<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kuliner - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/kuliner/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jun 2022 06:26:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>kuliner - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Halal Versus Haram: Sejarah Makanan Halal</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/08/halal-versus-haram-sejarah-masakan-halal-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=halal-versus-haram-sejarah-masakan-halal-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wisnu Adihartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2020 01:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Armanios, Febe dan Boğaç Ergene. 2018. Halal Food: A History (Makanan Halal: Sebuah Sejarah). Penerbit Universitas Oxford. (Diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris di readingreligion.org) Halal Food: A History yang ditulis oleh Febe Armanios dan Boğaç Ergene dimulai dengan kegelisahan Henna Khan dan Talib Hussein, pasangan Muslim-Inggris dari West Yorkshire,<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/08/halal-versus-haram-sejarah-masakan-halal-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/halal-versus-haram-sejarah-masakan-halal-html/">Halal Versus Haram: Sejarah Makanan Halal</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Armanios, Febe dan Boğaç Ergene. 2018. Halal Food: A History (Makanan Halal: Sebuah Sejarah). Penerbit Universitas Oxford.</strong></p>
<div>
<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/IMG_20200809_162000.jpg?resize=393%2C590&#038;ssl=1" alt="" width="393" height="590" class="alignright" /></p>
<p>(Diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris di readingreligion.org)</p>
<hr />
<div>
<p><a href="https://global.oup.com/academic/product/halal-food-9780190269050?cc=us&amp;lang=en&amp;"><em>Halal Food: A History</em></a> yang ditulis oleh Febe Armanios dan Boğaç Ergene dimulai dengan kegelisahan Henna Khan dan Talib Hussein, pasangan Muslim-Inggris dari West Yorkshire, Inggris, yang frustrasi karena salah satu dari tiga anak mereka berulang kali disuguhi ham dan jelly di sekolah.</p>
<p>Ham terbuat dari daging babi yang tidak diperbolehkan atau haram untuk konsumsi Muslim.  Dari permasalahan tersebut, buku ini memfokuskan pada hubungan antara aturan makanan dan Islam (halal versus haram). Makan dan minum yang benar merupakan aspek kunci dari gaya hidup Islam yang benar. Tujuan dari buku ini adalah untuk menawarkan pemahaman tentang makanan halal menurut tradisi Islam melalui sejarah.</p>
<p>Dalam bab 1, kita dapat menemukan penjelasan bahwa menurut umat Islam, Alquran secara bertahap diturunkan kepada Nabi Muhammad pada awal abad ke-7 M. Alquran dianggap sebagai kompilasi dari kata-kata Allah yang sebenarnya.  Dalam Alquran, istilah halal mengacu pada objek dan praktik yang diperbolehkan. Kebalikan dari halal adalah haram yang sering diterjemahkan sebagai berdosa.  Alquran menyatakan bahwa Tuhan menciptakan makanan untuk menopang dan memelihara kehidupan manusia untuk menikmatinya dalam jumlah sedang. Dengan demikian, makanan mewakili kekuatan dan kebajikan Tuhan (hal. 14). Alquran melarang konsumsi darah, daging babi, bangkai, dan daging anjing.</p>
<p>Dalam bab 2, kita menemukan bahwa menurut Armanios dan Ergene, konsumsi daging tidak lazim di kalangan Muslim kelas bawah sebelum zaman modern. Konsumsi daging mengikuti tiga aturan hierarki dimana pusat kekaisaran mengklaim daging dengan pengorbanan yaitu kelas atas dan elit administratif mengklaimnya dengan mengorbankan rakyat biasa. Muslim yang merdeka mengklaimnya dengan mengorbankan budak, dan pria mengklaimnya dengan mengorbankan wanita (hal. 41).</p>
