<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Sep 2024 14:08:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Psikologi - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Neurodiversitas dan Kritik atas Konsep Normal di Masyarakat Kita</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/09/neurodiversitas/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=neurodiversitas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wawan Kurniawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2024 14:08:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1271</guid>

					<description><![CDATA[<p>Chapman, Robert. 2023. Empire of Normality: Neurodiversity and Capitalism. Penerbit Pluto. Konsep “normal” sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah baku dan tak terbantahkan dalam masyarakat. Normalitas diartikan sebagai keadaan yang sesuai dengan standar atau aturan umum yang diterima oleh mayoritas. Namun, apakah yang sebenarnya menentukan bahwa sesuatu itu disebut<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2024/09/neurodiversitas/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/09/neurodiversitas/">Neurodiversitas dan Kritik atas Konsep Normal di Masyarakat Kita</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/09/empire-of-normality.jpg?resize=195%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="195" height="300" class="size-medium wp-image-1272 alignright" />Chapman, Robert. 2023. </span><i><span style="font-weight: 400;">Empire of Normality: Neurodiversity and Capitalism</span></i><span style="font-weight: 400;">. Penerbit Pluto.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Konsep “normal” sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah baku dan tak terbantahkan dalam masyarakat. Normalitas diartikan sebagai keadaan yang sesuai dengan standar atau aturan umum yang diterima oleh mayoritas. Namun, apakah yang sebenarnya menentukan bahwa sesuatu itu disebut “normal”? Apakah “normal” merupakan sesuatu yang alamiah, ataukah ini merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh kekuatan-kekuatan tertentu dalam masyarakat? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita mempertimbangkan bagaimana norma-norma ini dibentuk dan diterapkan, kita mulai melihat bahwa </span><span style="font-weight: 400;">apa yang dianggap “normal” sering kali dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi, politik, dan budaya yang dominan.</span><span style="font-weight: 400;"> Akibatnya, apa yang kita terima sebagai “normal” sering kali mencerminkan kepentingan kelompok-kelompok yang berkuasa, baik secara ekonomi maupun sosial. Norma-norma ini tidak hanya menentukan bagaimana kita seharusnya berpikir dan bertindak, tetapi juga siapa yang berhak dianggap sebagai “berfungsi dengan baik” dan siapa yang tidak. Ini kemudian menciptakan garis pembatas yang tajam antara yang dianggap “normal” dan “abnormal,” yang mana hal ini seringkali mendiskriminasi mereka yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks ini, normalitas menjadi alat kontrol sosial yang memperkuat hierarki dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat.</span><span style="font-weight: 400;"> Dengan memahami bahwa normalitas bukanlah suatu kebenaran mutlak melainkan hasil dari konstruksi sosial yang kompleks, kita dapat mulai melihat bagaimana konsep ini digunakan untuk mempertahankan struktur kekuasaan yang ada. Sebagai contoh, pertimbangkan bagaimana masyarakat kita menganggap cara tertentu dalam belajar dan berperilaku sebagai “normal.” Anak-anak yang dapat duduk diam, memperhatikan pelajaran di kelas, dan mengikuti instruksi tanpa banyak kesulitan sering dianggap sebagai standar dalam sistem pendidikan. Namun, anak-anak yang mungkin memiliki cara belajar yang berbeda—mungkin mereka lebih suka bergerak, berbicara keras, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi—sering kali dianggap sebagai “bermasalah” atau “tidak normal.” Sistem pendidikan kemudian cenderung mencoba menyesuaikan mereka agar sesuai dengan norma ini, seringkali melalui label seperti “gangguan perhatian” atau “autisme.” Ini menunjukkan bagaimana norma dalam mendefinisikan “normal” sebenarnya bisa menjadi alat untuk menyesuaikan individu dengan standar yang ditetapkan oleh sistem, daripada mengakui dan menghargai keberagaman alami dalam cara orang berpikir dan belajar. </span><span style="font-weight: 400;">Fenomena ini </span><span style="font-weight: 400;">membuka diskusi lebih lanjut tentang bagaimana normalitas diciptakan dan dipertahankan oleh kekuatan-kekuatan yang dominan dalam masyarakat, sebuah tema yang </span><span style="font-weight: 400;">dijelajahi secara mendalam dalam buku </span><i><span style="font-weight: 400;">Empire of Normality: Neurodiversity and Capitalism</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Robert Chapman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/09/me-and-marc.jpg?resize=300%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="300" class="size-medium wp-image-1273 alignleft" />Chapman merupakan seorang akademisi dan penulis yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang neurodiversitas dan kritik sosial terhadap kapitalisme. Dengan latar belakang pribadi yang melibatkan pengalaman neurodivergensi dan perjuangan melawan stigma sosial, Chapman menggabungkan perspektif ini dengan analisis Marxian dalam karyanya</span><span style="font-weight: 400;">. Melalui bukunya tersebut, Chapman mengeksplorasi bagaimana konsep normalitas telah dibentuk dan dimanipulasi oleh kekuatan kapitalisme guna mendominasi dan mengontrol individu, terutama mereka yang neurodivergen.