Aplikasi Kencan, Politik Kekuasaan, dan Tatanan Gender di Cina
Chan, Lik Sam. (2021). The Politics of Dating Apps: Gender, Sexuality, and Emergent Publics in Urban China [Politik Aplikasi Kencan: Gender, Seksualitas, dan Publik Baru di Kota Urban Cina]. Penerbit MIT Press.
Banyak aplikasi kencan yang populer bagi berbagai gender berasal dari Barat. Oleh karena itu, banyak kajian mendiskusikan penggunaan aplikasi tersebut dalam konteks masyarakat Barat. Sementara itu, dengan mengambil arena studi di lingkungan urban Cina, buku yang ditulis oleh Lik Sam Chan, The Politics of Dating Apps mengeksplorasi bagaimana subjek lintas gender—perempuan dan laki-laki heteroseks (straight) maupun homoseks (queer)—menggunakan aplikasi kencan, dan berikut juga implikasi politisnya. Secara berkelanjutan dalam enam bab buku ini memperlihatkan bahwa aplikasi kencan menjadi arena kekuasaan untuk melanggengkan dan juga menentang tatanan gender di Cina yang patriarkis dan heteronormatif. Penggunaan aplikasi ini membentuk publik seksual yang berjejaring, yakni ketika pengguna dengan kesamaan identitas saling terhubung lewat infrastruktur aplikasi untuk melakukan negosiasi dan subversi terhadap tatanan gender yang telah mapan (hlm. 10).
Buku ini diawali dengan konseptualisasi terhadap aplikasi kencan, berikut pendekatan dan kontekstualisasi, serta metodologi yang digunakan. Aplikasi kencan memindahkan orang dari dunia fisik ke dunia virtual dengan berbagai fitur, sehingga memungkinkan setiap orang terkoneksi, bertemu, dan mencapai tujuan bersama, baik yang bersifat seksual ataupun nonseksual. Chan menelaah penggunaan aplikasi tersebut dengan kesadaran adanya fleksibilitas interpretatif: tujuan pengguna (user) tidak selalu sejalan dengan kehendak pengembang (developer). Dengan kata lain, kemampuan suatu aplikasi kencan secara fleksibel bergantung pada agensi individu. Berpijak pada kesadaran itu, Chan mewawancarai secara semi terstruktur 69 informan dari empat gender (19 perempuan dan 16 laki-laki straight; 19 laki-laki dan 15 perempuan queer) untuk menggali pengalaman dan narasi mereka dalam menggunakan aplikasi kencan.
Perhatian pada individu merefleksikan pandangan feminisme gelombang kedua bahwa yang personal selalu bersifat politis (hlm. 6). Namun, perhatian ini tidak berarti mengisolasi individu dari konteks sosialnya. Sebagaimana aplikasi kencan yang menghubungkan orang di dunia virtual dan mempertemukan mereka di dunia fisik, penggunaannya juga tidak lepas dari bayang-bayang tatanan gender yang berlaku di Cina. Oleh karena itu, dalam empat bab pembahasan, Chan senantiasa menyertakan historisitas (kesejarahan) relasi gender dalam masyarakat Cina, mulai dari periode pramodern hingga kontemporer. Penyejarahan ini tidak hanya memungkinkan analisis ditempatkan dalam konteks yang tepat, tetapi juga memperlihatkan bahwa implikasi politis dari penggunaan aplikasi kencan di Asia tidak bersifat seragam, melainkan spesifik pada wilayah tertentu. Secara khusus, buku ini memusatkan kajiannya di Guangzhou. Meskipun alasan pemilihan wilayah kajian ini tidak dinyatakan secara eksplisit, setidaknya terdapat tiga pertimbangan yang dapat ditangkap: upaya menghadirkan lokasi kajian baru di luar Beijing dan Shanghai yang telah banyak diteliti, keterbukaan masyarakatnya terhadap gagasan-gagasan baru, serta tingginya demografi pengguna internet di wilayah tersebut.

