<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>politik - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/politik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jan 2026 22:43:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>politik - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Noam Chomsky: Mitos Pasar Bebas dan Dongeng Demokrasi </title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2026/01/noam-chomsky/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=noam-chomsky</link>
					<comments>https://thesuryakanta.com/2026/01/noam-chomsky/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putriyana Asmarani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2026 22:43:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Chomsky, Noam. 2022. How The World Works. Bentang Pustaka. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2026/01/noam-chomsky/">Noam Chomsky: Mitos Pasar Bebas dan Dongeng Demokrasi </a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2026/01/how-the-world-works.jpg?resize=197%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="197" height="300" class="size-medium wp-image-1350 alignright" />Chomsky, Noam. 2022. How The World Works. Bentang Pustaka. </span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam medan kontestasi politik, tidak ada hal paling gentiChomsky, Noam. 2022. How The World Works. Bentang Pustaka. ng selain menguak keganjilan kesuksesan politik luar negeri, dominasi, dan industri Amerika Serikat pasca Perang Dunia II ketika seluruh pesaingnya di muka bumi ini keok, gonjang-ganjing terdampak imbas perang. Ikhtiar untuk membedah perencanaan kebijakan luar negeri Amerika Serikat hampir mustahil diraba seperti usaha untuk mengantar seekor tikus ke sarang ular demi mengajari reptil cara berempati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang sosialis libertarian merangkap anarko-sindikalis, </span><span style="font-weight: 400;">Noam Chomsky</span><span style="font-weight: 400;">, </span><span style="font-weight: 400;">berhasil mengurai catatan dibalik kesuksesan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II melalui dokumen negara tahun 1950, bertajuk NSC 68 (</span><i><span style="font-weight: 400;">National Security Council Memorandum </span></i><span style="font-weight: 400;">68). Chomsky</span><span style="font-weight: 400;">, yang terkenal getol mengumandangkan dirinya sebagai pendukung gerakan pembangkangan sipil dalam Perang Vietnam, </span><span style="font-weight: 400;">membentangkan paling tidak sepuluh sumbu kebijakan Amerika Serikat yang digerakkan untuk menggagahi dunia pasca Perang Dunia II</span> <span style="font-weight: 400;">melalui karyanya </span><i><span style="font-weight: 400;">How The World Works</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2010).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada, tentu saja, kemungkinan sumbu lain di luar sepuluh tersebut yang terserak dalam karya magnetisnya ini, yang luput dari pembacaan saya. </span><span style="font-weight: 400;">Sepuluh sumbu tersebut</span><span style="font-weight: 400;"> kalau saya petakan </span><span style="font-weight: 400;">adalah sebagai berikut</span><span style="font-weight: 400;">:  </span><span style="font-weight: 400;">(1) Membentuk tatanan dunia sesuai dengan citra dan kepentingan Amerika Serikat; (2) Legitimasi militansi dan represi domestik; (3) Retorika publik dalam kebijakan luar negeri; (4) </span><i><span style="font-weight: 400;">Grand Area</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau Amerika Serikat sebagai kiblat manufaktur; (5) Mitos pasar bebas; (6) Pemulihan tatanan konservatif lewat subversi dan intervensi; (7) Distorsi demokrasi dan reformasi progresif; (8) Ancaman nasionalisme Dunia Ketiga; (9) Teori Apel Busuk; dan (10) Dunia tiga kubu: persaingan dan aliansi.</span><span style="font-weight: 400;"> Poin-poin ini berkelindan dalam tiga sub pembahasan berikut:</span></p>
<p><b>Keberpihakan yang Berkepentingan</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada sajian epik utopia yang dapat menggeser romansa demokrasi dan kebebasan,  hajat hidup kolektif sebagai bagian dari sebuah bangsa dan negara yang berdaulat. Perang Dunia II tidak hanya menjadi momok tapi juga menjadi sumber harapan bagi negara-negara yang merangkak menuju dunia baru, menjadi baru, dengan aturan yang lebih melek dan waras. Negara-negara tersebut memiliki ikhtiar bersama untuk menopang negara mereka dengan pergerakan nasional atau mengekor negara digdaya. Amerika Serikat melihat usaha ini sebagai sebuah kesempatan untuk menyulap dunia sesuai dengan citra Amerika Serikat dan membuka poros untuk intervensi.</span></p>
<div id="attachment_1351" style="width: 251px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1351" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2026/01/chomsky.jpg?resize=241%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="241" height="300" class="wp-image-1351 size-medium" /><p id="caption-attachment-1351" class="wp-caption-text">Noam Chomsky</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut pengamatan Chomsky </span><span style="font-weight: 400;">dalam PPS 23 Kennan (</span><i><span style="font-weight: 400;">Policy Planning Study </span></i><span style="font-weight: 400;">23), </span><span style="font-weight: 400;">Amerika Serikat memanipulasi opini publik dengan menciptakan delusi kebebasan dan demokrasi.</span> <span style="font-weight: 400;">Menyeruaknya slogan </span><i><span style="font-weight: 400;">“evil communism</span></i><span style="font-weight: 400;">” untuk melabeli ideologi Uni Soviet</span><span style="font-weight: 400;"> pada dasarnya bukan merobohkan gagasan komunisme, namun karena Uni Soviet menolak untuk melayani kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Alih-alih menyuarakan landasan ideologi demokrasi sehingga dapat dipahami, </span><span style="font-weight: 400;">ketakutan-ketakutan atas komunisme dan Uni Soviet semakin menjalar.</span><span style="font-weight: 400;"> Bagi Chomsky, Amerika Serikat secara masif telah berhasil menarasikan retorika dan menjadi dalang atas propaganda ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, kebijakan luar negeri Amerika Serikat—bahkan dalam dokumen resmi perencanaan—tercatat tidak pernah berniat untuChomsky, Noam. 2022. How The World Works. Bentang Pustaka. k menggaungkan demokrasi yang digerakkan oleh kaum pekerja dan petani yang tertindas</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Demokrasi yang dijajakan mengendap pada keikutsertaan massa untuk secara sadar dan kolektif melanggengkan kekuasaan elit dan dominasi atas sumber-sumber pendapatan negara</span><span style="font-weight: 400;">. Kalau diraba, Amerika Serikat menjalankannya melalui intervensi kebijakan-kebijakan negara, Chomsky menggelar berjibun conPutriyana Asmaranitoh atas semua ini sehingga buku ini tidak hanya berkutat pada perang konsep dan gagasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sosialisme demokrasi adalah tunas harapan bagi Italia selepas pendudukan Nazi. Namun, dengan maraknya sosialisme demokrasi, monarki akan ambyar dan sumber keuangan elit yang dengan suka cita mau dicampuri kepentingan Amerika Serikat turut roboh bersamanya. Melalui NSC 1 tahun 1948, Amerika Serikat membangkitkan kembali figur-figur politik dari monarki pra-fasis yang dulunya erat dengan Mussolini, yang mana adalah penggagas dan pemimpin National Fascist Party di Italia. Di tahun yang sama, Amerika Serikat juga ikut campur dengan kampanye dan pemilu. Selain Italia, Chomsky juga membeberkan segudang intervensi lainnya di Indonesia, Yunani, Jepang, dan Korea Selatan. Kalau ditarik secara garis besar, Amerika Serikat justru merasa terancam atas semangat demokrasi yang sesungguhnya juga semarak nasionalisme negara Dunia Ketiga. Namun, pada akhirnya, demokrasi tak akan cukup demokratis apabila bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pasar Bebas yang Membelenggu</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Campur tangan pemerintah pastilah bukan sopir pasar bebas yang menggerakkan pasar dan keleluasaan usaha bebas. Maka darinya, pemerintah hanya akan mengambil sejumput andil untuk menowel subsidi dan tarif, apalagi kontrol harga. Setidaknya ini adalah penjabaran pasar bebas yang ideal</span><span style="font-weight: 400;">. Amerika Serikat dengan getol mengumandangkan pasar bebas pada wilayah-wilayah tertentu yang ditargetkan sebagai wilayah “ideal”. Dari catatan Chomsky, dapat dirumuskan bahwa Amerika Serikat memilih negara-negara yang dianggap “subordinat” yang bisa dikendalikan, misalnya, negara-negara Eropa Barat, Timur Tengah, dan Asia</span><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana ingar-bingar pasar bebas, tidak ada cela atas suatu negara yang mendukung pasar melalui geraknya dengan sedikit campur tangan. Pada akhir Perang Dunia II, ini sungguh melenakan. </span><span style="font-weight: 400;">Amerika Serikat selalu menyusupkan strategi jitu dengan topeng kebijakan positif. Pada negara-negara yang dianggap ingin lepas tanpa ingin dicampuri dan didominasi Amerika Serikat, embargo ekonomi akan dibebankan atas mereka.</span><span style="font-weight: 400;"> Sedangkan, negara-negara yang menerima bantuan serta menerima masukan campur tangan Amerika Serikat diproyeksikan untuk menjadi pemasok bahan utama untuk industri Amerika Serikat dan menjadi pasar utama untuk mengonsumsi produk-produk yang diproduksi pabrik-pabrik Amerika Serikat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Amerika Serikat membangun kontrol </span><span style="font-weight: 400;">tak kasat mata, </span><span style="font-weight: 400;">seolah semua ini adalah usaha untuk memajukan negara-negara berkembang. Namun, pada akhirnya, </span><span style="font-weight: 400;">seperti yang sudah kita ketahui, </span><span style="font-weight: 400;">Amerika Serikat adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">manufacturing hubs</span></i><span style="font-weight: 400;"> paling gigantik di muka bumi ini.</span><span style="font-weight: 400;"> Di sini, </span><span style="font-weight: 400;">Chomsky melakukan analisis mendalam atas apa yang terjadi pada Nikaragua dan Grenada, dan bagaimana kedua negara tersebut telah berhasil dikendalikan.</span><span style="font-weight: 400;"> Chomsky menambahkan teori apel busuk untuk mendalangi bagaimana kesuksesan kontrol pada negara tertentu bisa digunakan untuk mengendalikan negara lainnya. Chomsky menekankan bahwa, “</span><i><span style="font-weight: 400;">The Grand Area was to be subordinated to the needs of the American economy</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, pasar dan usaha bebas tak lebih baik dari dongeng sebelum tidur. </span><span style="font-weight: 400;">Bahkan untuk kebijakan yang diterapkan dalam negeri, menurut Chomsky terdapat “dukungan tersembunyi” dari industri teknologi canggih dan perusahaan farmasi.</span> <span style="font-weight: 400;">Perusahaan-perusahaan ini—seringkali melalui National Institute of Health—mengambil keuntungan dari penelitian yang didanai publik.</span><span style="font-weight: 400;"> Namun, hak patennya suatu saat nanti akan diprivatisasi oleh perusahaan. Industri berbasis bioteknologi juga memutar keuntungan dari lab universitas yang didanai publik. Semestinya, riset tersebut merupakan hak publik. Namun, pada akhirnya hal itu menjadi properti privat milik perusahaan. </span><span style="font-weight: 400;">Dengan nelangsa, Chomsky menggambarkan ironi ini dengan dua ungkapan: </span><i><span style="font-weight: 400;">risk is socialized</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">profit is privatized</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Mengamankan dengan Kekerasan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pasca Perang Dunia II, negara-negara di Eropa dan Asia sedang gencar-gencarnya membangun kembali tatanan negara mereka agar lebih demokratis dan egaliter. Kebanyakan, gerakan ini dikomando oleh tokoh-tokoh berhaluan kiri, sosialis, dan komunis untuk memerangi Nazi dan imperialisme. Namun, bagi perencana kebijakan strategis Amerika Serikat, ini adalah ancaman atas kontrol industri dan kepentingan geopolitik.</span><span style="font-weight: 400;"> Amerika Serikat menghendaki negara-negara tersebut untuk membuka diri atas investasi asing Amerika Serikat, ramah untuk diduduki pemodal swasta, dan mau bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan </span><i><span style="font-weight: 400;">The Grand Area</span></i><span style="font-weight: 400;">. Maka dengan hajat ini, </span><span style="font-weight: 400;">alih-alih menyokong tumbuhnya demokrasi yang sehat, Amerika Serikat membantu untuk melanggengkan elit konservatif di negara tersebut dengan penguatan rezim militer.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konservatisme dan militerisme, buktinya, lebih berkuasa daripada demokrasi itu sendiri. Indonesia menjadi salah satu contohnya. Kedua ideologi tersebut muncul justru untuk mengiming-imingi warga dengan keamanan dan terlaksananya kontrol ekonomi dan kuasa kapitalisme Barat.</span><span style="font-weight: 400;"> Orde Baru di Indonesia, misalnya, disokong Amerika Serikat atas pemberangusan penganut komunisme. Tragedi ini menguatkan militerisme Indonesia dan investasi Amerika Serikat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Jepang</span><span style="font-weight: 400;">, J</span><span style="font-weight: 400;">enderal Mac Arthur telah memantik Jepang dengan reformasi yang lebih progresif.</span><span style="font-weight: 400;"> Tiga di antaranya—yaitu reformasi agraria, hak-hak serikat pekerja, dan demokrasi— digalang dengan penuh semangat. </span><span style="font-weight: 400;">Namun, pada tahun 1947</span><span style="font-weight: 400;">, keadaan ini terbalik. </span><span style="font-weight: 400;">Amerika Serikat menelantarkan kebijakan ini, dan menyongsong tumbuhnya kapitalisme dan fasisme. Hak-hak serikat pekerja ambruk, sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">zaibatsu </span></i><span style="font-weight: 400;">atau pengusaha konglomerat banyak diuntungkan.</span><span style="font-weight: 400;">   </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">How The World Works </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Noam Chomsky menguak bermacam kenyataan brutal atas Amerika Serikat di kancah global.</span><span style="font-weight: 400;"> Kekuasaan Amerika Serikat tidak dibangun atas dasar fitrah keadilan, demokrasi, dan manfaat bersama. Menurut Noam Chomsky, banyak sekali yang perlu dianalisis terutama dominasi dan eksploitasi ekonomi dalam proyek </span><i><span style="font-weight: 400;">Grand Area</span></i><span style="font-weight: 400;">. Meskipun banyak faktor yang mendasari kebobrokan ini, </span><span style="font-weight: 400;">Noam Chomsky </span><span style="font-weight: 400;">begitu detail </span><span style="font-weight: 400;">membedah doktrin </span><i><span style="font-weight: 400;">Grand Area</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang memanipulasi lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan dukungan militer seperti senjata untuk menghentikan upaya pembangunan berkelanjutan di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2026/01/noam-chomsky/">Noam Chomsky: Mitos Pasar Bebas dan Dongeng Demokrasi </a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thesuryakanta.com/2026/01/noam-chomsky/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1349</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merawat Tan Malaka, ‘Alang-Alang’ Revolusi yang tak dapat Musnah</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/08/aksi-massa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=aksi-massa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dionisius Ryan Pratama]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Aug 2024 14:37:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1266</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tan Malaka. 1926. Massa Actie (Aksi Massa). </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/aksi-massa/">Merawat Tan Malaka, ‘Alang-Alang’ Revolusi yang tak dapat Musnah</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/08/Massa_actie-e1723476536500-204x300.jpg?resize=204%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="204" height="300" class="size-medium wp-image-1267 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/08/Massa_actie-e1723476536500.jpg?resize=204%2C300&amp;ssl=1 204w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/08/Massa_actie-e1723476536500.jpg?w=270&amp;ssl=1 270w" sizes="(max-width: 204px) 100vw, 204px" /></span></p>
<p><strong>Tan Malaka. 1926. <em>Massa Actie </em>(Aksi Massa). </strong></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Rasanya tak berlebihan jika kita menyematkan Tan Malaka (1897—1949) sebagai salah satu pemikir besar Indonesia. </span><span style="font-weight: 400;">Meskipun hampir separuh hidup dijalani sebagai pelarian politik, Tan Malaka mampu melahirkan buah pikir yang relevan hingga hari ini. Pada 1945, dalam sebuah surat kabar </span><i><span style="font-weight: 400;">Berita Indonesia</span></i><span style="font-weight: 400;">, Muhammad Yamin (1903—1962) menyebut sosok bernama lengkap Ibrahim dengan gelar Datuk Tan Malaka sebagai “Bapak Republik Indonesia” karena tulisan bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Naar de ‘Republiek Indonesia’, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau dalam bahasa Indonesia berarti </span><i><span style="font-weight: 400;">Menudju Republik Indonesia </span></i><span style="font-weight: 400;">(1925). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu tahun setelah tulisan tersebut terbit, pria asal Sumatra Barat itu menulis </span><i><span style="font-weight: 400;">Massa Actie (</span></i><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">Aksi Massa)</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada 1926 saat berhasil minggat</span> <span style="font-weight: 400;">ke Singapura</span><span style="font-weight: 400;">. Alasan yang melatarbelakangi penulisan </span><i><span style="font-weight: 400;">Aksi Massa </span></i><span style="font-weight: 400;">yakni upaya Tan Malaka menggagalkan pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Aksi tersebut ia nilai terlalu ugal-ugalan tanpa mempertimbangkan dasar-dasar aksi massa. Sesuai dugaan Tan Malaka, aksi yang meletus pada 18 Juni 1926 itu dinilai gagal total. Harry A. Poeze, seorang sejarawan asal Belanda, dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia jilid 1: Agustus 1945 – Maret 1946</span></i><span style="font-weight: 400;"> mencatat tentang situasi tersebut, “Di Banten terdapat sekitar seribu tiga ratus orang ditahan. Sebagian dari mereka diadili dan dijatuhi hukuman berat; bahkan ada yang dijatuhi hukuman mati. Eksekusi terhadap empat orang telah dilaksanakan. Sementara, sembilan puluh sembilan orang diasingkan ke kamp tahanan Digul, jauh di pedalaman Papua Barat.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku yang terdiri dari dua belas bab, ditambah dengan lampiran khusus oleh pria pemilik dua puluh lebih nama samaran ini menuliskan rancangan program proletar di Indonesia. Ia menjelaskan alasan revolusi sebagai agenda penting dan harus berhasil.</span> <span style="font-weight: 400;">Banyak tokoh pergerakan nasional mengaku mendapat ilham dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Aksi Massa</span></i><span style="font-weight: 400;">, salah satunya Soekarno.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat diadili di Landrat, Bandung pada 1931, salah satu hal yang memberatkan tuduhan Tan Malaka adalah karena menyimpan buku ini. Sementara itu, pada 2020 lalu, polisi menyita</span><i><span style="font-weight: 400;"> Aksi Massa </span></i><span style="font-weight: 400;">dari sekelompok gerakan anarko di Tangerang. Sebetulnya, seperti apa revolusi dalam kacamata Tan Malaka? Mengapa buku ini senantiasa dianggap berbahaya, bahkan sejak pemerintahan kolonial Belanda hingga hari ini?</span></p>
