat sebagai arus alir yang hanya searah (Barat ke Timur). Ia menyebut penelitiannya sebagai “studi lapangan di teori” (<i>fieldwork in theory</i>) yang memperhatikan “kehidupan sosial dari teori” (<i>the social lives of theory</i>) sebagaimana digunakan oleh para aktivis. Bardawil utamanya fokus pada proses penerjemahan (yang ia sebut <i>transfiguration</i>) yang menyesuaikan teori yang berasal dari dunia yang asing ke dalam konteks lokal (8).</p>
<div id="attachment_56" style="width: 212px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-56" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/image_6897232.jpg?resize=202%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="202" height="300" class="size-medium wp-image-56" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/image_6897232.jpg?resize=202%2C300&amp;ssl=1 202w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/09/image_6897232.jpg?w=484&amp;ssl=1 484w" sizes="auto, (max-width: 202px) 100vw, 202px" /><p id="caption-attachment-56" class="wp-caption-text">Fadi Bardawil</p></div>
<p>Contoh utama adalah pentingnya Paris sebagai pusat wacana radikal pada tahun 1960-an. Para anggota SL selalu mengikuti terbitan-terbitan baru dari Paris. Tapi ini bukan karena berguru pada Barat atau menelan mentah-mentah pemikiran Eropa. Tapi justru Paris saat itu berperan sebagai medan (atau &#8220;jembatan&#8221;) untuk pertukaran pemikiran revolusioner dari seluruh dunia. Dalam berbagai majalah terbitan Paris, para aktivis Lebanon dapat menelusuri pemikiran dari pemikir radikal lain dari dunia ketiga, seperti Mao Zedong, Che Guevara, dan Frantz Fanon, juga bersama para Marxis Barat seperti Gramsci.</p>
<p>Kerangka Marxis yang berasal dari Barat itu, tegas Bardawil, malah kerapnya digunakan untuk melawan kolonialisme sekaligus dominasi kapitalis lokal. Dan para pemikir SL senantiasa bersikap kritis terhadap bias barat yang tarkandung dalamnya dan berusaha menyesuaikan teori-teorinya dengan konteks lokal di Lebanon.</p>
<p>Menerut Bardawil, kritik epistemologi yang salah sasaran itu menunjukan <i>the metropolitan unconscious</i>, atau asumsi-asumsi di bawah sadar para akademisi yang terletak di metropol (pusat kekaisaran), baik &#8220;bule&#8221; maupun diaspora dari dunia poskolonial (seperti Said, Massad, dan Mahmood). Karena mereka paling rajin mengkritisi imperialisme, kadangkala mereka pun jadinya kurang peka terhadap masalah-masalah khas yang dihadapi dalam dunia poskolonial sendiri.</p>
<p>Bardawil menggarisbawahi ironisnya kalau akademisi mengkritisi aktivis; karena bagi akademisi, kemurnian dan kebenaran teori lah yang jadi ukuran utama, sedangkan bagi aktivis yang penting itu efektif-tidaknya sebuah teori sebagai sarana untuk menuju pembebasan kaum tertindas. Para aktivis, singkatnya, tidak punya <i>privilege-</i>nya para akademisi untuk mengutamakan kemurnian epistemologi.</p>
<p><b>Ringakasan Bab-bab:<br />
</b><br />
Buku ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama&#8211;yang mengandung tiga bab&#8211;menggambarkan aktivisme dan pemikiran SL pada era 1960-an saat mereka sedang semangat-semangatnya menggagas revolusi proletar (kelas buruh) terhadap kaum pemodal. Pada bagian kedua, tokoh-tokoh dari SL mulai berpaling dari impian itu lantaran melihat melaratnya politik antaragama dan sekte yang sudah berhasil memecah-belah rakyat jelata yang dulu ingin mereka satukan. Ini membuat impian revolusi berbasis kelas terasa tak terbayangkan lagi, dan para pemikir ini mulai mencari kerangka teoretis lain untuk memahami dinamika sosial dan lapisan-lapisan penindasan yang terjadi dalam Lebanon pada era 1970-an, terutama setelah mulainya perang saudara Lebanon pada tahun 1975.</p>
<p>Bab 1 menceritakan kehidupan para aktivis SL sebelum mendirikan organisasinya. Sebagian besar terbawa pemikiran nasionalisme Arab, terinspirasi oleh politik anti-kolonial dari Gamal Abdul Nasser, Revolusi Aljazair terhadap Perancis, dan perlawanan Palestina terhadap Zionisme. Tapi lama-lama, dan terutama setelah melihat gagalnya Republik Persatuan Arab (gabungan antara Mesir dan Suriah) pada tahun 1961, mereka mulai kecewa dengan politik Pan-Arabisme. Mereka melihat bahwa masalah-masalah yang dihadapinya butuh pendekatan yang jauh lebih rumit daripada sekedar anti-imperialisme semata. Mereka membutuhkan kerangka teoretis yang dapat melihat struktur sosial dan bentuk penindasan secara global antarnegara maupun lokal antarkelas. Alias, mereka membutuhkan Marxisme.</p>
<p>Bab 2 menggambarkan pemikiran dan gerakan SL pada era 1960an, termasuk kegiatannya dalam penerjemahan literatur Marxis cetakan Inggris dan Perancis dari seluruh dunia, seperti disebut di atas. Bardawil fokus pada tulisannya <em>Pengantar Membaca Manifesto Komunis</em>, dan bagaimana mereka menyesuaikan dan menerjemahkan karya klasik Marx tersebut ke dalam konteks Lebanon. Bardawil tegaskan bahwa teks-teks teoretis ini terutama digunakan untuk mengkritisi kelompok politik lain. Para komunis pro-Soviet dicap &#8220;miskin teori&#8221; karena melihat sejarah secara sederhana dan menganggap bahwa negara pra-kapitalis tidak mungkin mencapai komunisme tanpa sudah melewati kapitalisme dulu (62). Para Nasseris dikritisi karena hanya bicara &#8220;sosialisme&#8221; di bibir saja, tanpa mempermasalahkan kontrol atas sarana produksi (<em>means of production</em>) (71). Bab ini yang juga mengandung kritik terhadap &#8220;kritik epistemologi&#8221; seperti diterangkan di atas.</p>
<p>Dalam Bab 3, Bardawil membandingkan tanggapan para aktifis SL terhadap kekalahan Arab dalam perang melawan Israel pada tahun 1967 dengan tanggapan pemikir-pemikir lain. Ada pemikir Marxis lain seperti Sadiq Jalal al-Azm (asli Suriah) yang memberi otokritik ke dunia Arab yang mempermasalahkan keterbelakangan budayanya dan pemikiran agamisnya. Lain halnya dalam tulisan-tuliasn SL dari saat itu, yang memusatkan kritiknya pada kelas, struktur sosial, dan relasi kekuasaan yang ada dalam negara-negara Arab, bukan &#8220;budaya&#8221; lokal yang disalahkan (85).</p>
<p>Bagian II mulai menceritakan kekecewaan para pemikir SL dengan kerangka Marxis saat dihadapkan dengan mengingkatnya politik sektarian (antarkelompok beragama). Bagaimana mereka bisa menggalakkan revolusi proletar jika kaum proletar (kelas buruh) saja dipecah-belah dan mendukung kaum elit agamanya masing-masing?</p>
