<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>seni - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/seni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2022 00:36:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>seni - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Pohon Menjulang, Angin Bersarang: Filologi Pertunjukan dan Pewujudan Realitas Budaya</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/06/pohon-menjulang-angin-bersarang/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pohon-menjulang-angin-bersarang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wahyu Widodo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2022 00:36:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=826</guid>

					<description><![CDATA[<p>Arps, Bernard. 2016. Tall Tree, Nest of the Wind: The Javanese Shadow-play Dewa Ruci Performed by Ki Anom Soeroto - A Study in Performance Philology [Pohon Menjulang, Anging Bersarang: Wayang Dewa Ruci oleh Ki Anem Soeroto - Sebuah Studi Filologi Tampil]. NUS Press.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/06/pohon-menjulang-angin-bersarang/">Pohon Menjulang, Angin Bersarang: Filologi Pertunjukan dan Pewujudan Realitas Budaya</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/Tall_Tree_Nest_of_the_Wind_cover_900_1024x1024.jpg?resize=208%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="208" height="300" class="size-medium wp-image-827 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/Tall_Tree_Nest_of_the_Wind_cover_900_1024x1024.jpg?resize=208%2C300&amp;ssl=1 208w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/Tall_Tree_Nest_of_the_Wind_cover_900_1024x1024.jpg?w=623&amp;ssl=1 623w" sizes="(max-width: 208px) 100vw, 208px" />Arps, Bernard. 2016. <em>Tall Tree, Nest of the Wind: The Javanese Shadow-play Dewa Ruci Performed by Ki Anom Soeroto &#8211; A Study in Performance Philology</em> [Pohon Menjulang, Anging Bersarang: Wayang Dewa Ruci oleh Ki Anem Soeroto &#8211; Sebuah Studi Filologi Tampil]. NUS Press.</p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Pada tanggal 23-24 September 1987 di Amsterdam, Belanda, pementasan wayang kulit digelar dengan lakon Dewa Ruci, yang dibawakan oleh dalang kondang, Ki Anom Suroto</span><span style="font-weight: 400;"> (lahir: 11 Agustus 1948). Lakon ini mengkisahkan pencarian Bima atas makna kehidupan dan religiusitas (</span><i><span style="font-weight: 400;">kawruh sangkan paraning dumadi</span></i><span style="font-weight: 400;">). Pencarian ilmu asal-mula dan tujuan akhir kehidupan itu (</span><i><span style="font-weight: 400;">the science of the whence and whither of being</span></i><span style="font-weight: 400;">) disimbolkan dengan pohon menjulang, tempat angin bersarang (</span><i><span style="font-weight: 400;">kayu gung susuhing angin</span></i><span style="font-weight: 400;">). Pencarian yang penuh enigma tersebut dalam rangka memenuhi titah gurunya, Durna. Kisah ini menyedot perhatian penikmat wayang kulit di mancanegara, dan tentu saja masyarakat Jawa sendiri. </span><span style="font-weight: 400;">Pertunjukan tujuh jam tersebut menjadi fokus kajian dalam buku ini. </span><i><span style="font-weight: 400;">Tall Tree, Nest of the Wind</span></i><span style="font-weight: 400;">, terjemahan atas frasa simbolik </span><i><span style="font-weight: 400;">kayu gung susuhing angin</span></i><span style="font-weight: 400;">, adalah hasil kajian yang komprehensif atas pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu.</span> <span style="font-weight: 400;">Buku ini menuntun pembacanya</span> <span style="font-weight: 400;">untuk memasuki dunia pentas Jawa sekaligus dunia batin masyarakat Jawa</span> <span style="font-weight: 400;">melalui beberapa pertanyaan kunci berikut:</span> <span style="font-weight: 400;">Bagaimanakah gerak-gerik boneka wayang di layar pipih dan tembus pandang tersebut (</span><i><span style="font-weight: 400;">kelir</span></i><span style="font-weight: 400;">) memiliki signifikansi bagi penontonnya? Lantas bagaimana bahasa Jawa yang dipakai dalam percakapan antar-tokoh tersebut dipahami? Dan bagaimanakah iringan musik yang mengiringi pementasan tersebut dipahami sebagai gerak-kesatuan dalam pementasan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melalui pertunjukan itu, </span><span style="font-weight: 400;">Bernard Arps, Profesor bahasa Jawa dan Indonesia di Universitas Leiden, menyuguhkan cara pandang baru dalam mengkaji seni pementasan dengan mengawinkan dua disiplin, yakni kajian naskah klasik-tulis-tangan (</span><i><span style="font-weight: 400;">philology</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan kajian pentas (</span><i><span style="font-weight: 400;">performance</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><span style="font-weight: 400;">. Bagaimana bisa dua disiplin yang memiliki perhatian yang berbeda tersebut dikawin-padukan? Kajian filologi bertumpu pada kajian teks klasik yang statis, sementara kajian pentas berfokus pada gerak pertunjukan yang dinamis? Arps mengatakan bahwa pengkajian teks dan pengkajian pentas tidak dipertentangkan antara yang satu dan yang lain dalam lahirnya induk ilmu humaniora tersebut, terutama di kesarjanaan Amerika dan Eropa (hal. 31). Lebih lanjut, </span><span style="font-weight: 400;">ia menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pengkajian teks memiliki keserupaan dengan pengkajian pentas. Keserupaan itu setidaknya bisa dilihat dari lima hal: keterbuatan (</span><i><span style="font-weight: 400;">artefactuality</span></i><span style="font-weight: 400;">), ketercerapan (</span><i><span style="font-weight: 400;">apprehensibility</span></i><span style="font-weight: 400;">), ketersusunan (</span><i><span style="font-weight: 400;">compositionality</span></i><span style="font-weight: 400;">), kontekstualitas (</span><i><span style="font-weight: 400;">contextuality</span></i><span style="font-weight: 400;">), dan kesejarahan (</span><i><span style="font-weight: 400;">historicity</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span> <span style="font-weight: 400;">Kelima hal tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait antar-unsurnya.</span><span style="font-weight: 400;"> Kelima prinsip dalam pengkajian naskah-tulis-tangan tersebut bisa diterapkan untuk mengkaji kajian pentas yang tentunya hasil kajian tersebut terpercaya dan andal (hal. 41). Melalui buku ini, Arps sesungguhnya membuktikan apa yang sedang ia formulasikan. Bagaimana keterandalan prinsip kerja filologi apabila diterapkan dalam menganalisis objek yang lebih luas: pertunjukan, pagelaran ritual, kajian media, dan kajian budaya lainnya. Baginya, </span><span style="font-weight: 400;">filologi bukan hanya bertungkus lumus dengan membaca teks klasik-tulis-tangan. Lebih dari itu, filologi adalah cara kerja atau metode untuk memahami dan menggali pewujudan realitas budaya (</span><i><span style="font-weight: 400;">worldmaking</span></i><span style="font-weight: 400;">) melalui artefak kebudayaan.</span> <span style="font-weight: 400;">Secara terang, ia mengatakan bahwa “</span><i><span style="font-weight: 400;">philology: the artefact-focused study of worldmaking</span></i><span style="font-weight: 400;">” (hal. 62).