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara umum, buku </span><i><span style="font-weight: 400;">Empire of Normality</span></i><span style="font-weight: 400;"> dapat dibagi menjadi empat bagian utama yang masing-masing mencakup tema sentral yang berbeda namun saling terhubung. Setiap bagian menggambarkan evolusi konsep normalitas dalam masyarakat dan bagaimana konsep ini dipengaruhi, diperkuat, dikritik, dan akhirnya ditantang dalam konteks kapitalisme dan neurodiversitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian pertama berfokus pada pembentukan konsep normalitas—bagaimana norma-norma neuronormatif muncul dan berkembang seiring dengan transformasi sosial dan ekonomi yang dibawa oleh kapitalisme. Bagian ini mencakup pembahasan dari Bab 1 hingga Bab 3 </span><i><span style="font-weight: 400;">(Rise of the Machines, The Invention of Normality, Galton’s Paradigm) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mengulas asal-usul konsep normalitas. </span><span style="font-weight: 400;">Chapman menjelaskan bagaimana pandangan tentang tubuh dan kesehatan berubah secara drastis dengan munculnya kapitalisme industri. Di sini, tubuh manusia mulai diperlakukan sebagai mesin yang harus berfungsi sesuai dengan standar tertentu, dan normalitas diciptakan sebagai alat untuk mengatur dan mengontrol populasi.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bagian ini, Chapman menyoroti bagaimana kapitalisme industri tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan hidup, tetapi juga cara kita memahami diri kita sendiri sebagai manusia. Konsep normalitas yang muncul pada era ini bukanlah refleksi dari realitas biologis, melainkan konstruksi sosial yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan produktivitas kapitalis. Tubuh manusia, yang sebelumnya dilihat melalui lensa harmoni dan keseimbangan, mulai dipandang sebagai alat mekanis yang harus dioptimalkan untuk efisiensi. Ini menciptakan standar baru tentang apa yang dianggap “normal”—sebuah standar yang mengutamakan produktivitas dan kepatuhan, dan yang secara sistematis menyingkirkan mereka yang tidak dapat atau tidak mau menyesuaikan diri. </span><span style="font-weight: 400;">Peran Francis Galton dalam mengembangkan konsep hirarki kognitif dan eugenika sangat signifikan di sini, karena ide-idenya membantu membentuk dasar ilmiah untuk legitimasi norma-norma ini, yang pada gilirannya memperkuat kontrol sosial dan penindasan terhadap individu-individu yang dianggap “abnormal.”</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hirarki kognitif mengacu pada gagasan bahwa ada tingkatan atau peringkat dalam kapasitas kognitif manusia, dengan beberapa individu dianggap memiliki kemampuan mental yang lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Ini memberikan dasar untuk diskriminasi berdasarkan “kecerdasan” atau kemampuan mental yang dianggap lebih rendah. Eugenika, di sisi lain, adalah praktik yang bertujuan untuk “meningkatkan” kualitas genetik populasi manusia melalui seleksi buatan, yang sering kali melibatkan upaya untuk mencegah mereka yang dianggap “tidak layak” dari memiliki keturunan. Galton menggunakan konsep ini untuk membenarkan kontrol dan manipulasi populasi berdasarkan standar neuronormatif, dengan implikasi bahwa hanya mereka yang sesuai dengan norma tersebutlah yang berhak untuk dianggap “normal.” Ide-ide ini tidak hanya memengaruhi kebijakan sosial dan ilmiah pada masanya tetapi juga meninggalkan warisan yang berbahaya, yang terus memengaruhi cara kita memahami dan memperlakukan neurodivergensi hingga hari ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian kedua menggambarkan pembakuan dan penguatan norma-norma ini dalam masyarakat industri dan pasca-industri, serta dampaknya terhadap individu dan kelompok yang tidak sesuai dengan definisi normalitas tersebut. Bagian ini meliputi pembahasan dari Bab 4 hingga Bab 7 </span><i><span style="font-weight: 400;">(The Eugenics Movement, The Myths of Anti-Psychiatry, Fordist Normalisation, The Return of Galtonian Psychiatry)</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang menunjukkan bagaimana norma-norma ini diperkuat selama era industri dan pasca-industri. </span><span style="font-weight: 400;">Chapman mengeksplorasi bagaimana gerakan eugenika menggunakan konsep normalitas untuk membenarkan diskriminasi terhadap mereka yang dianggap “tidak normal,” dan bagaimana era Fordisme – dengan penekanan pada efisiensi, produktivitas massal, dan standar kerja yang seragam—lebih memperketat definisi tentang apa yang dianggap “normal” dalam konteks pekerjaan dan masyarakat</span><span style="font-weight: 400;">. Standar produktivitas yang tinggi ini memaksakan norma yang sangat sempit tentang bagaimana individu seharusnya berfungsi, baik secara fisik maupun mental. Mereka yang tidak mampu atau tidak mau menyesuaikan diri dengan standar ini sering kali dianggap “abnormal” atau tidak layak, dan karenanya, mereka mengalami marginalisasi lebih lanjut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ia juga mengkritik gerakan anti-psikiatri, yang meskipun menolak paradigma medis tradisional, sering kali gagal menantang kapitalisme itu sendiri dan norma neuronormatif yang mendasarinya.</span><span style="font-weight: 400;"> Chapman menunjukkan bagaimana psikiatri menggunakan metode dan ideologi yang mirip dengan Galton untuk mengkategorikan dan mengatur individu berdasarkan standar neuronormatif. Ini memperkuat kontrol sosial dengan memberikan legitimasi ilmiah kepada upaya untuk menormalkan perilaku dan fungsi neurologis yang berbeda. Bab ini menggambarkan bagaimana konsep-konsep yang tampaknya usang dari eugenika dan hirarki kognitif tetap relevan dan berbahaya dalam konteks medis dan sosial modern, sehingga terus mendikte siapa yang dianggap “normal” dan siapa yang tidak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian ketiga mengalihkan perhatian pada kritik terhadap normalitas dan kapitalisme, terutama melalui munculnya gerakan neurodiversitas yang menentang dominasi paradigma patologis. Bagian ketiga dari buku ini, yang mencakup Bab 8 hingga Bab 10 </span><i><span style="font-weight: 400;">(Post-Fordism as a Mass Disabling Event, The Neurodiversity Movement, Cognitive Contradictions),</span></i><span style="font-weight: 400;"> membahas dampak kapitalisme modern terhadap neurodiversitas. Dalam bagian ini, </span><span style="font-weight: 400;">Chapman menjelaskan bagaimana era pasca-Fordisme memperkenalkan bentuk-bentuk baru penonaktifan massal dan bagaimana gerakan neurodiversitas muncul sebagai respons terhadap penindasan neuronormatif.