<p>Berlanjut dari masalah besar ini, Bab 4 memberi narasi tentang perkembangan pemikiran salah satu pemikir SL, yaitu Waddah Charara. Ia kecewa dengan dinamika organisasi, terutama kesombongannya dalam &#8220;memimpin&#8221; rakyat secara otoriter. Ia terus mengangkat pola pikir yang Maois (aliran Mao Zedong) yang mendorong para intelektual untuk merakyat dan belajar dari kaum tertindas, bukan sekedar memimpinnya dari atas. Charara lalu pindah ke kampung kaum buruh, tindakan yang disebut <em>etablissement</em> oleh para Maois Perancis. Dari pengalaman itu lah Charara mulai menghargai bentuk-bentuk solidaritas sosial yang di luar ranah kelas, seperti keluarga dan agama. Ia malah mulai menaruh harapan di bentuk-bentuk kebudayaan lokal sebagai sarana untuk mempromosikan revolusi kaum tertindas.</p>
<p>Bab 5 dimulai dengan perang saudara Lebanon dan pembunuhan di antara kelompok-kelompok beragama (Muslim Syi&#8217;ah, Muslim Sunni, dan Kristen). Dalam keadaan seperti itu, SL tidak mungkin melanjutkan aktifvsmenya, karena perjuangan kelas terasa sungguh mustahil di tengah-tengah perang saudara. Tapi Bardawil menjelaskan bawha semua aktivis tetap rajin memberi kritik sosial&#8211;kini terhadap semua pihak sosial dan politik dalam perang. Tapi mereka tidak lagi semangat menggerakkan revolusi. Mereka menjadi intelektual-intelektual yang tercerai berai, yang bergerak di bidang-bidang akademik dan kebudayaan, bukan bagian-bagian dari gerakan massal dan agen-agen kemajuan sejarah seperti dulu diharapkan.</p>
<p>Bukan hanya perang saudara di Lebanon, tapi tersebarnya ideologi Islamis secara besar-besaran pada era akhir 1970-an dan awal 1980-an menghadapkan semua pemikir Marxis Arab dengan masalah yang sama: identitas sosial selain kelas ekonomi menjadi semakin penting. Bab 6 membandingkan tanggapan para mantan aktivis radikal terhadap dunia sosial baru ini. Selain pendekatan Charara dan mantan SL yang lain yang memilih untuk mengundurkan diri dari ranah aktifisme, ada banyak dari kaum Maois yang menganggap bahwa Islamisme merupakan wujud perlawanan sejati dari rakyat, dan malah ada orang-orang Kristen yang masuk Islam karena menaruh harapan revolusionernya pada gerakan Islamis. Di lain pihak ada para Marxis seperti Sadiq Jalal al-Azm yang menganggap Islamisme sebagai ideologi yang dangkal dan terbelakang, maka ia membela &#8220;rasionalisme&#8221; sekuler (172).</p>
<p>Pada akhir bab ini, Bardawil mengingatkan kepada para akademisi di bidang sejarah intelektual bahwa perkembangan dan perdebatan ideologis seperti yang tersebut di atas tidak bisa dipahami dan dibandingkan seperti benda lepas yang tidak terikat pada masalah-masalah sosial dan politik khusus dari daerah dan zamannya. Maka darinya, dibutuhkan pendekatan etnografis yang bisa menerangkan &#8220;ruang masalah&#8221; (<em>problem space</em>, istilah dari David Scott) yang dihadapi aktor-aktor sosial yang menggagas teorinya untuk tujuan-tujuan tertentu.</p>
<p>Dalam buku ini Bardawil berusaha untuk mengembangkan analisis yang tidak terpusat pada Barat (atau <em>decentering the West</em>). Titik-tolak permasalahan bagi Bardawil bukan mirip-tidaknya atau terpengaruh-tidaknya SL dengan pemikiran Barat seperti para penggiat &#8220;kritik epistemologi.&#8221; Ia fokus pada masalah-masalah lokal yang dihadapi, bukan tren-tren transformasi epistemik secara global. Pendekatan ini jelas mempunyai kelebihan untuk memahami perkembangan gerakan seperti Marxisme Arab dengan segala seluk-beluknya.</p>
</div>
</div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/09/antropologi-marxisme-arab-pada-era-poskolonial/">Antropologi Marxisme Arab pada Era Poskolonial</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">14</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Liberalisme: Pandangan Sarjana Kristen Palestina Joseph Massad</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/08/islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhamad Rofiq Muzakkir]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2020 01:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Massad, Joseph. 2016. Islam in Liberalism (Islam dalam Liberalisme). Penerbit Universitas Chicago.  Tulisan ini pernah dimuat oleh Ibtimes.id  Dalam studi Islam kontemporer, ada tiga nama yang memiliki kontribusi besar dan sangat penting untuk diketahui oleh para pengkaji dalam disiplin ini. Nama tersebut adalah: Edward Said, Wael B Hallaq, and Joseph<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/08/islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-html/">Islam dan Liberalisme: Pandangan Sarjana Kristen Palestina Joseph Massad</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: arial;">Massad, Joseph. 2016. <i>Islam in Liberalism </i>(<i>I</i>slam dalam Liberalisme). Penerbit Universitas Chicago. </span><span style="font-family: arial;"></span><span style="font-family: arial;"><span style="font-family: arial;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/9780226379548.jpg?resize=373%2C560&#038;ssl=1" alt="" width="373" height="560" class=" wp-image-63 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/9780226379548.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/9780226379548.jpg?w=682&amp;ssl=1 682w" sizes="auto, (max-width: 373px) 100vw, 373px" /></span></span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Tulisan ini pernah dimuat oleh <a href="https://ibtimes.id/islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-kristen-palestina-joseph-massad-bagian-1/">Ibtimes.id</a> </span></p>
<hr />
<p>Dalam studi Islam kontemporer, ada tiga nama yang memiliki kontribusi besar dan sangat penting untuk diketahui oleh para pengkaji dalam disiplin ini. Nama tersebut adalah: Edward Said, Wael B Hallaq, and Joseph A Massad.</p>
<p>Ketiga sarjana ini memiliki banyak kesamaan: sama-sama berasal dari tradisi Kristen, berasal dari etnis Arab Palestina, dan yang paling penting mereka sama-sama kritis terhadap kesarjanaan Barat yang mendiskreditkan Islam. Untuk poin terakhir, barangkali tidaklah berlebihan kalau tiga orang tokoh ini disebut sebagai <i>the defenders of Islam </i>(para pembela Islam).</p>
<p>Dari tiga tokoh tersebut, Edward Said adalah nama yang paling dikenal. Pengaruhnya sangat luas, melampaui bidang <i>Islamic studies</i>. Ia dianggap sebagai pencetus kajian pos-kolonialisme dan menjadi rujukan bagi para penulis yang menggunakan paradigma ini. Ketika orang menyebut kritik terhadap epistemologi pengetahuan Barat, nama Said pasti tidak bisa ditinggalkan.</p>
<p>Nama kedua, Wael B Hallaq, dikenal secara lebih khusus oleh para peneliti bidang hukum Islam. Fokus tulisannya adalah membantah tesis-tesis orientalis terkait dengan status, asal-usul, dan perkembangan hukum Islam. Belakangan minat riset Hallaq meluas: mencakup bidang politik Islam dan teoretisasi kajian akademik Barat tentang Islam (orientalisme).</p>