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lantas apakah pewujudan realitas budaya itu? Arps (1996; 1999) dalam karya awalnya menyebut fenomena ini sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">diegesis</span></i><span style="font-weight: 400;"> tatkala ia mengkaji </span><i><span style="font-weight: 400;">Kidung Rumeksa Ing Wengi</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan dunia buku priyayi Jawa yang hidup pada pertengahan abad XX, Kartasupana. Kata </span><i><span style="font-weight: 400;">worldmaking</span></i><span style="font-weight: 400;"> baru ia pakai dalam karyanya dalam kurun satu dasawarsa terakhir (Arps, 2017;  2018) . Konsep ini memang berkembang dan kemudian stabil dan konsisten digunakan dalam karya Arps. Untuk memahami konsep ini, saya akan mencoba membuat ilustrasi sebagai berikut. </span><span style="font-weight: 400;">Dunia atau realitas yang saat ini kita hadapi bisa berbeda atau bisa sama dengan realitas/dunia yang diciptakan dalam artefak. Artefak di sini bisa berupa teks sastra, teks pertunjukan, dan semua unsur yang terkandung di dalamnya</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Memahami secara komprehensif kelima unsur dalam suatu artefak akan mengungkap proses pewujudan realitas budaya tersebut</span><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<div id="attachment_828" style="width: 299px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-828" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/440px-Ben_Arps23022006.jpg?resize=289%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="289" height="300" class="wp-image-828 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/440px-Ben_Arps23022006.jpg?resize=289%2C300&amp;ssl=1 289w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/06/440px-Ben_Arps23022006.jpg?w=440&amp;ssl=1 440w" sizes="(max-width: 289px) 100vw, 289px" /><p id="caption-attachment-828" class="wp-caption-text">Bernard Arps</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain adalah datang dari dunia film. Istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">diegesis</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dipakai Arps (1996) meminjam dari kajian film. Tatkala ada musik dalam film, dan musik tersebut mendukung jalan kisah yang diperagakan oleh tokoh dalam film tersebut, maka musik tersebut digolongkan sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">diegetic music</span></i><span style="font-weight: 400;">. Akan tetapi, apabila musik tersebut sekadar pengiring, dan tidak tampak dimainkan oleh tokoh dalam film tersebut, maka disebut </span><i><span style="font-weight: 400;">non-diegetic music</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dengan begitu, semua unsur dalam artefak ditujukan untuk membentuk realitas kebudayaan yang diingini oleh sang pembuat. Dari sini setiap artefak kebudayaan sejatinya disusun dan dibangun untuk menciptakan dunia atau realitasnya sendiri. Realitas tersebut bisa sama atau berbeda dari yang dihadapi oleh penikmatnya. </span><span style="font-weight: 400;">Suatu artefak tersusun atas beberapa lapis. Lapis yang paling luar adalah lapis bahasa untuk kasus pertunjukan dalam buku ini.</span> <span style="font-weight: 400;">Melalui bahasa dan aksaranya, suatu artefak sedang menghadirkan realitas dengan kompleksitasnya. Sayangnya, ihwal penguasaan bahasa sebagai lapis penting tidak mendapat perhatian lebih oleh Arps, meski Arps menyadari betul pentingnya penguasaan bahasa ini.</span> <span style="font-weight: 400;">Ringkasnya, tugas pengkaji budaya adalah memahami dan menunjukkan bangunan realitas yang dikonstruksikan melalui artefak tersebut</span><span style="font-weight: 400;">. Inilah misi disiplin ilmu filologi: yakni menemu-padukan pewujudan realitas kultural dalam artefak. Untuk memahami kompleksitas pementasan wayang kulit dan juga mengungkap proses pewujudan realitas kultural, Arps membuat sebuah edisi pertunjukan atasnya. </span></p>
<p><b>Edisi Pertunjukan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana lazimnya kajian filologi yang menyuguhkan naskah klasik-tulis-tangan agar mudah diakses oleh pembaca, maka bentuk edisi naskah dibuat oleh filolog.</span> <span style="font-weight: 400;">Edisi naskah adalah menghadirkan dan menginterpretasikan sebuah naskah melalui serangkaian pembacaan, pengalihaksaraan, penerjemahan, dan penganotasian kata yang dibutuhkan untuk membuat naskah klasik tersebut mampu diakses dengan mudah oleh pembaca awam</span><span style="font-weight: 400;"> (Robson, 1988:11). Selain itu, pengantar ihwal teks juga perlu dihadirkan untuk memberikan gambaran konteks artefak. </span><span style="font-weight: 400;">Bentuk edisi naskah sudah sangat berlimpah, misalnya adalah edisi naskah </span><i><span style="font-weight: 400;">Śiwarātrikalpa</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Mpu Tanakung yang dikerjakan oleh Teeuw, Galestin, S.O. Robson, Worsley, &amp; P.J. Zoetmulder (1969)</span><span style="font-weight: 400;">. Apa yang dilakukan </span><span style="font-weight: 400;">Arps</span><span style="font-weight: 400;"> dalam membuat edisi pertunjukan wayang kulit lakon Dewa Ruci tersebut adalah serupa dan sebangun. Ia </span><span style="font-weight: 400;">menyuguhkan edisi pertunjukan wayang kulit agar mudah diakses dan dipahami oleh pembaca modern, baik mereka yang berbahasa Jawa, maupun orang yang berbahasa Inggris</span><span style="font-weight: 400;"> (hal. 63-72). </span><span style="font-weight: 400;">Dalam pertunjukan tersebut, Ki Anom banyak memperagakan adegan percakapan (</span><i><span style="font-weight: 400;">antawacana</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan juga deskripsi suasana dan persona (</span><i><span style="font-weight: 400;">sanggit</span></i><span style="font-weight: 400;">) dalam bahasa Jawa klasik. Melalui edisi pertunjukan ini, Arps menyajikan teks pertunjukan yang dilengkapi dengan deskripsi bunyi dan penggalan gambar pentas. Setiap apa yang terjadi di kelir yang pipih itu dideskripsikan, ditranskripsi, ditransliterasi, dan diberi penjelasan (anotasi).</span><span style="font-weight: 400;"> Hal itu misalnya dalam adegan tatkala Bima pulang sowan dan pamitan ke ibunya, Kunthi, dan saudara-saudaranya. Bima dalam adegan tersebut minta restu akan menceburkan diri ke dalam samudra untuk menemukan air suci sebagaimana diperintahkan gurunya. Adegan itu sangat dramatis dan mengundang kesedihan. Untuk menghadirkan suasana sedih dalam adegan tersebut, dalang akan melantunkan </span><i><span style="font-weight: 400;">sêndhon tlutur</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai berikut </span></p>
<blockquote><p><span style="font-weight: 400;">surêm-surêm diwangkara kingkin </span> <span style="font-weight: 400;">kilau-sinarnya pupus </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">lir manguswa kang layon </span> <span style="font-weight: 400;">seolah-olah menghendaki</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">denya ilang memanise</span> <span style="font-weight: 400;">sirnanya pesona-kilau itu</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">wadananira landhu kumêl kucêm</span> <span style="font-weight: 400;">wajahnya layu dan kusam</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">rahnya maratani</span> <span style="font-weight: 400;">darah mengalir</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">ooo</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">marang saliranipun</span> <span style="font-weight: 400;">keseluruh badannya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">mêlês dening ludira kawangwang</span> <span style="font-weight: 400;">dia tampak berkilau karena merahnya darah</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">nggêgana bang sumirat</span> <span style="font-weight: 400;">langit memerah-darah</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">ooo</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(hal. 354-355).