Lik Sam Chan
Selanjutnya, Bab 2 mempertanyakan apakah aplikasi kencan dapat berperan sebagai bentuk tekno-feminisme bagi perempuan heteroseksual dengan memetakan signifikansi sekaligus tantangan yang mereka hadapi. Aplikasi seperti Tantan, Momo, dan OkCupid, pada satu sisi, berfungsi sebagai semacam “laboratorium” yang membuka ruang baru bagi praktik dan eksplorasi seksualitas. Melalui aplikasi ini, para perempuan berpotensi menemukan pasangan jangka panjang sekaligus membangun apa yang dapat disebut sebagai “ruang ketiga” di antara rumah dan tempat kerja. Jika relasi di tempat kerja cenderung berjarak dan kompetitif antarkolega, aplikasi kencan justru memungkinkan pengguna untuk bertemu dan membangun interaksi, pengalaman, serta pengetahuan yang dapat menjadi modal sosial.
Namun, pada sisi lain, perempuan juga dihadapkan pada sejumlah tantangan yang bersifat simbolik maupun sosial. Perempuan yang menggunakan aplikasi kencan kerap distigmatisasi sebagai pencari yuepao shenqi atau hook-up (‘hubungan seksual kasual’). Selain itu, mereka juga berpotensi mengalami pelecehan seksual melalui percakapan di dalam aplikasi.
Tantangan ini menggarisbawahi bahwa perempuan secara kultural diharapkan bersikap pasif, sehingga keaktifan mereka dalam mencari pasangan justru memunculkan stigma. Situasi ini tidak terlepas dari kenyataan historis masyarakat Cina yang sejak lama memosisikan perempuan dan laki-laki dalam relasi yang tidak setara. Meskipun rezim sosialisme pernah mengusung gagasan kesetaraan gender, realisasinya lebih banyak terbatas pada ranah kerja dan karier. Perempuan yang berkarier tetapi tidak segera menikah kerap dilabeli shengnü (‘perempuan tidak laku’). Sebaliknya, ketika mereka mencoba aktif mencari pasangan melalui aplikasi kencan, mereka justru distigmatisasi sebagai yuepao shenqi.
Kontradiksi simbolik ini menunjukkan bahwa aplikasi kencan, yang pada satu sisi dipromosikan sebagai teknologi yang merayakan feminisme dan memberdayakan perempuan, pada praktiknya tetap mereproduksi ketidaksetaraan gender. Dalam konteks ini, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bentuk “pemberdayaan semu”, yakni ketika perayaan feminisme hanya berlangsung pada level permukaan, sementara secara struktural tetap mempertahankan superioritas laki-laki.
Budaya Cina secara historis menempatkan laki-laki pada posisi superior sebagai sumber kehormatan keluarga, sekaligus tidak membebani mereka dengan stigma ketika berfokus pada pengembangan karier. Superioritas ini kemudian diperkuat oleh laki-laki heteroseksual melalui penggunaan aplikasi kencan untuk mempertunjukkan maskulinitasnya secara performatif. Berbeda dengan maskulinitas Barat yang sering diasosiasikan dengan kekuatan fisik (wu), maskulinitas dalam konteks Cina lebih banyak didasarkan pada pencapaian kultural (wen).
Dalam Bab 3 yang membahas performativitas laki-laki heteroseksual, Chan menunjukkan bahwa banyak laki-laki menggunakan aplikasi kencan terutama untuk mencari pasangan seksual dan memenuhi kebutuhan fisiologis, dengan mengabaikan kemungkinan hubungan jangka panjang yang serius—berbeda dengan kecenderungan perempuan yang lebih sering mencari pasangan hidup. Pola penggunaan ini berkaitan dengan orientasi mereka pada dunia bisnis dan pencapaian kesuksesan ekonomi sebagai bentuk maskulinitas wen. Representasi maskulinitas tersebut kemudian ditampilkan dalam profil aplikasi kencan, terutama melalui foto-foto yang menonjolkan keberhasilan bisnis. Bersama dengan foto hewan peliharaan dan foto bergaya lucu (meimengzhao), citra-citra ini menjadi cara laki-laki mempertunjukkan maskulinitas wen sekaligus membangun daya tarik bagi pengguna perempuan.
Berbeda dengan perempuan, laki-laki dapat secara aktif menampilkan diri secara atraktif tanpa terkendala stigma yuepao shenqi. Mereka dapat sepenuhnya berkarier di dunia fisik sekaligus memanfaatkan ruang virtual aplikasi kencan untuk mencari pasangan. Dalam konteks ini, aplikasi kencan justru berpotensi melanggengkan objektifikasi terhadap perempuan, yang dipersepsikan melalui tatapan maskulin sebagai produk dalam sebuah katalog—bebas dipilih ataupun ditolak oleh pengguna laki-laki.
