<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Imperialisme - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/imperialisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2025 11:53:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Imperialisme - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Kolonialisme Sampah Israel dan Otoritas ‘Semu’ Palestina</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2025/09/sampah-israel/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sampah-israel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gilang Mahadika dan Mohammad Rafi Azzamy]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 11:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Imperialisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Stamatopoulou-Robbins, Sophia. 2020. Waste Siege: The Life of Infrastructure in Palestine. Penerbit Universitas Stanford. </p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2025/09/sampah-israel/">Kolonialisme Sampah Israel dan Otoritas ‘Semu’ Palestina</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2025/09/waste-seige.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-1324 alignright" />Stamatopoulou-Robbins, Sophia. 2020. </span><i><span style="font-weight: 400;">Waste Siege: The Life of Infrastructure in Palestine. </span></i><span style="font-weight: 400;">Penerbit Universitas </span><span style="font-weight: 400;">Stanford. </span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Sophia Stamatopoulou-Robbins melakukan kerja lapangan (</span><i><span style="font-weight: 400;">fieldwork)</span></i><span style="font-weight: 400;"> di Palestina. Penelitian yang merupakan disertasinya di Columbia University itu diterbitkan pada tahun 2019 oleh Stanford University Press</span><i><span style="font-weight: 400;">. Waste Siege </span></i><span style="font-weight: 400;">yang jika diterjemahkan menjadi “Pengepungan</span><i><span style="font-weight: 400;"> Sampah</span></i><span style="font-weight: 400;">” adalah judul buku dari etnografi Sophia</span><span style="font-weight: 400;">,</span><span style="font-weight: 400;"> dibuka dengan memperkenalkan konsep “imajinasi lingkungan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">environmental imaginaries</span></i><span style="font-weight: 400;">), khususnya imajinasi lingkungan Zionis, di mana wilayah jajahan seperti tanah Palestina digambarkan sebagai kosong, tidak layak huni, liar, dan tandus secara budaya (hlm. 11).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kerangka pikir ini membangun citra koloni sebagai tanah tak berguna (</span><i><span style="font-weight: 400;">colony-as-wasteland</span></i><span style="font-weight: 400;">), yang melegitimasi perampasan tanah Palestina untuk pemukim Israel. Lebih jauh, tanah tak berguna itu kehilangan fakta sejarahnya, diabaikan dalam rutinitas opresif dan diisi oleh aktivitas serba tak tentu.  Representasi semacam ini menghapus dan menyangkal keberadaan serta pengalaman hidup populasi terjajah, yang telah lama mendiami dan membentuk lanskap tersebut jauh sebelum kedatangan para pemukim Israel. Meskipun kolonialisme formal mungkin telah berakhir, visi kolonial semacam ini masih terus membentuk kenyataan masa kini.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Waste Siege</span></i><span style="font-weight: 400;"> menawarkan perspektif alternatif dan tidak konvensional tentang Palestina. </span><span style="font-weight: 400;">Sementara media arus utama sering kali menyoroti kekerasan militer, klaim teritorial, dan ketegangan politik—yang kerap membingkai wilayah ini sebagai tanah suci yang dilanda konflik—Sophia Stamatopoulou-Robbins justru mengalihkan perhatian pada isu yang tampak sepele namun sangat politis: pengelolaan limbah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina. Ia menyoroti bagaimana warga Palestina menghadapi beban sampah yang terus-menerus dan tidak merata, terutama pada periode pasca-Oslo, ketika persoalan sampah menjadi semakin serius. Pengepungan militer memiliki wajah baru yang lebih dramatis, mewujud dalam limbah yang perlahan mulai mengepung wilayah Palestina.