</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pelantunan </span><i><span style="font-weight: 400;">sêndhon tlutur</span></i><span style="font-weight: 400;"> di atas biasanya juga dipakai tatkala adegan kematian seorang satria dalam perang, misalnya, meninggalnya Karna dalam lakon Banjaran Karna. Penggalan di atas adalah sekelumit deskripsi dari edisi pertunjukan. Pembaca-sekaligus-penonton wayang kulit disuguhi lakon Dewa Ruci dalam bentuk teks pertunjukan yang lengkap (hal. 108-605). </span><span style="font-weight: 400;">Deskripsi yang rigid dan rapi itu, memberikan gambaran bagi pembaca modern untuk menjangkau bagaimana pentas wayang kulit yang rumit dan kompleks itu bisa dipahami. Kesebangunan dan keserupaan kerja antara pengkajian teks dan pengkajian pentas tersebut yang menginisiasi lahirnya pendekatan baru: filologi pertunjukan</span><span style="font-weight: 400;"> (hal. 41-62). Filologi bertujuan untuk mengapresiasi dan memahami sebuah artefak tulis-tangan, yang mungkin berasal dari abad silam. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam kerangka filologi yang diperluas, objek material yang ditangani tidak semata pada korpus teks-tulis, tetapi juga bisa teks-lisan yang dipentaskan sebagaimana wayang kulit, peragaan ritual, bahkan ceramah keagamaan di Youtube</span><span style="font-weight: 400;">. Melalui perspektif tersebut, upaya filologi yang diperluas ini akan mampu mengungkap pertanyaan mengapa dan bagaimana dalam pewujudan realitas kultural dibalik suatu artefak.</span></p>
<p><b>Mengundang Perdebatan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gagasan Arps ini memantik dan mengusik pembicaraan hangat di kalangan pengkaji Asia Tenggara</span><span style="font-weight: 400;">. Pembahasan yang bernas itu diwadahi dalam sesi perdebatan </span><span style="font-weight: 400;">sebagaimana tertulis di jurnal </span><i><span style="font-weight: 400;">Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde</span></i><span style="font-weight: 400;"> 173</span><span style="font-weight: 400;"> (2017), hal. 115–131. Perdebatan itu juga memberikan kesempatan Arps untuk menjawab dan sekaligus membantah anggapan dan pembacaan yang keliru atas buku tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Salah satunya adalah pertanyaan tajam dari Foley, pengajar di University of California, Santa Cruz: “Tradisi tidak memiliki kepedulian berapa jumlah ketukan cempala dan setiap jeda dalang tatkala pementasan, apakah pembaca dituntut juga memiliki kepedulian tersebut?” Pertanyaan ini muncul menanggapi anotasi yang detil di buku tersebut, yang di dalamnya memuat deskripsi bunyi cempala pada kotak wayang (</span><i><span style="font-weight: 400;">dherodog</span></i><span style="font-weight: 400;">). Arps menjawab pertanyaan itu bahwa setiap ketukan cempala pada kotak wayang menandakan transisi dari satu cerita ke cerita lain, dari satu suasana ke suasana lain dalam pementasan</span><span style="font-weight: 400;">. Memang, </span><span style="font-weight: 400;">detil itu dibutuhkan untuk menerang-jelaskan apa yang terjadi pada pertunjukan.</span><span style="font-weight: 400;"> Perdebatan ini layak disimak dan dibahas tersendiri. Ringkasnya, perdebatan itu menunjukkan kokohnya argumentasi teoretik yang dibangun dan detilnya data disusun untuk memformulasi lahirnya gagasan filologi pertunjukan. Ia lahir bukan atas lamunan kosong. Ia lahir dari hasil endapan teoretik yang berlangsung sepanjang karier akademik penulisnya, dan juga hasil olah-bongkar data selama lebih dari dua dasawarsa.</span></p>
<p><b>Keterbandingan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang silap diformulasikan oleh Arps dari kerja filologis adalah kerangka pikir perbandingan. Dari kelima hal di atas, keterbandingan (</span><i><span style="font-weight: 400;">comparability</span></i><span style="font-weight: 400;">) adalah cara kerja filologis yang utama yang seharusnya juga menjadi perhatian dalam merumuskan kerja filologi yang diperluas. Keterbandingan merupakan penjajaran dan penyandingan artefak dalam lingkungan dan memiliki unsur yang sama untuk dikaji keduanya secara memadai. Hal itu, sebagaimana dilakukan oleh</span> <span style="font-weight: 400;">Arps (1992; 2018), sayangnya luput diformulasikan.</span><span style="font-weight: 400;"> Melalui kerangka kerja bandingan, linguistik bandingan (</span><i><span style="font-weight: 400;">historical linguistic</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan kekerabatan bahasa lahir dan tumbuh subur di Eropa. Lebih dari itu, keterbandingan pula yang menginisiasi lahirnya studi politik lintas kasus dan negara di bidang kajian politik kawasan (Turner, 2014:xiv). </span><span style="font-weight: 400;">Filologi pertunjukan sendiri tidak akan mungkin lahir kalau tidak ada perbandingan antara apa yang tertulis di dalam teks, misalnya, dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Serat Dewa Ruci</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan pertunjukan wayang itu sendiri.</span><span style="font-weight: 400;">  Melalui keterbandingan kita bisa melihat dengan tepat perluasan dari teks dan konteks dalam suatu artefak ke artefak yang lain (</span><i><span style="font-weight: 400;">entextualization</span></i><span style="font-weight: 400;">). </span><span style="font-weight: 400;">Di atas segalanya, buku ini menunjukkan bahwa tidak bisa disangsikan kuatnya pengaruh kerangka kerja filologis dalam studi humaniora. Sayangnya, ilmu ini lambat laun terlupakan karena tuntutan praktis dari liberalisasi ilmu pengetahuan selama kurun dua dasawarsa terakhir. Akan tetapi, berbekal usaha yang gigih dan pantang menyerah sebagaimana Bima menemukan pohon menjulang, tempat angin bersarang, penelitian filologi yang diperluas mendesak untuk tetap dipertahankan dan dilakukan pada masa mendatang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><b>Daftar Rujukan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Arps, B. (1992). </span><i><span style="font-weight: 400;">Tembang in Two Traditions: Performance and Interpretation of Javanese Literature</span></i><span style="font-weight: 400;">. London, University of London: School of Oriental and African Studies (SOAS).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Arps, B. (1996). The Song Guarding at Night: grounds for cogency in a Javanese incantation. In S. C. Headley (Ed.), </span><i><span style="font-weight: 400;">Towards an Anthtropology of Prayer: Javanese Ethnolinguistic Studies/ Vers une anthropologie de la prière: études ethnolinguistiques javanaises</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pp. 47–113). Aix-en-Provence: Publications de l’Université de Provence.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Arps, B. (1999). How a Javanese Gentleman Put His Library in Order. </span><i><span style="font-weight: 400;">Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">155</span></i><span style="font-weight: 400;">(No. 3), 416–469.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Arps, B. (2017). Flat puppets on an empty screen, stories in the round Imagining space in wayang kulit and the worlds beyond. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wacana</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">17</span></i><span style="font-weight: 400;">(3), 438. https://doi.org/10.17510/wacana.v17i3.455</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Arps, B. (2018). Drona’s betrayal and Bima’s brutality: Javanaiserie in Malay Culture. In </span><i><span style="font-weight: 400;">Traces of The Ramayana and Mahabharata in Javanese and Malay Literature</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pp. 58–98). Singapore: ISEAS-Yusof Ishak Institute.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Robson, S. O. (1988). </span><i><span style="font-weight: 400;">Principles of Indonesian Philology</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dordrecht, Holland/Providence- U.S.A: Foris Publications.