<p><b>Tantangan-Tantangan Revolusi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tan Malaka membuka bagian pertama buku dengan tajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Revolusi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Menurut Tan Malaka, revolusi bukanlah hal istimewa dan luar biasa, oleh karena itu tidak boleh digerakkan atas perintah seseorang yang dianggap ‘luar biasa’, atau mampu menggerakan massa. Revolusi bukan hasil pemikiran individu, melainkan akibat pertentangan kelas dan ketimpangan sosial masyarakat dalam situasi pergaulan hidup, ditentukan oleh empat faktor, yakni ekonomi, sosial, politik, dan psikologis. </span><span style="font-weight: 400;">Berlandaskan kegelisahan yang sama, tujuan revolusi tidak hanya untuk “Menghukum, sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai segenap dari perbaikan dari kecelaan.” </span></p>
<div id="attachment_1268" style="width: 192px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1268" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/08/tan-malaka.jpeg?resize=182%2C278&#038;ssl=1" alt="" width="182" height="278" class="wp-image-1268 size-full" /><p id="caption-attachment-1268" class="wp-caption-text">Tan Malaka</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, cita-cita mulia sekalipun tak selalu memperoleh jalan mulus. Terlebih, Tan Malaka saat itu harus berhadapan dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih terikat feodalisme. Menurut KBBI, feodalisme merupakan sebuah sistem sosial maupun politik yang memberikan kekuasaan besar hanya kepada golongan bangsawan. Ekosistem pemerintah bercorak feodalistis jelas menyuburkan nepotisme politik. Menyitir bab tujuh, </span><i><span style="font-weight: 400;">Keadaan Politik</span></i><span style="font-weight: 400;">, Tan Malaka dengan lugas mengkritik persoalan tersebut: “Pemerintahan negeri dipegang oleh seorang raja dan komplotannya. Seorang raja sesudah berhasil menjalankan peran ‘jagoan’, lalu mengangkat dirinya jadi raja yang bertuan. Anaknya yang bodohnya lebih dari seorang tukang pelesir, belakang hari, menggantikan ayahnya sebagai yang dipertuan di dalam negeri.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam situasi semacam ini, menurut Tan Malaka, politik tak akan pernah berpihak pada rakyat, karena kekuasaan disandarkan pada kemauan raja yang diliputi kekerasan dan menuntut penghambaan rakyat. Dengan kondisi politik yang sarat nilai feodalistis, ditambah masyarakat Indonesia mayoritas hidup sebagai buruh, Tan Malaka menyarankan bentuk pemerintahan soviet.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Tan Malaka, pemerintahan bercorak soviet lebih unggul dibandingkan parlemen. Ia berkaca pada negara-negara Barat di mana parlementarisme lahir akibat pertikaian kelompok borjuis dengan kaum raja. Para borjuis merasa bisnis mereka dirugikan akibat kebijakan dan pajak yang dibebankan. Keadaan ini diperparah dengan kondisi kaum borjuis yang tak memiliki hak politik dalam mengajukan keberatan tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Akibatnya, timbullah revolusi besar-besaran, salah satunya terjadi di Perancis sekitar 1789 hingga 1799. Di masa itu, kaum borjuis, bangsawan, dan pendeta membentuk koalisi dengan massa revolusioner: kaum buruh dan tani (Halaman 82). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan begitu, kaum borjuis merobohkan pemerintah feodal dengan semboyan “</span><i><span style="font-weight: 400;">Liberte</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">Egalite</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Fraternite</span></i><span style="font-weight: 400;">”, atau “Demokrasi, Liberalisme, dan Parlementarisme”. Namun, keberhasilan kaum borjuis tak diikuti dengan kesejahteraan kaum buruh dan tani. Dua kaum ini justru dipinggirkan dan hanya dijadikan ‘umpan meriam revolusi’. Selain itu, Tan Malaka melihat sistem demokrasi yang digembar-gemborkan kaum borjuis dalam parlemen hanya akal-akalan belaka.</span><span style="font-weight: 400;"> Ia melihat bagaimana anggota parlemen memegang jabatan selama tiga atau empat tahun, tetapi hubungan antara rakyat (si pemilih) dan anggota parlemen (yang dipilih) sangat transaksional. </span><span style="font-weight: 400;">Tan Malaka menilai bahwa anggota parlemen hanya berhadapan dengan rakyat sewaktu pemilihan saja. Mereka tak ubahnya birokrat sejati. Sebagaimana parlemen diciptakan kaum borjuis, maka soviet diwujudkan kaum buruh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan begitu, soviet akan membelokkan sudut pandang masyarakat kapitalis menuju masyarakat komunis. Tak hanya itu, bentuk pemerintahan soviet juga menghancurkan sistem-sistem birokrasi ciptaan parlemen. Salah satunya, mendekatkan rakyat dengan wakil rakyat untuk disatukan dalam kelompok yang nantinya akan membentuk dan menjalankan undang-undang secara bersama-sama.</span></p>
<p><b>Pola Pikir sebagai Perkakas Revolusi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintahan soviet harus dibarengi dengan kesadaran tinggi kaum buruh berpikir rasional. Sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia saat itu sepertinya masih kental dengan kebudayaan gaib, mistis, dan takhayul. Ini berdampak membentuk pola pikir masyarakat Indonesia. </span><span style="font-weight: 400;">Di bab delapan</span><i><span style="font-weight: 400;">, Perkakas Revolusi Kita</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia menuliskan refleksi tentang kemajuan berpikir yang mandek meskipun teknologi dan informasi telah berkembang pesat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kepercayaan mengenai mitos dan takhayul memang tidak bisa digeneralisasi terjadi di seluruh penjuru Indonesia. Tingkat industrialisasi yang berbeda menjadi pemicu utama ketidakmerataan pola pikir rasional. Meski erat berhubungan dengan nilai-nilai komunisme, Tan Malaka mengakui bahwa kapitalisme yang menyubur dalam sebuah daerah turut serta merangsang daya pikir rasional dan sehat. Dengan begitu, menurut Tan Malaka, “Psikologi dan ideologi jiwa dan akal rakyat bangsa Indonesia sejalan dengan kecerdasan kapitalisme yang senantiasa berubah-ubah.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menganalisis fenomena tersebut, tak mudah bagi para revolusioner untuk membawa segenap rakyat Indonesia dalam sebuah cita-cita Marxisme. Akibat berbagai kesulitan tersebut, Tan Malaka mengakui bahwa tak sedikit tindakan revolusi jatuh pada sikap anarkisme maupun pemujaan pada hal-hal mistis maupun gaib, seperti jimat. Mengenai anarkisme, Tan Malaka menyebut tindakan tersebut </span><i><span style="font-weight: 400;">putch,</span></i><span style="font-weight: 400;"> artinya sebuah aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak (Halaman 98). Dengan begitu, aksi yang didasari metode </span><i><span style="font-weight: 400;">putch</span></i><span style="font-weight: 400;">—terlebih dengan masyarakat yang masih bergantung pada hal-hal gaib, dongeng, ataupun takhayul—tak akan pernah meraih kesuksesan dalam revolusi.</span></p>
<p><b>Partai dan Pemimpin Revolusioner</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjawab kegelisahan masyarakat dalam memenuhi kehendak ekonomi dan politik yang kian merosot, Tan Malaka menyarankan sebuah aksi massa. Berbeda dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">putch </span></i><span style="font-weight: 400;">atau anarkis yang menurutnya terkesan egois karena tak berhubungan dengan orang banyak, aksi massa bergerak akibat kesadaran seluruh lapisan masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Sebagai negara industri, ia tak melihat kesulitan dalam melancarkan aksi massa tanpa menggunakan kekerasan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aksi mogok, boikot, dan berdemonstrasi sebagai hak asasi manusia yang utuh ia nilai lebih ampuh ketimbang senjata. Menurut Tan Malaka, jika aksi-aksi ini serentak dilakukan oleh semua orang—buruh, tani, ataupun mereka yang bukan</span> <span style="font-weight: 400;">buruh dan tani—demi menuntut hak ekonomi dan politik, tentu akan lebih berdampak besar ketimbang melakukan tindak kekerasan seperti pembunuhan. Ini mengingatkan saya akan sebuah buku pemikir sekaligus psikoanalis asal Jerman, Erich Fromm (1900—1980) dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">On Disobedience and Other Essays </span></i><span style="font-weight: 400;">(1980). Senada dengan Tan Malaka, ia percaya bahwa revolusi atau pembangkangan sipil tidak seharusnya dilakukan dengan kekerasan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai sebuah aksi besar, Tan Malaka menyadari bahwa aksi massa membutuhkan dukungan sebuah partai dan seorang pemimpin revolusioner demi membingkai jalannya aksi dengan landasan persoalan yang sama. </span><span style="font-weight: 400;">Menurutnya, seorang pemimpin revolusioner tak hanya harus cerdas maupun tangkas, tetapi juga mesti mengenal sifat-sifat dari massa yang dipimpin. Dengan begitu, pemimpin revolusi mengetahui respon masyarakat mengenai kondisi politik dan ekonomi, kemudian segera mengambil langkah berdasarkan peta perjuangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembentukan partai revolusioner juga menjadi salah satu syarat penting aksi massa.</span><span style="font-weight: 400;"> Menurut Tan Malaka, selama ini, belum ada partai-partai di Indonesia yang bergerak atas kepentingan masyarakat dengan satu visi dan misi revolusi. Menurutnya, syarat pertama pembentukan partai revolusioner adalah penghapusan hal-hal berbau birokrasi, aristokrasi, maupun otokratis. Namun, ia mengingatkan bahwa penghapusan nilai-nilai tersebut tak bisa dilakukan dengan jalan kekerasan pula. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tan Malaka menganjurkan untuk “membiasakan bertukar pikiran secara merdeka dan kerja sama semua anggota.” Dengan begitu, sebagai syarat kedua, setiap anggota diberi dan dijamin haknya untuk menyampaikan pendapat dan mempertahankan argumentasi. Oleh karena itu, setiap keputusan yang dihasilkan dalam partai merupakan hasil musyawarah bersama. Partai sebagai “kepala dan jantung massa revolusioner”, penting untuk menerapkan “peraturan besi” sebagai hasil musyawarah yang berguna untuk “memeriksa dan memperbaiki” setiap anggota yang dicurigai, atau terbukti tak sejalan dengan cita-cita partai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bab sembilan, Tan Malaka memberikan uraian dan beberapa contoh partai bentukan kaum borjuis di Indonesia yang dinilai tidak sejalan, atau bahkan gagal menjadi ‘kepala dan jantung’ massa, salah satunya Budi Utomo. Menurutnya, partai yang didirikan oleh R. Soetomo (1888—1938) pada 1908 itu termasuk “partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai borjuis di Indonesia”. Budi Utomo dianggap gagal dalam melakukan pergerakan radikal dalam masyarakat seluruhnya. Organisasi ini dianggap hanya berfokus pada nilai-nilai kebudayaan, dibumbui dengan mitos-mitos, sehingga menimbulkan kesan sebagai partai yang hanya berfokus pada masyarakat Jawa.</span></p>
<p><b>Belajar dan Melampaui Barat</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab terakhir, </span><i><span style="font-weight: 400;">Khayalan Seorang Revolusioner</span></i><span style="font-weight: 400;">, Tan Malaka mengingatkan kita bahwa puncak tertinggi peradaban manusia adalah kemampuan berpikir rasional. Pemikiran rasional tak hanya membebaskan kita dari belenggu takhayul, tetapi juga dari perbudakan. Uniknya, Tan Malaka seakan menyentil beberapa kelompok atau golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Timur; atau mereka yang menolak keras budaya Barat karena dianggap tak sesuai dengan adab ‘Timur’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ia menuliskan, “Janganlah menjatuhkan diri dalam kesesatan dengan mengira budaya Timur yang dulu atau sekarang lebih tinggi dari kebudayaan Barat sekarang. Ini boleh kamu katakan, bilamana kamu sudah melebihi pengetahuan, kecakapan dan cara berpikir orang Barat.., Pada waktu ini sungguh sia-sia dan tak layak bagi kamu mengeluarkan perkataan sudah ‘lebih pintar’ dan tak perlu belajar lagi, sebab banyak sekali yang belum kamu ketahui.” Dari sini, Tan Malaka mengajak kita mengakui dan sanggup belajar dari orang-orang Barat. Namun demikian, ia mengingatkan agar kita tidak terjebak menjadi seorang peniru, tetapi menjadi seorang murid dari Timur yang cerdas dan mampu melampaui kecerdasan guru-guru di Barat (halaman 140). </span></p>
<p><b>Refleksi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan berusia hampir satu abad ini seakan menolak mati dan dilupakan, sebagaimana Tan Malaka berharap bahwa aksi massa tak boleh dibatasi hanya pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam melawan imperialisme Belanda.</span><span style="font-weight: 400;"> Saya membaca </span><i><span style="font-weight: 400;">Aksi Massa</span></i><span style="font-weight: 400;"> tepat setelah menyelesaikan karya Tan Malaka yang sering dianggap sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">magnum opus</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">MADILOG</span></i><span style="font-weight: 400;">. Jika dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">MADILOG</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tan Malaka seperti menyarankan sebuah revolusi yang dimulai dari diri sendiri, yaitu dengan merevolusi pola pikir. Di</span><i><span style="font-weight: 400;"> Aksi Massa</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia melihat bahwa upaya mencapai revolusi bisa dilakukan setelah masyarakat merevolusi diri mereka sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">    Rasanya tepat sekali membaca </span><i><span style="font-weight: 400;">Aksi Massa, </span></i><span style="font-weight: 400;">terutama ketika kita terus dihadapkan pada keriuhan situasi sosial-politik Indonesia dalam berbagai pemberitaan yang menghiasi layar kaca maupun ponsel pintar kita akhir-akhir ini. </span><span style="font-weight: 400;">Penting bagi kita menelisik kembali lagi cita-cita Tan Malaka atas revolusi yang harus digerakkan bersama-sama oleh setiap lapisan masyarakat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat kalimat Tan Malaka menarik yang terlontar dari Tan Malaka saat ia berkunjung ke rumah Achmad Soebardjo (1896—1978) pada 25 Agustus 1945, satu minggu setelah proklamasi. Soebardjo, yang telah mengenal Tan Malaka sejak bersekolah di Belanda, kaget dengan kehadirannya. Sebab dari surat kabar yang ia baca, Tan Malaka diberitakan tewas akibat kerusuhan di Birma. Bahkan ada juga pemberitaan tentang Tan Malaka yang sedang berada di Yerusalem, saat itu telah tewas dalam kerusuhan di Israel. Mendengar hal itu, Tan Malaka tertawa seraya berkata dalam bahasa Belanda, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Onkruid vergaat toch niet</span></i><span style="font-weight: 400;">”, yang artinya, “alang-alang </span><i><span style="font-weight: 400;">tokh </span></i><span style="font-weight: 400;">tak dapat musnah kalau tak dicabut dengan akar-akarnya”.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/aksi-massa/">Merawat Tan Malaka, ‘Alang-Alang’ Revolusi yang tak dapat Musnah</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1266</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dunia-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wawan Kurniawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Aug 2024 13:33:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Frazer-Carroll, Micha. 2023. Mad World: The Politics of Mental Health [Dunia Gila: Politik Kesehatan Mental]. Penerbit Pluto.  </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/">Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?resize=196%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="196" height="300" class="size-medium wp-image-1261 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?resize=196%2C300&amp;ssl=1 196w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?w=261&amp;ssl=1 261w" sizes="auto, (max-width: 196px) 100vw, 196px" />Frazer-Carroll, Micha. 2023. <em>Mad World: The Politics of Mental Health</em> [Dunia Gila: Politik Kesehatan Mental]. Penerbit Pluto.  </strong></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Belakangan, isu kesehatan mental marak dibicarakan. Meski relatif baru didiskusikan di tengah publik, isu ini terus berkembang dari waktu ke waktu. </span><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan temuan Survei Ipsos Global bertajuk Health Service Monitor 2023, isu kesehatan mental menjadi masalah paling disoroti banyak orang di berbagai belahan dunia. Berdasarkan riset tersebut, sebanyak 44 persen responden dari 31 negara di dunia menilai bahwa kesehatan mental menjadi masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan.</span><span style="font-weight: 400;"> Disusul kanker di posisi kedua sebesar 40 persen dari seluruh responden. Survei Ipsos tersebut melibatkan 23.274 responden dewasa yang tersebar di 31 negara, termasuk Indonesia, pada periode 21 Juli hingga 4 Agustus 2023. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesadaran kesehatan mental salah satunya dipicu efek pandemi Covid-19. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun pertama pandemi (2020), prevalensi kecemasan dan depresi masyarakat dunia meningkat hingga 25 persen. Di Indonesia, tren kepedulian kesehatan mental juga mulai menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Kondisi demikian meningkatkan perhatian mengenai permasalahan kesehatan mental. Namun di sisi lain, tren </span><i><span style="font-weight: 400;">self-diagnosis </span></i><span style="font-weight: 400;">mulai terjadi di tengah gempuran media sosial yang ramai. Selain itu, maraknya kelas-kelas kesehatan mental yang menjamur di berbagai </span><i><span style="font-weight: 400;">platform</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menunjukkan peningkatan minat dan perhatian terhadap isu ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sayangnya, meskipun niat untuk memahami dan mengelola kesehatan mental sendiri bisa dibilang merupakan langkah positif, hal ini juga membawa risiko jika tidak dilakukan dengan pemahaman secara mendalam dan kritis.</span><span style="font-weight: 400;"> Tidak sedikit orang meromantisasi permasalahan kesehatan mental dengan mengikuti tren yang menggarisbawahi kondisi mereka melalui berbagai cara, meskipun penilaian tersebut belum tentu valid dibuktikan dengan pemeriksaan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah fenomena demikian, sangat penting bagi kita untuk menelaah lebih jauh bagaimana kesehatan mental dipahami dan diatur dalam masyarakat</span><span style="font-weight: 400;">. Banyak dari kita mungkin terbiasa menerima begitu saja konsep dan praktik kesehatan mental yang bersirkulasi di sekitar, tanpa menelisik secara lebih jauh. Padahal, pemahaman lebih kritis dan mendalam sangat diperlukan agar tidak terjebak dalam pendekatan yang hanya menyentuh permukaan dan mengabaikan akar permasalahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah buku </span><i><span style="font-weight: 400;">Mad World: The Politics of Mental Health</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Micha Frazer-Carroll memberikan kontribusi sangat berharga. Buku ini tidak hanya mengupas isu kesehatan mental melalui sudut pandang individu, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana struktur sosial, ekonomi, dan politik memengaruhi kesehatan mental kita. </span><span style="font-weight: 400;">Dengan mengkritik dan menunjukkan bagaimana sistem kapitalisme berkontribusi terhadap penderitaan mental, Frazer-Carroll mengajak kita melihat kesehatan mental dalam konteks sosial secara meluas dan mendalam.</span></p>