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Stamatopoulou-Robbins mengungkapkan bagaimana ketimpangan lingkungan dialami baik oleh warga Palestina maupun oleh otoritas mereka. </span><span style="font-weight: 400;">Sebagai contoh, ia menggambarkan situasi di al-Minya, sebuah tempat pembuangan sampah dekat Ramallah, di mana para pemukim Israel secara rutin membuang sampah mereka dengan pengawalan jip militer</span><span style="font-weight: 400;"> (hlm. 60). S</span><span style="font-weight: 400;">elama Intifada Kedua, tempat pembuangan sampah milik kota di al-Bireh diblokir oleh militer Israel, memaksa warga al-Bireh dan kamp pengungsi al-‘Amari membuang sampah mereka ke Ramallah, yang pada akhirnya membuat kota tersebut kewalahan menangani volume sampah</span><span style="font-weight: 400;"> (hlm. 40). Di Jenin, yang terletak di Tepi Barat bagian utara, jip bersenjata dan tank menghalangi truk sampah milik pemerintah kota Palestina keluar dari kota, sehingga truk-truk tersebut terjebak di sana selama empat tahun (hlm. 12). Dalam hal ini, penduduk Palestina tidak diperbolehkan membuang sampahnya keluar wilayah, sedangkan masyarakat Israel bisa membuang sampahnya dengan mudah di wilayah Palestina. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kondisi terjebak atau keterkungkungan inilah yang oleh Stamatopoulou-Robbins disebut sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">“the closed system of siege”</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau sistem pengepungan tertutup. </span><span style="font-weight: 400;">Ia mendefinisikan </span><i><span style="font-weight: 400;">“waste siege”</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai “kebutuhan untuk terus berurusan dengan sesuatu yang tidak diinginkan atau dibuang dalam upaya untuk melepaskan diri darinya”</span><span style="font-weight: 400;"> (hlm. xi). Pada dasarnya, warga Palestina terjebak dalam siklus pengelolaan sampah yang dihasilkan baik secara lokal maupun dari permukiman-permukiman Israel di sekitarnya. </span><span style="font-weight: 400;">Rasa keterjebakan yang sangat kuat secara fisik, politis, maupun infrastruktur, menjadi inti dari argumen utama buku ini.</span></p>
<div id="attachment_1325" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1325" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2025/09/Sophia-S-Robbins-profile-pic-Bard_sm.jpg?resize=300%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="300" class="wp-image-1325 size-medium" /><p id="caption-attachment-1325" class="wp-caption-text">Sophia Stamatopoulou-Robbins</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, sejumlah barang buangan, terutama yang berasal dari Israel, diselamatkan dan dijual kembali di pasar </span><i><span style="font-weight: 400;">rabish</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu pasar barang bekas yang sudah mapan. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam Bab 2, Stamatopoulou-Robbins mencatat bagaimana barang-barang di pasar Rabish</span><i><span style="font-weight: 400;">—</span></i><span style="font-weight: 400;">suatu pasar barang bekas yang ada di Jenin—telah menjadi objek hasrat yang kontroversial dan bahkan paradoksal  bagi warga Palestina. </span><span style="font-weight: 400;">Di satu sisi ada stigma buruk terhadap orang-orang yang menggunakan barang-barang dari </span><i><span style="font-weight: 400;">rabish</span></i><span style="font-weight: 400;">, Dana Mansour misalnya, seorang siswi SMA mengatakan: &#8220;Rabish adalah untuk, um, orang miskin,&#8221; menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak bermartabat tentang membeli barang-barang rabish (hlm. 79).</span> <span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, pasar</span><span style="font-weight: 400;"> yang diisi 50 toko dan 30 bedak </span><span style="font-weight: 400;">itu mencerminkan proses fetisisasi terhadap komoditas-komoditas Israel </span><span style="font-weight: 400;">(kolonial). Seperti yang diungkapkan oleh salah satu narasumbernya, “Barang-barang Israel lebih bagus… kualitasnya tinggi” (hlm. 87). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks ini, seruan global untuk memboikot produk Israel menjadi semakin rumit bagi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan</span><span style="font-weight: 400;">, </span><span style="font-weight: 400;">karena akses terhadap barang alternatif bisa jadi terbatas, bahkan mungkin sama sekali tidak ada.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Bab 3, Sophia Stamatopoulou-Robbins menyajikan studi kasus dari Shuqba, sebuah desa di dekat Ramallah, di mana akumulasi sampah mencapai tingkat yang kritis, mendorong warga setempat untuk mengirimkan surat keluhan resmi kepada Otoritas Palestina. </span><span style="font-weight: 400;">Sampah yang dimaksud tidak hanya terdiri dari sampah rumah tangga, tetapi juga mencakup beragam limbah yang mengganggu kesehatan seperti limbah industri, medis, bangkai hewan, kotoran sanitasi, dan konstruksi</span><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;"> Yang menarik bagi Sophia adalah bentuk surat keluhan tersebut, yang ia lacak berasal dari tradisi Islam yang dikenal sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">shakwa</span></i><span style="font-weight: 400;">—keluhan atau petisi formal yang diajukan kepada otoritas resmi (hlm. 119).