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Teeuw, A., Galestin, T. P., S.O. Robson, Worsley, P. J., &amp; P.J. Zoetmulder. (1969). </span><i><span style="font-weight: 400;">Śiwarātrikalpa of Mpu Tanakun: An Old Javanese Poem, Its Indian Source and Balinese Illustrations</span></i><span style="font-weight: 400;">. The Hague: Bibliotheca Indonesica, KITLV Press.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Turner, J. (2014). </span><i><span style="font-weight: 400;">Philology: The Forgotten Origins of the Modern Humanities</span></i><span style="font-weight: 400;">. Princeton, Oxford: Princeton University Press. https://doi.org/10.2307/j.ctt5hhrxf</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/06/pohon-menjulang-angin-bersarang/">Pohon Menjulang, Angin Bersarang: Filologi Pertunjukan dan Pewujudan Realitas Budaya</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">826</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Hijab di Indonesia Hingga Menjadi Bagian dari Fashion</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/08/perjalanan-hijab-di-indonesia-hingga-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=perjalanan-hijab-di-indonesia-hingga-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iva Hanani]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2020 02:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Kim Hyung Joon. 2018. Hijab Adalah Fashion: Realisasi dan Pemikiran Perempuan Muslim Indonesia Tentang Kecantikan (히잡은 패션이다: 인도네시아 무슬림 여성의 미에 대한 생각과 실천). Penerbit Seohae Moon Jib. Hijab: Pakaian Muslimah, Kim menjelaskan tentang alasannya memilih istilah hijab dibanding veil. Jika merujuk kepada pakaian perempuan muslim, maka kata hijab lebih<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/08/perjalanan-hijab-di-indonesia-hingga-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/perjalanan-hijab-di-indonesia-hingga-html/">Perjalanan Hijab di Indonesia Hingga Menjadi Bagian dari Fashion</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family: arial;">Kim Hyung Joon. 2018. Hijab Adalah Fashion: Realisasi dan Pemikiran Perempuan Muslim Indonesia Tentang Kecantikan (히잡은 패션이다: 인도네시아 무슬림 여성의 미에 대한 생각과 실천). Penerbit Seohae Moon Jib.</span></strong></p>
<hr />
<p><span style="font-family: arial;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/8974839415_1.jpg?resize=382%2C533&#038;ssl=1" alt="" width="382" height="533" class=" wp-image-66 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/8974839415_1.jpg?resize=215%2C300&amp;ssl=1 215w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/8974839415_1.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w" sizes="(max-width: 382px) 100vw, 382px" /><span style="font-size: inherit; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;">Hijab: Pakaian Muslimah, Kim menjelaskan tentang alasannya memilih istilah hijab dibanding </span><i style="font-size: inherit; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;">veil</i><span style="font-size: inherit; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;">. Jika merujuk kepada pakaian perempuan muslim, maka kata hijab lebih tepat karena istilah hijab juga digunakan dalam al-Quran dan mewakili </span><i style="font-size: inherit; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;">veil</i><span style="font-size: inherit; font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;">. Selain itu, istilah hijab semakin dikenal dunia, sehingga konsep hijab tidak hanya dikenal di masyarakat muslim saja, tetapi juga masyarakat nonmuslim. Pada tahun 1800-1950 hijab dianggap sebagai bentuk barbarisme dan isolasi di dunia barat. Orang barat pun merasa bertanggungjawab untuk membebaskan mereka. Pembebasan yang mereka lakukan tak lain bermaksud untuk memperluas wilayah jajahan mereka. Di negara islam, melarang atau mewajibkan penggunaan hijab menjadi bentuk respon terhadap penjajahan barat.</span></span></p>
<p>Pada bagian <b>Islam dan Hijab</b> dibahas sekilas mengenai tafsir tentang hijab, yaitu tafsir tradisional dan modern. Tafsir tradisional yang dikemukakan adalah tafsir dari empat imam besar, yaitu Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki tentang kewajiban berhijab dan batasan aurat yang meliputi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dalam pandangan tafsir tradisional, kecantikan perempuan hanya diperuntukkan suami saja. Menunjukkan kecantikan di muka umum hanya akan menarik perhatian lawan jenis yang bukan mahramnya dan dapat mendekati zina. Tafsir modern berusaha menafsirkan al-Quran dengan sudut pandang yang baru, yaitu menentukan batas aurat yang disesuaikan adat atau kondisi, dan standar ‘malu’ yang berlaku di daerah masing-masing. Selain itu, menghias diri sebagai ekspresi diri merupakan hal yang diperbolehkan secara agama dan dilakukan perempuan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p><span style="font-family: arial; font-size: inherit;">Pada bagian </span><b style="font-family: arial; font-size: inherit;">Paparan Historis Hijab di Indonesia: Hingga tahun 2000an</b><span style="font-family: arial; font-size: inherit;"> dinyatakan bahwa hijab menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak para cendekiawan muslim kembali ke Indonesia dari menuntut ilmu agama di asia barat pada awal abad ke-19. Hijab menjadi kewajiban bagi perempuan muslim di Padang, organisasi Islam Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama. Pada masa Orde Lama pemakaian hijab atau kerudung hanya dilakukan di sekolah Islam saja. Pada masa Orde Baru, yaitu pada tahun 1980, mulai muncul beberapa pandangan baru mengenai batas aurat dan hijab. Namun, tetap saja pandangan tradisional dan fundamental tentang pelaksanaan Islam yang benar lebih dianut. Akibatnya, kerudung yang masih memperlihatkan sedikit leher tidak diperbolehkan untuk dipakai. Pada tahun 1982 pemerintah Indonesia mengeluarkan ketentuan tentang seragam sekolah negeri. Pemakaian hijab diperbolehkan, tetapi harus diberlakukan untuk seluruh murid dan guru perempuan di satu sekolah. Pada tahun 1991, pemerintah mengijinkan pemakaian seragam khusus untuk murid perempuan sesuai dengan agama dan kepercayaannya, sehingga hijab pun tercakup dalam ketentuan tersebut. Kebebasan mengekspresikan identitas keagamaan terjadi pada “zaman edan”, yaitu sekitar tahun 1997. Pada saat itu, pemakaian hijab semakin meluas dan pada umumnya hijab dipakai oleh perempuan kantoran yang berpendidikan tinggi. Kecemasan sosial juga menjadi salah satu faktor semakin banyaknya perempuan yang memutuskan memakai hijab. Hijab dianggap sebagai alat pelindung dari kehajatan seksual atau godaan pria. </span></p>
<div>
<p><span style="font-family: arial;"><span style="font-family: arial;">Setelah “zaman edan” berlalu, hijab menjadi bagian kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia. Hijab mulai muncul beragam dari segi desain, warna, dan ukuran. Hijab juga dipadu-padankan dengan busana yang cocok. Pemakai hijab tidak hanya orang biasa, tetapi merambah ke selebriti. Hijab yang dikenakan selebriti di acara televisi pun menjadi populer, sehingga setelahnya diproduksi dan diperdagangkan dimana-mana. Tak ketinggalan, stasiun televisi pun membuat program-program bernuansa Islami. Lama-kelamaan hijab pun menjadi tren di Indonesia. Hijab semakin popular sebagai fashion setelah masuk di Jakarta Fashion Week pada tahun 2008. Semenjak itu, muncul istilah Hijab Gaul. Dilihat dari sudut pandang tafsir tradisional, hijab digunakan untuk menutup tubuh dan membatasi segala bentuk ekspresi untuk mempercantik diri. Namun, hijab gaul berarti bahwa kewajiban beragama hanya pada hijab saja, sedangkan mempercantik diri tidak masuk dalam bahasan yang sama.</span></span></p>