<p>Nama ketiga, Joseph Massad, tampaknya relatif masih baru dan belum banyak dikenal, khususnya oleh publik di tanah air. Massad adalah profesor bidang sejarah intelektual di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Di kampus ini, ia bergabung dengan ‘geng’ intelektual pos-kolonial lainnya: Gayatri Spivak, Wael B Hallaq, dan mentornya sendiri almarhum Edward Said.</p>
<p>Massad adalah seorang Saidian (pengikut Edward Said) sejati. Hal tersebut tampak jelas dari beberapa karya yang ia tulis. Bukunya yang berjudul <i>Desiring Arabs</i> (2006) yang melambungkan namanya, bisa disebut sebagai buku yang menerapkan kerangka berfikir kritis Said dalam <i>Orientalism</i>. Buku ini mengupas tentang bagaimana dunia Barat pada abad kesembilan belas dan dua puluh merepresentasikan persoalan seksualitas dunia Arab.</p>
<p>Buku Massad lain yang sangat berpengaruh adalah <i>Islam in Liberalism</i> (2015) yang akan dikupas dalam tulisan ini. Buku yang diterbitkan oleh University of Chicago ini banyak mendapatkan pujian dari tokoh pos-kolonialis lainnya, diantaranya adalah Talal Asad yang juga banyak mempengaruhi Massad. Menurut Asad, buku ini dapat disejajarkan dengan karya-karya kritis Edward Said. Bahkan dari segi data, buku ini menurutnya jauh lebih kaya.</p>
<p><b>Tesis Besar Massad</b></p>
<p>Secara umum, ada tiga tesis besar yang diajukan oleh Massad dalam bukunya ini. <i>Pertama</i>, Massad menolak kecenderungan sebagian intelektual Barat pengkaji Islam, di antaranya adalah Leonard Binder dan Charles Kurzman yang mengapresiasi kecendrungan liberal dari sebagian tokoh-tokoh muslim. Tiga sarjana ini melihat bahwa Islam liberal (dalam pengertian Islam yang mengadopsi atau sejalan dengan nilai-nilai liberal Barat) adalah Islam yang paling layak untuk dipromosikan.</p>
<div id="attachment_64" style="width: 217px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-64" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/massad.jpg?resize=207%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="207" height="300" class="size-medium wp-image-64" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/massad.jpg?resize=207%2C300&amp;ssl=1 207w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/massad.jpg?w=350&amp;ssl=1 350w" sizes="auto, (max-width: 207px) 100vw, 207px" /><p id="caption-attachment-64" class="wp-caption-text">Joseph Massad</p></div>
<p><span style="font-size: inherit;">Bertolak belakang dengan hal tersebut, bagi Massad, liberalisme adalah murni produk Barat yang tidak layak dijadikan kerangka teoretik untuk melihat Islam. Liberalisme bukanlah produk pemikiran yang lahir secara organik dari kebudayaan Islam. Singkatnya, menurut Massad, Islam bertentangan dengan nilai-nilai liberalisme.</span></p>
<p><i>Kedua</i>, betapapun liberalisme adalah barang asing dalam kebudayaan Islam, Massad meyakini bahwa dalam proses terbentuknya identitas Barat yang liberal, terdapat ‘peran’ sentral Islam di dalamnya. Peran tersebut bukan dalam bentuk injeksi nilai-nilai moral filosofis ke dalamnya, tetapi dalam proses <i>self-identification</i>.</p>
<p>Sejak awal periode modern sampai saat ini, pada saat Barat mengkonstruksi dirinya sebagai peradaban liberal, Barat selalu membuat bayangan imajiner yang mereka anggap sebagai anti tesis dari konstruksi liberal yang ideal. Bayangan imajiner yang mereka hindari tersebut menurut Massad tidak lain adalah Islam. Jadi, Islam diciptakan sebagai <i>the other</i> (yang lain), untuk kemudian diingkari dan ditolak kembali.</p>
<p>Dengan kata lain, bagi Massad, peran Islam dalam lahirnya liberalisme Barat adalah sebagai anti tesis dan lawan dari ideologi ini. Konsepsi Barat terhadap Islam adalah kebalikan dari apa yang ingin dibangun oleh Barat tentang dirinya sendiri. Massad menyebut contoh, pada saat Barat mengidenfikasi diri sebagai sekular dan demokratik, mereka membayangkan Islam sebagai teokratik dan despotik.</p>
<p><i>Ketiga</i>, Massad mengingatkan bahwa liberalisme Barat bukan hanya sekedar pemikiran dan ideologi, tetapi juga proyek penjajahan. Menurutnya, liberalisme sesungguhnya sudah menyatu bahkan menjadi pelayan bagi kepentingan imperial Barat.</p>
<p>Barat menurut Massad bukan hanya terobsesi untuk mempromosikan nilai-nilai liberal yang mereka anut, tetapi juga menganggap bahwa nilai itulah yang paling unggul di atas sistem nilai lainnya. Di balik promosi nilai tersebut, ada keinginan terselip untuk menjajah. Barat ingin menciptakan tatanan dunia yang sesuai dengan liberalisme.</p>
<p>Siapapun yang menolak dan bertentangan dengan nilai liberalisme Barat, akan mendapatkan <i>stereotype </i>(cap negatif) sebagai irasional, patologikal, intoleran, psikopat, misoginis, neoretik, dan totalitarian. Massad mengingatkan muslim bahwa “penanaman nilai-nilai Barat harus dilawan melalui gerakan anti imperalisme”.</p>
<p>Buku Massad <i>Islam in Liberalism</i> menjelaskan sejumlah manifestasi pandangan dan proyek imperalistik untuk menyembuhkan Islam (to cure Islam), yaitu dalam bidang demokratisasi, isu gender dan seksualitas, isu Palestina dan semitisme, dan isu psikoanalisis. Tulisan ini akan mengupas yang pertama saja.</p>
<p><b>Islam dan Demokrasi</b></p>
<p>Massad mengamati bahwa para intelektual pengusung universalisasi liberalisme, memiliki kecendrungan untuk melihat topik demokrasi dari perspektif teori budaya (<i>cultural theory</i>). Sebagai implikasi dari penerapan teori ini dalam melihat ketiadaan demokrasi di mayoritas negara muslim, adalah munculnya tesis bahwa Islam secara kultural tidak sejalan dengan demokrasi. Sebaliknya, karena demokrasi berhasil dengan baik di negara mayoritas Kristen, demokrasi dianggap sebagai warisan dan pencapaian ajaran Kristen, khususnya Protestan.</p>
<p>Para intelektual di Barat, khususnya ilmuwan politik di Amerika, kata Massad, sering kali membangga-banggakan Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi. Mereka membuat klaim bahwa sekalipun Amerika adalah negara yang usianya sangat muda, tetapi demokrasinya paling tua. Menurut Massad, ini klaim yang sangat narsisistik. Secara implisit maksud dari klaim ini adalah untuk menunjukkan adanya suatu nilai relijius, khususnya Protestan, dan unsur etnosentris <i>whiteness </i>(kulit putih) di balik keberhasilan demokrasi di Amerika.</p>
<p>Kecendrungan untuk melihat Kristen secara inheren demokratis, dan Islam totalitarian, menurut Massad sebenarrnya sudah ada sejak awal periode modern. Montesquieu (wafat 1755), salah seorang pemikir zaman pencerahan, misalnya menggunakan istilah “<i>oriental despotism</i>” (kezaliman orang Timur) untuk menunjukkan kediktatoran penguasa muslim dalam sejarah Islam.</p>