Namun demikian, maskulinitas tidaklah homogen. Pengalaman laki-laki heteroseksual berbeda dengan pengalaman laki-laki queer. Di Cina, homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai tindakan kriminal maupun penyakit mental. Reformasi ekonomi, arus informasi global dari Barat, serta berkembangnya teknologi kencan dan budaya Barat turut membuka ruang penerimaan yang lebih luas bagi identitas ini, meskipun penolakan masih kerap muncul di lingkungan keluarga maupun tempat kerja.
Dalam Bab 4, Chan mengeksplorasi afek atau emosi laki-laki queer dalam menggunakan aplikasi kencan seperti Blued, yang tercermin dalam praktik berulang untuk menghapus dan menginstal kembali aplikasi tersebut, atau keluar dan masuk kembali ke dalamnya. Ketika menggunakan aplikasi, mereka merasakan kegembiraan karena dapat membangun koneksi dengan sesama sambil tetap menjaga privasi melalui identitas anonim. Namun, pengalaman ini juga sering diwarnai oleh perjumpaan dengan identitas palsu dan bentuk-bentuk pelecehan seksual yang menjijikkan. Di sisi lain, mereka kerap menghapus aplikasi karena kekhawatiran diketahui oleh keluarga atau rekan kerja, meskipun tetap menyimpan harapan bahwa suatu saat homoseksualitas akan diterima secara lebih luas dalam masyarakat.
Chan meletakkan analisisnya dalam kerangka fenomenologi yang memandang emosi bukan semata-mata sebagai pengalaman personal, melainkan juga sebagai fenomena sosial. Sikap positif maupun negatif para laki-laki queer—ketika memasang ataupun menghapus aplikasi kencan—mencerminkan suatu bentuk ambivalensi. Ambivalensi ini muncul karena mereka belum sepenuhnya diterima dalam masyarakat. Meskipun tidak ada hukum formal yang melarang homoseksualitas, tatanan patriarkal dan heteronormatif tetap memihak laki-laki heteroseksual serta mengukuhkan peran laki-laki sebagai penerus garis keturunan keluarga. Dalam situasi tersebut, laki-laki queer menghadapi sikap dualistik antara harapan untuk diterima dan ketakutan akan penolakan. Akibatnya, terbentuklah siklus berulang antara mengunduh dan menghapus aplikasi kencan sebagai strategi untuk menyiasati tekanan sosial yang mereka hadapi.
Tantangan yang lebih berat dialami oleh perempuan queer, sebagaimana dibahas dalam Bab 5. Berbeda dengan laki-laki queer yang memiliki ruang publik seperti bar untuk berjumpa dengan komunitasnya, ruang serupa bagi perempuan queer hampir tidak tersedia di lingkungan urban Cina. Keterbatasan ini kemudian diatasi melalui penggunaan aplikasi seperti Rela dan Lesdo, yang menjadi ruang bagi perempuan untuk bertemu dan membangun lingkaran pertemanan atau quanzi. Melalui aplikasi ini, mereka dapat mencari teman, berbagi sanguan—yakni pandangan dunia, pandangan hidup, dan nilai—serta, meskipun bukan tujuan utama, mencari pasangan seksual.
Namun demikian, aplikasi tersebut pada praktiknya juga mereproduksi logika heteronormatif, terutama melalui fitur video singkat yang ditawarkan. Misalnya, sebuah video dapat menampilkan relasi antara perempuan yang digambarkan maskulin dengan perempuan yang digambarkan feminin. Representasi semacam ini tetap bertumpu pada logika biner laki-laki–perempuan, alih-alih membuka kemungkinan relasi antara dua perempuan dalam kerangka yang lebih otonom atau homonormatif.