<div id="attachment_1262" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1262" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/micha.jpg?resize=300%2C281&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="281" class="wp-image-1262 size-medium" /><p id="caption-attachment-1262" class="wp-caption-text">Micha Frazer-Carroll</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab pertama buku ini berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Asylums,</span></i><span style="font-weight: 400;"> membawa kita melalui sejarah panjang lembaga-lembaga kesehatan mental, dikenal sebagai asylum, dari masa lalu hingga masa kini.</span><span style="font-weight: 400;"> Frazer-Carroll menguraikan bagaimana institusi pertama seperti Bethlem Hospital (atau dikenal sebagai Bedlam) didirikan untuk merawat orang gila. Ia juga membahas bagaimana institusi tersebut kemudian berkembang dan dikritik sepanjang sejarah. Dengan menyajikan kondisi brutal di asylums seperti pembatasan fisik, terapi invasif, dan perlakuan tidak manusiawi, penulis menunjukkan bahwa banyak praktik dan logika dari masa lalu masih hadir dalam pendekatan modern terhadap kesehatan mental.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Frazer-Carroll mengkritisi bagaimana asylum, meskipun awalnya bertujuan “merawat” orang gila, sering kali lebih berfungsi sebagai alat kontrol sosial, mencerminkan dan memperkuat struktur kekuasaan. Ia menghubungkan sejarah dengan kondisi saat ini yang menunjukkan bahwa cara kita memahami dan menangani kesehatan mental masih dipengaruhi oleh warisan sosial, ekonomi, dan politik dari masa lalu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun asylum dalam bentuk tradisional demikian telah ditutup, banyak logika dan metode kontrol sosial masih ada dalam sistem kesehatan mental modern. Asylum sering digunakan untuk mengisolasi dan mengendalikan individu yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat dominan. Saat ini, meskipun perawatan mental lebih banyak dilakukan di luar institusi, sistem kesehatan mental masih sering berfungsi untuk menjaga tatanan sosial dan ekonomi, misalnya melalui diagnosis dan terapi yang menekankan penyesuaian individu terhadap kondisi tidak manusiawi, ketimbang penekanan pada upaya mengubah kondisi itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian ini juga menyoroti bahwa sistem kapitalis yang berfokus pada keuntungan dan produktivitas sangat merugikan kesehatan mental. Dengan menempatkan tekanan besar pada individu untuk berprestasi dan berkompetisi, sistem kapitalisme mengabaikan kebutuhan dasar manusia untuk terkoneksi, beristirahat, dan mendapatkan dukungan komunitas. Akibatnya, banyak permasalahan kesehatan mental yang sebenarnya merupakan respons wajar terhadap kondisi tidak manusiawi, justru diperlakukan sebagai masalah individu yang harus diatasi secara pribadi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan pemahaman tersebut, kita bisa menyelami lebih jauh ke dalam bab-bab lain dari buku ini, yang masing-masing menguraikan berbagai aspek kesehatan mental dan bagaimana pengaruhnya secara sosio-politik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab kedua, </span><i><span style="font-weight: 400;">Knowing Mental Health Today</span></i><span style="font-weight: 400;">, mengeksplorasi bagaimana kita memahami dan mendefinisikan kesehatan mental di era modern. Apa yang kita pahami ketika seseorang mengalami depresi? </span><span style="font-weight: 400;">Depresi sering kali didiagnosis sebagai kondisi medis yang membutuhkan perawatan melalui terapi atau obat-obatan. Meskipun perawatan tersebut bisa sangat membantu bagi banyak orang, tetapi sialnya kita mengabaikan banyak hal di luar individu itu sendiri. Dalam banyak kasus, depresi bisa menjadi respons wajar terhadap kondisi hidup yang sangat menekan seperti kemiskinan, ketidakamanan pekerjaan, isolasi sosial, atau tekanan kerja berlebihan. Dalam masyarakat kapitalis, semua itu jelas menciptakan kondisi yang sangat sulit dan melelahkan secara mental. Namun, alih-alih menangani akar masalah tersebut, pendekatan medis terhadap depresi sering kali hanya fokus pada penanganan gejala individu. Persoalan depresi pada akhirnya membawa kita kepada bab berikutnya, di mana Frazer-Carroll berusaha menghubungkan pengalaman individu dengan dinamika sosial secara lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab ketiga berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Mental Health in a Maddening World</span></i><span style="font-weight: 400;">, menjelaskan bagaimana sistem kapitalis membuat hidup manusia kian rumit.</span><span style="font-weight: 400;"> Penulis ingin kita menyadari bahwa perbaikan dalam kesehatan mental tidak bisa hanya dicapai melalui terapi individu atau obat-obatan saja, tetapi juga memerlukan perubahan besar mengenai cara masyarakat kita diatur. Ini termasuk menciptakan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi, memperkuat jejaring sosial, dan mengurangi tekanan kerja secara berlebihan. Sudah saatnya kita memaknai kesehatan mental sebagai permasalahan bersama dan sistemik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab keempat, </span><i><span style="font-weight: 400;">Why Work is Sickening</span></i><span style="font-weight: 400;">, membahas hubungan antara pekerjaan dan kesehatan mental, di mana kondisi kerja eksploitatif dan tidak manusiawi berkontribusi pada gangguan kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Hari ini, pekerjaan dalam konteks kapitalis sering kali tidak memberikan nilai intrinsik atau kepuasan mendalam, melainkan hanya berfungsi sebagai sarana bertahan hidup. Akhirnya, bukan tidak mungkin jika tekanan mental kita semakin parah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab kelima, </span><i><span style="font-weight: 400;">Disability/Possibility</span></i><span style="font-weight: 400;"> membahas konsep disabilitas dalam konteks kesehatan mental dan bagaimana pendekatan keadilan disabilitas memberikan perspektif baru yang lebih inklusif terhadap kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Masalah kesehatan mental tidak boleh hanya dilihat sebagai defisit individu. Sebaliknya, kita harus memahami banyak tantangan yang dihadapi oleh individu dengan gangguan kesehatan mental merupakan hasil dari hambatan sosial diciptakan oleh masyarakat yang tidak inklusif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab keenam berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Diagnosing Diagnosis.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Bab ini menantang konsep diagnosis dalam kesehatan mental, mempertanyakan validitas dan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Terdapat berbagai diagnosis dalam kesehatan mental yang tidak sepenuhnya objektif atau ilmiah, tetapi dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik. Lanjut ke bab tujuh berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">On Disavowal and Disorder</span></i><span style="font-weight: 400;">, penulis kembali mempertegas bahwa perilaku dan kondisi yang sering kali dianggap sebagai gangguan mental atau penyakit dianggap sebagai respons wajar terhadap situasi sosial yang menekan dan tidak adil. Maka, penyangkalan terhadap kenyataan sosial yang keras, seperti ketidakadilan ekonomi atau diskriminasi, bisa dilihat sebagai gangguan mental dari sudut pandang medis. Namun, dari perspektif individu yang mengalami, ini bisa jadi adalah cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang tidak manusiawi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah berbagai rintangan, kita butuh ruang untuk menyelamatkan kesehatan mental. Permasalahan inilah yang disinggung pada bab selanjutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">Art as a Mad Liberation Tool</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pada bagian ini, kita akan menemukan penjelasan bagaimana seni menjadi alat mengekspresikan dan mengatasi pengalaman kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Seni bisa digunakan sebagai alat perlawanan terhadap sistem yang menindas dan menciptakan stigma terhadap penyintas kesehatan mental. Melalui seni, individu dapat menantang narasi dominan tentang kesehatan mental dan menciptakan ruang bagi pengalaman dan perspektif yang lebih beragam. Seni juga dapat membantu membangun komunitas dan solidaritas di antara mereka yang mengalami gangguan mental, dan menjadi platform berbagi cerita dan mendukung satu sama lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian selanjutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">Law and Disorder </span></i><span style="font-weight: 400;">mengkritisi bagaimana hukum digunakan untuk mempertahankan status quo dan struktur kekuasaan. </span><span style="font-weight: 400;">Selama ini, hukum cenderung menggunakan pendekatan kriminalisasi terhadap perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial. Misalnya, orang dengan gangguan mental sering kali ditahan atau dipenjara dibandingkan menerima perawatan secara tepat. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan di bab sepuluh, </span><i><span style="font-weight: 400;">Other Possibilities</span></i><span style="font-weight: 400;"> menawarkan visi alternatif untuk masa depan kesehatan mental yang lebih adil dan manusiawi. Bagian ini menekankan bahwa perubahan besar diperlukan dalam cara kita memahami dan menangani kesehatan mental, termasuk perubahan dalam kebijakan sosial, ekonomi, dan kesehatan.</span><span style="font-weight: 400;"> Di sini, kita diajak memikirkan bagaimana mengubah pendekatan kesehatan mental secara fundamental. Ini artinya, kita tidak hanya memperbaiki sistem yang sudah mapan, tetapi juga membayangkan dan menciptakan sistem baru yang lebih mendukung dan inklusif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, buku ini tengah mengkritik sistem kapitalisme yang menciptakan kondisi hidup menekan dan tidak manusiawi, menggarisbawahi bagaimana struktur sosial dan ekonomi mempengaruhi kesejahteraan mental kita. Melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">Mad World: The Politics of Mental Health,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kita semestinya bisa menerima bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang perlu dipahami. Kita butuh perubahan besar dengan berbagai cara untuk merespon atau menangani kesehatan mental, termasuk melawan sistem ekonomi kapitalis yang menyesakkan.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/">Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1260</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Despotisme Baru: Bagaiamana Kekuasaan Dijalankan Melalui Persuasi dan Rayuan</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/07/despotisme-baru/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=despotisme-baru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M. Taufik Poli]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jul 2024 18:28:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Keane, John. 2020. The New Despotism (Despotisme Baru). Penerbit Universitas Harvard.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/07/despotisme-baru/">Despotisme Baru: Bagaiamana Kekuasaan Dijalankan Melalui Persuasi dan Rayuan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/the-new-despotism.jpg?resize=199%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="199" height="300" class="size-medium wp-image-1240 alignright" />Keane, John. 2020. <em>The </em><i>New Despotism (Despotisme Baru). </i>Penerbit Universitas Harvard.</strong></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">John Keane, seorang professor ilmu politik dari Universitas Sydney</span><span style="font-weight: 400;">, berupaya mengidentifikasi bentuk kekuasaan baru yang muncul pada abad 21. Keane bepergian ke banyak negara untuk menjelaskan corak terkini kekuasaan yang sedang berkembang di sebagian besar negara-negara dunia, mulai dari belahan bumi utara hingga selatan. Keane </span><span style="font-weight: 400;">berpendapat, pada abad 21 ini telah berkembang sebuah modus kekuasaan yang berbeda dari pengalaman sejarah abad-abad lampau. Modus kekuasaan itu ia sebut sebagai despotisme baru </span><i><span style="font-weight: 400;">(new despotism)</span></i> <span style="font-weight: 400;">yang sekaligus menjadi judul dari karyanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun Keane berargumen bahwa despotisme baru merupakan perkembangan kekuasasan terkini, ia tidak menyangkal bahwa bentuk kekuasaan ini memiliki akarnya di masa lalu. Hal itu termanifestasi dalam diri seorang despot yang memimpin imperium-imperium secara absolut. Seorang despot di masa lalu berkuasa dengan menyebarkan ketakutan, ancaman, dan kekerasan. Tidak ada yang aman dalam situasi ini. Despot secara personal berkuasa secara tidak terbatas dan menggunakan kekuasaannya sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Namun, bagi Keane, di dalam bentuk kekuasaan despotisme baru, seorang despot berupaya mencari cara terbaik untuk dapat mengatur masyarakat secara efisien tanpa menggunakan ketakutan, ancaman, dan kekerasan sebagai alat penundukan.</span></p>
<p><b>Despotisme Baru dan Beberapa Miskonsepsi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, ilmuan sosial dan politik mengkategorikan kekuasaan yang dijalankan secara berlebih dan tidak demokratis sebagai otoritarianisme. Otoritarianisme secara lebih jelas merupakan anti tesis dari demokrasi. Demokrasi dianggap sebagai penghambat kekuasaan. Oleh karena itu, seorang pemimpin otoriter akan melucuti semua instrumen demokrasi dengan kekuasaannya. Despotisme baru memiliki kecenderungan yang berbeda</span><span style="font-weight: 400;">. Despotisme baru tidak menihilkan demokrasi: demokrasi tetap dijaga sebagai instrumen yang dapat menghasilkan legitimasi rakyat. Despot menjalankan kekuasaan dengan tetap mempertahankan prosedur demokrasi seperti pemilihan umum dan konstitusi.</span></p>
<div id="attachment_1241" style="width: 235px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1241" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/john-keane.jpeg?resize=225%2C225&#038;ssl=1" alt="" width="225" height="225" class="wp-image-1241 size-full" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/john-keane.jpeg?w=225&amp;ssl=1 225w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/john-keane.jpeg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/john-keane.jpeg?resize=45%2C45&amp;ssl=1 45w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /><p id="caption-attachment-1241" class="wp-caption-text">John Keane</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Keane menekankan, despotisme baru bukan merupakan bentuk demokrasi yang semu, parsial, atau demokrai yang terkontrol. Ia juga bukan rezim semi-otoritarian atau semi-diktaktor. Despotisme baru juga bukan merupakan demokrasi illiberal yang gagal mempertahankan cita-cita liberalisme. </span><span style="font-weight: 400;">Despotisme baru pada faktanya adalah reaksi perlawanan terhadap gagalnya praktik demokrasi: mereka seperti parasit, memanfaatkan demokrasi yang gagal menjalankan fungsinya saat ini</span><span style="font-weight: 400;"> (hal, 20).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gagalnya praktik demokrasi yang tidak dapat memberikan manfaat pada sebagian besar kebutuhan rakyat memunculkan ketidakpuasan rakyat terhadap demokrasi. Demokrasi pada akhirnya dipandang secara sinis sebagai instrumen kekuasaan kelas penguasa. </span><span style="font-weight: 400;">Seorang despot tahu bagiamana memanfaatkan situasi ini.</span><span style="font-weight: 400;"> Mereka hadir dengan mencitrakan dirinya sebagai “inkarnasi rakyat”. Mereka menggunakan kecakapan untuk merayu hati masyarakat, berupaya terlihat dekat dengan masyarakat, bersama-sama dengan masyarakat untuk membentuk imajinasi akan adanya sebuah musuh bersama. </span><span style="font-weight: 400;">Mereka mendominasi dengan cara memenangkan hati rakyat, mendapatkan dukungan dan kasih sayang mereka, dan berkuasa secara </span><i><span style="font-weight: 400;">top-down </span></i><span style="font-weight: 400;">melalui teknik pemerintahan yang “ramah-rakyat”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rakyat bagi seorang despot adalah sumber legitimasi dan loyalitas. Menjalankan kekuasaan melalui teror dan kekerasan sama saja mendelegitimasi kekuasaan mereka. Akan sangat mudah memunculkan resistensi rakyat apabila rakyat dipaksa patuh dengan cara koersif. Bagi seorang despot, resistensi dapat berbuah delegitimasi kekuasaan dan harus segera diatasi. Mereka mengatasinya bukan dengan kekerasan, melainkan persuasi dan rayuan. Bagi Keane, persuasi dan rayuan adalah fitur yang mendefinisikan despotisme baru (hal, 17). Oleh karena itu, tidak perlu otoritarianisme untuk tetap berkuasa, despotisme baru tetap dapat disemaikan di dalam alam demokrasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Despotisme baru beroperasi secara lebih fleksibel, lebih samar, dan lebih efisien. Coraknya yang demikian mendatangkan kelebihan dari modus kekuasaan ini, yaitu despotisme baru memiliki daya tahan yang lebih tinggi. </span><span style="font-weight: 400;">Ketika palu godam rakyat telah berayun dari keteraturan menuju ketidakteraturan, atau oposisi politik mulai medapatkan dukungan rakyat, mereka mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki untuk meredam itu semua.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, apabila persuasi dan rayuan tidak lagi berfungsi, mereka menawarkan dan memasukkan rakyat pada jejaring patronase yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya material dan rasa aman berada dalam kekuasaan. Sedangkan bagi yang tetap melawan, mereka akan menggunakan kekerasan secara terukur untuk meredam perlawanan. Kedua, mereka akan membangun aliansi kekuasaan, kesepakatan bisnis, dan kompromi politik untuk menjinakkan kekuatan oposisi. Operasi ini telah berhasil membuat despotisme baru memiliki daya tahan signifikan dari serangan lawan-lawannya. Dinamika seperti ini bagi Keane terjadi di hampir seluruh sistem politik negara-negara dunia, mulai dari sistem kerjaan, satu partai, bahkan demokrasi liberal di Barat.</span></p>