<div id="attachment_70" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-70" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/febe_armanios.jpg?resize=300%2C225&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-70" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/febe_armanios.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/febe_armanios.jpg?w=320&amp;ssl=1 320w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-70" class="wp-caption-text">Febe Armanios</p></div>
<p>Bab ketiga menjelaskan penyembelihan yang tepat sebagai komponen utama dari resep halal untuk hewan (hal. 61). Adapun tekniknya, kepala hewan harus menghadap ke arah Mekah dan penyembelihan melibatkan nama Allah (<em>tasmiyya</em>) sebelum sayatan. Cara yang paling umum untuk melakukannya adalah dengan mengucapkan “Bismillah&#8221; diikuti oleh &#8220;Allah Akbar&#8221; (hal. 61). Selain menggunakan teknik konvensional, Armanius dan Ergene juga membahas tentang penyembelihan secara mekanis. Tetapi dari perspektif konsumen yang sadar akan makna halal, penyembelihan unggas secara mekanis dapat menimbulkan banyak masalah.</p>
<p>Yang menarik dalam buku ini adalah tidak hanya membahas tentang penyembelihan hewan saja tetapi juga pada bab 4 (Intoxicants) penulis membahas minuman yang dianggap haram. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2004, dua puluh lima negara dunia ketiga yang dilaporkan memiliki tingkat konsumsi alkohol terendah adalah mayoritas Muslim (hal. 94). Begitu juga dengan opium dan ganja. Karena Nabi telah mengatakan bahwa “setiap minuman keras adalah khamr,” kebanyakan ahli hukum menyimpulkan bahwa opium dan ganja juga harus dianggap haram (hal. 95). Ini sangat berbeda dengan penggunaan kopi dan tembakau, yang hanya dikutuk jika merugikan Muslim dengan cara apapun (hal. 105).</p>
<p>Dalam bab 5, laporan ekonomi negara-negara Islam pada tahun 2016/2017 memperkirakan pasar makanan dan minuman halal pada tahun 2015 berkisar antara $1,2 triliun (hal. 110). Ini menunjukkan bahwa Islam adalah salah satu agama yang tumbuh paling cepat (hal. 111).  Akibatnya kebangkitan ekonomi halal telah mengilhami perkembangan organisasi baru untuk mengotentifikasi dan mensertifikasi ribuan produk makanan halal yang membanjiri pasar saat ini (hal. 117). Jumlah pemberi sertifikasi halal meningkat pesat; pada awal 1990-an, jumlahnya hanya sedikit, tetapi pada pertengahan 2015 jumlahnya diperkirakan mencapai 150 (hal. 121).</p>
<p>Pada bab 6, penulis menjelaskan bahwa standar halal mendefinisikan pangan halal sebagai pangan yang tidak mengandung komponen atau produk hewan yang tidak halal. Ada dua standar halal yang mendefinisikan makanan halal yaitu sebagai makanan yang aman dan tidak berbahaya dan yang menganjurkan penyembelihan menghadap ke arah Mekah.</p>
<div id="attachment_71" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-71" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/bogac_web_0.jpg?resize=300%2C150&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="150" class="size-medium wp-image-71" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/bogac_web_0.jpg?resize=300%2C150&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/08/bogac_web_0.jpg?w=320&amp;ssl=1 320w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-71" class="wp-caption-text">Boğaç Ergene</p></div>
<p>Bab 7 mengungkapkan produk yang diproduksi oleh hal-hal yang dianggap halal. Yang sangat penting bagi Armanios dan Ergene adalah menjelaskan pengertian <em>istihala</em> dan <em>istihlak</em>. <em>Istihala</em> berasal dari akar bahasa Arab h-w-l yang berarti “berubah atau ditransformasikan.” Ini dapat diterjemahkan sebagai proses di mana satu substansi secara fundamental diubah menjadi yang baru (hal. 166). Sedangkan dalam bahasa Arab, <em>Istihlak</em> (dari h-l-k) sering diterjemahkan sebagai “konsumsi” (hal. 168). Bagi Muslim, semua makanan yang baik (al-tayyibat) telah dijadikan halal [oleh Allah] (hal. 191). Melalui konsep ini, beberapa organisasi Muslim menggunakan tayyib untuk mempromosikan kesadaran ekologis dan lingkungan (hal. 196).</p>