<p>Jika membicarakan tentang hijab di Indonesia, maka Hijaber tak dapat dilepaskan darinya. Pada bagian <b>Hijaber: Hijab sebagai Fashion</b>, dibahas fenomena Komunitas Hijaber di Indonesia. Komunitas Hijaber didirikan pada tahun 2011 dan salah satu punggawanya adalah Dian Pelangi. Dian Pelangi yang seorang desainer dan santri, mencoba menghubungkan fashion dengan hijab. Dian berlandaskan pada Surah An-Nur ayat 31 dan surah Al-Ahzab ayat 59 yang menyatakan bahwa hijab adalah kewajiban perempuan muslim dan hadis yang menyatakan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Ada dua keindahan, yaitu keindahan dari dalam dan dari luar. Keindahan dari dalam meliputi akhlak yang baik, sedangkan keindahan dari luar adalah pakaian dan hiasan yang sesuai dengan pribadi masing-masing. Kegiatan Komunitas Hijaber mendukung terciptanya keindahan luar dan dalam. Hijab fashion show, fashion bazaar dan menghadirkan selebriti atau orang terkenal sebagai ikon fashion atau pembicara dapat dijadikan referensi untuk keindahan luar. Pengajian dan Hijab Day merupakan kegiatan yang mendukung terciptanya keindahan dari dalam. Respon terhadap fenomena komunitas hijaber ini ada dua, positif dan negatif. Respon positif datang dari media dan pengusaha yang melihat fenomena ini sebagai pasar. Resspon negatif datang dari kelompok muslim tradisionalis dan konservatif, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia yang mengkritik bahwa kegiatan hijaber sudah keluar dari ajaran agama Islam karena tidak beda dengan para kapitalis.</p>
<p>Berkembangnya hijab sebagai fashion membuat pemakai hijab bebas untuk mengkreasikan hijabnya. Beberapa perempuan memakai hijab tetapi tidak menjulurkannya hingga ke dada, sehingga membuat dadanya tampak menonjol. Fenomena seperti ini disebut dengan istilah Jilboob yang pada buku ini dibahas pada bagian <b>Jilboob: Kebebasan Mengekspresikan Kecantikan dan Hijab</b>. Istilah Jilboob muncul pertama kali di media sosial pada tahun 2012. Respon terhadap fenomena ini bermacam-macam. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang mengharamkan Jilboob karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Desainer, Jenahara memandang Jilboob sebagai bentuk kurangnya pengetahuan tentang pemakaian hijab yang benar. Dian Pelangi memandang Jilboob sebagai salah satu tahapan awal seseorang saat memutuskan berhijab. Zaskia Mecca melihat Jilboob bukanlah suatu masalah karena orang-orang hanya melihat luarnya saja dan yang berhak menilai dosa tidaknya seseorang hanya Tuhan. Pendapat Zaskia pun menuai kritik, salah satunya di forum diskusi Kaskus. Kritik terhadap Zaskia kebanyakan menyerang pribadi Zaskia dibanding pendapatnya. JIL atau Jaringan Islam Liberal menganggap Jilboob adalah persoalan pribadi dan tidak perlu menjadi objek kritikan. Kontroversi tentang Jilboob membawa hasil munculnya standar pemakaian hijab yang benar sesuai aturan agama. Standar aturan pemakaian hijab yang dipakai ada dua, yakni mengikuti langsung cendekiawan muslim tentang aturan hijab yang benar, yaitu menutup dada, longgar, tidak transparan, tidak ketat dan tidak memakai aksesoris. Satunya lagi adalah mengambil sebagian saja pendapat cendekiawan tertentu. Dari banyaknya kontroversi terkait hijab, pada akhirnya, ekspresi kecantikan perempuan muslim terbatas pada pakaian yang longgar, tetapi tidak terbatas pada kebebasan mengekspresikan kecantikan.</p>
<p>Pada bagian <b>Hijab yang Ditemui di Lapangan</b>, Kim menceritakan tentang wawancara Kim dengan beberapa perempuan muslim. Perempuan tersebut diantaranya, perempuan yang bercadar, perempuan yang melepas cadar dan memakai hijab lebar, perempuan berhijab dan perempuan yang tidak berhijab. Keputusan untuk berhijab, bercadar dan melepas cadar dilakukan atas kemauan mereka sendiri dengan alasan salah satunya adalah kenyamanan. Nyaman dalam konteks ini adlah terhindar dari pandangan laki-laki yang membuat mereka merasa menjadi objek seksual semata. Meskipun berhijab dan bercadar, mereka tidak ada bedanya dengan perempuan lain yang juga ingin mempercantik diri dan memakai baju yang modis. Yang membedakan hanyalah, fashion mereka adalah fashion versi lebih panjang dan tertutup. Selain itu, bagi mereka yang bercadar dan berhijab lebar, menunjukkan kecantikan hanyalah ranah spasial. Artinya, mereka masih bisa melakukannya tetapi hanya di tempat yang privat, seperti rumah. Bagi Perempuan yang tidak berhijab keimanan seseorang tidak bisa diukur hanya dengan berhijab atau tidak. Bagi mereka hijab adalah salah satu bentuk kesederhanaan. Maksudnya, seorang perempuan yang berhijab sebaiknya tidak memakai riasan dan bermewah-mewahan. Berhijab juga sebaiknya dilakukan ketika hati sudah siap. Siap dalam konteks ini adalah konsisten seumur hidup untuk memakai hijab dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama islam.</p>
<p>Buku ini memberikan pandangan kepada pembaca bahwa hijab tak lain hanyalah penanda bahwa pemakainya beragama Islam. Para pemakai hijab yang dijelaskan dalam buku ini, memakai hijab secara sukarela tanpa paksaan dari pihak di luar dirinya. Mereka yang berhijab bukan berarti meninggalkan hal-hal duniawi. Mereka yang juga perempuan tetap bebas berekspresi, mempercantik diri dan mengikuti perkembangan jaman. Pandangan tersebut tentunya berbeda dengan stigma tentang hijab bahwa hijab adalah bentuk opresi, praktik agama yang keras, dan penghambat kebebasan seseorang.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><b>Biografi Penulis Buku</b>: Kim Hyung Jun adalah Profesor di Departemen Antropologi Budaya, Kangwon National University, Korea. Kim memiliki ketertarikan terhadap Islam di Indonesia dan penelitian terbarunya tentang islam di Indonesia berkaitan dengan tradisi demokratis organisasi islam. Buku yang telah diterbitkan lainnya adalah A Man Running Over the Equator: Reading Indonesia by an Anthropologist (적도를 달리는 남자: 어느 문화인류학자의 인도네시아 깊이 읽기) dan Revolusi Perilaku Keagamaan di Pedesaan Yogyakarta.</p>
<p><b> </b></p>
</div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/perjalanan-hijab-di-indonesia-hingga-html/">Perjalanan Hijab di Indonesia Hingga Menjadi Bagian dari Fashion</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">18</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Konstruksi Identitas Bangsa Dalam Foto</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/06/konstruksi-identitas-bangsa-dalam-foto-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=konstruksi-identitas-bangsa-dalam-foto-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Khidir M. Prawirosusanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2020 02:48:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Strassler. Karen. 2010. Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java (Bayangan-bayangan Terbias: Fotografi Populer dan Modernitas Nasional di Jawa). Duke University Press. Album foto menjadi seuntai teks yang &#8216;berbicara&#8217; mengenai sejarah. Foto juga menjadi penanda zaman kala foto tersebut dibuat Buku karya Karen Strassler yang dikembangkan dari disertasinya pada<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/06/konstruksi-identitas-bangsa-dalam-foto-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/06/konstruksi-identitas-bangsa-dalam-foto-html/">Konstruksi Identitas Bangsa Dalam Foto</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Strassler. Karen. 2010. <em>Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java</em> (Bayangan-bayangan Terbias: Fotografi Populer dan Modernitas Nasional di Jawa). Duke University Press.</strong></p>
<hr />