<p><b>Sistem Kekuasaan Despotisme Baru</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Despotisme baru bekerja dengan mengorganisir kekuasaan berbasis patronase, kekayaan, manipulasi pemilu, hukum dan media, mobilisasi opini publik, serta meraih simpati dan loyalitas massa.</span> <span style="font-weight: 400;">Sistem kekuasaan ini bertujuan untuk membentuk masyarakat yang telah tersubjektivikasi oleh norma-norma depotisme baru sehingga seorang despot tidak hanya berkuasa melalui legitimasi, tetapi juga memanipulasi kesadaran masyarakat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sulit bagi seorang despot berkuasa secara tunggal. Akan tetapi bukan berarti ia ingin membagikan kekuasaannya kepada orang lain. Yang ia lakukan adalah menjadikan kekuasaannya sebagai pusat patronase bagi siapa saja yang loyal dan menerima kekuasannya. Dengan demikian, despotisme baru juga adalah kekuasaan berbasis patronase: ia dapat memberikan kesempatan mengakses privilese yang memungkinkan seseorang mendaptakan barang dan layanan serta sumber daya material yang mereka inginkan melalui akses terhadap kekuasaan. Hal ini bekerja baik di dalam aturan formal maupun informal. Institusi negara dalam kondisi despotisme baru telah dibajak oleh jejaring patronase skala luas. Sistem kekuasaan patron-klien ini diorkestrasi oleh seorang despot untuk mendapatkan loyalitas (hal, 37).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, bagi Keane, despotisme baru juga adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">plutokrat</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada dirinya sendiri: sistem pemerintahannya tercampur antara modal swasta, kekayaan, dan pendapatan. Seorang despot akan membiarkan seseorang untuk kaya. Akan tetapi, ketika ia ingin tetap kaya, ia tidak bisa kaya sendirian. Ia perlu mempertahankan kekayaannya melalui perlindungan negara. Kekayaan tersebut akan menjadi sumber kekayaan, kekuasaan, kebesaran dan kebanggaan negara (hal, 46). Despotisme baru juga dicirikan oleh rezim akumulasi yang sangat teregulasi. Pejabat-pejabat tinggi negara juga sekaligus menjalankan perusahaan negara dan swasta. Kelas pebisnis menempatkan pejabat untuk mendapat kepastian dan perlindungan bisnis. Dalam modus kekuasaan despotisme baru, tidak ada bisnis yang independen. Bisnis dan pemerintah berbaur menjadi satu (hal, 53).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keane juga menyoroti pemilu sebagai instrumen demokrasi yang dimanipulasi dalam kekuasaan despotisme baru. Pemilu tidak berfungsi sebagai partisipasi warga negara dalam memilih wakil-wakilnya, melainkan pemilih didorong untuk mengaggap diri mereka sebagai subjek yang loyal terhadap pemerintahan yang berkinerja baik.</span><span style="font-weight: 400;"> Pemilu dirancang sebagai benteng pertahanan pemerintah dari rakyatnya. Kekuasaan yang didapati melalui pemilu selanjutnya digunakan untuk menjaga kekuasaan itu sendiri. Dengan demikian, menurut Keane, despotisme baru menjalankan pemilu tanpa demokrasi (hal, 104).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain pemilu, despotisme baru juga memanipulasi hukum sebagai instrumen kekuasaan. Dalam kondisi ini, tidak ada hukum dalam pengertian yang sebenarnya. Sebaliknya, hukum secara bersamaan bisa nyata sekaligus ilusif; ada tetapi tidak ada; hadir tetapi absen. Hukum berarti ketaatan, penyalahgunaan, dan ketiadaan hukum. Dengan kata lain, aturan hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">(rule of law) </span></i><span style="font-weight: 400;">memiliki kualitas yang semu, dan yang ada hanyalah kekuasaan melalui hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">(rule through law)</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hal, 183, 191).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Media juga merupakan fitur kekuasaan despotisme baru. Media dalam kondisi despotisme baru menjalankan fungsinya sebagai manipulator yang berupaya memenangkan penerimaan dan kesepakatan rakyat. Inovasi media yang sedang berkembang digunakan seorang despot untuk menyebarkan kuasa despotiknya. Hal itu dapat bekerja secara keras sekaligus halus. Pertama, despot berupaya mengontrol perusahaan media, pemberitaan, dan pemadaman sarana internet untuk tujuan tertentu yang diinginkan. Kedua, despot tidak anti-media, mereka tidak bersembunyi dibalik layar dengan kerahasiaannya, akan tetapi mereka menggunakan media sebagai panggung depan untuk bisa terlihat dan disukai oleh masyarakat. Di depan media, seorang despot dapat berakting menjadi lucu, ramah, demokratis, dan penjaga hati masyarakat. Namun, seperti yang telah ditunjukkan Keane, sebagian besar pemimpin despotik di negara-negara dunia menjadikan media sebagai sarana penerimaan dan rayuan (hal, 113-154).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain media, despot memobilisasi opini publik untuk memperkuat kekuasaannya. Despot mengontrol kaum terdidik, surveyor, dan lembaga </span><i><span style="font-weight: 400;">think-tank </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk mendapatkan data sekaligus sebagai sistem peringatan dini. Seorang despot mendapatkan data melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">polling</span></i><span style="font-weight: 400;"> opini untuk mengetahui opini yang berkembang di masyarakat tentang kebijakan tertentu. Selain itu, hal ini merupakan sistem yang dapat memberitahukan potensi ketidakteraturan sosial dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah. Atas pertimbangan ini, despot harus secara konstan dekat dengan masyarakat untuk memastikan bahwa tidak terjadi jarak yang berjauhan antara pemerintah dan masyarakat. Despot harus tetap melihat, dan mendengar dari bawah agar tujuan harmonisasi melalui opini publik menjadi nyata (hal, 168).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, yang paling penting di sini adalah despotisme baru membawa pemahaman dalam kesadaran masyarakat bahwa dipimpin oleh seorang despot bukanlah merupakan suatu tragedi yang mengenaskan. Sebaliknya, masyarakat dapat dengan mudah mencintai seorang despot melalui persuasi dan rayuan. Dalam hal ini, menurut Keane, </span><span style="font-weight: 400;">despotisme baru telah mentransformasi rakyat menjadi instrumen kekuasaan, yakni sebagai seorang budak secara sukarela, atau apa yang ia sebut sebagai perbudakan-sukarela </span><i><span style="font-weight: 400;">(voluntary-servitude)</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hal, 215).</span></p>
<p><b>Penutup</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keane menyimpulkan bahwa despotisme baru adalah jenis pemerintahan baru yang bersifat pseudo-demokrasi dan dipimpin oleh penguasa yang ahli dalam memanipulasi dan mencampuri urusan masyarakat, serta menggalang dukungan dan memenangkan persetujuan.</span><span style="font-weight: 400;"> Despotisme baru membentuk hubungan ketergantungan yang dijalankan oleh kekayaan, uang, hukum, pemilu, dan opini publik melalui saluran media, serta imajinasi tentang perlindungan “rakyat” dan “bangsa” dari serangan musuh di dalam negeri atau musuh dari luar negeri. Despotisme bagi Keane adalah piramida kekuasaan yang memupuk sikap tunduk dan patuh pada rakyat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun demikian, kritik yang harus dilayangkan pada karya Keane ini adalah kecenderungannya untuk melihat kekuasaan dalam kerangka Weberian, bahwa individu yang memiliki sumber daya kekuasaan adalah sumber dominasi. Keane tidak memotret kekuasaan secara dialektis, bahwa serangan terhadap kekuasaan dominan dari mereka yang marginal adalah faktor determinan yang menentukan formasi kekuasaan. Dengan kata lain, Keane menutup celah akan adanya agensi rakyat. Ia dengan demikian seolah meremehkan agensi kreatif rakyat terhadap kekuasaan dalam berbagai bentuknya.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/07/despotisme-baru/">Despotisme Baru: Bagaiamana Kekuasaan Dijalankan Melalui Persuasi dan Rayuan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1239</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Merobohkan Institusi Perbatasan? Kekerasan Negara dalam Isu Migran</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/04/perbatasan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=perbatasan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Karima Taushia Ahmad]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2024 05:43:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1209</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cowan, Leah. 2021. Border Nation: A Story of Migration (Bangsa Perbatasan: Sebuah Kisah Migrasi). Penerbit Pluto.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/04/perbatasan/">Mungkinkah Merobohkan Institusi Perbatasan? Kekerasan Negara dalam Isu Migran</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/border-nation.jpg?resize=195%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="195" height="300" class="size-medium wp-image-1210 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/border-nation.jpg?resize=195%2C300&amp;ssl=1 195w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/border-nation.jpg?w=422&amp;ssl=1 422w" sizes="auto, (max-width: 195px) 100vw, 195px" />Cowan, Leah. 2021. Border Nation: A Story of Migration (Bangsa Perbatasan: Sebuah Kisah Migrasi). Penerbit Pluto.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Akhir Maret 2024, tiga jenazah ditemukan terapung di lepas pantai Aceh–dua perempuan dan satu laki-laki. Tak jauh dari sana, sebuah kapal terbalik dengan puluhan orang berdesak-desakan di atasnya. Perlahan tapi pasti, air laut menenggelamkan kapal. Mereka adalah pengungsi Rohingya yang lari dari persekusi pemerintahan militer Myanmar. Para pengungsi menyeberangi lautan berbahaya, berharap negara tujuan kelak mau menampung mereka, meskipun hanya sementara. Tim SAR mengestimasikan, 151 orang tadinya berada di kapal tersebut, dan hanya 75 di antaranya berhasil diselamatkan. Sementara itu sisanya menghilang, bahkan tewas karena tenggelam. UNHCR menyebut insiden tersebut sebagai kasus dengan jumlah kematian terbesar pengungsi Rohingya tahun ini; hampir seperlima dari total kematian pengungsi Rohingya sepanjang tahun lalu dalam perjalanan menuju Asia Tenggara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbatasan adalah lokasi kekerasan. Dalam banyak kasus orang-orang terpaksa mengambil jalur perjalanan berbahaya yang berujung pada ketidakpastian, bahkan kematian. Hal inilah yang menjadi premis Leah Cowan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Border Nation: A Story of Migration</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Menganalisis sejarah imperialisme Inggris, buku ini menggarisbawahi kekerasan di perbatasan Inggris sebagai rezim demi mengamankan properti, teritori, dan kekayaan bagi segelintir elit; juga tak bisa dilepaskan dari sistem kolonialisme dan kapitalisme. </span><span style="font-weight: 400;">Serangkaian gambaran terkait kekerasan perbatasan tersebut mengarah pada kesimpulan berani: ‘robohkan perbatasan’. Bagi Cowan, melawan perbatasan tidak hanya berupa penolakan terhadap gagasan </span><i><span style="font-weight: 400;">border</span></i><span style="font-weight: 400;"> secara fundamental, tetapi juga upaya reformasi perbatasan demi keselamatan migran. </span><span style="font-weight: 400;">Sebuah pendekatan yang idealis tetapi juga realistis.</span></p>
<p><b>Memikirkan Ulang Perbatasan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pencurian sumber daya alam dan perbudakan selama ratusan tahun melalui proyek imperialisme Eropa telah menginterupsi pertumbuhan ekonomi dan pergerakan manusia secara global. </span><span style="font-weight: 400;">Imperialisme telah mendongkrak kekayaan negara-negara Global Utara, tetapi di sisi lain, menghancurkan sistem ekonomi dan menciptakan konflik sosial-politik berkepanjangan di Global Selatan. Fakta demikian merupakan kisah personal bagi Cowan, seorang cucu imigran ‘Windrush’ yang meninggalkan negara-terlilit utang, Jamaika, pasca Perang Dunia II. </span><span style="font-weight: 400;">Tujuan ‘pelarian’ tersebut, yakni mencari penghidupan lebih baik di negara penjajah mereka, Inggris, di mana industrialisasi dikeruk dari eksploitasi Jamaika—negara asal mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, amnesia sejarah sepertinya sudah ditanamkan dalam diskursus publik dan sistem pendidikan Inggris. </span><span style="font-weight: 400;">Kejayaan Inggris sebagai negara industri telah sepenuhnya disucikan dari sejarah gelap perbudakan transatlantik, sementara migran yang terdampak langsung akibat sejarah penjajahan tersebut justru diinterogasi atas identitas mereka sebagai ‘Inggris’, bahkan mempertanyakan kontribusi migran terhadap perekonomian. Migran—sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">person of color </span></i><span style="font-weight: 400;">dianggap tak berhak menikmati layanan publik Inggris sebagaimana komunitas kulit putih yang lahir dan besar di negara tersebut.</span><span style="font-weight: 400;"> Seolah-olah, merit orang kulit putih dalam sistem kapitalisme adalah satu-satunya yang kaya dan berada. Karena itu, migran dianggap harus membuktikan nilai mereka dalam sistem kapitalisme jika ingin diakui.</span></p>
<div id="attachment_1211" style="width: 218px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1211" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/leah-cowan.jpg?resize=208%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="208" height="300" class="wp-image-1211 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/leah-cowan.jpg?resize=208%2C300&amp;ssl=1 208w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/04/leah-cowan.jpg?w=478&amp;ssl=1 478w" sizes="auto, (max-width: 208px) 100vw, 208px" /><p id="caption-attachment-1211" class="wp-caption-text">Leah Cowan</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbatasan menjadi sebuah ide esensial untuk menghalau imigran. Cowan mendefinisikan perbatasan tidak hanya berupa poin kedatangan menuju suatu negara, tetapi juga praktik-praktik eksklusi. Isu migran dimanfaatkan, dan selanjutnya disetir sebagai ide populisme rasis dan xenophobik, menganggap bahwa migran merugikan negara. </span><span style="font-weight: 400;">politisi berlomba-lomba menjadi yang paling keras berkoar dalam isu imigrasi demi memenangkan suara elektoral. Peran media juga krusial mengamplifikasi retorika rasis dari level elit ke publik. Bahkan, media turut menjustifikasi retorika mereka melalui implementasi kebijakan sesuai persepsi elektoral. Opini publik sebagai ‘kebenaran yang diterima’ digunakan untuk menyetir proses pengambilan keputusan elit-elit pemerintah yang berusaha untuk mengamankan posisi politik mereka. Misalnya, petinggi Partai Buruh Inggris, Ed Miliband, pada 2012 berupaya menarik suara elektoral dengan menyuarakan bahwa partai mereka sudah terlalu jauh dari kepentingan kelas pekerja; bahkan menggarisbawahi ‘beban biaya’ migrasi yang selama ini ditanggung pemerintah Inggris.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam level pemerintahan Inggris sendiri, Undang-Undang Perbudakan Modern tahun 2015 disahkan dengan tujuan melindungi korban perbudakan dan perdagangan manusia. Ironisnya, kriminalisasi kerja-kerja tak terdokumentasi justru mendorong kelompok paling rentan—pengungsi, migran, maupun kelompok lain yang dianggap ‘ilegal’—dipekerjakan pada sektor ekonomi informal abusif. Sementara itu, pemenjaraan ‘tuan-tuan perbudakan’ sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan sistemik ketenagakerjaan. Legislasi hukum demikian lebih jauh membahayakan migran. Pasalnya, instrumen imigrasi seperti detensi dan deportasi dapat digunakan untuk menghukum tindak kriminal mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lantaran takut berhadapan langsung dengan sistem hukum dan pemerintahan yang tak berpihak pada mereka, migran beralih pada penyelundupan ilegal, eksploitasi tenaga kerja, serta rute-rute iregular yang berbahaya. Adapun, ancaman deportasi kini bertransformasi menjadi ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">panic button</span></i><span style="font-weight: 400;">’ pemerintah saat migran melakukan tindakan kriminal. Alih-alih mengarahkan solusi secara sistemik ke akar permasalahan seperti ketidaksetaraan gender dalam kasus-kasus kekerasan seksual oleh kelompok pengungsi, narasi rasis justru menggambarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">person of color </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai ‘biadab’. </span><span style="font-weight: 400;">Tindakan kriminal segelintir migran tentu perlu diatasi, tetapi hal tersebut tidak menafikan hak hidup migran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks pengungsi dan pencari suaka, perbatasan telah mendorong mereka ke dalam sistem-sistem penahanan atau detensi. Di Indonesia, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) sesuai Peraturan Presiden 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri merupakan aktor utama penampungan pengungsi sementara sebelum mereka direlokasi ke negara ketiga, atau kembali ke negara asal. Fakta lapangan menunjukkan bahwa pengungsi menghadapi risiko detensi bertahun-tahun tanpa prospek relokasi yang jelas. Bahkan, mereka tidak mendapatkan hak hidup memadai seperti pendidikan, pekerjaan, dan akses kesehatan. Situasi demikian dikenal oleh pemerhati isu pengungsi sebagai ‘limbo’. Cowan yang menulis dalam konteks Inggris menemukan lebih jauh keterlibatan aktif sektor privat dalam hal ini. Hampir seluruh sistem detensi di negara tersebut dioperasikan oleh perusahaan keamanan swasta. Mereka berlomba-lomba mengamankan kontrak dengan menawarkan harga operasional semurah mungkin. Dengan demikian, sering kali tidak memperhatikan kualitas hidup layak bagi migran dan pengungsi di dalamnya.</span></p>