<p>Kecendrungan demikian kemudian diteruskan oleh pemikir Barat dari generasi selanjutnya. Max Weber (1920), sosiolog yang menekuni topik modernitas, misalnya mengasosiasikan rasionalisasi, sains, dan nalar kepada Kristen. Kata Massad, Weber bahkan menjadi model sarjana yang selalu menempatkan Barat Eropa sebagai superior dan bangsa Timur sebagai inferior.</p>
<p>Samuel Huntington (wafat 2008), yang sangat terpengaruh oleh paradigma Weber tentang agama dan pembangunan, juga mengajukan tesis serupa. Menurut Huntington demokrasi akan <i>prosper </i>(berhasil dengan baik) jika kebudayaan yang mendasarinya adalah Kristen. Islam sebaliknya sulit menjadi demokratis karena watak birokrasinya yang sentralistik, di samping faktor kultural (ajaran dan doktrin agama) yang secara inheren tidak kompatibel dengan sistem demokrasi.</p>
<p>Huntington kembali mengamplifikasi warisan orientalis periode sebelumnya dengan menyebut bahwa sultanisme (sistem tata negara periode Islam klasik) adalah sistem yang despotik. Bahkan menurutnya sistem kesultanan lebih dekat kepada komunisme daripada demokrasi karena menerapkan doktrin totalitarian.</p>
<p>Massad menolak keras tesis tentang <i>oriental despotism</i> ini. Ia mengutip koleganya, Wael B Hallaq, untuk meruntuhkan tesis prejudis tersebut. Istilah despotik dan tirani yang digunakan oleh para sarjana barat, menurut Hallaq dan Massad, sebenarnya adalah proyeksi sistem monarki Barat pada abad pertengahan atau abad pra reformasi gereja dan revolusi Perancis. Jadi, istilah itu digunakan untuk men-<i>stereotype </i>orang lain, tetapi sebenarnya menggambarkan pengalaman dan kapasitas diri sendiri.</p>
<p>Dalam sistem politik Eropa pra reformasi, para raja memiliki kekuasaan yang absolut. Mereka memiliki peran eksekutif dan legislatif sekaligus. Sebaliknya, dalam sejarah Islam, para sultan dan khalifah memiliki otoritas yang sangat terbatas. Mereka tidak memiliki peran legislasi. Peran membuat regulasi dipegang oleh para juris (fukaha) yang mengatur <i>civil affairs</i> (urusan sipil) atau urusan keseharian masyarakat.</p>
<p>Para khalifah hanya mengatur urusan penarikan pajak, menentukan para hakim, dan keamanan teritori. Wewenang mereka juga dibatasi oleh hukum yang ditentukan oleh para ulama, bukan oleh mereka sendiri. Lebih dari itu, mereka juga tidak bisa melakukan penetrasi kepada masyarakat. Mereka tidak memiliki sistem dan aparatus birokrasi modern seperti zaman sekarang.</p>
<p>Menurut Massad, dengan mengutip Hallaq, jika pun ada praktek despotisme dalam sejarah Islam, kadarnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan despotisme dalam sejarah politik di Eropa.</p>
<p>Massad melanjutkan, kecendrungan mendiskreditkan Islam sebagai agama yang secara inheren tidak sesuai dengan demokrasi juga dapat ditemukan pada pemikiran seorang filosof Aljazair-Perancis kontemporer, Jacques Derrida (wafat 2004). Dalam esainya terkait nalar (<i>reason</i>), ia menyebut bahwa Islam adalah satu-satunya agama atau nilai teokratik yang memberikan inspirasi dan bahkan mendeklarasikan penolakan terhadap demokrasi.</p>
<p>Terkait dengan ini, menurut Derrida, peradaban Judeo-Kristen Barat memiliki tanggungjawab dan misi untuk memberadabkan orang-orang Islam. Barat perlu berjuang sekuat tenaga untuk melawan kelompok yang menolak sekulerisasi politik dan mendukung tafsiran al-Quran para sarjana muslim yang menerima demokrasi.</p>
<p>Massad kemudian melanjutkan, kecendrungan untuk melihat agama sebagai faktor penentu ini, sayang sekali tidak digunakan secara konsisten. Ia menyebut bahwa tidak ada seorang intelektual Barat pun yang menggunakan argumen kultural untuk menjelaskan sistem perbudakan terhadap ras kulit hitam dan genosida terhadap suku asli Indian di sejarah Amerika. Tidak ada yang menganggap itu adalah produk teologi Kristen, sekalipun pelakunya adalah orang-orang Kristen.</p>
<p>Teori budaya juga absen dari penjelasan mengenai fenomena diskriminasi terhadap kelompok minoritas Mormon dan diskriminasi terhadap perempuan di Amerika. Sehingga, menurut Massad, apa yang kemudian muncul adalah fenomena <i>muslim exceptionalism</i> yang ironis dan hipokrit, di mana faktor budaya dan agama hanya bisa diterapkan untuk membaca masyarakat muslim.</p>
<p><b>Misi Liberalisasi</b></p>
<p>Massad mempercayai bahwa ideologi liberalisme, sejak awal ia lahir, dirancang untuk diproyeksikan ke luar masyarakat Barat. Mengutip pandangan Talal Asad dalam <i>Europe against Islam</i>, Massad juga meyakini bahwa misi Barat adalah membuat tradisi Islam sesuai dengan gambaran Kristen Protestan yang liberal. Dengan kata lain, misi Barat adalah mentransformasikan Islam agar menjadi agama yang seperti Protestan (“<i>to transform Islam into a Protestant-like religion</i>”).</p>
<p>Massad menyebutkan beberapa contoh fenomena. Diantaranya adalah fakta di mana pada awal abad dua puluh sarjana Islamisis Barat mendorong dilakukannya reformasi teologi Islam agar sesuai dengan proyek modernitas Barat.</p>
<p>Massad misalnya menyebut pandangan Ignaz Goldziher, seorang orientalis ternama dari Hongaria, yang menulis bahwa para teolog dan sarjana muslim harus meniru kesarjanaan barat dalam studi agama dan menggantikan model kesarjanaan apologetik yang selama ini digunakan. Strategi lainnya dalam meliberalkan Islam adalah dorongan para orientalis kepada teknokrat dan sarjana muslim di awal periode lahirnya negara bangsa untuk melakukan kodifikasi hukum dan menciptakan sistem hukum adat.</p>
<p>Pada periode kontemporer, misi liberalisasi ini, menurut Massad, dilakukan dengan cara mengkampanyekan paham Islam liberal. Liberalisme dianggap nilai rasional dan universal yang juga dapat ditemukan justifikasi teologisnya dalam Islam. Liberalisme yang islami dianggap dekat dan <i>comparable </i>(dapat disamakan) dengan liberalisme barat.</p>
<p>Dalam tataran praktis, misi ini diimplementasikan melalui beberapa kebijakan strategis. Massad mengutip tulisan almarhumah Saba Mahmood, antropolog dari Universitas California di Berkeley yang menekuni topik sekulerisme, yang mengkritik proyek liberalisasi dunia Islam. Mahmood dalam tulisannya berjudul <i>Secular, Hermeneutics, and Empire</i>, menyebut tentang laporan yang disusun tahun 2003 oleh <i>the National Security Research Division</i> dari lembaga bernama the <i>RAND Corporation</i>. Lembaga ini adalah lembaga <i>think tank</i> yang sangat menentukan arah politik luar negeri Amerika Serikat.</p>
<p>Dalam laporan yang berjudul <i>Civil Democratic Islam</i> ini disebutkan beberapa strategi untuk “membentuk dan mengubah Islam dari dalam (<i>reshape and transform Islam from within</i>)” agar sesuai dengan visi Barat. Dokumen ini juga menyebutkan sejumlah nilai-nilai yang perlu dijadikan parameter keliberalan dan komoderenan dunia Islam.</p>