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan wawancara dengan para narasumbernya, Sophia memperkenalkan istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">shibih dawla</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau &#8220;negara semu&#8221; atau</span><i><span style="font-weight: 400;"> phantom state, </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk menggambarkan Otoritas Palestina. Istilah ini merujuk pada sebuah badan pemerintahan yang secara formal ada, tetapi tidak memiliki kapasitas atau kekuasaan nyata untuk menjalankan tanggung jawabnya. Gagasan ini merangkum kekecewaan warga yang, meskipun telah berupaya aktif untuk mencari solusi atau keadilan, justru dihadapkan pada absennya institusi dan stagnasi politik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sophia Stamatopoulou-Robbins memunculkan konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">phantom state</span></i><span style="font-weight: 400;"> (negara semu) ketika ia mengamati cara warga Palestina mengalami keberadaan Otoritas Palestina—sebagai institusi pemerintahan pusat tempat mereka bisa mengajukan keluhan formal, meskipun institusi ini sering gagal bertindak atau memang tidak mampu untuk bertindak. </span><span style="font-weight: 400;">Konsep ini mencerminkan paradoks pemerintahan di bawah pendudukan: sementara Israel tetap menjadi kekuasaan yang sebenarnya—sebuah kekuasaan yang “harus diabaikan”—Otoritas Palestina, meskipun bukan badan yang berdaulat, tetap dipersepsikan memiliki bentuk legitimasi yang dianggap “cukup baik” atau “lebih baik daripada tidak ada”, meskipun kenyataannya ia gagal menjalankan fungsi pemerintahan secara penuh, baik menurut standarnya sendiri maupun menurut harapan masyarakat (hlm. 135).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">D</span><span style="font-weight: 400;">alam Bab 4, Sophia Stamatopoulou-Robbins menyajikan kisah tentang roti yang tidak diinginkan (</span><i><span style="font-weight: 400;">unwanted bread</span></i><span style="font-weight: 400;">) sebagai lensa untuk mengeksplorasi sirkulasi dan infrastruktur di Palestina</span><span style="font-weight: 400;">. Dalam bagian yang berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">“Bread and the Ethical Self”</span></i><span style="font-weight: 400;">, Stamatopoulou-Robbins mengeksplorasi status istimewa roti di kalangan komunitas Palestina. </span><span style="font-weight: 400;">Roti tidak dipandang sekadar sebagai makanan biasa, melainkan sebagai sesuatu yang sakral dan memiliki makna moral yang mendalam.</span><span style="font-weight: 400;"> Dengan mengutip Al-Qur’an, ia menyoroti sebuah ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan” (hlm. 146), yang menekankan perintah etis dalam Islam untuk menghindari pemborosan. Dalam budaya Islam secara umum, segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan harus dihormati, dan keyakinan ini memperkuat kewajiban moral untuk tidak membuang roti secara sembarangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akibatnya, membuang roti yang tidak diinginkan dianggap sebagai pilihan terakhir</span><span style="font-weight: 400;">—sesuatu yang hanya dilakukan jika benar-benar tidak ada seorang pun yang bisa memakannya (hlm. 152). Bahkan dalam situasi seperti itu, tindakan membuang roti dilakukan dengan penuh kesadaran dan tata cara tersendiri. Alih-alih langsung dibuang ke tempat sampah, roti biasanya digantung di dalam kantong plastik di dinding atau diletakkan di pegangan tempat sampah, agar tetap terlihat dan bisa diambil oleh mereka yang membutuhkan. D</span><span style="font-weight: 400;">engan cara ini, roti yang tidak diinginkan berada dalam ruang liminal: ia bukan sepenuhnya sampah, tetapi juga bukan sepenuhnya hadiah—roti tersebut berada di antara menjadi limbah dan menjadi sedekah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelebihan roti yang tidak diinginkan juga menjadi penanda dari keruntuhan infrastruktur yang lebih luas. Stamatopoulou-Robbins mencatat adanya pergeseran dalam mata pencaharian di berbagai komunitas Palestina: masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada peternakan dan pertanian. Di Jenin, sebuah wilayah yang dulunya berakar pada praktik pertanian, rumah tangga biasa memisahkan sampah mereka ke dalam dua ember, satu untuk sampah organik basah (</span><i><span