<p><b>Robohkan Perbatasan!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cowan menolak konsep perbatasan. Baginya, gerakan bukan dimaksudkan untuk ‘menyelamatkan’ sekelompok manusia tak berdaya. Namun justru sebagai perjuangan kolektif demi menghapus sistem yang sedari awal tidak adil dan tak setara.</span><span style="font-weight: 400;"> Namun, meskipun telah menjabarkan beberapa cara seperti mengadakan protes, menegosiasikan titik-titik lemah perbatasan, serta memajukan ide dekolonisasi; Cowan secara implisit menjelaskan ide fundamental terkait pembongkaran perbatasan: abolisionisme. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Emily Kenway (2022), akademisi keadilan sosial di Universitas Edinburgh, merangkum abolisionisme sebagai perjuangan meruntuhkan institusi yang keberadaannya sudah sedemikian rupa natural, salah satunya perbatasan. Abolisionisme menentang perbatasan sebagai institusi, lantaran praktik-praktik kekerasan yang telah menubuh. Pun, abolisionisme tidak hanya mendorong perobohan batas-batas fisik (misal tembok, pagar kawat) dan instrumen legal yang menopangnya. Abolisionis mengidentifikasikan seperangkat ide untuk menjustifikasi kekerasan perbatasan. </span><span style="font-weight: 400;">Perbatasan adalah indikasi dari masalah utama: Kekuasaan tak terbatas negara berdaulat untuk menggunakan kewarganegaraan untuk mendiskriminasi sebagian kelompok manusia. Maka, dibutuhkan transformasi cara berpikir yang mengkotak-kotakkan manusia dengan melihat negara-bangsa sebagai satu-satunya solusi keamanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Are Prison Obsolete?</span></i><span style="font-weight: 400;">, pemikir abolisionis termasyhur, Angela Davis berfokus pada institusi penjara yang ia sebut ‘natural’ sehingga ‘sulit mengimajinasikan kehidupan tanpanya’. Inilah tantangan terbesar abolisionisme. Sekalipun penuh dengan sejarah berdarah, banyak institusi telah lama ada. Mereka membatasi imajinasi akan sistem sosial yang lebih adil.</span><span style="font-weight: 400;"> Penghapusan perbudakan pun juga merupakan hasil bagaimana abolisionisme menentang sistem. Pada saat itu, perbudakan diizinkan secara hukum, bahkan dianggap menguntungkan perekonomian negara-negara kulit putih. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenway menulis bahwa abolisionis mengajak kita memandang manusia tanpa label biner: Warga negara vs. migran, masyarakat vs. kriminal, dan lain-lain. Justru, sebagai manusia secara kompleks, termasuk migran dengan kebutuhan sosial yang terhalang untuk dipenuhi.</span><span style="font-weight: 400;"> Insiden kaburnya pengungsi dari kamp penampungan, misalnya, perlu dilihat melampaui pemikiran bahwa mereka melanggar peraturan dan membahayakan keamanan negara. Kita perlu mengakui bahwa kebutuhan hidup fundamental mereka tak terpenuhi secara utuh. Beberapa di antaranya, hak makan dan tempat tinggal layak, dan akses terhadap sistem kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian, solusi sosial yang menyasar akar permasalahan penting dikedepankan ketimbang mekanisme kriminalisasi dan penahanan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cowan mengadvokasikan relaksasi perbatasan sebagai upaya reformis menuju penghapusan perbatasan seutuhnya. Dia mengutip akademisi Natasha King (2016) terkait ‘tensi fundamental’; terkadang kita perlu memperjuangkan perubahan-perubahan kecil dengan masih memvalidasi institusi demi keamanan kelompok rentan. Namun, perubahan tersebut dimaksudkan untuk visi abolisionis di masa depan. Misalnya, advokasi perizinan bagi migran tak terdokumentasi untuk mengakses layanan publik dalam jangka waktu tertentu, sembari mengizinkan mereka mengurus status kewarganegaraan. Hal ini pelan-pelan menggeser pemikiran bahwa hak-hak hidup terikat secara eksklusif hanya pada mereka yang memiliki status kewarganegaraan penuh. Perubahan juga bisa berupa negosiasi kerangka hukum perbatasan yang lebih sadar terhadap kerentanan pengungsi. Misalnya dengan menciptakan perbatasan agar lebih longgar, agar tak menciptakan berbagai persoalan lain seperti penyelundupan ilegal melalui rute berbahaya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cowan mendesain bab terakhir buku dengan menjawab pertanyaan yang sering kali ditemui sebagai aktivis dan penulis. Pertanyaan seperti, “Bukankah dunia tanpa perbatasan hanya utopia?” Atau, “Tanpa perbatasan, bagaimana kita menghalau kriminal dan teroris?” merupakan kekhawatiran valid atas ide abolisionis. Cowan menjabarkan penjelasan secara spesifik dan mudah dicerna. Ia kembali pada argumen bahwa perbatasan membawa lebih banyak kekerasan dan ketidaksetaraan, ketimbang keamanan dan keadilan. </span><span style="font-weight: 400;">‘Robohkan perbatasan’ tidak akan terjadi dalam waktu dekat selama negara masih memegang kekuasaan tertinggi dalam sistem internasional. </span><span style="font-weight: 400;">Tentu, mereka tidak akan menyerahkan privilese kedaulatan semudah itu. </span><span style="font-weight: 400;">Tetapi, pembicaraan seperti yang dibawakan Cowan inilah yang diperlukan untuk sedikit demi sedikit mempertanyakan logika kekerasan negara dan perbatasan.</span><span style="font-weight: 400;"> Siapa yang selama ini diuntungkan, dan siapa menjadi korban?</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/04/perbatasan/">Mungkinkah Merobohkan Institusi Perbatasan? Kekerasan Negara dalam Isu Migran</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1209</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gerakan Sosial di Indonesia Masa Orde Baru hingga Pasca Reformasi: Masih Relevankah Kini?</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/06/gerakan-sosial-di-indonesia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=gerakan-sosial-di-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Karunia Haganta]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jun 2023 15:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aktivisme]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1089</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dibley, Thushara dan Michele Ford (ed.). 2019. Activists in Transition: Progressive Politics in Democratic Indonesia (Aktivis dalam Transisi: Politik Progresif dalam Indonesia Demokratis). Penerbit Universitas Cornell.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/gerakan-sosial-di-indonesia/">Gerakan Sosial di Indonesia Masa Orde Baru hingga Pasca Reformasi: Masih Relevankah Kini?</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/activists-in-transition-e1686337957328-211x300.jpg?resize=211%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="211" height="300" class="size-medium wp-image-1090 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/activists-in-transition-e1686337957328.jpg?resize=211%2C300&amp;ssl=1 211w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/activists-in-transition-e1686337957328.jpg?w=300&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 211px) 100vw, 211px" />Dibley, Thushara dan Michele Ford (ed.). 2019. </span><i><span style="font-weight: 400;">Activists in Transition: Progressive Politics in Democratic Indonesia</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Aktivis dalam Transisi: Politik Progresif dalam Indonesia Demokratis). Penerbit Universitas Cornell.</span></p>
<hr>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu momen krusial pasca Reformasi adalah protes #ReformasiDikorupsi yang dilakukan serentak di berbagai daerah pada 2019 silam. Aksi tersebut didorong oleh rencana revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), meski akhirnya kedua peraturan perundangan tersebut tetap disahkan di tengah gelombang penolakan publik. Aksi #ReformasiDikorupsi beberapa bulan sebelum Pandemi COVID-19 seolah menjadi nyala terakhir sebelum perlawanan menyurut di tengah krisis. Sejak saat itu, kebijakan pemerintah masih menimbulkan berbagai polemik, di antaranya pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja. Bahkan, suara kritis terhadap kinerja pemerintah terus diberangus dengan berbagai cara.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kondisi tersebut mendorong kita memeriksa ulang gerakan sosial pasca Reformasi di Indonesia. Melalui tagar #ReformasiDikorupsi yang ramai pada 2019, banyak orang meyakini bahwa bukan seperti ini Reformasi yang dahulu dicita-citakan. Lantas, bagaimana gerakan sosial yang dulunya mengubah rezim otoriter menuju demokrasi tersebut kini bertransisi? Pertanyaan tersebut berupaya dijawab dalam antologi </span><i><span style="font-weight: 400;">Activists in Transition: Progressive Politics in Democratic Indonesia</span></i><span style="font-weight: 400;"> disunting oleh Thushara Dibley dan Michele Ford.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini menjawab tantangan Donatella Della Porta dalam karya mengenai gerakan sosial bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Mobilizing for Democracy: Comparing 1989 and 2011</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2014) guna melihat dampak gerakan sosial di masa demokratisasi. Antologi ini berfokus pada gerakan progresif alih-alih konservatif. Pada pendahuluan, Dibley dan Ford berargumen bahwa gerakan sosial progresif mestinya membawa visi masyarakat terbuka dan inklusif, menghormati warga negara, serta mengupayakan kesetaraan akses hak sipil dan politik. Dalam demokratisasi, gerakan sosial progresif merupakan konstruksi bersama (</span><i><span style="font-weight: 400;">co-construction</span></i><span style="font-weight: 400;">), diupayakan oleh individu-individu, dan berpengaruh terhadap massa lainnya. Mengacu pada skema Rossi dan Della Porta, gerakan sosial dilihat dalam beberapa tahapan, yakni resistensi, liberalisasi, transisi, kemudian berlanjut pada perluasan nilai demokrasi.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, kasus di Indonesia cukup berbeda. Dibley dan Ford menyebutnya sebagai tahap stagnasi. Dalam konteks Indonesia, masa resistensi –sekitar 1965 hingga 1989 –dilihat sebagai masa perkembangan organisasi nonpemerintah, tepatnya pada 1970-an. Sementara, masa liberalisasi (1989-1994) ditandai dengan era keterbukaan sebagai arah kebijakan Orde Baru, menyesuaikan iklim politik dunia pada masa itu. Namun, keterbukaan tersebut tidak berlangsung lama karena segera digantikan dengan rezim Orde Baru yang represif, sehingga kemudian mendorong transisi (1994-2004). Ketika gejolak Reformasi mulai stabil sejak 2004, dimulailah masa stagnasi politik, ditandai dengan tidak adanya perubahan besar dalam demokrasi Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian selanjutnya membahas konteks gerakan sosial sebelum Reformasi 1998.&nbsp; Pertama, Dibley dan Ford membahas tentang gerakan mahasiswa yang ditulis oleh Yatun Sastramidjaja. Dalam mitos yang berkembang dan dipromosikan oleh pemerintah Orde Baru, gerakan mahasiswa dipandang sebagai gerakan moral, sehingga harus netral dan bersih dari kepentingan politik praktis. Di hadapan otoritarianisme Orde Baru, gerakan mahasiswa semakin tak berdaya, bahkan dianggap tak signifikan bagi dinamika politik.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun Orde Baru telah berakhir, aktivisme mahasiswa masih kental citranya sebagai gerakan moral. Oleh karena itu, mahasiswa kesulitan mengatur strategi untuk memperjuangkan tujuan mereka. Melalui delegitimasi gerakan mahasiswa dengan anggapan ‘telah dinodai’ atau ‘ditunggangi’, mereka dengan mudah dikacaukan, bahkan dianggap tak lagi relevan dengan kondisi sosial politik masa kini. Meskipun demikian, ambivalensi gerakan mahasiswa tersebut oleh Sastramidjaja dianggap sebagai keuntungan karena sifat fleksibel dalam menghadapi berbagai tantangan karena fokus pada konteks lokal alih-alih terobsesi dengan politik elektoral di level nasional.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan gerakan mahasiswa, aktivisme antikorupsi sangat populer di masa transisi (1994-2004) karena kekayaan kroni Soeharto yang mencolok, disimbolkan dengan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di masa Orde Baru. Dalam bagian ini, Elisabeth Kramer membahas gerakan antikorupsi yang semakin terkonsolidasi berkat iklim demokrasi mulai stabil pasca Orde Baru. Ketertarikan donor internasional juga turut menyuburkan menjamurnya berbagai gerakan antikorupsi. Puncaknya adalah dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2003. Di masa pasca Reformasi, KPK sebagai gerakan antikorupsi memperoleh tantangan berbagai pihak, misalnya kepolisian. Desentralisasi juga menambah beban baru pemberantasan korupsi karena maraknya tindak korupsi di tingkat lokal. Namun, kehadiran gerakan antikorupsi pada tingkat regional memberikan secercah harapan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian selanjutnya mengenai gerakan buruh ditulis Teri Caraway dan Michele Ford. Gerakan buruh melemah di masa Orde Baru dengan hanya satu serikat, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Di masa keterbukaan, gerakan buruh mulai menemukan momentum. Perlahan-lahan, berbagai organisasi buruh berdiri dan menjadi bagian penting dalam mewujudkan masa transisi. Dengan kebijakan kebebasan berorganisasi bagi buruh yang disahkan di masa Habibie, gerakan buruh berlipat ganda. Kunci kesuksesan gerakan buruh adalah konsolidasi. Di masa Reformasi, salah satu bentuk konsolidasi diwujudkan dengan Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) yang memperjuangkan jaminan sosial pada 2012. Gerakan buruh juga bekerja sama dengan gerakan petani, nelayan, dan organisasi nonpemerintah terkemuka seperti Indonesia Corruption Watch (ICW), Trade Union Rights Centre (TURC), dan Urban Poor Consortium (UPC). Dengan memanfaatkan politik elektoral, gerakan buruh mendorong tuntutan kenaikan upah melalui sistem pemilihan langsung. Namun, ketiadaan akses langsung pada politik elektoral membuat gerakan buruh mengalami kesulitan dalam memengaruhi regulasi, misalnya pada 2015 ketika aturan penentuan upah minimum tak lagi dilakukan melalui negosiasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pasang surut juga dialami oleh gerakan agraria. Di masa Orde Baru, gerakan agraria dinilai tidak konfrontatif, misalnya Bina Desa dan Mitra Tani. Gerakan agraria saat itu juga dilemahkan pemerintah melalui Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai organisasi petani resmi milik pemerintah. Organisasi nonpemerintah seperti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan gerakan mahasiswa Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) turut membentuk organisasi tani. Titik penting lainnya adalah berdirinya Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 1994. Fragmentasi gerakan agraria tidak terhindarkan di masa Reformasi. Secara garis besar, pasca Orde Baru, gerakan agraria menggunakan tiga jenis strategi. Pertama, strategi mobilisasi dengan unjuk rasa. Kedua, strategi politik dengan mendorong pengesahan regulasi. Ketiga, strategi ekonomi dengan kegiatan ekonomi tanding.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dibandingkan dengan gerakan sosial lain, solidaritas kaum miskin kota tidak terlalu terorganisasi. Bagian yang ditulis Ian Wilson menjelaskan bahwa pola gerakan kaum miskin kota adalah defensif karena mengutamakan keselamatan mereka dalam jangka pendek. Dalam praktiknya, gerakan tersebut termanifestasi melalui protes atau kontrak politik. Di sisi lain, gerakan ini mudah terjebak pada patronisme oleh kelompok tertentu yang menawarkan kekuasaan, misalnya preman yang memiliki relasi ke pejabat.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya, pembahasan mengarah pada gerakan sosial berbasis identitas. Bagian ini dimulai dengan tulisan Greg Fealy mengenai gerakan Islam liberal progresif. Aktivisme tersebut dimotori tokoh-tokoh inteligensia muslim yang sebagian besar berlatar belakang perguruan tinggi Islam. Ketika Orde Baru mengalami &#8220;</span><i><span style="font-weight: 400;">Islamic turn&#8221;</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan merapatkan kekuasan dengan pihak Islam, gerakan ini terpecah antara mendekat dengan rezim Orde Baru atau tetap menjaga jarak. Berakhirnya Orde Baru menghasilkan dua kondisi: meningkatnya konservatisme Islam dan melemahnya gerakan Islam liberal. Ini terjadi lantaran berkurangnya represi terhadap islamisme, berimplikasi pada berkurangnya pendanaan internasional, karena kejatuhan rezim otoritarian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gerakan identitas lainnya adalah gerakan perempuan. Dalam bagian yang ditulis oleh Rachel Rinaldo, ia menjelaskan demokratisasi tidak selamanya sejalan dengan pembebasan perempuan. Organisasi nonpemerintah juga berperan penting dalam perkembangan gerakan perempuan. Di luar itu, organisasi keagamaan seperti Fatayat dan Muslimat dari Nahdlatul Ulama dan Aisyiyah dari Muhammadiyah bekerja sama untuk mendorong hak-hak perempuan. Kerja sama ini didorong karena konservatisme tereskalasi pasca Orde Baru. Di masa transisi, dibentuk Komnas Perempuan serta pengesahan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Meski demikian, desentralisasi justru menciptakan ruang bagi penguatan konservatisme melalui dukungan peraturan daerah. Bahkan, UU Antipornografi juga tetap disahkan meski diprotes oleh gerakan perempuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pola serupa terjadi pada gerakan gay dan lesbian. Dalam tulisan Hendri Wijaya dan Sharyn Graham Davies, demokrasi dinilai memberi ruang bagi gay dan lesbian mengklaim hak mereka. Namun, secara bersamaan, visibilitas tersebut mengundang diskriminasi. Pada masa Orde Baru, gerakan ini bergerak dalam senyap. Di masa itu, gerakan gay lebih aktif dengan kehadiran organisasi seperti Lambda Indonesia dan GAYa NUSANTARA. Gerakan tersebut muncul melalui penerbitan, diskusi, dan film yang tidak konfrontatif dengan negara. Menjelang Reformasi, gerakan ini menguat dengan mengadakan kongres dan badan koordinasi nasional serta menjalin kerja sama internasional. Menguatnya gerakan gay dan lesbian mengundang reaksi kebencian dari negara maupun Islam konservatif. Menghadapi situasi tersebut, mereka mengambil posisi lunak dengan bekerja sama dengan media dan donor internasional.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, gerakan disabilitas masih kurang mendapat perhatian. Thushara Dibley menyebut gerakan ini terbilang baru dimulai sejak berakhirnya Orde Baru, terutama di Jakarta dan Yogyakarta. Melalui organisasi-organisasi di daerah tersebut, gerakan disabilitas memperjuangkan hukum yang menjamin pemenuhan hak-hak mereka. Meski terbatas, mereka memperoleh pencapaian berupa disahkannya Peraturan Daerah di Yogyakarta, undang-undang nasional, dan Komnas Disabilitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian terakhir, Edward Aspinall merefleksikan berbagai studi kasus tersebut dengan menjelaskan tiga konteks gerakan sosial di Indonesia. Pertama, organisasi politik yang klientelistik. Kedua, gerakan sosial yang bertumpu pada jaringan informal. Ketiga, kehadiran oposisi terhadap tujuan progresif. Tantangan gerakan sosial adalah bagaimana mewujudkan aktivisme yang kebanyakan partikular ke dalam tujuan universal. Buku ini dapat dikatakan merupakan pengantar yang baik dalam memahami ragam isu gerakan sosial di Indonesia.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai antologi, mustahil untuk memberi rincian lengkap di setiap bab. Meski demikian, beberapa isu yang diangkat seperti gerakan kaum miskin kota dan gerakan disabilitas memang masih jarang dibahas, sehingga menjadi sumbangan berharga bagi pengkaji sosial. Bagi pembaca yang membutuhkan sumber mengenai beragam gerakan sosial secara padat, buku ini sangat bermanfaat karena mengenalkan berbagai gerakan sosial sejak Orde Baru hingga pasca Reformasi. Namun sebagai konsekuensi dari antologi, beberapa bagian muncul berulang, terutama pembahasan tentang berakhirnya Orde Baru. Terlepas dari itu, antologi </span><i><span style="font-weight: 400;">Activists in Transition: Progressive Politics in Democratic Indonesia </span></i><span style="font-weight: 400;">penting untuk menjadi refleksi ilmiah gerakan sosial di Indonesia.&nbsp;</span></p>