<p>Nilai-nilai tersebut adalah: demokrasi dan hak asasi manusia, monogami, hukuman bagi tindak kriminal, perlakuan terhadap kelompok minoritas, dan pakaian wanita. Dokumen ini juga menjelaskan bahwa Barat, khususnya pemerintah Amerika Serikat, perlu mendukung dan beraliansi dengan kelompok yang mereka sebut sebagai muslim reformis yang berorientasi pada nilai-nilai liberal.</p>
<p>Menutup tulisannya tentang Islam dan demokrasi, Massad menyebut bahwa wacana Barat tentang demokrasi di dunia Islam sebenarnya tidak lain adalah kamuflase untuk melakukan penjajahan. Strategi penjajahan Barat dilakukan dengan terus memproduksi bentuk Islam tertentu, yaitu Islam liberal, yang dapat digunakan sebagai pelayan kebijakan-kebijakan kolonial.</p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/islam-dan-liberalisme-pandangan-sarjana-html/">Islam dan Liberalisme: Pandangan Sarjana Kristen Palestina Joseph Massad</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">17</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kritik Wael Hallaq terhadap &#8220;Orientalisme&#8221;-nya Edward Said</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kritik-wael-hallaq-terhadap-html</link>
					<comments>https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhamad Rofiq Muzakkir]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2020 11:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Poskolonial]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Hallaq, Wael B. 2018. Restating Orientalism (Orientalisme Dirumuskan Ulang). Penerbit Universitas Columbia.  (Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya dalam tiga bagian di santricendekia.) Pandangan Edward Said tentang Orientalisme Diskusi mengenai seberapa akademik dan obyektif kajian Barat tentang dunia Islam mulai mendapatkan momentum setelah seorang intelektual Kristen Amerika Serikat berdarah Palestina, Edward Said, menerbitkan<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/">Kritik Wael Hallaq terhadap “Orientalisme”-nya Edward Said</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong><span style="font-family: arial;">Hallaq, Wael B. 2018. <i>Restating Orientalism</i> (Orientalisme Dirumuskan Ulang). Penerbit Universitas Columbia. </span></strong><span style="font-family: arial;"></span></p>
</div>
<hr />
<p><span style="font-family: arial;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/9780231187626.jpg?resize=487%2C731&#038;ssl=1" alt="" width="487" height="731" class=" wp-image-85 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/9780231187626.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/9780231187626.jpg?w=350&amp;ssl=1 350w" sizes="auto, (max-width: 487px) 100vw, 487px" /></span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">(Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya dalam tiga bagian di <a href="https://santricendekia.com/" target="_blank" rel="noopener">santricendekia</a>.)</span></p>
<p><b><span style="font-family: arial;">Pandangan Edward Said tentang Orientalisme</span></b><span style="font-family: arial;"></span></p>
<div><span style="font-family: arial;">Diskusi mengenai seberapa akademik dan obyektif kajian Barat tentang dunia Islam mulai mendapatkan momentum setelah seorang intelektual Kristen Amerika Serikat berdarah Palestina, Edward Said, menerbitkan bukunya yang berjudul Orientalism. Terbit tahun 1978, buku ini saat ini telah menjadi kanonikal dan inspirasi bagi siapapun yang ingin menulis topik representasi dunia akademik Barat bukan hanya terhadap Islam, tetapi juga dunia Timur secara umum.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Di kalangan ilmuwan Barat, buku ini dianggap cukup berhasil dalam ‘menyadarkan’ tentang pentingnya sensitifitas kultural dalam merepresentasikan atau menggambarkan the Other (Yang Lain). Jika sebelumnya para para pengkaji Barat bisa leluasa mengajukan argumen apapun terkait dunia Timur, bahkan yang bernada merendahkan sekalipun, setelah terbitnya buku ini ada semacam kehati-hatian untuk bertindak demikian.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Lebih dari itu, pandangan Said dalam buku ini diakui telah menginspirasi lahirnya gelombang besar dalam kesarjanaan Barat yang disebut dengan putaran paska kolonial (post-colonial turn), yaitu suatu gerakan intelektual yang menyerukan peninjauan kembali dan dekonstruksi terhadap warisan kolonial khususnya dalam bidang pengetahuan. Para intelektual pengusung orientasi ini berpandangan bahwa penjajahan bukan hanya terjadi dan berdampak pada bidang politik, ekonomi, dan budaya, tetapi juga meninggalkan jejak pada bidang epistemologi (pengetahuan).</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Dalam bidang studi Islam secara lebih spesifik, karya Said Orientalism telah menyadarkan para sarjana muslim tentang sikap prejudis di balik kesarjanaan para orientalis. Pertanyaan tentang relasi kuasa (power relation) kemudian menjadi umum diajukan. Belakangan, di kalangan para pengkaji Islam di Barat juga ada semacam tren untuk menguji kembali tesis-tesis tentang tradisi Islam yang selama ini diambil secara for granted.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Ada semacam kesadaran bahwa sejumlah konsepsi yang umum diyakini, baik oleh masyarakat awam maupun oleh kalangan sarjana, sebagai kebenaran faktual sebenarnya berasal dari warisan prejudis orientalis terhadap Islam. Misalnya pandangan bahwa tasawwuf adalah penyebab kemunduran peradaban, kemandegan filsafat paska al-Ghazali, tertutupnya pintu ijtihad, posisi taklid sebagai instumen yang menghambat kreatifitas, dan topik-topik lainnya.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Secara umum pandangan Edward Said tentang orientalisme dapat dirangkum sebagai berikut. Said berpandangan bahwa orientalisme sebagai kegiatan akademik para sarjana Barat dalam merepresentasikan dunia Timur adalah suatu tradisi yang sudah berusia lama. Sejarahnya dapat ditelusuri sejak kesarjanaan para filosof Yunani. Namun keberadaan orientalisme secara formal baru dimulai tahun 1312 ketika Dewan Gereja Viena mendirikan kajian Bahasa Arab, Ibrani, dan Syriak di beberapa kota penting di Eropa abad pertengahan seperti Paris, Bologna, Avignon, dan Salamanca. Hanya saja yang perlu dicatat, menurut Said, orientalisme bukan hanya sebatas disiplin ilmu yang berfungsi mempelajari dan menggambarkan bangsa Timur, tetapi juga menjadi instrumen politik untuk mendominasi, mengatur dan menguasainya.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Said menyebut ada beberapa strategi yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini. Pertama, para orientalis merepresentasikan Timur dengan menciptakan perbedaan antara Barat (dunia di mana para pengkaji Barat berasal) dan Timur. Para sarjana Barat memproyeksikan semua gambaran positif kepada dunianya sendiri dan pada saat yang sama membuang citra negatif kepada dunia Timur yang mereka tulis. Mereka menghindari sejumlah identitas peyoratif seperti terbelakang, despotik, konfliktif, patrialkal, mistis, dan lain-lainnya, tetapi mengatribusikannya kepada dunia Timur.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Kedua, tidak hanya mengkonstruksi citra negatif, orientalisme juga melakukan monopoli representasi. Para pengkaji Barat mengklaim bahwa tidak ada yang layak dan mampu untuk menceritakan tentang Timur kecuali orang Barat. Mereka mengkampanyekan anggapan bahwa dunia Timur tidak memiliki kemampuan untuk menampilkan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan menurut Said jika dikatakan bahwa Timur hampir sepenuhnya adalah apa yang diciptakan oleh Barat (the Orient was almost a European invention).</span></div>