</span><span style="font-weight: 400;"> Meskipun demikian, Chapman memperingatkan bahwa kapitalisme telah mencoba mengooptasi gerakan ini, menjadikan neurodivergensi sebagai sumber daya produktivitas tanpa benar-benar mengubah struktur sosial yang ada. Ia juga mengidentifikasi kontradiksi kognitif yang dihasilkan oleh kapitalisme, yang tidak hanya menekan individu neurodivergen tetapi juga memengaruhi masyarakat secara keseluruhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bagian ini, Chapman juga menyoroti bagaimana </span><span style="font-weight: 400;">gerakan neurodiversitas berusaha mengubah cara kita dalam memandang dan memperlakukan neurodivergensi, dengan menolak anggapan bahwa perbedaan neurologis adalah sesuatu yang perlu “diperbaiki” atau “disembuhkan.” Gerakan ini mendorong pengakuan dan penerimaan terhadap berbagai cara berpikir, belajar, dan berinteraksi dengan dunia, menantang paradigma patologis yang telah lama mendominasi.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terakhir, bagian keempat menawarkan visi masa depan yang melampaui norma neuronormatif, di mana </span><span style="font-weight: 400;">Chapman mengajak pembaca untuk mempertimbangkan perubahan sosial radikal yang diperlukan untuk mencapai pembebasan neurodivergen dan keadilan sosial yang lebih luas.</span><span style="font-weight: 400;"> Bagian ini dibahas dalam Bab 11 </span><i><span style="font-weight: 400;">(After Normality)</span></i><span style="font-weight: 400;">, menawarkan visi masa depan yang melampaui norma neuronormatif. Chapman menggambarkan bagaimana pembebasan neurodivergen dan pembongkaran kapitalisme menjadi pusat dari perjuangan sosial yang lebih luas. Ia mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali apa yang dianggap “normal” dan untuk menyadari bahwa perubahan radikal diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bagian akhir ini, Chapman juga menawarkan kerangka untuk tindakan yang dapat diambil menuju perubahan yang lebih mendalam dan transformatif. Ia menekankan bahwa untuk mencapai pembebasan neurodivergen yang sejati, masyarakat harus bergerak melampaui reformasi permukaan yang hanya mengakomodasi perbedaan dalam batas-batas yang ditentukan oleh kapitalisme. Bagi Chapman kita mesti menyerukan upaya untuk pembongkaran struktur ekonomi dan sosial yang ada, yang telah lama menguntungkan norma-norma yang menindas dan mengecualikan mereka yang tidak sesuai. </span><span style="font-weight: 400;">Visi masa depan yang ditawarkannya mencakup pembentukan masyarakat di mana keberagaman neurologis tidak hanya ditoleransi tetapi dirayakan sebagai bagian integral dari keberagaman manusia.</span><span style="font-weight: 400;"> Ini menuntut pergeseran mendasar dalam cara kita memandang produktivitas, nilai, dan keberagaman, serta komitmen kolektif untuk menciptakan sistem yang mendukung keadilan sosial, inklusivitas, dan penghargaan terhadap semua bentuk keberagaman manusia. Kita sebaiknya tidak hanya mengkritisi </span><i><span style="font-weight: 400;">status quo</span></i><span style="font-weight: 400;">, tetapi juga berani membayangkan dan memperjuangkan dunia yang benar-benar berbeda, di mana setiap individu dapat berkembang tanpa dibatasi oleh norma-norma yang menekan dan membatasi potensi manusia. </span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/09/neurodiversitas/">Neurodiversitas dan Kritik atas Konsep Normal di Masyarakat Kita</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1271</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dunia-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wawan Kurniawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Aug 2024 13:33:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Frazer-Carroll, Micha. 2023. Mad World: The Politics of Mental Health [Dunia Gila: Politik Kesehatan Mental]. Penerbit Pluto.  </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/">Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?resize=196%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="196" height="300" class="size-medium wp-image-1261 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?resize=196%2C300&amp;ssl=1 196w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/mad-world.jpeg?w=261&amp;ssl=1 261w" sizes="(max-width: 196px) 100vw, 196px" />Frazer-Carroll, Micha. 2023. <em>Mad World: The Politics of Mental Health</em> [Dunia Gila: Politik Kesehatan Mental]. Penerbit Pluto.  </strong></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Belakangan, isu kesehatan mental marak dibicarakan. Meski relatif baru didiskusikan di tengah publik, isu ini terus berkembang dari waktu ke waktu. </span><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan temuan Survei Ipsos Global bertajuk Health Service Monitor 2023, isu kesehatan mental menjadi masalah paling disoroti banyak orang di berbagai belahan dunia. Berdasarkan riset tersebut, sebanyak 44 persen responden dari 31 negara di dunia menilai bahwa kesehatan mental menjadi masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan.</span><span style="font-weight: 400;"> Disusul kanker di posisi kedua sebesar 40 persen dari seluruh responden. Survei Ipsos tersebut melibatkan 23.274 responden dewasa yang tersebar di 31 negara, termasuk Indonesia, pada periode 21 Juli hingga 4 Agustus 2023. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesadaran kesehatan mental salah satunya dipicu efek pandemi Covid-19. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun pertama pandemi (2020), prevalensi kecemasan dan depresi masyarakat dunia meningkat hingga 25 persen. Di Indonesia, tren kepedulian kesehatan mental juga mulai menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Kondisi demikian meningkatkan perhatian mengenai permasalahan kesehatan mental. Namun di sisi lain, tren </span><i><span style="font-weight: 400;">self-diagnosis </span></i><span style="font-weight: 400;">mulai terjadi di tengah gempuran media sosial yang ramai. Selain itu, maraknya kelas-kelas kesehatan mental yang menjamur di berbagai </span><i><span style="font-weight: 400;">platform</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menunjukkan peningkatan minat dan perhatian terhadap isu ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sayangnya, meskipun niat untuk memahami dan mengelola kesehatan mental sendiri bisa dibilang merupakan langkah positif, hal ini juga membawa risiko jika tidak dilakukan dengan pemahaman secara mendalam dan kritis.