style="font-weight: 400;">zibil</span></i><span style="font-weight: 400;">), dan satu lagi untuk sampah kering. Sampah basah ini umumnya digunakan untuk memberi makan ternak atau diolah kembali sebagai pupuk. Sistem ini mencerminkan bentuk pengetahuan ekologis sehari-hari yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan pedesaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, seiring semakin banyaknya orang yang bermigrasi ke wilayah perkotaan, pengetahuan ini mulai memudar. Misalnya, pemahaman intuitif tentang kapan dan bagaimana mendistribusikan makanan berlebih, seperti roti sisa, telah berkurang (hlm. 157). Meskipun praktik pertanian dan peternakan mengalami penurunan, roti yang tidak diinginkan tetap jarang dibuang tanpa tujuan. Jika tidak ada orang yang bisa mengambilnya, beberapa warga akan melemparkan roti tersebut ke luar jendela untuk memberi makan burung dan hewan liar (hlm. 152). Tindakan yang tampak sederhana ini mencerminkan hubungan etis yang terus terjaga antara manusia, makanan, dan sampah, bahkan di tengah kondisi sosial dan infrastruktur yang terus berubah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Bab 5, Sophia Stamatopoulou-Robbins membahas dan sekaligus mengkritisi konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">“lingkungan bersama”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">shared environment</span></i><span style="font-weight: 400;">). Ia mengisahkan sebuah percakapan dengan seorang pegawai Israel dari FOEME (Friends of the Earth Middle East, kini dikenal sebagai EcoPeace), yang berkata, “Jika kita semua sadar bahwa kita minum dari </span><i><span style="font-weight: 400;">mangkuk</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang sama, mungkin kita bisa hidup bersama dalam damai” </span><span style="font-weight: 400;">(hlm. 176). Mangkuk di sini bisa diartikan hidup  di wilayah yang sama, di Tepi Barat. Meskipun pernyataan ini tampak kooperatif di permukaan, Sophia menyoroti ketimpangan struktural yang lebih dalam dan melemahkan narasi semacam itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai contoh, pemerintah Israel telah mencegah Otoritas Palestina untuk membangun jaringan pembuangan limbah dan fasilitas pengolahan air limbah mereka sendiri (hlm. 180). Akibatnya, warga Palestina kerap digambarkan sebagai pencemar lingkungan, bahkan diwajibkan membayar ganti rugi kepada Israel atas kerusakan lingkungan, dengan mengacu pada prinsip </span><i><span style="font-weight: 400;">“polluters pay”</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau “pencemar harus membayar” (hlm. 180). Antara tahun 1996 dan 2010, Israel menahan lebih dari 47,6 juta dolar AS dana milik Otoritas Palestina yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur air limbah di Tepi Barat (hlm. 180), sedangkan pemerintah Israel dapat membangun infrastruktur pengelolaan limbah sendiri, bahkan terdapat lima pengelolaan limbah milik Israel dibangun di perbatasan Israel-Palestina. Hal ini sangat menguntungkan pihak Israel agar masyarakat Palestina selalu bergantung pada mereka dalam pengelolaan air limbah, selagi mereka juga harus membayar ganti rugi karena dianggap pencemar lingkungan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Stamatopoulou-Robbins mengkritik bagaimana gagasan “lingkungan bersama” sering kali bertumpu pada </span><i><span style="font-weight: 400;">depolitisasi</span></i><span style="font-weight: 400;"> infrastruktur. Ia menulis, “air dan limbah tidak mengenal batas negara” (hlm. 202), menandakan bahwa sistem ekologis melampaui batas-batas geopolitik. </span><span style="font-weight: 400;">Namun, meskipun terdapat idealisme semacam itu, kerja sama lingkungan tetap timpang dan sangat politis. Masalah intinya, menurut Sophia, terletak pada </span><i><span style="font-weight: 400;">ketidakselarasan imajinasi lingkungan</span></i><span style="font-weight: 400;">: meskipun Israel dan Palestina berbagi lingkungan fisik yang sama, keduanya tidak berbagi kerangka politik, infrastruktur, ataupun etika yang sama dalam mengelolanya. Dengan demikian, konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">“lingkungan bersama”</span></i><span style="font-weight: 400;"> lebih berfungsi sebagai alat retoris daripada realitas yang benar-benar dijalani, Ia justru menyamarkan ketimpangan kekuasaan alih-alih menyelesaikannya.</span><span style="font-weight: 400;"></span></p>


<p class=""></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2025/09/sampah-israel/">Kolonialisme Sampah Israel dan Otoritas ‘Semu’ Palestina</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1323</post-id>	</item>