<p></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/gerakan-sosial-di-indonesia/">Gerakan Sosial di Indonesia Masa Orde Baru hingga Pasca Reformasi: Masih Relevankah Kini?</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1089</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mendisiplinkan Timur Tengah: Atau, Bagaimana Antropologi di AS Menjadi Antek-antek Penguasa</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/06/mendisiplinkan-timur-tengah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mendisiplinkan-timur-tengah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Stanley Khu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2023 15:09:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1076</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lara Deeb &#038; Jessica Winegar. 2016. Anthropology's Politics: Disciplining the Middle East [Politik Antropologi: Mendisiplinkan Timur Tengah]. Penerbit Universitas Stanford. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/mendisiplinkan-timur-tengah/">Mendisiplinkan Timur Tengah: Atau, Bagaimana Antropologi di AS Menjadi Antek-antek Penguasa</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/anthro-politics.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-1077 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/anthro-politics.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/anthro-politics.jpg?w=400&amp;ssl=1 400w" sizes="auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px" />Deeb, Lara &amp; Jessica Winegar. 2016. <i>Anthropology&#8217;s Politics: Disciplining the Middle East </i>[Politik Antropologi: Mendisiplinkan Timur Tengah]<i>. </i>Penerbit Universitas Stanford. </span></p>
<hr />
<p style="text-align: center;"><b>1</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imajinasi idealistik tentang akademisi adalah manusia yang hayatnya dituntun oleh semangat kebebasan dalam menjelajahi gagasan. Akademisi melakukan riset dan mengajar, dan yang tak kalah pentingnya: menghasilkan, mempertanyakan, dan membabarkan pengetahuan. Tapi ini gambaran yang naif dan tak menjejak bumi. Bahkan di negara yang konon paling liberal sekalipun – AS – pendidikan tinggi dan universitas adalah semesta yang dipenuhi tegangan kelas, ras, gender, dengan pembedaan antara topik-topik yang terbuka untuk didiskusikan, dan yang tunduk pada pembisuan struktural. Faktanya, Deeb &amp; Winegar memulai buku mereka dengan kalimat berikut: “</span><i><span style="font-weight: 400;">We never could have written this book before tenure.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><div id="attachment_1079" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1079" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Lara-Deeb-1680x1220-1-e1686063931980-300x218.jpg?resize=300%2C218&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="218" class="wp-image-1079 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Lara-Deeb-1680x1220-1-e1686063931980.jpg?resize=300%2C218&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Lara-Deeb-1680x1220-1-e1686063931980.jpg?resize=768%2C558&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/Lara-Deeb-1680x1220-1-e1686063931980.jpg?w=800&amp;ssl=1 800w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-1079" class="wp-caption-text">Lara Deeb</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Studi Deeb &amp; Winegar menyelidiki hubungan antara dunia akademik dan politik di AS pasca Perang Dunia II</span><span style="font-weight: 400;">. Minat serius pertama terkait kawasan Timur Tengah digagas oleh yayasan swasta dan badan pemerintah. Dari sini, </span><span style="font-weight: 400;">struktur akademik dan dinamika politik di AS pelan-pelan mendikte produksi pengetahuan antropologis tentang Timur Tengah sejak kurun 1950-an sampai hari ini.</span> <span style="font-weight: 400;">Konsekuensinya, debat publik, praktik universitas, dan asosiasi akademik di AS</span><span style="font-weight: 400;"> secara subtil </span><span style="font-weight: 400;">memengaruhi jalur karir dan konten pengajaran para antropolog</span><span style="font-weight: 400;">, yang otomatis meredam potensi kesarjanaan kritis terkait kawasan ini. Contoh konkretnya adalah kebijakan luar negeri ala Wild West dari AS dan pendudukan Israel atas Palestina, dua isu ‘terlarang’ yang tidak boleh dibedah oleh pisau analisis antropologi.</span></p>
<p style="text-align: center;"><b>2</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab satu menuturkan biografi dari seratusan antropolog pengkaji Timur Tengah di AS selama beberapa dekade terakhir.</span> <span style="font-weight: 400;">Biografi mereka menunjukkan bahwa aksi memilih disiplin ilmu dan fokus regional tertentu tidak pernah merupakan hasil dari pilihan personal</span><span style="font-weight: 400;"> yang sepenuhnya dimotivasi individualisme. </span><span style="font-weight: 400;">Misalnya, mayoritas sarjana kulit putih memilih disiplin antropologi karena awalnya terbuai oleh fantasi Orientalis</span><span style="font-weight: 400;"> untuk meneliti masyarakat liyan nan eksotik dalam pencarian mereka akan kemanusiaan sejati. </span><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, para pengkaji yang berasal-usul dari Timur Tengah meminati antropologi karena pengalaman imigrasi mereka ke AS</span><span style="font-weight: 400;">, yang sarat episode-episode diskriminasi intens. Bagi kelompok ini, perspektif humanistik antropologi diyakini mampu memberi pemahaman tentang latar kultural mereka sekaligus kritik atas narasi dominan di AS. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Minat pada Timur Tengah juga tidak terlepas dari gejolak geopolitik di kawasan ini</span><span style="font-weight: 400;">: pendirian Israel pada 1948, penemuan cadangan minyak di paruh pertama abad ke-20, revolusi Islam Iran pada 1979, dst. Dampak dari rangkaian peristiwa ini adalah obsesi AS untuk mengontrol Timur Tengah demi melanggengkan ambisi imperialnya. Singkat kata, bab ini adalah kisah tentang perjumpaan antara orang-orang yang meminati antropologi/Timur Tengah dengan kajian akademik yang sedari awal pendiriannya terus mengalami politisasi.</span></p>
<p><div id="attachment_1078" style="width: 310px" class="wp-caption alignright"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1078" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/5699-jessica-winegar-may-2017-624x353-1.jpg?resize=300%2C170&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="170" class="wp-image-1078 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/5699-jessica-winegar-may-2017-624x353-1.jpg?resize=300%2C170&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/06/5699-jessica-winegar-may-2017-624x353-1.jpg?w=624&amp;ssl=1 624w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-1078" class="wp-caption-text">Jessica Winegar</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab dua</span><span style="font-weight: 400;"> melanjutkan biografi para antropolog pengkaji Timur Tengah dengan </span><span style="font-weight: 400;">membahas sensor dan prasangka yang terjadi pada saat mereka mengajukan proposal riset dan beasiswa. Kita diberitahu bahwa nama-nama pemberi beasiswa tenar seperti Fulbright dan Guggenheim melakukan intervensi terhadap integritas akademisi</span><span style="font-weight: 400;">. Misalnya, sebuah riset tentang relasi Israel-Palestina yang mengandung kata seperti okupasi dan kolonialisme hampir pasti akan ditolak. Beberapa promotor juga dengan tegas menolak proposal riset bertema Timur Tengah dengan alasan mengada-ada, baik yang bersifat teknis (bahwa studi tidak memiliki kepustakaan yang mencukupi) maupun pragmatis (bahwa akademisi kelak akan kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Latar belakang kultural juga turut bermain. </span><span style="font-weight: 400;">Misalnya, jika akademisi adalah seorang Arab/Muslim/Palestina, dia akan ditanyai tidak mengenai isu-isu yang berhubungan dengan risetnya</span><span style="font-weight: 400;">, </span><span style="font-weight: 400;">tapi pertanyaan yang menjurus ke urusan personal: Apakah Anda Muslim yang taat? Apa perasaan Anda tentang gerakan </span><i><span style="font-weight: 400;">intifada</span></i><span style="font-weight: 400;">?</span><span style="font-weight: 400;"> Bab ini menunjukkan bahwa pengaruh hegemonik dari sentimen pro-Zionis yang bersirkulasi di antara dosen, administrator, dan donor melahirkan sebuah atmosfer akademik di mana para antropolog yang pada akhirnya tetap memilih fokus kajian Timur Tengah wajib menjarakkan diri sejauh mungkin dari topik-topik sensitif jika ingin menjamin masa depan karir akademik mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab tiga meminta kita membayangkan seperti apa rasanya memulai karir sebagai asisten profesor antropologi dengan minat kajian Timur Tengah di sebuah negara yang</span><span style="font-weight: 400;"> secara tradisional, tapi terutama sejak 9/11, </span><span style="font-weight: 400;">mengusung sentimen anti-Arab dan anti-Muslim.</span><span style="font-weight: 400;"> Kita barangkali membayangkan bahwa mekanisme sensor hanya berlaku dalam konteks-konteks umum, misalnya pemaparan di konferensi ilmiah atau pengajaran di ruang kelas, dan bahwa ada ruang kritis yang lebih besar di arena seperti jurnal ilmiah (lagipula, berapa banyak orang yang membaca jurnal ilmiah?). Tapi, faktanya, </span><span style="font-weight: 400;">proses </span><i><span style="font-weight: 400;">peer review </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dilakukan oleh mitra bestari ternyata tidak luput dari infiltrasi politik. Tidak jarang seorang penulis diminta untuk mengganti kata ‘Palestina’ dengan ‘Arab’</span><span style="font-weight: 400;"> (logika ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan Israel baru-baru ini bahwa “tidak ada yang namanya bangsa Palestina”), </span><span style="font-weight: 400;">atau untuk mengimbangi narasi kebengisan militer Israel dengan narasi pengebom bunuh diri Palestina</span><span style="font-weight: 400;"> (untuk secara superfisial menunjukkan sebuah relasi kausal yang alamiah). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bias politik ini adakalanya menjadikan standar ilmiah terkesan amatiran</span><span style="font-weight: 400;">. Alkisah, seorang antropolog mengirim tulisannya ke sebuah jurnal bereputasi. Dalam tulisan ini, dia melaporkan tentang sebuah pengeboman di wilayah Israel yang diyakini oleh warga Palestina sebagai ulah dari badan intelijen Israel sendiri. Editor jurnal membalasnya dengan pertanyaan: Dari mana Anda tahu dan bagaimana Anda bisa yakin kalau pengeboman ini dilakukan oleh Israel sendiri? Respons semacam ini menunjukkan entah kenaifan akut, ataupun ketidakpahaman tentang perspektif etik-emik. Tujuan penulis bukanlah untuk menjawab pertanyaan ‘siapa melakukan apa’ (ibarat Sherlock Holmes), melainkan menggali proses pemaknaan dari sebuah masyarakat yang secara konstan hidup dalam ancaman bahaya. Namun, alih-alih menanggapi tulisan secara kontekstual, bias editor pada akhirnya berujung pada komentar yang bukan saja tidak objektif, tapi juga </span><i><span style="font-weight: 400;">ngegas. </span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab empat membahas problema etika terkait partisipasi antropologi dalam kerja intelijen pemerintah dan militer.</span><span style="font-weight: 400;"> Barangkali tidak banyak yang tahu, tapi Franz Boas, sedini 1919, telah mengkritik beberapa antropolog yang menurutnya “telah melacurkan sains dengan memakainya sebagai samaran bagi aktivitas mata-mata mereka [di Amerika Tengah].” American Anthropological Association (AAA) merespons surat terbuka Boas dengan mengusirnya dari keanggotaan asosiasi. </span><span style="font-weight: 400;">Ini bukan sekadar insiden masa lampau, karena sampai sekarang pun badan-badan pemerintah seperti CIA dan FBI terus berusaha merekrut para antropolog pengkaji Timur Tengah untuk melayani kepentingan negara</span><span style="font-weight: 400;">. Suara di AAA sendiri tidak kompak. Meski sebagian pihak menggulirkan mosi untuk menolak semua iklan lowongan kerja dari CIA (yang berseliweran di publikasi cetak dan daring AAA), sebagian lainnya menolak mosi ini, dengan alasan bahwa melarang iklan adalah “cara kuno Soviet”. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sini, </span><span style="font-weight: 400;">kita melihat bagaimana relasi-relasi antara produksi pengetahuan, etika, profesionalisme, dan pandangan politik personal saling berkelindan secara dilematis</span><span style="font-weight: 400;">. Bagi disiplin ilmu selain antropologi, problema etis menyangkut keikutsertaan dalam kerja intelijen negara mungkin tidak begitu panas diperdebatkan. Tapi bagi para antropolog, terutama yang berfokus pada isu regional sensitif seperti Timur Tengah, persoalannya bukan hanya sekadar ‘hak untuk bekerja’ atau ‘intelektualisme menara gading’, melainkan kewajiban untuk menyuarakan kepentingan dari kaum marjinal yang suaranya secara konstan dibungkam oleh mesin-mesin hegemoni penguasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab lima memberitahu bagaimana asosiasi akademik dengan reputasi tersohor seperti AAA menganut standar ganda yang jauh bertolak belakang dengan pamornya</span><span style="font-weight: 400;">. AAA tercatat telah mengeluarkan aneka pernyataan publik dan meloloskan mosi-mosi yang mendukung hak suku bangsa asli Amerika, dan bahkan pernikahan sesama jenis. Menanggapi seruan Bush pada 2004 untuk melakukan amandemen konstitusional atas hukum di AS dalam upaya melarang pernikahan sesama jenis, AAA mengeluarkan pernyataan berikut: “[tidak ada bukti bahwa] tatanan sosial yang sukses bergantung pada pernikahan [dalam bentuknya] sebagai institusi heteroseksual yang eksklusif.” </span><span style="font-weight: 400;">Ironisnya, proposal yang mengusung semangat serupa terkait Timur Tengah</span><span style="font-weight: 400;"> (dukungan atas hak Palestina dalam menentukan nasib sendiri dan kecaman terhadap invasi di Irak) </span><span style="font-weight: 400;">ditolak berkali-kali</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Ini tak pelak menunjukkan bahwa komunitas antropologi di AS yang direpresentasikan oleh AAA telah memarjinalisasi para antropolog pengkaji Timur Tengah</span><span style="font-weight: 400;">. Kebisuan AAA menyiratkan bahwa nyawa warga sipil tak bersalah yang melayang dengan sia-sia setiap harinya di daerah-daerah konflik ini tidak dianggap sebagai prioritas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk sekadar menyodorkan komparasi: pada November 2001, AAA bersidang untuk membahas tuduhan pelanggaran etika yang dilakukan Napoleon Chagnon kepada masyarakat Amazon yang ditelitinya, berdasarkan buku yang diterbitkan Patrick Tierney pada tahun 2000. Pada periode 2000-2001 ini, setidaknya terjadi dua peristiwa penting yang sama sekali luput dari perhatian AAA: pada September 2000, berlangsung </span><i><span style="font-weight: 400;">intifada </span></i><span style="font-weight: 400;">jilid dua di Palestina, dan pada Oktober 2001, AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan. </span><span style="font-weight: 400;">Di sini, seolah-olah humanisme yang terkandung secara harfiah dalam nama disiplin ilmu antropologi (</span><i><span style="font-weight: 400;">anthropos</span></i><span style="font-weight: 400;">) tidak diterapkan secara universal, tapi hanya berlaku dalam sebuah logika eksklusif yang sarat nuansa politik</span><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p style="text-align: center;"><b>3</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini adalah kisah suram tentang cara kerja kuasa dalam dunia akademik AS, di mana ideologi atau haluan politik secara hegemonik menentukan kurikulum, debat, dan praktik kesarjanaan seperti apa yang boleh dijalankan oleh praktisi pendidikan. </span><span style="font-weight: 400;">Beralih ke dalam negeri, buku ini dapat dibaca sebagai sebuah provokasi yang retoris tentang status dan peran antropologi di Indonesia: sudah sampai sejauh manakah asosiasi atau komunitas antropologi kita menjalankan fungsinya sebagai corong bagi harapan-harapan humanistik?</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks yang lebih spesifik, kita bisa bertanya: sudah berapa banyakkah karya ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi) antropologi yang membahas isu-isu sensitif seperti misalnya keadilan, kesetaraan, dan hak menentukan nasib sendiri (soal poin terakhir ini, faktanya kita punya ‘Palestina’ versi kita sendiri di Indonesia, yang secara ironis juga bermula dari huruf ‘P’)? Apakah isu-isu sensitif ini tidak cukup terwakili karena kurangnya imajinasi dari pihak mahasiswa/i, atau jangan-jangan, ini ada kaitannya dengan batas-batas struktural tertentu yang secara preventif menghalangi isu-isu ini untuk dibahas secara akademis-antropologis? </span><span style="font-weight: 400;">Berkaca pada studi Deeb &amp; Winegar, kita dapat menyimpulkan bahwa antropologi – di manapun lokasinya – harus mulai memaknai ulang keterlibatannya, dan pengetahuan yang coba diproduksinya, di dunia.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/06/mendisiplinkan-timur-tengah/">Mendisiplinkan Timur Tengah: Atau, Bagaimana Antropologi di AS Menjadi Antek-antek Penguasa</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1076</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Desentralisasi: Anomali dalam Dinamika Politik Pembangunan di Indonesia</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/05/desentralisasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=desentralisasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rizaldi Ageng Wicaksono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 May 2023 17:05:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1068</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lane, Max. 2014. Decentralization &#038; Its Discontents: An Essay on Class, Political Agency, and National Perspective in Indonesian Politics (Kekecewaan-Kekecewaan Desentralisasi: Esai tentang Kelas, Agensi Politik, dan Perspektif Nasional dalam Politik Indonesia). Penerbit Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/05/desentralisasi/">Desentralisasi: Anomali dalam Dinamika Politik Pembangunan di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/decentralization.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-1069 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/decentralization.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/decentralization.jpg?w=533&amp;ssl=1 533w" sizes="auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px" /><strong>Lane, Max. 2014. <em>Decentralization</em></strong></span><strong><i> &amp; Its Discontents: An Essay on Class, Political Agency, and National Perspective in Indonesian Politics </i>(Kekecewaan-Kekecewaan Desentralisasi: Esai tentang Kelas, Agensi Politik, dan Perspektif Nasional dalam Politik Indonesia)<i>. </i>Penerbit Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).&nbsp;</strong></p>
<hr>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Decentralization &amp; Its Discontents </span></i><span style="font-weight: 400;">(2014), </span><span style="font-weight: 400;">Max Lane mengajak pembaca merefleksikan sistem politik pemerintahan di Indonesia yang hingga hari ini masih eksis: desentralisasi</span><span style="font-weight: 400;">. Menurut Max Lane, desentralisasi bukan anak kandung gerakan Reformasi 1998, tetapi malah menjadi anomali dalam dinamika politik nasional di Indonesia. Ia menggunakan argumen tersebut untuk memprediksi pemilihan presiden pada 14 Juli 2014. Di bagian pembuka, ia memprediksi bagaimana Jokowi memenangkan pemilu. </span><span style="font-weight: 400;">Bagaimana Max Lane membedah fenomena desentralisasi dan kaitan dengan politik elektoral masa kini?</span></p>
<p><b>Misteri Asal-usul Desentralisasi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bab pertama berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">The Enigmatic Emergence of Decentralization</span></i><span style="font-weight: 400;">. Bab dua bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">The Political Economy of </span></i><span style="font-weight: 400;">Desentralisasi. Sementara, bab tiga adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">Decentralization: Its Discontents</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan terakhir </span><i><span style="font-weight: 400;">National Agency in a “Co-ordinative State”: The Future of Decentralization.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab pertama, Max Lane mengajak pembaca menelusuri asal muasal desentralisasi sehingga pada akhirnya dipilih sebagai alternatif format politik otoriter di masa pasca Reformasi. </span><span style="font-weight: 400;">Max Lane memulai pembahasan dengan argumen mengenai ketiadaan perubahan di sektor ekonomi maupun strategi sosial dalam sistem desentralisasi. </span><span style="font-weight: 400;">Ia berargumen bahwa desentralisasi –sebagai pengganti kekuasaan sentralistik ala era Soeharto –tidak pernah dibahas dalam berbagai gerakan yang tereskalasi pada 1990-an.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di masa tersebut, perbincangan arus utama gerakan perlu dilihat dari penelusuran aktor penentang pemerintahan Orde Baru yang membawa ide penguatan demokrasi, anti otoritarianisme dan penentangan praktik korupsi. Tuntutan demikian bermunculan dari aktivis akar rumput yang terdiri dari kaum miskin kota, buruh dan kelas menengah bawah yang memobilisasi diri untuk turun ke jalan. </span><span style="font-weight: 400;">Politisi yang semasa itu menjadi oposisi seperti Megawati dan Amien Rais pun tak pernah memunculkan gagasan mengenai desentralisasi.&nbsp;</span></p>
<p><div id="attachment_1070" style="width: 610px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1070" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/lane-e1682949316882.jpg?resize=600%2C375&#038;ssl=1" alt="" width="600" height="375" class="wp-image-1070 size-full" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/lane-e1682949316882.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/05/lane-e1682949316882.jpg?resize=300%2C188&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /><p id="caption-attachment-1070" class="wp-caption-text">Max Lane</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Max Lane, desentralisasi dimunculkan oleh teknokrat yang ditunjuk langsung di masa pemerintahan B.J. Habibie. Kenaikan jabatan B.J. Habibie dari Wakil Presiden menjadi Presiden menjadi momen penting bagi transisi dinamika politik di Indonesia pasca Orde Baru. Ia menunjukkan Bagaimana Habibie adalah orang yang mampu membangun jembatan antara “elit lama” untuk beradaptasi pada “kaum elit baru”.&nbsp;</span></p>
<p><b>Ekonomi Politik Desentralisasi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bagian ini, </span><span style="font-weight: 400;">Max Lane melakukan analisis ekonomi politik kelas mengenai mengapa desentralisasi cukup masuk akal untuk diterapkan di Indonesia.</span><span style="font-weight: 400;"> Salah satu teori mendasar yang ia gunakan adalah bahwa sistem politik dianggap sebagai superstruktur guna mempertahankan proses produksi dan menunjukkan aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Singkatnya, mereka yang berada di posisi berkuasa akan memengaruhi sistem politik.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Implementasi teori tersebut tampak dalam bab ini saat Max Lane menganalisis tentang ekonomi politik dalam praktik desentralisasi. Ia memaparkan data terkait persebaran orang kaya di Indonesia, berapa jumlah kekayaan, dan sektor bisnis apa saja yang mereka gunakan untuk mendapatkan pundi-pundi kekayaan.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Max Lane berargumen bahwa kelas kapitalis di Indonesia berkembang begitu lemah. Perkembangan kelas borjuis di Indonesia pada masa pasca kolonial tidak pernah secara jelas lahir dari persaingan alami khas kapitalisme Barat (</span><i><span style="font-weight: 400;">western capitalism)</span></i><span style="font-weight: 400;">. Di masa Orde Baru, kelas borjuis dalam negeri menguat dengan politik patron klien dengan Soeharto.</span><span style="font-weight: 400;"> Bahkan, data yang ditunjukkan oleh Max Lane belum menjelaskan kekuatan kelas borjuis secara komprehensif. Ia justru menunjukkan bahwa Indonesia dikerubungi oleh lautan borjuis kecil dengan kapital terbatas yang hanya dapat eksis dan bersaing di skala provinsi ataupun kabupaten.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Data tersebut tidak mengalami perubahan signifikan di masa pemerintahan Joko Widodo. Melalui buku oleh Zulfan Tadjoeddin dan Anis Chowdhury (2019) bertajuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Employment and Re-Industrialisation in Post Soeharto Indonesia </span></i><span style="font-weight: 400;">menunjukkan bagaimana perusahaan manufaktur skala kecil mendominasi lebih dari 90% aktivitas produksi di Indonesia, dan 1,5% manufaktur skala besar. Persebaran kelas borjuis ini memengaruhi desentralisasi yang pada akhirnya mampu menguatkan eksistensi politisi dan partai politik di kalangan lokal. Namun hubungan antara desentralisasi dan politik lokal tersebut tidak dijelaskan dalam buku ini.&nbsp;</span></p>
<p><b>Ketidakpuasan atas Desentralisasi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian ketiga buku mencoba memotret dampak praktik sistem desentralisasi secara garis besar, salah satunya adalah minimnya agenda pembangunan ekonomi nasional. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya, ekonomi tidak hanya berkutat pada akumulasi kapital, tetapi justru bagaimana menggunakan modal untuk mendorong industrialisasi.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kendati muncul berbagai program pembangunan ekonomi seperti MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) di era Susilo Bambang Yudhoyono, proyek tersebut justru dinilai tidak menggairahkan publik. </span><span style="font-weight: 400;">Kendati, kritik terus disuarakan oleh kelompok sayap kiri, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan peneliti atas pembangunan bertemakan ekonomi nasional ini.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dinamika kelas dalam relasi produksi sosial yang dipaparkan di bab sebelumnya menunjukkan bagaimana politik elit lokal di daerah justru mendominasi perekonomian dan suara politik. Maka, ketergantungan tiap daerah pada pendanaan yang digelontorkan oleh proyek nasional justru menjadi sebuah anomali. Meskipun demikian, konteks tersebut menunjukkan bagaimana praktik desentralisasi tidak berdampak mendongkrak ekonomi nasional.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Max Lane juga membedah bagaimana desentralisasi seharusnya menghasilkan persaingan antar daerah untuk mendongkrak ekonomi nasional ternyata tidak pernah terwujud. Ia lantas melontarkan kritik atas diskusi desentralisasi seperti disampaikan oleh Pepinsky dan Wihardja dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Decentralization and Economic Performance in Indonesia. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ia melontarkan kekecewaan terhadap dua peneliti yang menurutnya tak memiliki analisis atas kekosongan peran kelas sosial dalam relasi produksi melalui perspektif ekonomi nasional. Maka dari itu, diskusi mengenai ketidakmerataan pembangunan sosial, ekonomi dan kelembagaan sebagai bagian dari perencanaan dan pembangunan di tataran elit politik, menjadi topik yang masih jarang dibahas.&nbsp;</span></p>
<p><b>Agen Nasional dalam “Negara Koordinatif”: Masa Depan Desentralisasi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bagian terakhir, Max Lane masuk pada perdebatan yang telah lama berkembang mengenai desentralisasi: yakni bagaimana daerah luar melawan “pusat” (diidentikan dengan Pulau Jawa). </span><span style="font-weight: 400;">Ia berangkat dari kesesatan argumen tentang desentralisasi yang dianggap menguatkan kontradiksi antara daerah dengan pusat. </span><span style="font-weight: 400;">Padahal, di masa desentralisasi kini, perdebatan antara daerah dan pusat tentang persebaran kekayaan nasional guna memfasilitasi ekonomi nasional dan pembangunan sosial masih jarang dilakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiadaan diskusi tersebut lantaran pemerintahan Orde Baru dengan model kapitalisme kroni yang tidak melahirkan ideologi perspektif tentang imajinasi pembangunan nasional. </span><span style="font-weight: 400;">Kapitalisme kroni merupakan istilah di mana kesuksesan suatu bisnis bergantung pada relasi personal antara dengan pejabat pemerintah. </span><span style="font-weight: 400;">Padahal, model tersebut justru meninabobokan kelas kapitalis nasional dengan perlindungan militer dalam setiap aktivitas perekonomian yang dijalani.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakhirnya kroni kapitalisme membuka kesempatan kelas borjuis lokal untuk bergerak sebagai agen politik di tataran nasional. Ia memberikan contoh misal naiknya profil Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Ganjar Pranowo, dan lain sebagainya. Pada bab ini, Max Lane mencoba mendalami rekam jejak karir politik mereka, terutama Joko Widodo.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Max Lane juga melihat bahwa isu mengenai jaminan sosial menjadi tema yang seksi untuk diangkat oleh elit lokal kemudian merangkak menjadi elit nasional. Isu tersebut secara tidak langsung juga mematikan potensi politik mobilisasi massa kelas non-kapitalis di Indonesia. Selanjutnya, ia juga menunjukkan bahwa potensi agen politik nasional non-borjuis mulai bermunculan di tengah desentralisasi. Fenomena ini ditunjukkan dengan memotret dinamika gerakan buruh pasca 1998. Disebutkan pula di buku lain, bagaimana gerakan buruh sempat menjadi ancaman kelas borjuis nasional semenjak 2010 hingga 2012.</span><span style="font-weight: 400;"> Potensi tersebut semakin tampak&nbsp; ketika terdapat intervensi yang dilakukan oleh agen-agen serikat buruh dalam melakukan intervensi terhadap pemilihan kepala daerah di beberapa daerah pusat industri.</span></p>
<p><b>Refleksi</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini adalah satu dari sedikit analisis alternatif dari para pengamat politik dan sejarah Indonesia kontemporer. </span><span style="font-weight: 400;">Analisis Max Lane menggunakan pendekatan kelas khas Marxian menunjukkan satu titik penting di mana desentralisasi tidak muncul dari aspirasi gerakan rakyat akar rumput pada 1980 hingga 1998-an. Justu, ia menunjukkan betapa desentralisasi menciptakan kekecewaan karena perkembangan ekonomi nasional justru mengalami stagnasi. </span><span style="font-weight: 400;">Max Lane juga menganalisis bagaimana saat ini, aktor politik lokal dapat dengan mudah merangkak dalam pertarungan politik nasional. Seiring dengan masa kepemimpinan dua periode Joko Widodo sebagai presiden hampir berakhir, buku ini bisa menjadi pijakan untuk memetakan siapa saja yang berpotensi memenangkan pemilihan presiden 2024 mendatang.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, kini yang belum terlihat adalah peran non-kapitalis dalam melakukan intervensi politik di Indonesia. Kendati muncul Partai Buruh dengan Said Iqbal sebagai pimpinan, manuver politik dia belum menunjukkan angin segar yang mengisi kekosongan dalam sistem politik desentralisasi, yakni pembangunan nasional secara signifikan. Meskipun begitu, penelitian mengenai peran kelas buruh dalam dinamika politik Indonesia kontemporer dan hubungan dengan desentralisasi akan sangat menarik untuk diangkat secara lebih mendalam.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/05/desentralisasi/">Desentralisasi: Anomali dalam Dinamika Politik Pembangunan di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1068</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Revolusi dalam Hubungan Internasional</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2021/04/revolusi-dalam-hubungan-internasional-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=revolusi-dalam-hubungan-internasional-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ahmad Rizky M. Umar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2021 01:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.thesuryakanta.com/?p=7</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lawson, George. 2019. Anatomies of Revolution [Mengurai Revolusi]. Penerbit Universitas Cambridge. Mengapa dan bagaimana revolusi terjadi? Seringkali istilah revolusi punya konotasi buruk, dikaitkan terutama dengan revolusi komunis seabad silam di Rusia, dan biasanya tidak disukai oleh pemerintah. Namun, sebetulnya revolusi sudah jadi bagian dari kehidupan manusia sejak berabad-abad silam, dan<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2021/04/revolusi-dalam-hubungan-internasional-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2021/04/revolusi-dalam-hubungan-internasional-html/">Revolusi dalam Hubungan Internasional</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: arial;">Lawson, George. 2019.<i> Anatomies of Revolution</i> [Mengurai Revolusi]. Penerbit Universitas Cambridge. </span></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignright size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="333" height="499" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.comwp-content/uploads/2021/04/51Y4CTfp-6L._SX331_BO1204203200_.jpg?resize=333%2C499&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-137" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2021/04/51Y4CTfp-6L._SX331_BO1204203200_.jpg?w=333&amp;ssl=1 333w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2021/04/51Y4CTfp-6L._SX331_BO1204203200_.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w" sizes="auto, (max-width: 333px) 100vw, 333px" /></figure></div>