<p><b><span style="font-family: arial;">Kritik Wael Hallaq terhadap Pandangan Edward Said tentang Orientalisme</span></b><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Dalam kurun waktu empat puluh tahun setelah terbitnya Orientalism, telah banyak karya yang ditulis para intelektual untuk mengkritik Said. Diantara kritik yang diarahkan kepadanya adalah berkenaan dengan falasi esensialisasi atau totalisasi. Para pengkritiknya menganggap bahwa Said telah melakukan generalisasi terhadap orientalisme dan mengabaikan adanya keragaman di dalamnya. Said mengabaikan kontribusi positif orientalisme, khususnya dalam kajian teks, dan mengabaikan adanya kelompok orientalis yang menulis dunia Timur secara positif.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Kritik Wael B Hallaq, sarjana Palestina-Amerika yang dalam banyak hal sangat dipengaruhi oleh Said, juga mengafirmasi kritik ini. Pendekatan all-too-sweeping yang digunakan Said menurut Hallaq telah berlaku tidak adil kepada orientalisme. Ada banyak orientalis kredibel yang sangat berjasa dalam berbagai disiplin ilmu. Mereka tidak membawa ‘bagasi’ apapun ketika menggambarkan dunia Timur. Hallaq menyayangkan Said yang mengolok-olok orientalis seperti Louis Massignon yang kajiannya tentang tasawuf sangat simpatik.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Secara khusus, Hallaq mengupas satu figur orientalis yang sangat berseberangan dengan apa yang digambarkan oleh Said. Hallaq menjelaskan kontribusi dan posisi Rene Guenon, orientalis dari Perancis yang mengkaji tasawuf dan agama Hindu. Yang menarik dari sosok Guenon, menurut Hallaq, adalah ia tidak hanya berhenti pada pengkajian dan penggambaran kepada publik tentang mistisme dunia Timur. Lebih dari itu, ia menjadikan tradisi Timur yang ia kaji sebagai titik pijak atau materi untuk mengkritik balik dunia Barat. Guenon menjadikan orientalisme sebagai sarana untuk mempelajari nilai dan prinsip etika yang menurutnya telah lama hilang dari dunia Barat terutama sejak memasuki alam modernitas.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Guenon misalnya menulis bahwa dalam sejarah dunia, hanya peradaban Barat lah satu-satunya yang berkembang dengan orientasi materi murni. Guenon mengupas posisi sains di dunia Barat untuk menjelaskan tesis tersebut. Guenon mengatakan bahwa setiap peradaban pada prinsipnya membutuhkan sains. Secara ril juga banyak peradaban yang telah berkontribusi dalam perkembangan sains. Tapi sains Barat lah satu-satunya sains yang tujuan pengembangannya hanya untuk keutungan material, akumulasi harta benda, dan kesenangan fisik an sich. Sains di Barat, kata Guenon, tidak memiliki prinsip (principless) dan arah (directionless), serta tidak terhubung dengan nilai-nilai agama. Karena hilangnya nilai-nilai agama inilah (Guenon menyebutnya a principle of a higher order) maka Barat menjadi rasis, prejudis, selalu merasa superior, dan barbarik.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Kenyataan sains yang nir-etika tersebut ternyata tidak mengurangi obsesi Barat untuk menguniversalisasikannya kepada kebudayaan lain. Adalah suatu ironi tersendiri menurut Guenon melihat penulis Barat yang menganggap kebudayaannya sebagai puncak peradaban (the pinnacle of civilization) dan memaksa peradaban yang lain untuk mengikuti jalan sejarahnya. Terkait hal ini Guenon membuat sebuah analogi menarik. Barat diumpamakan seperti anak kecil yang baru saja belajar ilmu baru. Ilmu ini diajarkan kepada orang-orang dewasa yang dia anggap bodoh.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Kembali ke kritik Hallaq kepada Said. Ia menyatakan bahwa dengan tidak memberikan apresiasi kepada sisi positif orientalisme dan menganggap bahwa semua orientalis jahat, Said sebenarnya secara tidak langsung telah merendahkan dunia Timur. Ia mengabaikan fakta bahwa dunia Timur memiliki nilai positif yang dapat dipelajari oleh sarjana Barat. Ketika ia mengolok-olok Massignon yang menulis tentang tasawuf, misalnya, Said sebenarnya sedang mengolok-olok tasawuf itu sendiri.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Dengan kata lain, kata Hallaq, Said sendiri tidak ada bedanya dengan para orientalis yang ia kritik. Mereka sama-sama tidak memberikan apresiasi kepada dunia Timur. Ini menurut Hallaq bisa diperhatikan dalam argumen-argumen yang ia tulis dalam Orientalism. Sepanjang lebih dari 300 halaman buku ini, tidak sekalipun Said menyebut kelebihan dunia Timur yang dapat dipelajari Barat. Ini bertolak belakang dengan figur seperti Louis Massignon atau Rene Guenon yang sangat apresiatif terhadap dimensi spiritualitas dunia Timur.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><b><span style="font-family: arial;">Kerangka Teoretik Alternatif</span></b><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Sebagaimana telah disebut sebelumnya, Hallaq mengafirmasi kritik yang diajukan oleh beberapa intelektual terdahulu mengenai falasi esensialisasi yang dilakukan Said. Perbedaan Hallaq dari para kritikus tersebut adalah aspek teoretis dari kritik Hallaq. Hallaq tidak berhenti hanya sebatas pada membongkar kelemahan Said, tetapi juga menawarkan suatu kerangka berfikir untuk dapat memposisikan orientalisme secara proporsional.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Untuk melihat posisi orientalisme secara lebih adil, dalam pengertian aspek negatif dan positifnya dapat diakui secara simultan, Hallaq mengajukan teori domain atau teori paradigma. Teori ini pada awalnya berasal dari Carl Smith, pemikir politik Jerman yang hidup zaman perang dunia kedua. Namun demikian Hallaq tidak hanya menggunakan teori Smith secara apa adanya, tetapi juga memperbaiki dan merombaknya pada aspek tertentu.