		<item>
		<title>How Europe Underdeveloped Africa: Ihwal Nasib Afrika tanpa Imperialisme</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/06/how-europe/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=how-europe</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Daniel Aguira]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 13:59:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Imperialisme]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rodney, Walter. 1972. How Europe Underdeveloped Africa (Bagaimana Eropa Memundurkan Afrika). Penerbit Bogle-L-Ouverture.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/06/how-europe/">How Europe Underdeveloped Africa: Ihwal Nasib Afrika tanpa Imperialisme</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/06/how-europe-203x300.jpg?resize=203%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="203" height="300" class="size-medium wp-image-1225 alignright" />Rodney, Walter. 1972. </span><i><span style="font-weight: 400;">How Europe Underdeveloped Africa</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Bagaimana Eropa Memundurkan Afrika</span><span style="font-weight: 400;">)</span><span style="font-weight: 400;">. Penerbit Bogle-L-Ouverture.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti apakah bangsa-bangsa benua Afrika apabila mereka tidak pernah dijajah dan diperbudak?</span> <span style="font-weight: 400;">Pertanyaan </span><span style="font-weight: 400;">berbau </span><i><span style="font-weight: 400;">counterfactual thinking </span></i><span style="font-weight: 400;">atau andaian melampaui fakta</span><span style="font-weight: 400;"> ini adalah salah satu premis utama yang diajukan Walter Rodney dalam karyanya “</span><i><span style="font-weight: 400;">How Europe Underdeveloped Africa</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;"> (“Bagaimana Eropa Memundurkan Afrika”). Karena latar belakang Rodney adalah akademisi, tentu jawabannya bukanlah fantasi fiksi sains Pan-Afrikanisme ala Wakanda. Justru, buku ini adalah petualangan filosofis menyibakkan miskonsepsi besar yang selama ini menggelayuti pemahaman kita tentang Afrika, sekaligus diskursus sehari-hari tentang realita yang kita hidupi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karya filsuf dari Guyana setebal 416 halaman ini, bagi saya, adalah sebuah </span><i><span style="font-weight: 400;">magnum opus; s</span></i><span style="font-weight: 400;">ebuah mahakarya yang membuat Rodney layak disandingkan dengan pemikir neo-Marxist lain yang mengaitkan imperialisme dengan kapitalisme seperti Louis Althusser, Rosa Luxembourg, Jose Rizal, dan Theodor Adorno. Sebagai sebuah lensa pemikiran, </span><span style="font-weight: 400;">apa yang diajukan oleh Rodney di sini tidak saja terisolasi pada wilayah Afrika</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Ia dapat membentang luas</span><span style="font-weight: 400;">; sebuah kajian universal tentang opresi yang dapat membantu pembaca memahami fenomena eksploitasi maupun implikasi yang ada di dalamnya dalam berbagai tingkatan, </span><span style="font-weight: 400;">bahkan sebagai kritik situasi negara kita saat ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dibagi menjadi enam bab, semua bagian buku ini bertumpu pada bab pertama,</span><span style="font-weight: 400;"> yang merupakan dekonstruksi konsep kunci utama, </span><span style="font-weight: 400;">yakni pembangunan (</span><i><span style="font-weight: 400;">development</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan pemunduran (</span><i><span style="font-weight: 400;">underdevelopment</span></i><span style="font-weight: 400;">). </span><span style="font-weight: 400;">Pertautan keseluruhan buku ini menjadikan buku ini sesuatu yang layak untuk dibaca lebih dari sekali. Oleh karena itu, pemahfuman penuh atas premis yang diajukan Rodney di bab pertama penting untuk didapatkan sebelum melangkah pada petualangan ini.</span></p>