<p></p>



<p></p>



<p>Mengapa dan bagaimana revolusi terjadi? Seringkali istilah revolusi punya konotasi buruk, dikaitkan terutama dengan revolusi komunis seabad silam di Rusia, dan biasanya tidak disukai oleh pemerintah. Namun, sebetulnya revolusi sudah jadi bagian dari kehidupan manusia sejak berabad-abad silam, dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam politik internasional.</p>



<p>Ada banyak karya yang membedah soal revolusi dengan ragam penjelasannya, tapi tidak banyak yang melihatnya dari sisi Hubungan Internasional (HI). Padahal, sebetulnya revolusi adalah bagian penting dari politik internasional masa kini. Salah satu sedikit karya kesarjanaannya yang mengulas itu ialah karya seminal dari Profesor George Lawson, <i>Anatomies of Revolution </i>(“Mengurai Revolusi”). Profesor Lawson adalah guru besar studi HI di Universitas Nasional Australia (ANU), dan lama mengajar di Sekolah Ilmu Politik dan Ekonomi London (LSE). Buku ini mendiskusikan sejarah revolusi sebagai sebuah fenomena internasional, terhubung antara satu peristiwa dan peristiwa yang lain, serta menjadi bagian penting dari terbentuknya sebuah tatanan politik internasional.</p>



<p>Buku ini sebetulnya adalah pengembangan dari buku Pak Lawson sebelumnya, yang berjudul <i>Negotiated Revolution</i> (“Revolusi yang Dinegosiasikan”). Buku pendahuluan ini adalah disertasi doktoral beliau di LSE (selesai tahun 2004) yang memotret bagaimana revolusi mengantarkan proses demokratisasi dan keterbukaan di Chili, Afrika Selatan, dan Ceko-Slowakia di tahun 1990an. Pendapat Pak Lawson berbeda dengan pendapat-pendapat yang melihat apa yang terjadi di negara ini semata sebagai “gelombang ketiga demokratisasi”sebagaimana dipercayai Samuel Huntington dan pengikutnya.</p>



<p>Bagi Pak Lawson, proses demokratisasi di tahun 1990an adalah proses “revolusioner” karena mereka membalik tatanan sosial yang ada di masyarakat negara itu. Bedanya dengan revolusi yang lain, revolusi demokrasi tersebut terjadi melalui proses negosiasi antara elit dan massa, yang di saat bersamaan juga didukung oleh sebuah sistem internasional seusai perang dingin, yang memungkinkan demokratisasi berlangsung secara global. Fenomena inilah yang beliau sebut sebagai “revolusi yang dinegosiasikan.”</p>



<p><b>Situasi Revolusioner<br></b><br>Pendapat Pak Lawson ini kemudian diperluas dalam buku <i>Mengurai Revolusi</i> ini dengan studi kasus yang lebih luas. Secara umum, Pak Lawson berpendapat kalau revolusi sangat bergantung pada konfigurasi sistem internasional. Sebagaimana ditunjukkan oleh Pak Lawson, gerakan-gerakan revolusioner yang muncul sebetulnya terhubung satu sama lain. Mereka bergerak dan mendorong aspirasi politik mereka dengan cara melemahkan otoritas pemerintah. Namun, kuncinya, menurut Pak Lawson, ada pada keberhasilan menciptakan “situasi revolusioner,” yaitu kondisi-kondisi politik internasional yang mendorong terjadinya pelemahan rezim politik dan memungkinkan gerakan revolusi untuk tampil ke depan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-large is-resized"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.comwp-content/uploads/2021/04/Gworkshot2019.jpg?resize=216%2C324&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-36" width="216" height="324" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2021/04/Gworkshot2019.jpg?w=682&amp;ssl=1 682w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2021/04/Gworkshot2019.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w" sizes="auto, (max-width: 216px) 100vw, 216px" /><figcaption>George Lawson</figcaption></figure></div>



<p>Situasi revolusioner ini dijelaskan secara mendalam oleh Pak Lawson di Bab 4. Di sini, menurut pendapat Pak Lawson, revolusi akan punya momentum jika ada perubahan yang mendasar dalam sistem internasional. Beliau mencontohkan fenomena “Musim Semi Arab” ketika gelombang demokratisasi menerpa negara-negara Timur Tengah. Sebelum tahun 2010an, rezim-rezim diktator di Timur Tengah hidup nyaman dengan bantuan dan dukungan internasional dua kekuatan besar di sana, yaitu Amerika Serikat dan Israel, yang dalam banyak hal tidak disukai rakyat.</p>



<p>Namun, pada tahun 2008, ekonomi global kolaps. Negara-negara yang tidak punya kekuatan ekonomi kuat (misalnya, bukan produsen minyak) akhirnya anjlok, dan membuka momentum untuk melakukan revolusi. Akhirnya, revolusi dimulai dari kematian Muhammad Bouazizi di Tunisia, dan menjalar ke beberapa negara lain.</p>



<p>Di sini, penjelasan Pak Lawson cukup menarik, bahwa Musim Semi Arab terjadi karena adanya situasi internasional yang tidak stabil, ditambah pula oleh kegeraman rakyat atas pemimpinnya yang terlalu lama berkuasa dan otoriter. Akhirnya terjadilah demonstrasi dan perubahan politik. Meskipun, sebagaimana dijelaskan oleh Pak Lawson juga, ternyata gelombang revolusinya tidak bertahan lama karena aktivis-aktivis itu gagal mempertahankan tuntutan revolusionernya.</p>



<p><b>Jalan Menuju Revolusi<br></b><br>Nah, di sini, artinya tidak semua revolusi kemudian berhasil baik, dan tidak semua revolusi yang dilakukan di dalam sebuah situasi revolusioner penting. Kata Pak Lawson, ada dua hal lain lagi yang juga menentukan keberhasilan revolusi, yaitu upaya-upaya sistematis dan berkelanjutan dari para aktivis untuk mendorong dan mempertahankan revolusi mereka.</p>



<p>Di Bab 5, Pak Lawson mencontohkan revolusi yang terjadi di Kuba, ketika Fidel Castro tampil di puncak kepemimpinan setelah mengalahkan diktator Fulgencio Batista, dan penghentian Apartheid (diskriminasi berdasarkan warna kulit) di Afrika Selatan. Menurut Pak Lawson, kasus Kuba menjadi contoh bagus dari sebuah revolusi yang terjadi melalui perjuangan tanpa kompromi dengan ditopang oleh perjuangan bersenjata. Di contoh lain, penghentian Apartheid terjadi karena perjuangan panjang dan kepemimpinan Partai Kongres Nasional Afrika (ANC) pimpinan Nelson Mandela.</p>



<p>Kasus Kuba dan Afrika Selatan, kendati dilaksanakan dengan cara berbeda, menunjukkan satu hal penting dalam proses revolusi: bahwa revolusi itu perlu nafas panjang, harus menghadapi benturan yang keras, namun jika berhasil dipertahankan akan punya dampak besar.</p>



<p>Pelajarannya: revolusi perlu dipertahankan melalui sebuah jalan dan perlintasan yang panjang dan berliku, yang membutuhkan kekuatan dan kemampuan mobilisasi dari para aktivis revolusioner juga. Jadi, situasi revolusioner tidak cukup karena ia cuma mengantarkan revolusi. Tetap saja yang melaksanakannya adalah para aktivis yang menginginkan perubahan.</p>



<p><b>Capaian dan Keberlanjutan Revolusi<br></b><br>Selain itu, revolusi juga bergantung pada sejauh mana aktivis-aktivis yang terlibat dalam revolusi berhasil mempertahankan capaian hasil revolusi yang mereka bangun. Menurut Pak Lawson, salah satu hal penting yang menentukan keberhasilan revolusi adalah jika ada bangunan kelembagaan yang berhasil dibangun jika kekuasaan berhasil direbut. Contoh yang diberikan di Bab 6 adalah Iran, ketika Ayatullah Khomeini berhasil membangun sebuah fondasi lembaga politik yang benar-benar baru, dan dengan demikian berhasil membuat revolusi dipertahankan.</p>



<p>Namun, sebagaimana dicontohkan oleh Pak Lawson melalui kasus Ukraina di tahun 2013-2014, banyak pula peristiwa revolusi yang gagal karena lembaga yang dibangun tidak kuat dan tidak bertahan lama.</p>



<p>Kita bisa melihat kalau revolusi yang terjadi di dalam negeri dipengaruhi oleh perubahan dan krisis dalam politik internasional. Perubahan dalam sistem internasional tersebut akan membuka kemungkinan perubahan revolusioner yang lebih luas, dan memungkinkan terciptanya tatanan internasional yang baru. Hanya saja, perlu telaah mendalam untuk melihat sejauh mana revolusi itu berhasil dan gagal dalam satu situasi internasional yang sama.</p>



<p>Menurut Pak Lawson, keberhasilan dan kegagalan revolusi akan ditentukan oleh kemampuan gerakan-gerakan revolusioner dalam memobilisasi diri dan secara simultan mempertahankan tuntutan revolusinya. Tentu ini tidak gampang. Seringkali (seperti terjadi di Timur Tengah) revolusi kerap terserimpung oleh penumpang gelap dan kekuatan lama yang tidak rela dipreteli kekuasaannya. Hal ini yang akhirnya membuat situasi tidak stabil, dan mengantarkan Mesir (misalnya) kembali jadi negara otoriter setelah kudeta Jenderal Sisi tahun 2013.</p>



<p><b>Dampak bagi Studi Hubungan Internasional<br></b><br>Di titik ini, buku <i>Mengurai Revolusi </i>memperlihatkan bahwa revolusi bukan hanya terjadi di satu negara semata, tetapi juga jadi fenomena global yang penting dikaji oleh sarjana-sarjana Hubungan Internasional. Revolusi adalah faktor penting dalam tatanan politik internasional modern, dan perubahan politik yang berlangsung di satu negara akan sangat tergantung dari konteks internasionalnya.</p>



<p>Bagi sarjana Hubungan Internasional, memahami revolusi artinya melihat bagaimana aspek-aspek internasional memberikan dampak pada revolusi di satu negara. Juga melihat bagaimana dan mengapa revolusi itu gagal, dan bagaimana kemudian revolusi itu menjalar ke negara lain. Hal yang begini sering kita jumpai dalam peristiwa politik internasional hari ini, dan menarik buat ditelaah lebih jauh.</p>



<p>Nah, inilah kelebihan buku ini. <i>Mengurai Revolusi</i> memberikan kita cara pandang sosiologis dan historis untuk memahami revolusi dalam politik internasional. Contoh-contoh kasus yang disajikan oleh Pak Lawson juga cukup menarik. Beliau mencontohkan revolusi parlementer di Inggris pada abad ke-17 hingga Musim Semi Arab di abad ke-21. Artinya, revolusi ini sebetulnya sebuah proses sejarah yang telah berlangsung sejak lama, yang sejarahnya bisa kita tarik hingga abad ke-17. Menurut Pak Lawson, revolusi adalah tanda dunia memasuki masa modern, di mana tatanan dunia ditentukan oleh negara-negara bangsa dan elit-elit yang berkuasa di dalamnya.</p>



<p>Meskipun contoh kasusnya bagus-bagus, buku ini juga punya kelemahan. Ada banyak kasus revolusioner yang tidak banyak terulas di buku Pak Lawson, semisal revolusi anti-kolonialisme setelah Perang Dunia II. Di sisi lain, sebagaimana pernah didiskusikan di satu bedah buku beliau, kita juga bisa bertanya di mana dan sejauh mana perempuan terlibat dalam revolusi. Atau, faktor ekonomi-politik yang bagaimana yang memungkinkan terjadinya revolusi. Hal-hal ini, jika bisa ditelaah lagi lebih jauh, akan memberikan catatan yang lebih kritis tentang makna revolusi dalam politik internasional hari ini.</p>



