<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perang - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/perang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 Jul 2022 09:51:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>perang - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Tuhan dalam Perang: Agama dan Legitimasi atas Kekerasan</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2022/07/tuhan-dalam-perang/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tuhan-dalam-perang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mohammad Maulana Iqbal]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2022 00:42:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=879</guid>

					<description><![CDATA[<p>Juergensmeyer, Mark. 2020. God at War: A Meditation on Religion and Warfare [Tuhan Berperang: Perenungan atas Agama dan Peperangan]. Penerbit Universitas Oxford. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/07/tuhan-dalam-perang/">Tuhan dalam Perang: Agama dan Legitimasi atas Kekerasan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/god-at-war.jpg?resize=198%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="198" height="300" class="size-medium wp-image-880 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/god-at-war.jpg?resize=198%2C300&amp;ssl=1 198w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/god-at-war.jpg?w=329&amp;ssl=1 329w" sizes="(max-width: 198px) 100vw, 198px" />Juergensmeyer, Mark. 2020. <em>God at War: A Meditation on Religion and Warfare</em> [Tuhan Berperang: Perenungan atas Agama dan Peperangan]. Penerbit Universitas Oxford.</p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Mengapa agama penuh dengan peperangan? Mengapa perang tampaknya selalu menggunakan Tuhan? Bagaimana perang dan agama saling membutuhkan? </span><span style="font-weight: 400;">Itulah beberapa pertanyaan Mark Juergensmeyer, seorang Profesor Sosiologi di University of California, Santa Barbara, Amerika Serikat dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">God at War: A Meditation on Religion and Warfare</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2020).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guna menjawab pertanyaan tersebut, Juergensmeyer bertemu pelaku kekerasan agama secara langsung dari beragam penganut agama di dunia. Misalnya, ia berdialog dengan seorang jihadis yang terlibat dalam kasus </span><i><span style="font-weight: 400;">World Trade Center (WTC)</span></i><span style="font-weight: 400;"> 2001 silam. Selain itu, Juergensmeyer berbicara dengan mantan pejuang ISIS di Irak. Ia juga menemui biksu yang membenarkan serangan kaum Buddhis terhadap kelompok minoritas muslim di Myanmar. Sedangkan di negaranya sendiri, Juergensmeyer berbincang dengan militan Kristen antiaborsi yang melakukan pengeboman klinik aborsi. Melalui dialog tersebut, Juergensmeyer menemui kemiripan, yakni bahwa pelaku kekerasan agama mengakui mereka dalam kondisi sedang berperang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gagasan perang, khususnya menyoal perang kosmis sebenarnya telah dikemukakan Juergensmeyer dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence </span></i><span style="font-weight: 400;">(2000)</span> <span style="font-weight: 400;">yang menjelaskan secara spesifik mengenai perang kosmis sebagai bentuk peperangan dengan legitimasi agama. </span><span style="font-weight: 400;">Bagi Juergensmeyer, perang kosmis tampak begitu kejam karena pelaku kejahatan menempatkan gambaran agama demi membenarkan kekerasan.</span><span style="font-weight: 400;"> Sementara itu, </span><i><span style="font-weight: 400;">God at War: A Meditation on Religion and Warfare</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2020) merupakan buku lanjutan tentang bagaimana gagasan perang kosmis dianalisis oleh Juergensmeyer.</span></p>