</span><span style="font-weight: 400;"> Tidak sedikit orang meromantisasi permasalahan kesehatan mental dengan mengikuti tren yang menggarisbawahi kondisi mereka melalui berbagai cara, meskipun penilaian tersebut belum tentu valid dibuktikan dengan pemeriksaan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah fenomena demikian, sangat penting bagi kita untuk menelaah lebih jauh bagaimana kesehatan mental dipahami dan diatur dalam masyarakat</span><span style="font-weight: 400;">. Banyak dari kita mungkin terbiasa menerima begitu saja konsep dan praktik kesehatan mental yang bersirkulasi di sekitar, tanpa menelisik secara lebih jauh. Padahal, pemahaman lebih kritis dan mendalam sangat diperlukan agar tidak terjebak dalam pendekatan yang hanya menyentuh permukaan dan mengabaikan akar permasalahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sinilah buku </span><i><span style="font-weight: 400;">Mad World: The Politics of Mental Health</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Micha Frazer-Carroll memberikan kontribusi sangat berharga. Buku ini tidak hanya mengupas isu kesehatan mental melalui sudut pandang individu, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana struktur sosial, ekonomi, dan politik memengaruhi kesehatan mental kita. </span><span style="font-weight: 400;">Dengan mengkritik dan menunjukkan bagaimana sistem kapitalisme berkontribusi terhadap penderitaan mental, Frazer-Carroll mengajak kita melihat kesehatan mental dalam konteks sosial secara meluas dan mendalam.</span></p>
<div id="attachment_1262" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1262" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/07/micha.jpg?resize=300%2C281&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="281" class="wp-image-1262 size-medium" /><p id="caption-attachment-1262" class="wp-caption-text">Micha Frazer-Carroll</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab pertama buku ini berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Asylums,</span></i><span style="font-weight: 400;"> membawa kita melalui sejarah panjang lembaga-lembaga kesehatan mental, dikenal sebagai asylum, dari masa lalu hingga masa kini.</span><span style="font-weight: 400;"> Frazer-Carroll menguraikan bagaimana institusi pertama seperti Bethlem Hospital (atau dikenal sebagai Bedlam) didirikan untuk merawat orang gila. Ia juga membahas bagaimana institusi tersebut kemudian berkembang dan dikritik sepanjang sejarah. Dengan menyajikan kondisi brutal di asylums seperti pembatasan fisik, terapi invasif, dan perlakuan tidak manusiawi, penulis menunjukkan bahwa banyak praktik dan logika dari masa lalu masih hadir dalam pendekatan modern terhadap kesehatan mental.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Frazer-Carroll mengkritisi bagaimana asylum, meskipun awalnya bertujuan “merawat” orang gila, sering kali lebih berfungsi sebagai alat kontrol sosial, mencerminkan dan memperkuat struktur kekuasaan. Ia menghubungkan sejarah dengan kondisi saat ini yang menunjukkan bahwa cara kita memahami dan menangani kesehatan mental masih dipengaruhi oleh warisan sosial, ekonomi, dan politik dari masa lalu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun asylum dalam bentuk tradisional demikian telah ditutup, banyak logika dan metode kontrol sosial masih ada dalam sistem kesehatan mental modern. Asylum sering digunakan untuk mengisolasi dan mengendalikan individu yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat dominan. Saat ini, meskipun perawatan mental lebih banyak dilakukan di luar institusi, sistem kesehatan mental masih sering berfungsi untuk menjaga tatanan sosial dan ekonomi, misalnya melalui diagnosis dan terapi yang menekankan penyesuaian individu terhadap kondisi tidak manusiawi, ketimbang penekanan pada upaya mengubah kondisi itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian ini juga menyoroti bahwa sistem kapitalis yang berfokus pada keuntungan dan produktivitas sangat merugikan kesehatan mental. Dengan menempatkan tekanan besar pada individu untuk berprestasi dan berkompetisi, sistem kapitalisme mengabaikan kebutuhan dasar manusia untuk terkoneksi, beristirahat, dan mendapatkan dukungan komunitas. Akibatnya, banyak permasalahan kesehatan mental yang sebenarnya merupakan respons wajar terhadap kondisi tidak manusiawi, justru diperlakukan sebagai masalah individu yang harus diatasi secara pribadi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan pemahaman tersebut, kita bisa menyelami lebih jauh ke dalam bab-bab lain dari buku ini, yang masing-masing menguraikan berbagai aspek kesehatan mental dan bagaimana pengaruhnya secara sosio-politik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab kedua, </span><i><span style="font-weight: 400;">Knowing Mental Health Today</span></i><span style="font-weight: 400;">, mengeksplorasi bagaimana kita memahami dan mendefinisikan kesehatan mental di era modern. Apa yang kita pahami ketika seseorang mengalami depresi? </span><span style="font-weight: 400;">Depresi sering kali didiagnosis sebagai kondisi medis yang membutuhkan perawatan melalui terapi atau obat-obatan. Meskipun perawatan tersebut bisa sangat membantu bagi banyak orang, tetapi sialnya kita mengabaikan banyak hal di luar individu itu sendiri. Dalam banyak kasus, depresi bisa menjadi respons wajar terhadap kondisi hidup yang sangat menekan seperti kemiskinan, ketidakamanan pekerjaan, isolasi sosial, atau tekanan kerja berlebihan. Dalam masyarakat kapitalis, semua itu jelas menciptakan kondisi yang sangat sulit dan melelahkan secara mental. Namun, alih-alih menangani akar masalah tersebut, pendekatan medis terhadap depresi sering kali hanya fokus pada penanganan gejala individu. Persoalan depresi pada akhirnya membawa kita kepada bab berikutnya, di mana Frazer-Carroll berusaha menghubungkan pengalaman individu dengan dinamika sosial secara lebih luas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab ketiga berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Mental Health in a Maddening World</span></i><span style="font-weight: 400;">, menjelaskan bagaimana sistem kapitalis membuat hidup manusia kian rumit.