<p><i><b>Ahmad Rizky M. Umar</b> adalah Mahasiswa Doktoral bidang Ilmu Hubungan Internasional di University of Queensland, Australia.</i></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2021/04/revolusi-dalam-hubungan-internasional-html/">Revolusi dalam Hubungan Internasional</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Antropologi Negara Islam Menurut Noah Salomon dalam Kajiannya di Sudan</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/05/antropologi-negara-islam-menurut-noah-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=antropologi-negara-islam-menurut-noah-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sawyer Martin French]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 02:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://box5382.temp.domains/~thesusb9/?p=26</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salomon, Noah. 2016. For Love of the Prophet: An Ethnography of Sudan’s Islamic State (Demi Cinta Nabi: Kajian Antropologi atas Negara Islam di Sudan). Penerbit Universitas Princeton. Karya Noah Salomon For Love of the Prophet mengkaji dinamika dalam negara Islam yang dikembangkan di Sudan setelah revolusi tahun 1989. Buku ini<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/05/antropologi-negara-islam-menurut-noah-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/05/antropologi-negara-islam-menurut-noah-html/">Antropologi Negara Islam Menurut Noah Salomon dalam Kajiannya di Sudan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Salomon, Noah. 2016. </span><i style="font-family: arial, helvetica, sans-serif;">For Love of the Prophet: An Ethnography of Sudan’s Islamic State </i><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">(Demi Cinta Nabi: Kajian Antropologi atas Negara Islam di Sudan). Penerbit Universitas Princeton.</span></strong></p>
<div>
<hr />
</div>
<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-smJcQ9tQ1vA/XsGvTqXvfAI/AAAAAAAAAk0/G9ZoV3KDIhInqzJh7g5juQPwbxO95x72QCLcBGAsYHQ/s1600/9780691165158.jpg?ssl=1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="969" data-original-width="640" height="640" src="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-smJcQ9tQ1vA/XsGvTqXvfAI/AAAAAAAAAk0/G9ZoV3KDIhInqzJh7g5juQPwbxO95x72QCLcBGAsYHQ/s640/9780691165158.jpg?resize=422%2C640&#038;ssl=1" width="422" /></a></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Karya Noah Salomon <i><a href="https://press.princeton.edu/books/paperback/9780691165158/for-love-of-the-prophet">For Love of the Prophet</a></i> mengkaji dinamika dalam negara Islam yang dikembangkan di Sudan setelah revolusi tahun 1989. Buku ini memberi kontribusi yang sangat besar kepada bidang antropologi politik, antropologi Islam, dan antropologi sekularisme. Buku ini menunjukkan bagaimana negara moderen mengatur agama dan mempengaruhi masyarakat. Menurut Salomon, negara hadir dalam banyak ranah kehidupan sosial, jauh dari badan-badan pemerintah yang biasanya dianggap pusat dunia politik. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam bagian pertama dari buku ini, Salomon membahas sejarahnya negara moderen di Sudan dan bagaimana negara mengatur, membatasi, dan turut membentuk agama. Bagian dua mengkaji tiga kasus unik di Sudan pada tahun 2000-an yang menunjukkan bagaimana negara bisa hadir dalam dan mempengaruhi berbagai macam bidang dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam pendahuluannya, Salomon menjelaskan apa yang ia maksud dengan “negara” (<i>state</i>) dan “ranah publik” (<i>public sphere</i>), yang cukup berbeda dengan pengertian pada umumnya di bidang ilmu politik. Bukan sekedar sesuatu yang bisa ditemukan dalam gedung-gedung lembaga pemerintahan atau kementrian, negara juga bisa dipahami sebagai “aktor sosial dalam kehidupan sehari-hari” (4). Terlepas dari fungsi tata negaranya (<i>governance</i>), negara juga punya peran penting dalam “memproduksi ruang publik yang baru” (4). Menurut Salomon, kalau diukur dari sifat pertama (<i>governance</i>), Sudan memang termasuk negara yang gagal (<i>failed state</i>), karena tidak bisa menjamin supremasi hukum dalam masyarakat dan butuh intervensi dari PBB untuk menyediakan banyak layanan sosial. Akan tetapi, dalam arti yang kedua, negara Sudan masih sangat kuat sebagai aktor sosial, dan terus mempengaruhi budaya dan wacana sehari-hari di masyarakat. Negara lebih mempunyai hegemoni kultural ketimbang supremasi hukum! <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dari argumen ini tentang peran sosialnya negara dalam masyarakat, Salomon mengkritisi teori <a href="https://medium.com/@fitriakiki011/teori-public-sphere-habermas-dalam-komunikasi-internasional-4433d3e1199c">Habermas </a>tentang “ranah publik.” Menurut Habermas, ruang publik itu sebuah tempat untuk pertimbangan isu-isu (<i>deliberation</i>) dan perdebatan antara aktor-aktor sosial yang “bebas” dari campur tangannya negara. Ruang publik “di luar” (terlepas dari) pemerintah. Tapi bagi Salomon, ini pendapat liberal yang sangat naif dan idealis, atas dua alasan. Pertama, di mana memang tempat khayalan ini yang “di luar” negara secara utuh? Di sini Salomon mengutip <a href="http://blogs.cuit.columbia.edu/tm2421/files/2018/01/Mitchell-Effect-of-the-State-1989-1.pdf">Timothy Mitchell</a> tentan “efek negara” (<i>state effect</i>), yang membuat kita semua merasa bahwa negara adalah sesuatu yang abstrak dan jauh di sana, bukan terdiri dari aktor-aktor sosial sama seperti kita. Dan kedua, tidak mungkin ada wacana yang “bebas,” yang tidak dipengaruhi oleh kekuasaan. Di sini, Salomon merujuk kepada pengertian <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/The_Birth_of_Biopolitics">Michel Foucault</a> tentang wacana dan kekuasaan, yang memang terbentuk satu sama lain, tidak pernah bisa lepas (10). Maka bagi Salomon, lain dari pemahaman Habermas itu, “ruang publik” di Sudan merupakan zona di mana masyarakat bisa bertampil dan berdebat, tapi wacananya senantiasa distruktur oleh negara dan aktor-aktor yang berpengaruh yang lain (12).<o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dari semua pembahasan dalam pendahuluan ini, Salomon mengkritisi dua narasi yang sering diletakkan kepada Sudan. Pertama, “negara gagal” (<i>failed state</i>), dan kedua, konsepnya Wael Hallaq bahwa “negara Islam” itu “mustahil” (judul bukunya <i><a href="http://cup.columbia.edu/book/isbn/9780231162579">The Impossible State</a></i>), karena itu gabungan antara dua entitas (yaitu negara moderen dan syariat Islam) yang terlalu jauh berbeda sifatnya dan tidak mungkin dipertemukan tanpa mengorbankan jati diri salah satunya. Lain dari dua pendekatan ini, Salomon menyatakan bahwa kita sebagai peneliti tidak bisa hanya melihat peran negara dari segi supremasi hukum, karena dengan begitu kita mangabaikan perannya yang juga sangat besar dalam mempengaruhi wacana dan budaya di masyarakat. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div style="clear: both; text-align: center;"><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><a href="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-Iuv0k7rEuVo/XsGvnS793fI/AAAAAAAAAk8/8ciU4HCYeeU7NR7YYUkGHDN0ZS96WoLGwCLcBGAsYHQ/s1600/World-Data-Locator-Map-Sudan.jpg?ssl=1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="1532" data-original-width="1600" height="382" src="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-Iuv0k7rEuVo/XsGvnS793fI/AAAAAAAAAk8/8ciU4HCYeeU7NR7YYUkGHDN0ZS96WoLGwCLcBGAsYHQ/s400/World-Data-Locator-Map-Sudan.jpg?resize=400%2C382&#038;ssl=1" width="400" /></a></span></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam bagian pertama, yang terdiri dari dua bab, Salomon menelaah sejarahnya bagaimana negara moderen di Sudan campur tangan (<i>intervene</i>) dalam mengatur agama di masyarakat. Bab 1 membahas rezim kolonial Inggris, yang pertama menjadikan negara sebagai pengatur agama, dan bab 2 menunjukkan bahwa “negara Islam” yang didirikan oleh pasa Islamis dalam revolusi 1989 mewarisi model ini dari negara kolonial, dan menggunakan aparat negara untuk membatasi dan membentuk keagaamaan masyarakat sesuai dengan kepentingannya. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Pada pembahasannya tentang negara kolonial (bab 1), Salomon ikut mengkritisi teori “sekularisasi,” yaitu bahwa dengan perkembangannya modernisasi dan kolonialisme, agama akan semakin menghilang dari pemerintahan. Tapi sebenarnya, bukannya negara kolonial membiarkan dan tidak campur tangan dengan agama, tapi malah “memaksakannya keluar dari tempat-tempat yang gelap untuk mengatur dan menatanya dibawah pengawasan negara” (33). Inggris takut dengan kaum Sufi, yang menurutnya tidak teratur, rentan untuk menjadi radikal, dan tidak sesuai dengan ajaran Islam yang “ortodoks” (yang mereka kenal dari al-Azhar di koloni sebelah) (39-40). Salomon mencatat lucunya dan ironisnya bahwa penjajah non-Muslim punya pendapat tentang bentuk Islam mana yang benar dan mana yang salah. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Maka pemerintah kolonial Inggris berusaha untuk mengatur dan mereformasi keagamaan masyarakat dengan membentuk majelis ulama, pengadilan-pengadilan syariat (bersama sekolah ke-qadi-an), dan masjid-masjid besar di pusat kota sebagai saingan bagi pusat-pusat perkumpulan tarekat yang di desa-desa, jauh dari pengawasan aparat (42). Dengan majelis ulama itu, Inggris menggunakan kecamannya terhadap beberapa tarekat dan pengikut al-Mahdi (figur revolusioner akhir abad ke-19) sebagai alasan untuk merepresi kelompok-kelompok tersebut dengan kekerasan (47). <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bab 2 membahas bagaimana “negara Islam” yang didirikan pada tahun 1989 turut campur dalam ranah agama dengan cara yang sangat mirip dengan negara kolonial dulu. Rezim baru itu meluncurkan “Proyek Peradaban” yang mempromosikan budaya Arab-Muslim lewat program-program kesenian (<i>madih</i>, seperti salawatan), keilmuan, dan regulasi pakaian perempuan (64-65). Dengan keadaan Islam menjadi agama resmi negara, minoritas agama Kristen hanya diperbolehkan di dalam ruang pribadi (<i>private sphere</i>) (66). <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">“Proyek Peradaban” ini digambarkan oleh rezim sebagai kebangkitan Islam melawan perkembangannya sekularisme. Tapi Salomon menunjukkan bahwa sebenarnya, masyarakat dari sebelumnya sudah sangat agamis. Hanya saja, bentuk agama yang dianut oleh kebanyakan masyarakat (Sufisme dan Mahdisme, dan di kemudian hari Salafisme) tidak disukai oleh para elit partai Islamis (yang mirip dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, atau PKS di Indonesia) (79-80). Maka rezim, sama seperti Inggris dulu, berusaha mengatur dan mereformasi keagamaan masyarakat menjadi lebih sesuai dengan visi dan kepentingannya. Bersama dengan mempromosikan gaya keagamaan yang “moderen” dan individualis (tidak seperti tasawuf), rezim mendirikan “Majelis Nasional untuk Zikir dan Zakirin (orang-orang yang berzikir),” seperti Majelis Ulama zaman kolonial, untuk mengatur Sufisme dan mempromosikan gaya keagamaan Sufi yang kurang terikat dengan tarekat-tarekat (yang ditakuti oleh rezim sebagi ancaman terhadap kekuasaannya) dan lebih terpusat pada spiritualitas pribadi (74-78).<o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Pada akhir bab 2 ini, Salomon menjelaskan bahwa semua berubah pada tahun 2005 dengan perjanjian perdamaian dengan wilayah selatan (yang sudah lama menjadi medan kekerasan antar-kelompok). Dalam rangka perdamaian, rezim terpaksa meninggalkan model lama di mana minoritas-minoritas dikuasai tanpa perwakilan, digantikan dengan model “multikulturalisme” (81), disertai kampanye dari pemerintah yang menggalakkan toleransi antar-umat (85). Namun, bukannya rezim tidak lagi Islamis, hanya saja ada pergeseran dari penggunaan aparat negara dengan unsur paksaan (yang dianggap tidak sesuai dengan negara multikultural) kepada program-program dakwah yang lebih lembut tapi tetap sangat berpengaruh (90). Kembali ke konsep dari pendahuluan, negara tidak hanya dilihat dari lembaga resminya, tapi juga dari perannya sebagai “aktor sosial” dalam masyarakat. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bagian kedua, yang terdiri dari tiga bab, membahas dampak negara dalam wacana dan budaya di masyarakat, bersama unsur-unsur dalam masyarakat yang tetap melawan Proyek Peradaban rezim ini. Bab 3 tentang proyek “Islamisasi pengetahuan,” bab 4 tentang pengembangan genre musik Islami yang dipromosikan oleh rezim, dan bab 5 tentang wacana dan kosakata politik, yang terjebak di antara konsep-konsep moderen dan konsep-konsep dari tradisi Islam. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bab 3 membahas proyek pembaharuan epistemologi (yaitu, ideologi tentang apa itu ilmu dan bagaimana itu bisa didapatkan), yang berusaha mengIslamkan ilmu-ilmu sosial dan alam (yang dianggap terlalu sekuler) dengan kembali kepada asas-asas (fundamental) pengetahuna dalam Islam (99). Kampanye ini disebarkan terutama oleh kementrian baru untuk “Fundamentalisasi Pengetahuan” (<i>ta’shil</i>) (102). Ini semua bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangkitkan Islam dengan dengan sebuah “pencerahan” (<i>enlightenment</i>) Islami yang mengatasi kekolotan dan hirarki ulama-ulama tradisional dan memberdayakan seluruh umat untuk ikut serta dalam pembelajaran dan penyebaran ilmu Islam (105). Tapi Salomon mencatat bahwa kampanye ini bukannya menggantikan ilmu Barat dengan ilmu Islam secara total, tapi lebih menggabungkan antara keduanya (103), karena elit-elit rezim Islamis ini (para dokter dan insinyur) memang banyak yang berpendidikan tinggi di Barat juga.<o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam bagian kedua dari bab 3 ini, Salomon menjelaskan bagaiamana epistemologi yang disosialisasi oleh rezim ini bertolak belakang dengan epistemologi Sufisme yang umum di sebagian masyarakat. Di sini, Salomon menjelaskan konsep-konsep dalam tasawuf seperti ilmu laduni, yang hanya dapat diakses dari para wali, yang dipilih oleh Tuhan dan sering mewarisi status ini lewat keturunan (114). Dalam sistem yang hirarkis ini, ilmu tidak terakses oleh sembarang orang&#8211;berkebalikan dengan apa yang diinginkan pemerintah. Maka, kaum Sufi dianggap sebagai kelompok yang tidak sesuai dengan proyek “pencerahan” ini. Akan tetapi, akhirnya Salomon juga mencatat bahwa lama-kelamaan ada juga beberapa kelompok Sufi yang mulai menggunakan bahasa pemerintah dalam wacananya (124).<o:p></o:p></span></div>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-uZLpLk90uaE/XsGvzDc5moI/AAAAAAAAAlA/ZYR4WDvaZgspjizc5GwvHOWTGhCAuofewCLcBGAsYHQ/s1600/1582280.jpg?ssl=1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="400" src="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-uZLpLk90uaE/XsGvzDc5moI/AAAAAAAAAlA/ZYR4WDvaZgspjizc5GwvHOWTGhCAuofewCLcBGAsYHQ/s400/1582280.jpg?resize=300%2C400&#038;ssl=1" width="300" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Noah Salomon</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bab 4 membahas upaya dari pemerintah untuk mempromosikan sebuah genre musik baru, yang liriknya diambil dari syair-syair Sufi (</span><i style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">madih</i><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">, yang memuji nabi) tapi iramanya seperti musik pop. Ini bagian dari pergeseran saat perjanjian perdamaian dengan wilayah selatan dari model politik Islam yang berbasis kebijakan (seperti mewajibkan berjilbab) kepada model yang lebih bersandar pada dakwah dan sosialisasi, yang oleh beberapa pihak malah dianggap sebagai cara yang lebih efektif untuk mengIslamkan masyarakat (148). Lagu-lagu Sufi-pop ini, yang disiarkan lewat stasiun radio baru, merupakan sebuah proyek negara yang menggunakan dakwah estetis (</span><i style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">aesthetic</i><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">) yang bertujuan supaya masyarat bertambah rasa cintanya kepada nabi (</span><i style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">mahabba</i><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">) karena sering dengar lagu-lagu tersebut (128).</span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bab ini merujuk kepada karya <a href="http://cup.columbia.edu/book/the-ethical-soundscape/9780231138192">Charles Hirschkind</a> (2006) yang menjelaskan bagaimana kegiatan mendengar kaset ceramah (<i>pious listening</i>) bisa menjadi bagian penting dalam upaya seseorang untuk mengembangkan ketaatan dan takwanya. Salomon menambah bahwa ini bukan sekedar sesuatu yang sering dilakukan oleh orang-orang Muslim secara pribadi, tapi rekaman dan pendengaran (lewat radio) juga bisa menjadi alat negara (<i>technology of the state</i>) untuk berusaha meningkatkan ketaatan masyarakat (133).<o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Di sini, Salomon juga mencatat perbedaan antara genre Sufi-pop baru ini dengan gaya syair <i>madih</i> yang asli. Ada orang-orang Sufi yang mengkritisi musik ini karena pendengarnya tidak punya perhatian yang penuh terhadap <i>madih</i>-nya, tidak ikut melafalkan dan bergerak seperti dalam kumpulan-kumpulan tarekat, hanya menjadi audio latar belakang kehidupan di bis dan di toko (141). Pada segi lain, para penggerak genre baru ini mengatakan bahwa lagu-lagu moderen ini lebih memberi kesempatan bagi pendengarnya untuk betul-betul memperhatikan <i>arti</i> liriknya. Menurut mereka, waktu-waktu sela di kehidupan kota (seperti menunggu di bis atau di toko) lebih sesuai dengan pendengaran lirik syair ini daripada kumpulan Sufi yang cenderung ramai dan tak teratur (145). Maka kita bisa lihat pergeseran dari fokus tradisional pada pengalaman spiritual saat mendengar kepada fokus moderen pada pemahaman dan perenungan arti liriknya (146). <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam bab 5, Salomon membahas kerangka konseptual politik yang dikembangkan oleh rezim negara Islam sejak 1989, yang legitimasinya berdasarkan agama Islam. Lalu, ia menjelaskan bahwa rezim tentu saja tidak punya monopoli atas penafsiran dan pemahaman agama, jadi kerangka politik ini memberi ruangan bagi pihak-pihak lain untuk mengklaim otoritas yang lebih daripada yang dipunyai pemerintah (169-170). Di sini, Salomon tidak membahas perlawanan terhadap pemerintah secara tersurat, melainkan ia mengangkat wacana dan praktek keagamaan sebagai medan yang sebenarnya sangat penuh dengan makna politis. Untuk poin ini, ia merujuk kepada Ruth Marshall (2009), yang pernah mendorong penelitian sosial untuk mengakui perannya kehidupan beragama sebagai “sebuah cara untuk menampilkan dan menentang kekuasaan” (172). Salomon memberi dua contoh dari penelitiannya di Sudan, yaitu dari kaum Sufi dan kaum Salafi.<o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Salomon memberi contoh dari dunia tasawuf dalam bentuk sebuah cerita yang sudah pernah berkali-kali dari narasumbernya. Dalam cerita itu, legitimasi berkuasa tidak digambarkan secara biasa dengan kosakata politik moderen, tapi tergantung pada status kesucian (<i>thahir</i> atau <i>najis</i>) dua orang, yaitu presiden Sudan dan seorang syaikh Sufi yang besar. Berdasarkan bahasa dan konseptualisasi politik yang sangat berbeda ini, cerita itu menunjukkan bahwa sebenarnya syaikhnya yang lebih berotoritas menurut standar Islam daripada (166). Pada segi lain, kaum Salafi menggugat otoritas pemerintah dengan menekankan bahwa isu paling mendasar dalam perpolitikan bukanlah kuasa atau negara atau hak (semua yang dianggap konsep barat), tapi aqidah dan ibadah (185). Dalam dua kasus ini, Salomon menunjukkan bagaimana otoritas negara dapat dipertanyakan dengan menggunakan dua tuduhan (bahwa penguasa tidak sah wudhunya dan tidak lurus aqidahnya) yang biasanya tidak dianggap politis, tapi dalam konteks ini punya makna yang sangat politis. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Bagian terakhir dari buku ini hanya terdiri dari epilog, yang membahas dua alternatif bagi model “negara Islam” yang baru muncul dalam dekade terakhir. Pertama, ISIS dan orang-orang Sudan yang mendukungnya mengklaim bahwa proyek negara Islam di Sudan jelas sudah gagal. Mereka mengkritik model Islamisme lama seperti Sudan sejak 1989, di mana partai Islam menguasai aparat pemerintahan negara moderen dan mengIslamkannya dari atas. Menurut mereka, lebih baik ambil contoh dari ISIS, yang menghancurkan struktur negara warisan barat dan membangun pemerintahan yang Islami untuk menggantikannya, padahal lama-kelamaan banyak struktur yang dibangun oleh ISIS yang sama seperti aparat negara moderen (202). Para elit rezim Islamis di Sudan merasa sangat terancam oleh wacana ini, dan Salomon menunjukkan bahwa mereka mulai lebih menekankan hirarki keilmuan, dan menuduh ISIS sebagai kelompok yang tidak cukup berilmu untuk memahami agama. Padahal wacana ini bertolak belakang dengan proyek “Islamisasi pengetahuan” yang kita lihat di bab 3, di mana rezim ingin menyebarkan otoritas ilmu keagamaan ke seluruh masyarakat dan meminggirkan peran ulama tradisional (2017). Semakin terlihat kontradiksi-kontradiksi dalam wacana politik Islamnya rezim. <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Alternatif baru yang kedua adalah negara sekuler, seperti dibangun di Sudan Selatan sejak pemisahannya pada tahun 2011. Di sini, di mana Islam menjadi minoritas di bawah mayoritas Kristen, negara berusaha membangun sistem sekuler dengan model Amerika Serikat, di mana ruang publik menjadi bebas beragama tanpa campur tangan dari negara. Tapi ironisnya, untuk menuju tujuan ini, negara sengaja berusaha menghilangkan banyak atribut-atribut Islam dari ruang publik (seperti menghilangkan masjid-masjid) untuk melawan Islamisasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun di bawah rezim Sudan (210). Lagi-lagi kita melihat sekularisme, yang mengaku netral terhadap agama, turut campur dalam urusan agama di masyarakat (212). <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Salomon menyelesaikan bukunya dengan beberapa halaman di mana ia berhenti menulis secara analitis dan mulai bicara secara normatif untuk mencari solusi. Tentu saja ia tidak melihat kedua alternatif yang tadi (ISIS dan sekularisme) sebagai solusi yang baik bagi dilema kegagalan negara Islam di Sudan. Ia menyimpulkan bahwa mungkin masalah utama bukan dengan ideologi (Islamisme atau sekularisme), tapi dengan struktur pembentukan negara-negara moderen dan caranya menguasai komunitas-komunitas yang di bawahnya. Ia berharap bahwa kita bersama-sama mungkin akan dapat membanyangkan (sebelum membangun) sistem baru yang tidak terpusat pada kekuasaan negara (<i>sovereignty</i>) dan memberi otonomi kepada komunitas-komunitas untuk mengatur kehidupannya sendiri (215). <o:p></o:p></span></div>
<div></div>
<div><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Kesimpulan ini menunjukkan bahwa Salomon mengikuti <a href="https://criticalinquiry.uchicago.edu/thinking_about_tradition_religion_and_politics_in_egypt_today/">Talal Asad</a> (2015) yang pernah mengatakan bahwa tujuan yang paling mulia dari kajian antropologis sebenarnya adalah untuk mengkritisi keadaan yang sudah dominan pada zaman sekarang (<i>destabilize the present</i>) untuk mencari jalan keluar yang lebih baik.</span></div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/05/antropologi-negara-islam-menurut-noah-html/">Antropologi Negara Islam Menurut Noah Salomon dalam Kajiannya di Sudan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">26</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