<blockquote><p>Album foto menjadi seuntai teks yang &#8216;berbicara&#8217; mengenai sejarah. Foto juga menjadi penanda zaman kala foto tersebut dibuat</p></blockquote>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/978-0-8223-4611-1_pr.jpg?resize=392%2C603&#038;ssl=1" alt="" width="392" height="603" class=" wp-image-87 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/978-0-8223-4611-1_pr.jpg?resize=195%2C300&amp;ssl=1 195w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/06/978-0-8223-4611-1_pr.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w" sizes="auto, (max-width: 392px) 100vw, 392px" />Buku karya Karen Strassler yang dikembangkan dari disertasinya pada 2003 di Universitas Michigan ini menawarkan sebuah corak etnografi yang agaknya baru mulai populer di kalangan para antropolog Indonesia. Melalui buku ini, kita disadarkan bahwa kini perkembangan literatur antropologi (baca: etnografi) sangat beragam: mulai cara penyajian, gaya bercerita, hingga perspektif yang dipakai. Strassler menyodorkan argumentasi bahwa fotografi memuat informasi tertentu yang menandai banyak hal.</p>
<p>Ungkapan &#8220;a picture is worth a thousand words&#8221; rasanya mendekati kebenaran. Foto menjadi penanda atas penanda yang lain.</p>
<p>Lewat buku Refracted Visions, Strassler menganalisis sejarah (kemunculan) foto populer serta relasi foto tersebut dengan wacana identitas yang ”hidup” di sekitar foto atau di kala foto tersebut dibuat. Foto juga merupakan bagian dari imajinasi (cita-cita) modernitas dalam diri masyarakat Jawa dan China pascakolonial. Foto menandai ingatan nasional beragam peristiwa pasca-Reformasi di Indonesia.</p>
<p>Strassler membuka buku ini dengan sedikit menyitir kisah Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer. Tokoh Minke adalah ”wakil” dari pemuda Jawa terdidik pada umumnya kala itu yang menganggap fotografi adalah simbol dari kehebatan modernitas. Di mata Minke, fotografi merepresentasikan terbukanya sebuah dunia baru, melambangkan dunia yang mampu melampaui batas-batas geografis dan sosiokultural.</p>
<p><b>”Ways of seeing”</b></p>
<p>Untuk memasuki tema imajinasi nasionalisme Indonesia dan identitas keindonesiaan, Strassler berangkat dari pertanyaan bagaimana pengertian teknologi fotografi yang kompleks mendapat tempat. Teknologi semacam fotografi melibatkan semacam latihan tentang perasaan manusia yang menghasilkan pandangan baru dalam melihat dan menyadarkan kehadirannya di dunia sehingga ia menjadi suatu cara pandang (hal 18).</p>
<p>Strassler membagi bahasannya ke dalam enam bab yang dikelompokkan berdasarkan genre foto. Enam genre yang diulas dalam Refracted Visions adalah fotografi amatir, foto studio, foto identitas, foto ritual keluarga, foto demonstrasi mahasiswa, dan foto tokoh politik karismatik.</p>
<p>Strassler mengandaikan bahwa dari setiap genre tersebut kita dapat menggali perbedaan penampakannya atau dalam bahasa John Berger adalah ways of seeing. Strassler berargumen bahwa foto tidak hanya menjadi bagian dari keseharian hidup manusia dengan kesepakatan estetis tertentu, tetapi juga berfungsi sebagai ”ideologi semiotika” yang di dalamnya menyimpan asumsi-asumsi tertentu mengenai apa/siapa yang menjadi penanda dan tinanda di situ serta sejauh mana representasi simbolis (materi visual) tersebut berfungsi atau ”beroperasi”—sebagaimana disebut Strassler dalam catatan kakinya (hal 307).</p>
<p>Perspektif pasca-struktural sebetulnya baru mulai tampak sejak bagian pertama buku ini ketika ia mengisahkan pengalaman Ibu Soekilah. Melalui obrolan ringan, Ibu Soekilah menceritakan masa lalunya lewat album foto yang ia miliki. Foto-foto tersebut tidak hanya menandai siapa yang ada dalam foto-foto itu, Ibu Soekilah dan keluarganya, tetapi juga konteksnya, yaitu kisah-kisah perjalanan hidup, cinta, dan bundelan kenangan lain dirinya. Kisah-kisah ini terkuak melalui obrolan yang ”dimediasi” oleh materi visual dalam album foto tersebut. Dengan demikian, album foto menjadi seuntai teks yang ”berbicara” mengenai sejarah Ibu Soekilah. Foto (teks) menjadi penanda bagi zaman kala foto tersebut dibuat (konteks).</p>
<p>Strassler juga berbicara mengenai peran para fotografer amatir di masa kolonial dan pascakolonial yang membentuk imajinasi kolektif pada masyarakat Jawa dan Tionghoa tentang identitas keindonesiaan secara visual. Dari para fotografer amatir, yang hampir semuanya orang Tionghoa (totok dan peranakan), terekam jejak masyarakat Indonesia kala itu (hal 14).</p>
<p>Strassler melanjutkan diskusinya mengenai bagaimana backdrop dan atribut atau aksesori yang dipakai pelanggan untuk berfoto dalam studio fotografi erat kaitannya dengan ”cita-cita” orang dalam foto. Kata Strassler, penampilan mereka dalam pose-pose foto di studio pada 1960-an dan 1970-an terasa tidak lengkap tanpa perangkat aksesori yang menyimbolkan ikon-ikon modernitas, seperti televisi, kamera, sepeda, dan Vespa. Melalui foto-foto ini, Strassler menafsirkan zaman itu bahwa dengan adanya kecenderungan semacam itu, fotografi mampu menjembatani mereka sebagai orang Indonesia untuk terlibat merasakan impian yang ditawarkan era modern (Barat).</p>
<p>Pada bagian selanjutnya, buku ini membicarakan bagaimana rezim Orde Baru memperlakukan foto sebagai media untuk mengontrol gerak-gerik masyarakat. Fotografi kemudian secara tidak langsung digunakan sebagai media perlawanan, sarana untuk melontarkan kritik dan menyaksikan kembali bagaimana negara menanggalkan sisi kemanusiaannya terhadap para demonstran yang notabene adalah putra bangsanya sendiri.</p>
<p>Melalui analisis fotografi yang detail dan mendalam tentang di mana fotografi itu dibuat, penampilan atau pose-pose subyek, cara foto itu dikoleksi, dan dipajang oleh individu-individu seperti Ibu Soekilah, Strassler mampu menafsirkan bahwa foto sebetulnya menggiring orang untuk menerjemahkan seperti apa imajinasi diri mereka, baik sebagai bagian dari bangsa Indonesia maupun lingkungan (baca: kebudayaan) tempat mereka tinggal.</p>
<p>Dengan jalan membenturkan aspek tradisi dengan modern, realitas dengan mimpi, serta ruang-ruang nyata dengan imajiner, fotografi populer menyediakan sarana bagi orang Jawa poskolonial untuk menciptakan identitas versi diri mereka sendiri dan tentu saja identitas diri mereka sebagai bangsa Indonesia. []</p>
<div></div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/06/konstruksi-identitas-bangsa-dalam-foto-html/">Konstruksi Identitas Bangsa Dalam Foto</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Etnografi “Tujuh Hari” Dalam Dunia Seni Rupa</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/05/etnografi-tujuh-hari-dalam-dunia-seni-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=etnografi-tujuh-hari-dalam-dunia-seni-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Khidir M. Prawirosusanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2020 01:47:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://box5382.temp.domains/~thesusb9/?p=27</guid>

					<description><![CDATA[<p>Thornton, Sarah. 2009. Seven Days in the Art World (Tujuh Hari Dalam Dunia Seni Rupa). Penerbit: W. W. Norton &#38; Company.  Setelah mengkonversi disertasinya ke dalam buku Club Cultures: Music, Media and Subculture Capital pada 1995, Sarah Thornton kembali menulis etnografi bertajuk Seven Days in the Art World (2009). Buku ini merupakan sebuah<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/05/etnografi-tujuh-hari-dalam-dunia-seni-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/05/etnografi-tujuh-hari-dalam-dunia-seni-html/">Etnografi “Tujuh Hari” Dalam Dunia Seni Rupa</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Thornton, Sarah. 2009. <i>Seven Days in the Art World</i> (Tujuh Hari Dalam Dunia Seni Rupa). Penerbit: W. W. Norton &amp; Company. </span></strong></p>
<hr />