</span><span style="font-weight: 400;"> Penulis ingin kita menyadari bahwa perbaikan dalam kesehatan mental tidak bisa hanya dicapai melalui terapi individu atau obat-obatan saja, tetapi juga memerlukan perubahan besar mengenai cara masyarakat kita diatur. Ini termasuk menciptakan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi, memperkuat jejaring sosial, dan mengurangi tekanan kerja secara berlebihan. Sudah saatnya kita memaknai kesehatan mental sebagai permasalahan bersama dan sistemik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab keempat, </span><i><span style="font-weight: 400;">Why Work is Sickening</span></i><span style="font-weight: 400;">, membahas hubungan antara pekerjaan dan kesehatan mental, di mana kondisi kerja eksploitatif dan tidak manusiawi berkontribusi pada gangguan kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Hari ini, pekerjaan dalam konteks kapitalis sering kali tidak memberikan nilai intrinsik atau kepuasan mendalam, melainkan hanya berfungsi sebagai sarana bertahan hidup. Akhirnya, bukan tidak mungkin jika tekanan mental kita semakin parah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab kelima, </span><i><span style="font-weight: 400;">Disability/Possibility</span></i><span style="font-weight: 400;"> membahas konsep disabilitas dalam konteks kesehatan mental dan bagaimana pendekatan keadilan disabilitas memberikan perspektif baru yang lebih inklusif terhadap kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Masalah kesehatan mental tidak boleh hanya dilihat sebagai defisit individu. Sebaliknya, kita harus memahami banyak tantangan yang dihadapi oleh individu dengan gangguan kesehatan mental merupakan hasil dari hambatan sosial diciptakan oleh masyarakat yang tidak inklusif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab keenam berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Diagnosing Diagnosis.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Bab ini menantang konsep diagnosis dalam kesehatan mental, mempertanyakan validitas dan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Terdapat berbagai diagnosis dalam kesehatan mental yang tidak sepenuhnya objektif atau ilmiah, tetapi dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik. Lanjut ke bab tujuh berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">On Disavowal and Disorder</span></i><span style="font-weight: 400;">, penulis kembali mempertegas bahwa perilaku dan kondisi yang sering kali dianggap sebagai gangguan mental atau penyakit dianggap sebagai respons wajar terhadap situasi sosial yang menekan dan tidak adil. Maka, penyangkalan terhadap kenyataan sosial yang keras, seperti ketidakadilan ekonomi atau diskriminasi, bisa dilihat sebagai gangguan mental dari sudut pandang medis. Namun, dari perspektif individu yang mengalami, ini bisa jadi adalah cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang tidak manusiawi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah berbagai rintangan, kita butuh ruang untuk menyelamatkan kesehatan mental. Permasalahan inilah yang disinggung pada bab selanjutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">Art as a Mad Liberation Tool</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pada bagian ini, kita akan menemukan penjelasan bagaimana seni menjadi alat mengekspresikan dan mengatasi pengalaman kesehatan mental.</span><span style="font-weight: 400;"> Seni bisa digunakan sebagai alat perlawanan terhadap sistem yang menindas dan menciptakan stigma terhadap penyintas kesehatan mental. Melalui seni, individu dapat menantang narasi dominan tentang kesehatan mental dan menciptakan ruang bagi pengalaman dan perspektif yang lebih beragam. Seni juga dapat membantu membangun komunitas dan solidaritas di antara mereka yang mengalami gangguan mental, dan menjadi platform berbagi cerita dan mendukung satu sama lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagian selanjutnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">Law and Disorder </span></i><span style="font-weight: 400;">mengkritisi bagaimana hukum digunakan untuk mempertahankan status quo dan struktur kekuasaan. </span><span style="font-weight: 400;">Selama ini, hukum cenderung menggunakan pendekatan kriminalisasi terhadap perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial. Misalnya, orang dengan gangguan mental sering kali ditahan atau dipenjara dibandingkan menerima perawatan secara tepat. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan di bab sepuluh, </span><i><span style="font-weight: 400;">Other Possibilities</span></i><span style="font-weight: 400;"> menawarkan visi alternatif untuk masa depan kesehatan mental yang lebih adil dan manusiawi. Bagian ini menekankan bahwa perubahan besar diperlukan dalam cara kita memahami dan menangani kesehatan mental, termasuk perubahan dalam kebijakan sosial, ekonomi, dan kesehatan.</span><span style="font-weight: 400;"> Di sini, kita diajak memikirkan bagaimana mengubah pendekatan kesehatan mental secara fundamental. Ini artinya, kita tidak hanya memperbaiki sistem yang sudah mapan, tetapi juga membayangkan dan menciptakan sistem baru yang lebih mendukung dan inklusif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, buku ini tengah mengkritik sistem kapitalisme yang menciptakan kondisi hidup menekan dan tidak manusiawi, menggarisbawahi bagaimana struktur sosial dan ekonomi mempengaruhi kesejahteraan mental kita. Melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">Mad World: The Politics of Mental Health,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kita semestinya bisa menerima bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang perlu dipahami. Kita butuh perubahan besar dengan berbagai cara untuk merespon atau menangani kesehatan mental, termasuk melawan sistem ekonomi kapitalis yang menyesakkan.