<p>Dua bab terakhir membahas identitas agama dan budaya makanan halal. Media memainkan peran penting. Mereka mencerminkan wacana kuliner yang menguraikan tidak hanya repertoar gastronomi tetapi juga masakan yang dapat mewujudkan perasaan kebersamaan, adaptasi dan integrasi (hal. 228).</p>
<p>Jika kita ingin mengetahui sejarah makanan halal maka buku ini sangat lengkap. Dengan 400 halaman, buku ini menyajikan cerita dari zaman pra-Islam hingga zaman modern.  Armanios dan Ergene juga memberikan contoh kontemporer untuk para pembaca.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><strong>Biografi singkat penulis</strong>: Wisnu Adihartono adalah seorang sosiologis dan peneliti independen. Ia mendapatkan gelar Ph.D di bidang sosiologi dari École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS), Prancis. Ia beberapa kali menerbirkan artikel ilmiahnya untuk jurnal internasional dan beberapa artikel pendek untuk laman internet. Wisnu Adihartono dapat dihubungi melalui email wisnuadi.reksodirdjo@gmail.com atau wisnuadi.reksodirdjo@outlook.com</p>
</div>
</div><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/08/halal-versus-haram-sejarah-masakan-halal-html/">Halal Versus Haram: Sejarah Makanan Halal</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Makna Tersembunyi di Balik Minuman dalam Berbagai Konteks Sosial</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2020/07/makna-tersembunyi-di-balik-minuman-html/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=makna-tersembunyi-di-balik-minuman-html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Joshua Lieto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2020 00:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Paul Manning. 2012. Semiotics of Drink and Drinking [Semiotika Minuman dan Minum]. Penerbit Continuum. Mengapa kita biasa ditanya &#8220;Mau minum apa?&#8221; ketika sedang berkunjung ke rumah teman? Apa bedanya bir dan kopi jika diminum dalam suatu situasi sosial seperti itu? Kita minum bukan hanya karena kita haus, tetapi juga untuk<a class="moretag" href="https://thesuryakanta.com/2020/07/makna-tersembunyi-di-balik-minuman-html/"> Read more</a></p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/07/makna-tersembunyi-di-balik-minuman-html/">Makna Tersembunyi di Balik Minuman dalam Berbagai Konteks Sosial</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Paul Manning. 2012. <i>Semiotics of Drink and Drinking </i>[Semiotika Minuman dan Minum<span style="font-family: arial;">]</span><span style="font-family: arial;">. Penerbit Continuum.</span></strong></p>
<hr />
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/07/9781441160188.jpg?resize=399%2C599&#038;ssl=1" alt="" width="399" height="599" class=" wp-image-80 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/07/9781441160188.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2020/07/9781441160188.jpg?w=420&amp;ssl=1 420w" sizes="auto, (max-width: 399px) 100vw, 399px" />Mengapa kita biasa ditanya &#8220;Mau minum apa?&#8221; ketika sedang berkunjung ke rumah teman? Apa bedanya bir dan kopi jika diminum dalam suatu situasi sosial seperti itu? Kita minum bukan hanya karena kita haus, tetapi juga untuk menguji, membentuk, atau mengeratkan hubungan sosial. Selain minuman, yang kita pilih seringkali bercerita tentang hubungan sosial kita dengan orang lain, ia juga banyak bertutur tentang diri kita sendiri. Anggapan-anggapan inilah yang membentuk latar belakang buku <i>Semiotics of Drink and Drinking </i>(Semiotika Minuman dan Minum) yang ditulis oleh Paul Manning. Dalam buku ini, penulis menyatakan bahwa minuman adalah benda yang terwujud dari praktik sosial (<i>embodied social form</i>). Ini artinya bahwa minum, sebagai praktik biasa sehari-hari, berdampak pada segala hal dalam interaksi sosial. Melalui bukunya, Manning menjelaskan arti-arti mimuman dalam berbagai konteks sosial, historis, dan epistemologis—atau yang terhubung dengan sistem pengetahuan.</p>