<p><b>Daya Tarik Perang yang Aneh</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagi masyarakat Amerika yang menyaksikan tragedi 11 September 2001 di WTC, mereka berpikir saat itu berada dalam kondisi peperangan. Bagi Juergensmeyer, pemaknaan situasi perang demikian justru dinilai sebagai kesadaran yang aneh. Pasalnya di dalam konteks peperangan, setidaknya terdapat dua pihak saling melawan, atau ada musuh di dalamnya. Maka, Juergensmeyer lebih condong menyebut tragedi WTC sebagai serangan sistematis yang dilakukan oleh kelompok kecil Al-Qaeda, ketimbang menyebutnya sebagai perang. Meskipun demikian, dalam bab satu, Juergensmeyer mencoba memahami mengapa masyarakat Amerika menyebut aksi 11 September 2001 sebagai perang. Salah satu alasannya, karena aksi teror tersebut berdampak pada jatuhnya banyak korban jiwa; kekacauan, ketakutan, ketidakpastian terjadi di mana-mana, dan lain sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah pembahasan,</span><span style="font-weight: 400;"> Juergensmeyer mengungkapkan bahwa sebenarnya perang telah terjadi dalam beragam realitas. Berbagai imaji tentang perang menyebar di banyak </span><i><span style="font-weight: 400;">game</span></i><span style="font-weight: 400;"> remaja, misalnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Counter-Strike</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Fortnite</span></i><span style="font-weight: 400;">. Kisah yang menyoal perang juga hadir dalam cerita fiksi seperti novel </span><i><span style="font-weight: 400;">For Whom the Bell Tolls</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Ernest Hemingway. Bahkan aksi kekerasan perang juga dihadirkan dalam serial film, contohnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Mahabharata</span></i><span style="font-weight: 400;">. Bagi Juergensmeyer, imajinasi di berbagai media menunjukkan bagaimana perang menjelaskan mengenai situasi kegilaan, kekacauan hidup, yang dalam sisi lain juga memberikan struktur dan makna tertentu bagi para pelaku kekerasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata perang (atau “</span><i><span style="font-weight: 400;">War”</span></i><span style="font-weight: 400;">) sendiri berasal dari bahasa Inggris kuno yakni “</span><i><span style="font-weight: 400;">Werra</span></i><span style="font-weight: 400;">” yang berarti kebingungan, kekacauan, ketidakpastian atau kecemasan. Perang berakar dari kecemasan bahwa ada sesuatu yang salah di dunia ini, terdapat kesadaran yang membingungkan, dan kekacauan. Makna perang bisa saja tidak dengan angkat senjata, tetapi juga hadir dalam sebuah pola pikir. Di fase ini, perang telah hadir dalam diri individu.</span></p>
<p><b>Perang sebagai Realitas Alternatif</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bab dua, Juergensmeyer menjelaskan beberapa konsep mengenai perang. Pertama, ia menganalisis </span><i><span style="font-weight: 400;">Man, the State, and War: A Theoretical Analysis </span></i><span style="font-weight: 400;">(1959) karya Kenneth Waltz yang membahas tiga konsep gambaran peperangan (</span><i><span style="font-weight: 400;">images of war</span></i><span style="font-weight: 400;">). Gambaran pertama yakni di tingkat individu, ketika perang didorong oleh kegemaran, sifat dan kemampuan perseorangan sang pemimpin, misalnya dalam konteks Hitler. Gambaran kedua berada di tingkat negara, yang berarti bahwa perang berangkat dari struktur dan kondisi internal suatu negara, misalnya perseteruan ideologi dengan negara lain. Gambaran ketiga, yakni tingkat internasional. Saat perang internasional terjadi, pertempuran terjadi secara anarkis, mengingat tidak ada lagi kekuatan global yang mampu mengendalikan konflik antarnegara.</span></p>
<div id="attachment_881" style="width: 210px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-881" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/07/Markjurgensmeyer.jpg?resize=200%2C240&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="240" class="wp-image-881 size-full" /><p id="caption-attachment-881" class="wp-caption-text">Mark Juergensmeyer</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Juergensmeyer menukil teolog terkemuka abad ke-20, Reinhold Niebuhr dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Why the Christian Church Is Not Pacifist</span></i><span style="font-weight: 400;"> (1940) yang menganggap bahwa gagasan tradisi “perang adil” dalam konteks kekerasan pada agama Kristen perlu dikendalikan. Ia menganggap pembunuhan dan perang sebagai hal buruk. Ketiga, prajurit Prusia di abad ke-19, Carl von Clausewitz dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">On War</span></i><span style="font-weight: 400;"> (1832), mengajukan konsep “perang absolut,” menggambarkan perang paling ekstrem yakni untuk menghancurkan pihak lain dengan cara apapun, seperti gerakan ISIS </span><i><span style="font-weight: 400;">(Islamic State of Iraq and Syria)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">White Aryan Resistance –</span></i><span style="font-weight: 400;">militan neo-nazi yang aktif pada 1991 hingga 1993-an. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, Juergensmeyer juga menjelaskan bahwa perang atau kekerasan menjadi dunia alternatif tertentu bagi pelakunya. Memaknai perang sebagai dunia alternatif, para militan menganggap diri mereka bisa menghadapi kekacauan dan anomali kehidupan. Militan perang memosisikan diri sebagai korban penindasan yang mensyaratkan balas dendam dan melegalkan hak moral untuk melakukan pembunuhan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebuah perang selalu membutuhkan musuh. Namun, bagi Juergensmeyer, musuh itu relatif. Di beberapa kasus, musuh tampak jelas, seperti penyerangan angkatan udara Jepang terhadap kapal angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor pada 1941. Namun, musuh juga bisa jadi samar, sehingga memerlukan identifikasi lebih lanjut. Contohnya, aksi teror di WTC pada 2001 silam ketika pemerintah Amerika Serikat mendeklarasikan “perang melawan teror”, meskipun tidak jelas siapa yang saat itu mereka sebut sebagai teroris. Bahkan masyarakat Amerika Serikat menganggap pelaku teror tersebut adalah masyarakat Timur Tengah –bahkan kaum muslim secara keseluruhan, sehingga memunculkan pandangan negatif dan fobia terhadap Muslim (</span><i><span style="font-weight: 400;">Islamophobia</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><b>Agama sebagai Realitas Alternatif</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juergensmeyer mendialogkan beberapa gagasan teoretis di bab tiga. Salah satunya berasal dari Dietrich Bonhoeffer, teolog protestan yang berpendapat bahwasannya ide, praktik, rutinitas, dan semua hal yang dianggap sebagai kepercayaan dan aktivitas agama adalah produk imajinasi manusia. Bahkan, bahasa agama merupakan bahasa imajiner. Ahli sosiologi agama, Robert Bellah pun mengamini bahwa agama merupakan produk imajinasi manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bellah menyebut agama sebagai persepsi, dunia imajiner atau “tatanan umum keberadaan”, sebagaimana dikemukakan antropolog Clifford Geertz. Bellah menyebut agama sebagai “realitas agama”, menukil pandangan Alfred Schutz yang dipopulerkan Peter Berger –melihat realitas sebagai konstruksi sosial. Selain itu, melalui pandangan Durkheim, Bellah memersepsikan agama sebagai konstruksi realitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juergensmeyer lalu mengonsepsikan agama sebagai realitas alternatif. Artinya, agama dianggap memberikan ikatan komunitas, kekerabatan sesama umat, bahkan kesetiaan melebihi partai politik. Menurutnya, agama harus dilakukan dengan kepercayaan dan kepatuhan untuk mengikuti, untuk kemudian menemukan realitas alternatif tersebut. Maka, agama menjadi tatanan sakralitas alternatif di tengah tatanan dunia profan yang penuh kebingungan, kekacauan, dan anomali. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam agama Sikh, kemartiran dan pengorbanan diri dimaknai sebagai cara memperjuangkan keyakinan. Dalam agama Aztec kuno, terdapat praktik pengorbanan tentara yang telah ditaklukkan. Pun dalam agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), konsep pengorbanan Abraham (Ibrahim) terhadap sang anak –meski kemudian digantikan oleh seekor domba –menunjukkan bagaimana berkorban menjadi bagian dalam memperjuangkan keyakinan. Melalui realitas tersebut, Juergensmeyer menyatakan bahwa pengorbanan adalah upaya memahami dan mengatasi anomali kehidupan, yakni kematian. Mengacu pada Ernest Becker, yang mengatakan bahwa agama memberikan tawaran untuk mengatasi ketakutan perihal kematian. Alih-alih, agama memberikan pemahaman bahwa terdapat kehidupan yang lebih baik pasca kematian, seperti surga atau reinkarnasi.</span></p>