Dalam Bab 5, saya melihat adanya kerumpangan dalam analisis yang pada awalnya menjanjikan penggunaan konsep interseksionalitas—yakni pendekatan yang melihat relasi identitas gender dengan berbagai kategori sosial lain seperti kelas, ras, pendidikan, dan sebagainya. Namun, penerapan konsep ini tidak tampak secara jelas dalam pembahasan dan tidak secara eksplisit menunjukkan kategori sosial apa yang beririsan dengan identitas queer yang dibahas. Padahal, penggunaan aplikasi kencan sendiri dapat dipahami sebagai praktik yang berkaitan dengan akses terhadap teknologi, yang pada gilirannya berkaitan dengan privilese kelas tertentu. Jika demikian, bukankah penggunaan aplikasi kencan oleh berbagai gender sebenarnya sudah mengandung dimensi interseksional? Pertanyaan ini kemudian memunculkan persoalan lain: mengapa konsep interseksionalitas justru hanya dihadirkan dalam Bab 5?
Meski demikian, kerumpangan ini tidak sampai mengacaukan keseluruhan analisis buku. Empat bab yang lain tetap menyajikan pembahasan yang kuat dan berbeda satu sama lain, sejalan dengan pengalaman tiap kelompok gender yang tidak seragam. Dengan demikian, variasi pengalaman tersebut tetap dapat ditangkap secara jelas dalam keseluruhan struktur argumentasi buku.
Saya menyebut pengalaman-pengalaman tersebut sebagai bentuk politik kekuasaan, di mana setiap kelompok gender memproduksi relasi kuasa melalui penggunaan aplikasi kencan—baik untuk melanggengkan maupun menantang tatanan gender Cina yang patriarkal dan heteronormatif. Laki-laki heteroseksual cenderung mempertahankan struktur patriarki, sementara perempuan heteroseksual berupaya menegosiasikan bahkan menentangnya. Demikian pula, laki-laki dan perempuan queer menghasilkan bentuk-bentuk resistansi terhadap heteronormativitas. Namun, pelanggengan dan perlawanan ini tidak berlangsung secara setara. Sebagaimana diuraikan dalam Bab 6, setiap praktik resistansi selalu mengandaikan adanya struktur dominasi yang lebih kuat. Dari pembahasan dalam Bab 2 dan 3 dapat dipahami bahwa patriarki tetap menjadi kekuatan dominan, sehingga aplikasi kencan bagi perempuan sering kali hanya menghadirkan bentuk “perayaan” yang semu. Sementara itu, melalui Bab 4 dan 5 terlihat bahwa heteronormativitas masih menjadi logika mapan yang membayangi pengalaman para queer. Dengan demikian, pertanyaan penting yang muncul adalah: apa signifikansi aplikasi kencan bagi tatanan gender di Cina?
Buku ini menunjukkan bahwa meskipun patriarki dan heteronormativitas masih mengakar kuat, terbentuknya publik seksual yang berjejaring melalui aplikasi kencan justru menyingkap ketidakstabilan tatanan gender tersebut. Aplikasi kencan membentuk ruang virtual yang memungkinkan munculnya berbagai bentuk agensi baru di tengah struktur lama: perempuan heteroseksual mencari pasangan seksual, laki-laki queer memperluas jaringan relasi, dan perempuan queer membangun lingkaran pertemanan di tengah keterbatasan ruang publik. Dalam arti tertentu, semakin kuat patriarki dan heteronormativitas mengeras, semakin besar pula potensi aplikasi kencan untuk menciptakan celah-celah yang mencairkan tatanan tersebut. Pada akhirnya, buku ini ditutup dengan optimisme bahwa aplikasi kencan mampu menciptakan ketegangan dan riak dalam struktur lama, sehingga membuka kemungkinan bagi terbentuknya dunia yang lebih setara serta membayangkan masyarakat baru (hlm. 130).
Berangkat dari pembacaan atas buku ini, kita juga dapat mempertanyakan politik aplikasi kencan dalam konteks Indonesia yang jauh lebih beragam. Bahkan, dalam pengamatan saya, praktik kencan tidak hanya berlangsung melalui aplikasi kencan konvensional, tetapi juga melalui media sosial seperti X. Fenomena ini mendorong perlunya eksplorasi lebih lanjut mengenai lanskap platform digital dan implikasi politisnya terhadap tatanan gender. Dengan demikian, kajian semacam ini dapat memperkaya pemahaman kita tentang dinamika relasi gender sekaligus membuka ruang untuk membayangkan dan meredefinisi masyarakat Indonesia yang lebih ramah gender.
0 Komentar