<p>Sebagian besar contoh kasus di buku ini diambil dari budaya minum di Amerika Utara, Eropa Barat, dan beberapa negara di Eropa Timur seperti Rusia dan Georgia. Melalui 8 bab dalam bukunya, Manning menjajaki berbagai jenis minuman—di antaranya termasuk kopi, gin, air putih, anggur, vodka, dan juga bir.</p>
<p>Diskusinya tentang kopi menjalin berbagai komentar dari barista-barista anonim yang diunggah di berbagai situs web untuk menunjukkan bagaimana ciri-ciri kopi yang dipesan—menurut barista—dapat mendefinisikan orang yang memesannya. Di samping ciri-ciri kopi yang dipesan, bahasan tentang kopi di buku juga menyentuh interaksi sosial yang dialami oleh barista. Untuk memastikan bahwa pelanggan akan senang dengan pembelian mereka, interaksi antara barista dan pelanggan biasanya sama pentingnya dengan kualitas kopi itu sendiri. Barista harus selalu memenuhi permintaan spesifik dari sang pembeli, dan kadang-kadang permintaan yang mereka terima sangatlah aneh sementara mereka harus selalu menjaga senyum. Dijelaskan dalam buku ini bahwa pekerjaan barista terdiri dari membuat kopi dan juga menjaga perasaan (<i>phatic labor</i>) dalam konteks yang berpusat di sekitar kopi. Walaupun deskripsi sederhana pekerjaan barista adalah &#8220;membuat kopi,&#8221; pekerjaan mereka sejatinya mengikutsertakan banyak hubungan sosial lain, dengan kopi menjadi titik fokusnya.</p>
<p>Untuk diskusi gin, Manning membahas acara pesta koktil (<i>cocktail party</i>) dalam konteks Amerika Utara untuk menunjukkan bagaimana gin digunakan sebagai minuman yang menandakan perbedaan di antara yang &#8220;tidak beradab&#8221; melawan yang &#8220;beradab.&#8221; Menurut analisis Manning, martini yang sebenar-benarnya terbuat dari campuran dua campuran minuman beralkohol, yaitu gin dan vermouth. Yang terpenting adalah komposisi: martini terbaik diracik dari persentase paling maksimal dari gin, dan persentase paling kecil dari vermouth. Kualitas ini—yang sangat dicari oleh para ahli minuman beralkohol—disebut dengan <i>dryness</i>. Jika vermouth terlalu banyak atau bahkan tidak ada sama sekali, martini dapat dikatakan tidak kering (<i>dry</i>) lagi—ini artinya, martininya tidak enak. Manning menarik contoh-contoh dari film-film Amerika Utara 1950-an untuk menganalisis percakapan yang menunjukkan bahwa orang yang tidak meracik martini dengan benar dianggap sebagai orang-orang &#8220;tidak beradab.”</p>
<p>Ini bukan hanya pendapat yang menyenangkan orang mabuk di pesta: menurut Manning, gin—sebagai komposisi utama dalam martini—menjadi simbol global bagi orang-orang Amerika Utara pada abad ke-20. Nama merek gin seperti Bombay Sapphire—yang menggunakan nama kota di India, Bombay, dan nama batu permata safir—mengacu pada aturan dunia kolonial di masa lalu dengan ekstraksi sumber daya dari tempat eksotik. Minuman gin, dengan kata lain, mencakup ideologi yang berkenaan dengan tempat dan waktu (<i>temporality</i>).</p>
<p>Dalam buku ini, dibahas pula mengenai bagaimana minuman sebagai simbol merupakan topik yang penting. Contohnya, Bab 4 dan 5 membicarakan macam-macam perbedaan di antara air mineral kemasan di Amerika Serikat, Rusia, dan Georgia. Di semua tempat ini, air dikemas dari sumbernya ke dalam botol sebelum diminum. Tetapi, inti proses ini berbeda di tempat masing-masing. Di Amerika Serikat, perhatian ditempatkan pada kebersihan air sebagai hasil proses pemurniannya yang industrial. Tidak ada rasa di air botol ini kecuali air tawar, dan air tawar itu dianggap di Amerika Serikat sebagai minuman yang paling sehat.</p>