<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-5-I-pvQCTvE/XsLwAb4MQcI/AAAAAAAAAlg/O3AVCUQq2tkTztgR9lc1vXXDQQ9qes-tQCLcBGAsYHQ/s1600/41lArnEUxtL._SX331_BO1%252C204%252C203%252C200_.jpg?ssl=1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="499" data-original-width="333" height="400" src="https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/-5-I-pvQCTvE/XsLwAb4MQcI/AAAAAAAAAlg/O3AVCUQq2tkTztgR9lc1vXXDQQ9qes-tQCLcBGAsYHQ/s400/41lArnEUxtL._SX331_BO1%252C204%252C203%252C200_.jpg?resize=266%2C400&#038;ssl=1" width="266" /></a></div>
<div style="text-align: justify;">
<div style="text-align: left;"><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Setelah mengkonversi disertasinya ke dalam buku C<i>lub Cultures: Music, Media and Subculture Capital</i> pada 1995, Sarah Thornton kembali menulis etnografi bertajuk <i>Seven Days in the </i></span><i style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;">Art World</i><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"> (2009). Buku ini merupakan sebuah etnografi yang mencoba memotret dunia seni rupa di dunia. Dunia seni rupa dalam konteks buku ini adalah interaksi antarpelaku seni rupa, yakni seniman, pemilik art gallery, dan balai lelang, dengan para peminatnya, yaitu pembeli, kolektor bermodal besar, dan publik sebagai penonton di pameran maupun biennale. Saya memutuskan untuk meninjau karya etnografi Thornton karena buku ini sangat menarik sekaligus unik.</span></div>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<div style="text-align: left;"><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"> </span></div>
</div>
<p><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><b>Pertama</b>, sejauh yang saya tahu sangat jarang etnografi yang dalam istilah Geertz (1973) melukiskan atau mendeskripsikan secara padat (thick description), konstelasi politik antara</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">para seniman, kurator, pihak balai lelang, museum, kolektor, dan pembeli dalam dunia seni rupa. Konstelasi politik ini dimengerti dari bagaimana seni rupa itu didefinisikan dan dibentuk nilai-nilainya (secara kultural maupun ekonomi) sedemikian rupa sehingga suatu karya atau benda-benda (things) dapat secara sah dikatakan sebagai art, baik dalam kategori contemporarty art, modern art, maupun fine art. Thornton mengatakan, “… that great works do not just arise; they are made, not just by artists and their assistants but also by the dealers, curators, critics, and collectors tho ‘support’ the work” (hlm. xiv).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Untuk kisah di Indonesia, etnografi yang mengangkat studi semacam ini sangat jarang—kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, misalnya, kita hanya dapat menyimak perdebatan isyu-isyu dalam dunia seni rupa di Indonesia dan itupun melalui liputan khusus Tempo (edisi 25 Juni – 1 Juli 2012) dalam tajuk “Lukisan Palsu Sang Maestro”. Tempo mempersoalkan otentisitas pada beberapa karya lukis yang dipajang oleh Oei Hong Djien (OHD), sang kolektor yang mendaku sekaligus sebagai kurator, di Museum Seni Lukis Oei Hong Djien di Magelang. Perbincangan mengenai wacana dalam seni rupa semacam itu tidak banyak menjadi perhatian di dalam wacana ilmu sosial-budaya (art and humanities) di Indonesia, kecuali mereka yang berkutat di jurusan seni rupa ataupun dalam liputan media cetak dan opini-opini pendek dalam harian Kompas di tiap hari Minggu.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Informasi atas minimnya etnografer yang memperhatikan dunia seni rupa kita membuat cukup miris, karena seni rupa kita termasuk relatif mapan. Argumen ini berpijak dari pakar seni rupa</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">ITB, Aminudin T.H. Siregar (Bang Ucok) yang berpendapat bahwa seni rupa bukanlah barang baru di Indonesia, dan kita telah melalui pembabakan sejarah seni rupa yang cukup panjang yang dapat dibagi ke dalam beberapa fase: era Raden Saleh, Affandi, dan kemunculan seni rupa modern Indonesia yang ditandai oleh karya-karya perupa S. Sudjojono (Siregar 2010).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Selain media cetak dan majalah, sejauh yang saya tahu hingga kini saya hanya mendapati satu etnografi yang mengusung wacana seni rupa di Indonesia, yakni karya antropolog asal Amerika Serikat, Kenneth M. George. Etnografi Ken George memfokuskan pada biografi seorang tokoh seni rupa Indonesia kelahiran Aceh: Abdul Djalil (A.D.) Pirous. Dari penelusuran A.D. Pirous ini, George mencoba melihat kemunculan karya seni rupa bernuansa Islami yang ia tuangkan dalam bukunya Picturing Islam: art and ethics in a Muslim lifeworld (2010).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Dalam buku yang diadopsi dari disertasinya berjudul Picturing Islam: A Biographical Approach to Art and Identity Politics, Ken George menjelaskan gejala seni rupa (kontemporer) melalui genre etnografi life history pada perupa A.D. Pirous. Di situ ia menempatkan seni rupa dalam relasinya dengan persoalan politik identitas, isu nasionalisme, Islam dan estetika. Ia juga mengangkat dialektika (pertarungan) dua aliran “seni rupa modern” di Indonesia: antara kubu seniman berbasis Bandung dengan kubu Yogyakarta yang menyeruak di masa Orde Lama dan Orde Baru. Sayangnya, karya George hanya terbit dalam bahasa Indonesia dalam versi ringkas melalui antologi esai-esainya: Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa: A.D. Pirous dan Medan Seni Indonesia (2005) di Indonesia.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Kembali pada buku Thornton, dengan pendekatan perbandingan etnografi, Thornton mampu menunjukkan fenomena pada dunia seni rupa di enam kota: New York, Los Angles, London, Venezia, Basel, dan Tokyo di mana kota-kota ini merepresentasikan lima negara (Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Italia, dan Jepang) di tiga benua berbeda (Eropa, Asia, dan Amerika). Di mata Thornton, terdapat hubungan mondial yang bersilangan dan terkait secara erat (global interconnectedness) antara gejala seni rupa di satu tempat dengan yang lain, yang tidak dapat dipisahkan ketika kita hendak menjelaskannya secara komprehensif. Premis Thornton ini menjadi alasan kedua saya mengapa buku ini menarik, bahwa etnografi komparatif atau perbandingan dapat disajikan dalam corak (genre) etnografi postmodernis, yaitu dengan jalan menemukan tema-tema diskursus yang sama yang muncul secara berulang di masing-masing lokasi penelitian dan kesemuanya memuat dimensi power, politik dan ekonomi. Dan inilah yang dikerjakan Thornton.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Alasan ketiga, saya cukup terkesan dengan cara Thornton beretnografi. Bukan metode penelitiannya, yang ia kerjakan sebagaimana cara para etnografer pada umumnya, seperti in-depth interview dan participant-observations, melainkan berkenaan dengan strategi text building-nya, yaitu cara menyajikan klaim, data, dan analisisnya dengan gaya berceritera yang luwes. Membaca buku ini, seolah-olah kita sedang membaca karya sastra fiksi. Itulah mengapa buku ini saya sebut etnografi bercorak posmodernisme, karena memang muncul di sana salah satunya elemen-elemen sastrawi (seperti perumpamaan-perumpamaan) yang secara sadar dipakai Thornton beretorika ketika mendeskripsikan fenomena seni rupa global, dan ini klop dengan corak etnografi yang dikenal sebagai bagian dari era literary turn (lihat Scholte 1987).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Karena buku ini di mata saya merupakan etnografi posmodernis, tidak mengherankan bila di sana-sini banyak bermunculan dimensi subjektivitas dan bubuhan kalimat-kalimat “fiktif” dalam cara Thornton menafsirkan fenomena seni rupa. Sebagai subjek (peneliti) ia tampil dengan terang-terangan, seperti cuplikan berikut dalam bab “The Auction”,</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">“I sit, finishing my water and collecting my thoughts. Ségalot  is infectiously zealous. We had been sitting for almost an hour and he had spoken with absolute conviction the entire time. This is a talent essential to this job. On one level, the art market is understood as the supply and demand of art, but on another, it is an economy of belief. ‘Art is only worth what someone is willing to pay for it’ (said Ségalot) is the operating cliché. … The auction process is about managing confidence on all levels” (hlm. 11 – 12).