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Menurut Hallaq, setiap kebudayaan memiliki dua domain: yang pertama bersifat sentral dan dominan, dan yang kedua bersifat pinggiran. Domain sentral memiliki satu fungsi pokok yaitu menjadi sifat dasar atau karakter utama suatu sistem kebudayaan. Selain itu, domain utama juga berfungsi melahirkan suatu tatanan umum (the order of thing) dalam sistem tersebut. Ia selanjutnya menjadi kekuatan pendorong untuk totalitas entitas yang berada dalam sistem itu. Apa saja yang bekerja dalam suatu sistem akan beroperasi dalam domain yang dominan tersebut.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Sementara itu domain pinggiran adalah pengecualian dari karakter umum dalam suatu sistem. Betapapun hegemoniknya domain utama, domain pinggiran tetap tidak tereliminasi dari sistem tersebut. Ia berwujud sebagai subversi atau perlawanan terhadap domain utama. Ia menjadi sifat anti mainstream dalam sistem kebudayaan. Posisinya dan pengaruhnya sangat kecil.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Hallaq kemudian melanjutkan. Bagi peradaban Barat modern, domain utamanya adalah kapitalisme dan materialisme. Dua paradigma inilah yang menentukan perilaku manusia modern di Barat hari ini. Setiap orang yang hidup dalam dunia Barat sulit mengelak dari dominasi dua paradigma ini. Kapitalisme dan materialisme menggerakan setiap aktivitas manusia yang hidup di dalamnya, baik di bidang politik, ekonomi, maupun di ranah akademik.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Namun demikian, bukan berarti inilah satu-satunya paradigma yang ada di Barat. Cara pandang non materialis tetap eksis pada individu-individu tertentu sebagai pengeculian dari fenomena umum. Mereka ibarat sekrup kecil dalam sebuah sistem teramat besar yang berbeda secara orientasi.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Selain materialisme, domain utama lain dari peradaban Barat menurut Hallaq adalah kekuasaan (power). Ini misalnya direpresentasikan dalam sebuah adagium popular, “knowledge is power”. Tujuan untuk memperoleh pengetahuan sebagaimana diformulasikan oleh Michel Foucault, pemikir Perancis Pos-Strukturalis, adalah untuk berkuasa.  “Knowledge is for subjugation and domination” dalam bahasa Friedrich Nietzsche. Mengetahui adalah menguasai dan merubah dunia.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Kata Hallaq, paradigma kekuasaan ini berbeda secara diametral dengan paradigma yang dipegang oleh Islam. Bagi peradaban Islam, belajar bukan untuk berkuasa, tetapi untuk meluruskan adab. Dengan kata lain domain sentral dalam Islam adalah etika. Sistem teologi, hukum, filsafat, dan tasawuf, menurut Hallaq, diarahkan menuju upaya penyempurnaan kapasitas akhlaq seorang individu. Dalam Islam, pengetahuan tidak bersifat Foucauldian dan Gramscian. Inilah alasan mengapa dalam sejarah Islam pra modern tidak ditemukan adanya tehnik-tehnik kontrol (Foucault menyebutnya sebagai biopower) yang diterapkan oleh pemerintah kepada individu-individu di dalam suatu kekuasaan.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Kembali ke teori domain. Menurut Hallaq, teori ini memungkinkan untuk dilakukan dua hal sekaligus. Di satu sisi teori ini memungkinkan peneliti untuk melakukan esensialisasi karakter utama sebuah sistem. Di sisi lain teori ini juga memungkinkan seorang peneliti melihat adanya pengecualian dari karakter umum dalam sistem tersebut. Dengan kata lain, teori ini memberikan ruang untuk dominasi sekaligus resistensi. Kegagalan Said dalam menjelaskan orientalisme secara holistik berawal dari ketidakmampuannya memetakan dan memahami teori domain ini.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><span style="font-family: arial;">Konsekwensi dari kegagalan ini menurut Hallaq bersifat ganda. Pertama, Said tidak melihat adanya resistensi terhadap karakter dasar orientalisme oleh sebagian orientalis. Dengan kata lain, Said gagal memotret dan mengapresiasi figur-figur orientalis yang secara serius mempelajari Timur untuk mengkritik Barat modern. Kedua, Said tidak melihat orientalisme dari akar masalahnya. Said, menurut Hallaq, tidak memahami orientalisme sebagai produk dari domain sentral peradaban Barat. Inilah sesungguhnya yang menjadi kritik paling mendasar dari Hallaq terhadap Said.</span><span style="font-family: arial;"></span></p>
<p><b><span style="font-family: arial;">Kritik Hallaq terhadap Fondasi Orientalisme</span></b><span style="font-family: arial;"></span></p>
<div><span style="font-family: arial;">Menurut Hallaq, kelemahan paling fundamental dari Said adalah ia melihat orientalisme sebagai penyebab dari misrepresentasi Islam oleh dunia Barat. Hallaq berbeda pandangan. Menurutnya orientalisme bukanlah penyebab, melainkan hanya gejala dari kekacauan epistemologis pengetahuan modern Barat yang lebih luas. Kritik Said terhadap orientalisme dengan demikian bersifat “semu”, “tidak mendasar”, “terlalu superfisial”, “tidak memiliki ketebalan dan kedalaman analisis”, serta “tidak melihat permasalahan dari pondasi filsafatnya”. Problem intinya menurut Hallaq tidak terletak pada orientalisme itu sendiri, tetapi pada modernity dan filsafat Pencerahan (the Enlightenment) yang melahirkan orientalisme.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Menurut Hallaq, ketika Said hanya mengutuk orientalisme, ia sebenarnya gagal melihat bahwa permasalahan mispresentasi Islam bermuara pada ideologi liberalisme, humanisme sekuler, antroposentrisme, sistem negara bangsa, dan filsafat progress (kemajuan) yang lahir sebagai anak kandung modernitas. Dengan hanya mengkambinghitamkan orientalisme, Said membiarkan dimensi yang lebih luas ini dan paling menentukan tidak tersentuh oleh kritiknya.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Hallaq membuat sebuah analogi terkait hal ini. Orientalisme menurutnya seperti puncak gunung es. Yang terlihat dipermukaan hanya bagian kecil, sementara yang berada di bawah laut jauh lebih besar. Said, kata Hallaq, hanya melihat puncak gunung es tersebut dan menyebutnya segala-galanya. Ia tidak mau mencari tahu apa yang berada di bawah permukaan laut.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Penyebab dari kegagalan Said dalam melihat problem fundamental dari orientalisme ini menurut Hallaq adalah kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah seorang sarjana liberal dan sekuler. Ia dengan kata lain adalah bagian dari rezim kebenaran (regime of truth) ideologi Barat itu sendiri. Said, kata Hallaq, tidak pernah menunjukkan ketidaknyamanannya terhadap liberalisme dan sekulerisme. Ia juga tidak pernah membawa nilai dan tradisi agama ke dalam disiplin ilmu yang ia geluti.