<p><b>Perkawinan antara Perang dan Agama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada bab empat, Juergensmeyer mengemukakan bahwa sebagian perang yang melibatkan keyakinan atau agama biasanya memiliki orientasi moral agung. Agama dianggap dapat menjadi sekutu menarik, bahkan bermanfaat ketika perang. Agama memiliki bahasa imajiner perjuangan, bahkan dalam beberapa kasus menjadi pembenaran moral atas pembunuhan sekaligus penghargaan abadi bagi para martir. Saat itulah perang merangkul agama. Di sisi lain, Juergensmeyer meminjam pendapat Hector Avalos yang mengatakan bahwa agama itu sendiri penyebab kekerasan. Namun, Juergensmeyer tidak ingin menggeneralisasi pendapat tersebut, mengingat jutaan muslim di Asia tidak memiliki dorongan pada kekerasan. Meskipun begitu, ketika agama merangkul perang, maka agama akan diagungkan, dengan perang sebagai pelayan simbolisnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab empat, Juergensmeyer menjelaskan gagasan inti mengenai perang kosmis</span><span style="font-weight: 400;">, sebagaimana sempat disinggung di awal tulisan. </span><span style="font-weight: 400;">Secara sederhana, perang kosmis merupakan kolaborasi antara perang dan agama. Juergensmeyer sengaja tidak menggunakan istilah perang suci (</span><i><span style="font-weight: 400;">holy war</span></i><span style="font-weight: 400;">) dalam analisis, sebagaimana dilontarkan kebanyakan teolog. Ia memandang bahwa selama ini perang suci cenderung diasosiasikan dengan Islam dan memiliki batasan moral. Sedangkan, perang kosmis ditujukan untuk semua agama, serta tidak memiliki batasan tertentu. Juergensmeyer juga tidak menggunakan istilah perang ilahi (</span><i><span style="font-weight: 400;">divine war</span></i><span style="font-weight: 400;">), karena dianggap sebagai bayangan perang yang dilakukan oleh Tuhan. Sementara, perang kosmik justru dilakukan oleh prajurit yang menjanjikan penebusan atau pertobatan, penghargaan pribadi bahkan imbalan surgawi khususnya bagi mereka yang menjadi martir.</span></p>
<p><b>Bisakah Agama Menyembuhkan Perang?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab lima yang merupakan bagian terakhir, Juergensmeyer memberikan tiga tawaran solusi atas kekerasan, konflik, atau perang kosmis. </span><i><span style="font-weight: 400;">Pertama</span></i><span style="font-weight: 400;">, perang yang adil. Ia berpendapat bahwa perang memerlukan berbagai batasan moral dan disetujui oleh otoritas sah. Selain itu, suatu konflik perang tidak boleh lebih besar ketimbang kerugiannya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Kedua</span></i><span style="font-weight: 400;">, perang secara simbolis. Gagasan tersebut terinspirasi oleh Sigmund Freud dan René Girard, menjelaskan bahwa perang/kekerasan/pengorbanan dapat direpresentasikan secara simbolis, misalnya dalam ritual pengorbanan hewan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Ketiga</span></i><span style="font-weight: 400;">, perang metaforis, terinspirasi oleh Mahatma Gandhi tentang gerakan </span><i><span style="font-weight: 400;">Satyagraha</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang berarti nirkekerasan (atau dalam istilah Juergensmeyer, “perang tanpa darah”), seperti perang melawan ketidakadilan, kemiskinan, narkoba, dan lain sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai penutup, Juergensmeyer memberikan argumen bahwa perang dan kekerasan tidak akan menakutkan tatkala berada sebagai gambaran imajiner budaya. Namun, ketika perang imajiner menjadi perang fisik, maka obat alternatif yang dapat mengontrol kengerian itu adalah agama. </span><span style="font-weight: 400;">Melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">God at War: A Meditation on Religion and Warfare</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2020), Juergensmeyer mengajak kita menengok realitas perang kosmis di berbagai belahan dunia. Kita pun berefleksi untuk tidak menggeneralisasi agama sebagai penyebab tunggal kekerasan, meskipun beberapa kelompok militan mengaku termotivasi oleh aliran agama tertentu</span><span style="font-weight: 400;">, dan bahwa tragedi kekerasan ada di setiap realitas agama.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2022/07/tuhan-dalam-perang/">Tuhan dalam Perang: Agama dan Legitimasi atas Kekerasan</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">879</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