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/08/dunia-gila/">Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dunia yang Sesak</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1260</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memahami Krisis Ekologi-Lingkungan melalui Kerangka Ekopsikologi Radikal</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/07/ekopsikologi-radikal/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ekopsikologi-radikal</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Naufal Firosa Ahda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Jul 2023 21:58:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1105</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fisher, Andy. 2013 (2002). Radical Ecopsychology: Psychology in the Service of Life [Ekopsikologi Radikal: Psikologi demi Kehidupan]. Edisi kedua. Penerbit SUNY. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/07/ekopsikologi-radikal/">Memahami Krisis Ekologi-Lingkungan melalui Kerangka Ekopsikologi Radikal</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/radical-ecopsychology-200x300.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-1107 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/radical-ecopsychology.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/radical-ecopsychology.jpg?resize=600%2C900&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/radical-ecopsychology.jpg?w=667&amp;ssl=1 667w" sizes="auto, (max-width: 200px) 100vw, 200px" />Fisher, Andy. 2013 (2002). <em>Radical Ecopsychology: </em><em>Psychology in the Service of Life </em>[Ekopsikologi Radikal: Psikologi demi Kehidupan]. Edisi kedua. Penerbit SUNY.</p>
<hr>
<p><span style="font-weight: 400;">Krisis ekologi dan lingkungan menjadi salah-satu masalah yang dihadapi oleh makhluk hidup di bumi terutama manusia. Kerusakan tersebut tidak hanya memaksa manusia menyikapi krisis tersebut, namun juga dalam upaya membentuk suatu pemahaman ulang yang relevan dan sesuai dengan permasalahan yang terjadi. Upaya dalam merespon tersebut salah-satunya melalui disiplin keilmuan yang saat ini telah ada dan berkembang, seperti studi lingkungan dan studi ekologi sebagai dua disiplin ilmu yang berfokus pada permasalahan lingkungan. Keduanya saat ini dapat dikatakan masih berusaha dalam memformulasikan suatu bentuk pendekatan dan pemahaman yang sesuai agar krisis ekologi yang terjadi dalam kehidupan dapat teratasi.&nbsp;&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, kemudian permasalahan tersebut masih menyisakan suatu pertanyaan, sudahkah keduanya mampu merespon permasalahan tersebut? Apakah hanya melalui kedua disiplin tersebut krisis ekologi dapat diatasi? Berangkat dari pertanyaan tersebut, diperlukan pendekatan lain sebagai upaya dalam memahami dan berkontribusi secara holistik dalam permasalahan yang terjadi. Dalam usaha memahami krisis ekologi, maka setidaknya perlu ditelusuri ulang akar permasalahan tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam buku yang ditulis Andy Fisher, </span><i><span style="font-weight: 400;">Radical Ecopsychology: Psychology in the Service of Life</span></i><span style="font-weight: 400;">, Fisher menawarkan pendekatan alternatif terhadap lingkungn melalui ilmu psikologi.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Paradigma Ekopsikologi Radikal</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Psikologi modern, menurut Fisher, hanya menekankan pada aspek kemanusiaan dan melakukan pengabaian terhadap hal eskternal yang berkaitan dengan manusia</span><span style="font-weight: 400;">. Dalam konteks ini Fisher memandang hal lain </span><span style="font-weight: 400;">seperti hewan, tumbuhan, alam, dan sungai</span><span style="font-weight: 400;"> sebagai variabel yang turut serta dalam memengaruhi cara pandang dan pengalaman manusia. Di bagian pendahuluhan, </span><span style="font-weight: 400;">Fisher mengangkat isu lingkungan dengan menyebutnya sebagai ”patologis” alih-alih “krisis ekologi.”</span><span style="font-weight: 400;"> Alasannya? I</span><span style="font-weight: 400;">a berpendapat bahwa diksi “patologis” merupakan gangguan atau cerminan yang menggambarkan manusia secara langsung, baik pada diri dan sekitarnya.</span><span style="font-weight: 400;"> Anggapan tersebut selaras sebagaimana dalam paradigma intervensi psikologi yang dilakukan ketika manusia dinilai telah mengganggu keberlangsungan diri dan lingkungan sekitarnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fisher menjelaskan sekaligus mengkritik dampak dari sains modern yang membuat segregasi antara dunia material dan aspek pikiran-emosional. Pemisahan tersebut berpengaruh pada cara manusia berelasi dengan alam dan sekitarnya.</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam konteks ini, Fisher secara berhati-hati dalam menyelidiki dan memahami permasalahan yang terjadi. </span><span style="font-weight: 400;">Ia mengkaji persoalan tersebut dengan berbagai macam pendekatan yang dianggap relevan: seperti pendekatan psikologi, hermenutik, fenomenologi, filsafat, dan ekologi.</span></p>
<div id="attachment_1108" style="width: 235px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1108" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/andy-1.png?resize=225%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="225" height="300" class="wp-image-1108 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/andy-1.png?resize=225%2C300&amp;ssl=1 225w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/andy-1.png?w=240&amp;ssl=1 240w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /><p id="caption-attachment-1108" class="wp-caption-text">Andy Fisher</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah-satu hal menarik yang dapat digarisbawahi dalam buku tersebut adalah </span><span style="font-weight: 400;">Fisher tidak memisahkan pendekatan tersebut menjadi bagian-bagian tersendiri, melainkan sebagai sebuah orkestra yang saling berkaitan </span><span style="font-weight: 400;">dan berkesinambungan satu-sama lain, dengan menempatkan psikologi sebagai latar belakang keilmuan yang dia gunakan. Fisher mengusulkan istilah “</span><i><span style="font-weight: 400;">radical ecopsychology</span></i><span style="font-weight: 400;">“–atau ekopsikologi radikal–sebagai kelanjutan dari kajian ekopsikologi yang diprakarsai oleh Theodore Roszak. Ekopsikologi ala Roszak mengkaji interaksi dunia dan aspek manusia (mental, emosi, perasaan, and perilaku), sementara ekopskologi radikal Fisher lebih menekankan pada hubungan eksternal dan internal baik pada manusia maupun non manusia yang berorientasi pada nilai partisipatif, transformatif, dan kolaboratif.