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Terkait Islam, Said tidak menguasai satupun bidang keilmuan klasik substantif seperti tasawuf, kalam, fiqih-usul fikih, dan lain-lain. Said juga tidak menyentuh dimensi sains, ilmu sosial dan humanities yang dilahirkan oleh ideologi sekuler Barat modern. Bagi Hallaq, tidak banyak yang bisa diharapkan dari kritik seorang sarjana dengan identitas seperti ini kepada orientalisme.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Hallaq selanjutnya menunjukkan sisi destruktif dari modernitas Barat yang tidak digambarkan oleh Said. Ia menyebut bagaimana sains Barat, yang didukung oleh sistem industralisasi dan ditopang oleh filsafat progress, telah menyebabkan problem kerusakan lingkungan selama dua abad terakhir. Penemuan alat-alat industri dan teknologi serta anggapan bahwa mereka bersifat netral (paham instrumentalisme) telah memperburuk keadaan yang diciptakan oleh modernitas. Menurut Hallaq, adalah suatu absurditas tersendiri menganggap bahwa suatu instrumen bersifat netral. Ada epistemologi atau sistem nilai tertentu di balik alat-alat canggih yang diciptakan oleh manusia.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Dalam bidang ekonomi, ia menyebut problem konsumerisme dan eksploitasi manusia untuk kepentingan ekonomi segelintir elit. Ia juga menyinggung problem korporasi yang ia sebut sebagai bagian dari entitas kolonial dan menyebabkan lahirnya patologi sosial. Uniknya, kata Hallaq, dunia akademia atau perguruan tinggi, justru menjadi supporting system bagi problem ini. Fakultas ekonomi dan bisnis misalnya tidak mengajarkan mahasiswa untuk mengatasi kesenjangan sosial atau sekedar mata kuliah filsafat etika, tetapi justru mengajarkan cara meraup keuntungan sebesar-besarnya.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Tidak hanya itu. Hallaq berpandangan bahwa ideologi liberalisme, sekulerisme dan antroposentrisme Barat telah menyebabkan apa yang ia istilahkan sebagai genosida struktural (structural genocide). Genosida dalam pengertian konvensional umumnya dipahami sebagai pembunuhan masal. Tetapi menurut Hallaq makna genosida bisa lebih luas dari itu. Ia bisa mencakup rekayasa (perubahan) total lanskap kultural masyarakat terjajah oleh negara penjajah. Genosida struktural bisa berwujud perubahan orientasi dan sistem nilai, pergeseran sistem hukum, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik masyarakat terjajah dari coraknya yang tradisional menjadi berkiblat ke arah sistem negara penjajah.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Dengan segala peran negatif yang pernah dimainkan oleh disiplin ini dalam sejarah, orientalisme bukan berarti tidak berguna sama sekali. Menurut Hallaq, orientalisme jika didudukkan dengan benar, justru akan menjadi tradisi penyelidikan intelektual (tradition of intellectual inquiry) yang membawa kebaikan, baik bagi sarjana Barat sebagai subjek, atau dunia Timur yang menjadi obyek.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Berbeda dengan Said yang skeptis terhadap orientalisme, Hallaq masih menaruh asa terhadap bidang ini. Menurutnya orientalisme sebagai bidang keilmuan yang telah established di ranah kajian teks memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh bidang yang lain. Antropologi misalnya, memiliki banyak perangkat konseptual, teoretis, dan metodologis untuk memahami kebudayaan masyarakat pada ranah lokal. Tapi bidang ini tidak membekali peneliti kemampuan untuk membaca dan menganalisis teks. Padahal kajian tentang dunia Timur, terlebih khusus lagi Islam, tidak akan bisa dipisahkan dari kajian teks (Talal Asad menyebutnya sebagai tradisi diskursif).</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Oleh karena itu, sebagai alternatif dari kritik total Said terhadap orientalisme, Hallaq mengusulkan untuk memulihkan disiplin ini. Ia menyebut orientalisme yang sudah dibersihkan dari potensi imperialisme sebagai orientalisme introspektif. Orientalisme diarahkan sebagai tradisi penyelidikan intelektual terhadap dunia Timur dengan maksud untuk mempelajari nilai-nilai tradisionalnya untuk kemudian mengevaluasi perkembangan kebudayaan Barat modern.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Dengan kata lain, orientalisme introspketif bagi peneliti Barat berperan sebagai instrumen untuk mengevaluasi dan membangun diri sendiri (ethical-self construction) atau berfungsi sebagai upaya untuk memberadabkan diri sendiri (a technology for ethicizing the self). Dengan demikian, posisi obyek dalam orientalisme gaya baru ini berubah menjadi subyek. Dunia Timur berhenti dijadikan obyek dan lokus rekayasa ulang sebagaimana selama ini terjadi. Tetapi bertransformasi menjadi repertoar pemikiran (the repertoire of thought) yang mengarahkan proses pembentukan ulang jati diri orientalis yang baru (a new orientalist self).</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Menurut Hallaq, ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam rangka membentuk ulang orientalisme. Pertama, para pengkaji Barat perlu mengkritik metafisika Barat hari ini atau dengan kata lain mengkritik nilai-nilai-modernitas. Kata Hallaq, struktur pemikiran yang mendasari modernitas Barat harus dipikirkan ulang secara keseluruhannya. Termasuk ke dalam hal ini, orientalisme juga perlu menata ulang hubungannya dengan dunia selain manusia (alam dan binatang). Selama ini paradigma Barat terlalu berpusat pada manusia (antroposentris) sehingga mengakibatkan rusaknya lingkungan. Bahkan jika perlu, kata Hallaq, kategori distingtif manusia dan nonmanusia yang selama ini digunakan perlu ditinggalkan.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Kedua, hal tersebut dibarengi dengan upaya untuk memahami secara mendalam kultur Timur/Islam khususnya pada periode pra modern yang masih bersifat organik. Kultur ini direformulasikan dan diposisikan sebagai sumber untuk mencari alternatif dari paradigma Barat modern hari ini.</span></div>
<div><span style="font-family: arial;"> </span></div>
<div><span style="font-family: arial;">Dengan dua langkah ini, orientalisme akan layak mendapatkan tempat di dunia akademia dan akan diapresiasi oleh dunia Timur. Tanpa dua langkah ini, orientalisme selamanya tidak akan bisa melepaskan diri dosa masa lalunya sebagai instrumen akademik yang menghambakan diri pada kolonialisme.</span></div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/">Kritik Wael Hallaq terhadap “Orientalisme”-nya Edward Said</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thesuryakanta.com/2020/06/kritik-wael-hallaq-terhadap-html/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">24</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