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Teknik analisa dalam kerangka interpretasi yang brilian menurut saya. Hal ini barangkali tidak lepas dari pengalamannya sebagai jurnalis dan kolumnis seni-visual senior di media The Economist, yang boleh jadi membekali Thornton untuk tampil sebagai etnografer yang cakap dan begitu sensitif. Boleh dibilang, cara berceritera atau text building’s model dalam etnografi posmodernis semacam ini menyerupai karya sastra.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Kendati dengan pilihan diksi yang sarat perumpamaan, cara Thornton mendialogkan teks yang ia bangun dengan pembaca hampir tidak pernah mengabaikan detail dan ini semua tersaji secara baik, runtut, ringkas dan logis dalam alur bangunan argumentasinya (hubungan antara klaim dengan bukti-bukti empiris yang ia sajikan).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Lebih lanjut, pembagian uraian ke dalam tujuh bab ditata seperti pembabakan dalam kisah fiksi. Dari judulnya sudah nampak bahwa ia menggunakan metafor: “Seven Days …”, yang bukan berarti Thornton melakukan etnografinya dalam tujuh hari, melainkan dari studi di berbagai tempat itu, ia berhasil mengklasifikasikan atau memilah “narasi besar” dalam dunia seni rupa ke dalam tujuh tema utama sebagai diskursus di lingkungan seni rupa global, “Art crosses borders. It can be a lingua franca …” (hlm. xv). Thornton membagi perhatian dan diskusinya pada tujuh wacana, yaitu: “The Auction”, “The Crit”, “The Fair”, “The Prize”, “The Magazine”, “The Studio Visit”, dan “The Biennale”.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Keempat, buku ini dapat menjadi salah satu contoh bagaimana metode etnografi diadopsi oleh banyak disiplin ilmu sosial humaniora selain antropologi. Dan secara metodologis, etnografi dianggap sebagai perangkat yang memadai untuk mengungkap suatu fenomena empiris yang sekiranya membutuhkan penjelasan-penjelasan yang barangkali hanya dapat diungkap ketika kita terlibat secara jauh dan mendalam pada suatu peristiwa. Sama halnya dengan Thornton yang dilatih sebagai art historian dan sosiolog. Ia menjelaskan,</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">”… acces is rarely easy. I have sought to address these problems by presenting seven narratives set in six cities n five countries. Each chapter is a day-in-the-life account, which I hope will give the reader a sense of being inside the distinct institutions integral to the art world. Each story is based on an average of thirty to forty indepth interviews and many hours of behind-the-schenes ‘participant observation’” (hlm. xvii).</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Pendek kata, etnografi Sarah Thornton menarik untuk dibaca secara tuntas lagi kritis, dan model etnografi seperti ini saya kira dapat menjadi pembelajaran yang baik dan relfeksi bagi kita, para pembelajar antropologi di Indonesia.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Kritik Etnografi Thornton</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Walaupun saya menaruh hati pada etnografi Sarah Thornton, bukan berarti tidak tampak kelemahan di sana. Sekilas, etnografi ini semacam menyibak hal-hal tabu dalam dunia seni rupa yang tidak banyak diketahui publik. Namun, ada kesan bahwa Thornton masih terlalu banyak ‘menyembunyikan’ hal-hal tertentu (yang jauh lebih politis) dari pembacanya, yang barangkali ketika ia sangat blak-blakan justru akan memperkaya atau menyempurnakan etnografinya. Di sisi yang lain, mungkin akan mengacaukan tatanan dunia seni rupa, dan menjadikannya kontroversial. Kelemahan ini membuat art critic Alastaire Sooke meledek Thornton is too much like a toothless court jester.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Komentar Sooke itu diakui sendiri oleh Thornton dalam lembar acknowledgments, bahwa Thornton mengundang beberapa informannya untuk membaca draft sebagian bab buku ini dan meminta komentar dari mereka. Di mata saya ini tidak masalah, namun memang risikonya adalah dapat ‘mengkerdilkan’ kekuatan wacana kritis yang dibangun Thornton, yang ia sebutkan di awal buku. Namun toh pada akhirnya ia memilih itu dan menjelaskan bahwa pilihannya untuk mengajak sebagian informan membaca draft bukunya, “… as part of a practice called ‘reflexive ethnography’ … Their feedback often led to a richer and more accurate account of their art world … ” (hlm. 267-268). Dalam pandangan saya, keterbukaan dan keberanian seperti ini penting ditekankan di tataran etika beretnografi.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Menutup ulasan buku ini, Seven Days in the Art World menyuguhkan sekaligus menyadarkan beberapa asumsi saya mengenai etnografi dan tentu saja antropologi sebagai satu disiplin ilmu sosial-humaniora. (1) Bahwa etnografi bukan (lagi hanya) dimiliki secara ‘mutlak’ oleh antropologi. (2) Etnografi sebagai metode penelitian ternyata mujarab membantu etnografer menerangkan dan memahami kependaran (blur) suatu fenomena kebudayaan yang ia teliti. (3) Sang penulis mengingatkan saya pada Clifford Geertz (1973:15) yang mengatakan, “anthropological writings are themselves interpretations …”. Lanjutnya, ” … there are three characteristics of ethnographic description: it is interpretive; what it is interpretive of is the flow of social discourse; and the interpreting involved consists in trying to rescue the ‘said’ of such discourse from its perishing occasions and fix it in pe-rusable terms” (Geertz 1973:20). Dengan demikian, bagi saya, karya Thornton ini cukup berhasil menerjemahkan salah satu pandangan Geertz tersebut mengenai (metode) beretnografi secara ideal. []</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><b>Daftar Bacaan:</b></span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Geertz, Clifford. 1973. “Thick Description”, dalam Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures. Hlm. 3 – 30. New York: Basic Books.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">George, Kenneth M. 2005. Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa: A.D. Pirous dan Medan Seni Indonesia. Yogyakarta: Cemeti Art House dan IRB Sanata Dharma.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">_____. 2010. Picturing Islam: art and ethics in a Muslim lifeworld. Singapore: Wiley-Blackwell Publishing.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Majalah Tempo, Luksan Palsu Sang Maestro, Liputan Khusus. Edisi 25 Juni – 1 Juli 2012.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Siregaer, Aminudin T.H. 2010. Sang Ahli Gambar: Sketsa, Gambar, dan Pemikiran S. Sudjojono. Jakarta: S. Sudjojono Center dan Galeri Canna.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Scholte, B. 1987. “The Literary Turn in Contemporary Anthropology”, Critique of Anthropology 7(1):33 -47.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;">Thornton, Sarah. 2009. Seven Days in The Art World. New York: W.W. Norton &amp; Company.</span><br />
<span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: 'arial' , 'helvetica' , sans-serif;"><br />
</span></p>
<div></div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/05/etnografi-tujuh-hari-dalam-dunia-seni-html/">Etnografi “Tujuh Hari” Dalam Dunia Seni Rupa</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">27</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