<p>Sebaliknya, di Rusia dan Georgia, ada macam-macam air botol yang rasanya muncul dari ciri-ciri istimewa perairan perigi. Rasa air ini mendekati rasa buah-buahan, dan bahkan ada yang berbau tanah. Lebih dari itu, perairan perigi ini dulu dihormati sebagai air yang paling sehat di Rusia dan Georgia. Bab-bab ini menunjukkan bahwa ideologi minum bahkan masuk ke air mineral yang dikonsumsi sehari-hari.</p>
<p>Bab-bab yang lain memperluas diskusi dengan pembahasannya mengenai minuman anggur, vodka, dan bir. Setiap minuman ini memliki spesifikasi tempat dan waktu tersendiri; cita rasa minuman anggur—seperti perairan Georgia yang disebut di atas—terkait erat dengan ciri-ciri tanah di mana berbagai macam jenis anggur tumbuh. Dalam diskusi ini, Manning menjelaskan konsepsi <i>terroir</i>, atau lingkungan alami yang komprehensif di mana buah-buahan tertentu diproduksi. <i>Terroir </i>mencakup faktor-faktor seperti tanah, topografi, dan iklim. <i>Terroir </i>sangat spesifik sehingga para ahli minuman anggur bisa membedakan asal anggur dari rasa saja. Mereka, misalnya, dapat mengetahui spesifik sampai ke nama lembah atau malah ladang yang menghasilkan buah-buahan anggur tersebut.</p>
<p>Manning juga menerangkan bagaimana pengetahuan mengenai <i>terroir </i>terhubung dengan ritual konsumsi minuman lainnya, seperti vodka atau bir. Seperti anggur, rasa bir muncul dari komposisi utamanya (misalnya, gandum) yang ciri-ciri berasal dari <i>terroir</i>-nya. Di Georgia, bir merupakan minuman yang identik dengan pesta karena ia dapat menghubungkan orang dengan lingkungan alaminya—beginilah orang Georgia merayakan lingkungan yang mereka huni. Sebaliknya, vodka terkenal sebagai minuman yang tawar dan tanpa rasa karena disuling berkali-kali sampai tidak ada rasa dari <i>terroir</i>-nya. Manning menganalisis beberapa tulisan jurnal untuk mengungkapkan bagaimana vodka diminum di pertemuan romantis rahasia di antara dua orang kekasih. Karena isi asal vodka tersembunyi dalam proses produksi, minumannya bisa digunakan untuk tujuan apapun termasuk pertemuan romantis yang tersembunyi.</p>
<p>Pada akhirnya, melalui buku <i>Semiotics of Drink and Drinking</i>, Manning menyerukan bahwa berbagai macam minuman menjadi tanda dan benda yang mewujud melalui bagaimana mereka digunakan di berbagai latar sosial. Tulisannya menjelajahi minuman sebagai simbol yang diolah oleh praktik-praktik sosial yang terus berubah. Praktik-praktik ini bervariasi di antara berbagai tempat, waktu, dan juga konteks sosial. Untuk menajamkan analisisnya, Manning membahas contoh-contoh kasus yang beragam, di antaranya termasuk unggahan daring, percakapan dalam film, iklan minuman, dan tulisan yang menyebut minuman dalam interaksi sosial. Walaupun bukti-bukti yang Manning kumpulkan tersebar dari berbagai sumber yang disebutkan, hampir semua sumber menunjukkan bahwa minum adalah praktik biasa—yang tidak perlu dilihat lebih dalam—dan kepentingannya masih belum bisa dipahami secara lengkap.</p>
<p>Buku ini sukses mengarahkan perhatian kita pada arti-arti praktik sehari-hari yang kita terima begitu saja. Saya berharap buku ini dapat menjadi referensi yang berguna untuk peneliti yang tertarik untuk mencari arti tersembunyi dalam konteks kehidupan yang kita anggap biasa.</p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2020/07/makna-tersembunyi-di-balik-minuman-html/">Makna Tersembunyi di Balik Minuman dalam Berbagai Konteks Sosial</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