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fisher menyinggung secara singkat bahwa setiap manusia mengalami kondisi kelekatan pada berbagai hal di dalam kehidupan mereka sejak dahulu. Fisher mengambil contoh bagaimana bayi dikondisikan untuk terikat dengan ibunya agar kebutuhan mereka terpenuhi. Ketika beranjak dewasa, manusia tetap memiliki keterikatan terhadap manusia bahkan barang lain. Contoh tersebut mendukung tesis Fisher bahwa manusia memiliki kerinduan yang mendalam dan keterikatan pada berbagai hal tanpa batasan. Fisher menambahkan sebuah pertanyaan: mengapa masyarakat sekarang yang dianggap modern cenderung tampak tidak terlalu peduli dengan keberadaan sesuatu lain di luar diri mereka? Dalam Bab I, Fisher menjelaskan asal-usul masalah tersebut dengan menelusuri kehidupan manusia seiring berkembangnya sistem sains, teknologi, politik, dan ekonomi.&nbsp;</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Krisis Ekologi: Permasalahan Persepsi dan Makna Manusia</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Bab I, F</span><span style="font-weight: 400;">isher mengaitkan isu ekologi dan hubungan manusia dengan alam yang dianggapnya saling terisoloasi karena perkembangan sains modern</span><span style="font-weight: 400;">.&nbsp; Saya berspekulasi bahwa sains yang dimaksud Fisher adalah sains yang memandang manusia dan alam sebagai sesuatu yang berbeda, dengan memosisikannya sebagai objek untuk dipelajari. Karena isolasi ini, keilmuan psikologi seringkali hanya berfokus pada manusia dan aspek-aspeknya–seperti emosi, pikiran, dan perilaku–dan mengabaikan faktor lingkungan. </span><span style="font-weight: 400;">Menurut Fisher, idealnya psikologi seharusnya juga memasukkan alam sebagai subjek studi atau bahkan bagian dari komunitas. K</span><span style="font-weight: 400;">etika psikologi dapat meletakkan pandangan tersebut, maka alam dengan sendirinya akan dipahami sebagai aspek penting di dalam psikologi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernyataan tersebut menjawab kritik dari David Kidner yang menyatakan bahwa psikologi cenderung pasif terhadap permasalahan ekologi yang sedang terjadi</span><span style="font-weight: 400;">, sehingga banyak akademisi dan psikolog tidak menganggap dan menempatkan masalah ekologi di dalamnya. Pada dasarnya masalah yang ada pada institusi psikologi juga berkaitan erat dengan permasalahan persepsi dan pemaknaan. Fisher dalam konteks ini meminjam pandangan Maurice Merleau Ponty tentang fenomenologi persepsi dengan istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">living body-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya. Ponty menjelaskan bahwa pengalaman manusia di dunia merupakan persepsi yang dimediasi melalui badan. Manusia tidak memiliki keterikatan dengan alam dikarenakan manusia tidak memiliki interaksi dan persepsi dengan dunia. Fenomena keterputusan hubungan dengan alam dapat dilihat melaui contoh yang diperlihatkan oleh Fisher, dengan mengambil masyarakat perkotaan yang sebagian besar cenderung tidak memiliki hubungan dan keterikatan dengan alam, dibandingkan dengan masyarakat adat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh yang diperlihatkan oleh Fisher ini menunjukkan bahwa permasalahan ekologis tidak dapat dipandang sebagai permasalahan yang dapat dipisahkan dari sistem lain</span><span style="font-weight: 400;">. Masalah ekologis merupakan permasalahan yang sangat kompleks. O</span><span style="font-weight: 400;">leh karenanya, para ahli ekologi mengatakan bahwa kita perlu membawa diskursus ekologi ke dalam bentuk kerangka sosial yang familiar dengan masyarakat agar semua dapat berperan dalam menyikapi masalah tersebut.</span><span style="font-weight: 400;"> Hal ini juga sejalan dengan tesis Gramsci bahwa bahwa kita perlu memiliki sesuatu yang erat kaitannya dengan pandagan umum (</span><i><span style="font-weight: 400;">common sense</span></i><span style="font-weight: 400;">) seperti ideologi, filosofi, dan solidaritas yang sejalan dengan kepercayaan masyarakat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal tersebut juga berkaitan dengan pemaknaan yang merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh, manusia memiliki berbagai macam bahasa dalam memaknai segala sesuatu di sekitarnya, termasuk alam. Tanah bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu hal yang rendah dan kotor, sementara itu di tempat lain tanah dapat dianggap sebagai material yang memiliki jiwa dan harus diperlakukan sebagai makhluk hidup. Contoh tersebut dapat dijadikan sebagai permulaan dalam memahami bahwa organisme manusia memiliki struktur bahasa yang beragam dan sangat kompleks. Fisher menyatakan bahwa pandangan manusia terhadap sekitarnya akan memengaruhi manusia dalam bertindak terhadap sekitarnya.</span></p>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/ecopsychology-cartoon.jpg?resize=300%2C169&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="169" class="size-medium wp-image-1109 aligncenter" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/ecopsychology-cartoon.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/ecopsychology-cartoon.jpg?resize=1024%2C578&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/ecopsychology-cartoon.jpg?resize=768%2C433&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/07/ecopsychology-cartoon.jpg?w=1500&amp;ssl=1 1500w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p><b>Aku adalah Kamu: Memahami Alam melalui Pengalaman Mendalam</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Bab II bejudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Nature and Experience</span></i><span style="font-weight: 400;">, Fisher mengajak para pembaca untuk menelusuri pengalaman dan kenangan yang pernah dirasakan untuk memulai diskusi dalam bab tersebut. Fisher sangat terisnpirasi oleh John Livingston dan Neil Evernden dalam hal pemahaman terhadap alam. Di dalam bab ini, ia juga memasukkan diskurus bahasa dari Gendlin yang mengangkat soal interaksi antara perasaan dan simbol. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam penjelasannya, manusia seringkali merasakan berbagai pengalaman–khususnya dengan alam–namun memiliki keterbatasan dalam menyalurkan pengalaman tersebut melalui bahasa yang dapat dipahami.</span><span style="font-weight: 400;"> Hal ini merupakan suatu fenomena yang wajar terjadi mengungkat tubuh kita telah terprogram secara sistematis melalui variabel lain seperti budaya yang kita tinggali.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun merupakan sesuatu yang wajar, bagi Fisher hal tersebut merupakan permasalahan yang krusial, karena dengan demikian manusia dapat menciptakan suatu makna tanpa harus berinteraksi dan bersentuhan dengan pengalaman tersebut (</span><i><span style="font-weight: 400;">introjection</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><span style="font-weight: 400;">. Hal ini membawa kita kembali ke bagian bab sebelumnya serta menempatkan kita ke dalam masalah yang kompleks. Sejujurnya, psikologi memang tidak dapat menjawab semua permasalahan kehidupan khususnya yang memiliki aspek-aspek yang kompleks. Namun setidaknya psikologi dapat dikonstruksikan agar dapat memiliki tawaran dalam memahami suatu masalah.</span><span style="font-weight: 400;"> Krisis ekologi dalam hal ini, jika dipahami sebagai bagian dari masalah psikologis, setidaknya dapat diangkat melalui perspektif Gestalt yang menempatkan suatu masalah pada pola-pola luas yang saling berkaitan satu sama lain.</span><span style="font-weight: 400;"> Di samping itu, Fisher juga menggunakan paradigma psikologi humanistik yang tidak memandang sinis terhadap masalah manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menjawab permasalahan tersebut, pendekatan Fisher cukup unik dikarenakan mengambil khasanah lokal ke dalam kerangka berfikirnya. Perlu diingat juga bahwa Fisher juga terpengaruh oleh ajaran Budhhisme</span><span style="font-weight: 400;">, walaupun tidak secara detail mengungkapkan di dalam bab tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Sebagai contohnya, Fisher mengusulkan cara lain yaitu metode Vipassana yang umum digunakan dalam praktik meditasi di dalam ajaran Buddha. Fisher memandangan bahwa Vipassana memiliki suatu kemiripan dengan proses pengalaman manusia, di mana manusia diharuskan menyadari berbagai macam hal di sekelilingnya</span><span style="font-weight: 400;">. Untuk konteks ini, saya cukup kagum dengan kolaborasi yang dilakukan Fisher karena ia berusaha menghadirkan pendekatan yang tidak umum ke dalam konsep radikal ekopsikologi yang ia gunakan.&nbsp;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya pada bagian akhir, </span><span style="font-weight: 400;">Fisher memunculkan suatu istilah yang terbilang baru dalam diskursus ekopsikologi, yakni </span><i><span style="font-weight: 400;">naturalistic psychology</span></i><span style="font-weight: 400;"> (psikologi naturalistik)</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Psikologi naturalistik menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan dalam menerima dan merevisi ideologi besar yang telah terkonstruksi dalam kehidupan mereka</span><span style="font-weight: 400;">. Wacana ini juga berusaha menekankan bahwa ekopsikologi dapat menjadi suatu cara dalam memulihkan ulang perasaan kita terhadap berbagai macam hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia. </span><span style="font-weight: 400;">Fisher juga memperkuat tesisnya dengan meminjam contoh di dalam psikologi perkembangan terkait dengan keterikatan manusia terhadap hal-hal yang menemaninya sejak dari kecil</span><span style="font-weight: 400;">. Analogi tersebut menempatkan ekopsikologi agar dipahami sebagai tahap-tahap manusia dalam menciptakan pemaknaan dan berakhir dengan keteritakan terhadap sekitarnya. Hal ini juga berlaku pada konteks simbol dan bahasa yang pada saat ini cenderung menghilangkan simbol-simbol seperti pohon, gunung, sungai, laut, alam dan sebagainya, serta menggantikannya dengan simbol TV, gedung, mobil, dan seterusnya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kesimpulan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara keseluruhan, buku Fisher mampu membawa psikologi ke dalam konteks yang lebih luas sebagaimana judul yang digunakan</span><span style="font-weight: 400;">. Penulis menghadirkan tawaran baru dengan mengelaborasikan dengan pendekatan lain yang ia anggap memiliki peran krusial dalam konteks krisis ekologi. </span><span style="font-weight: 400;">Ia juga tidak meninggalkan pendekatan psikologi, dengan menggunakan dua pendekatan, yakni gestalt dan humanistik.</span> <span style="font-weight: 400;">Fisher secara sukses telah melacak secara mendalam dan menekankan pentingnya problem bahasa, pemaknaan, persepsi, dan pengalaman sebagai variabel penting di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">radical ecopsychology</span></i><i><span style="font-weight: 400;">.&nbsp;</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun Fisher telah berhasil mengembangkan pendekatan tersebut, ia masih berkutat pada paradigma atau ideologi </span><i><span style="font-weight: 400;">radical ecopsychology</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hal ini dapat dilihat pada masing-masing babnya yang cenderung mengangkat soal masalah kehidupan manusia. Sehingga, </span><span style="font-weight: 400;">buku ini lebih cocok dianggap sebagai permulaan dalam menformulasikan dasar pemikiran ekopsikologi, dibandingkan dengan intervensi/langkah praktis dalam menjawab problematika krisis ekologi.</span><span style="font-weight: 400;"> Satu hal yang saya dapat melalui buku tersebut adalah bahwa kemungkinan manusia masih dihadapkan pada persoalan yang ada di dalam dirinya. Permasalahan yang kompleks tersebut kemudian secara langsung juga berdampak pada hal lain di luar dirinya.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/07/ekopsikologi-radikal/">Memahami Krisis Ekologi-Lingkungan melalui Kerangka Ekopsikologi Radikal</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1105</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