<p><div id="attachment_1231" style="width: 252px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1231" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/06/images-2024-03-18T094909.176-1.jpeg?resize=242%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="242" height="300" class="wp-image-1231 size-medium" /><p id="caption-attachment-1231" class="wp-caption-text">Walter Rodney</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">R</span><span style="font-weight: 400;">odney memulai karyanya dengan sebuah pertanyaan fundamental</span><span style="font-weight: 400;"> yang seringkali disepelekan oleh para akademisi sekalipun. </span><span style="font-weight: 400;">Apa itu pembangunan? Apa saja yang menjadi kriteria sebuah pembangunan yang baik?</span> <span style="font-weight: 400;">Siapa yang menentukan kalau sesuatu itu tergolong maju (</span><i><span style="font-weight: 400;">developed</span></i><span style="font-weight: 400;">) atau terbelakang (</span><i><span style="font-weight: 400;">underdeveloped)?</span></i><span style="font-weight: 400;"> Akan sangat mudah bagi kita untuk setuju bahwa pembangunan adalah tentang infrastruktur, pendidikan, medis, dan pemisahan manusia dari alam. Memang, sejak masa kanak-kanak, kita selalu dicekoki ajaran bahwa pembangunan itu adalah soal infrastruktur dan ekonomi. Banyak dari kita terpukau oleh narasi para politisi kita soal pembangunan. Saya pun harus mengakui bahwa saya jarang merefleksi isu ini sebelum membaca dekonstruksi Rodney.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rodney </span><span style="font-weight: 400;">menentang ide ini dengan </span><span style="font-weight: 400;">menekankan bahwa narasi pembangunan berbasis infrastruktur dan ekonomi barat adalah justifikasi yang dipakai para penjajah untuk mengeksploitasi Afrika</span><span style="font-weight: 400;"> (Rodney, 1972).</span><span style="font-weight: 400;"> Berdalih bahwa Afrika itu barbar dan tertinggal, penjajah memberangus budaya dan pengetahuan lokal yang ada, menggantikan dengan miliknya yang dianggap superior, lalu menyebutnya sebagai pembangunan.</span><span style="font-weight: 400;"> Mereka merasa, apa yang dilakukan itu adalah</span><i><span style="font-weight: 400;"> greater good</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau kebaikan lebih besar yang mengorbankan nyawa dan identitas banyak orang.</span> <span style="font-weight: 400;">Narasi seperti ini seperti sudah menjadi klise yang dipakai opresor untuk membenarkan ekspansi dan eksploitasi mereka. Theodor Herzl, bapak Zionisme, pernah melakukannya untuk membenarkan pengusiran warga Palestina (Said, 1979).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembangunan yang berorientasi barat itu, menurut Rodney, tak lain mengarah pada epistemisida, atau pemberangusan pengetahuan dan budaya yang selama ini telah berkembang di Afrika, sehingga mau tidak mau budaya dan pengetahuan Afrika digantikan produk Barat. </span><span style="font-weight: 400;">Hierarki sosial di Zimbabwe bahwa petani dan peternak domba berada pada kasta tertinggi lenyap, digantikan hierarki berdasarkan kepemilikan modal. Pembangunan kuil ibadah dengan memahat batu-batu raksasa telah digantikan oleh beton. Gereja sebagai unit produksi telah digantikan oleh pabrik. Identitas kultural Afrika hilang, digantikan budaya dominan yang mengklaim dirinya superior.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mau tak mau, pertanyaan menyeruak dalam benak saya. Apa landasan logis yang membenarkan bahwa arsitektur rumah ala Belgia lebih baik dari rumah-rumah tradisional Kongo? Apakah benar ajaran agama yang dibawa Placide Tempels dan Albert Schweitzer lebih baik daripada filosofi tribalisme seperti Yoruba, Maasai, dan Zulu? Apakah konsep Tuhan antropomorfis penuh amarah lebih baik daripada yang didasarkan pada tetua bijak di masa lalu? Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa sistem pengetahuan berbasis sains lebih baik daripada ontologi tribal? Ini juga menjadi refleksi yang saya gunakan untuk kembali mempertanyakan isu-isu agraria yang terjadi di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rodney ingin menekankan bahwa masuknya peradaban barat lewat kolonialisme hanya mencekik pertumbuhan peradaban Afrika, yang seharusnya tidak dianggap lebih rendah dari peradaban Barat. Budaya Afrika, menurut Rodney, tidaklah lebih rendah atau primitif. Ia hanya mengalami stagnansi karena cekikan penjajah dan hilangnya buruh karena perbudakan. </span><span style="font-weight: 400;">Hampir semua budaya itu sudah lenyap, digantikan dekadensi budaya Barat yang secara perlahan mengalami asimilasi dengan budaya lokal itu sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu pembangunan, Rodney mengangkat sebuah aspek pembangunan yang mampu mengukuhkan daya cengkeram penjajah: pendidikan. Yang diangkat Walter Rodney di sini mirip dengan pandangan Freire dalam “</span><i><span style="font-weight: 400;">Pendidikan Orang Tertindas.” </span></i><span style="font-weight: 400;">Keduanya melihat bahwa pendidikan berfungsi sebagai instrumen yang mengintegrasi peserta pendidikan dalam konformitas terhadap sistem yang diusung penguasa (Freire, 1970). </span><span style="font-weight: 400;">Rodney berargumen bahwa sistem pendidikan yang disuntikkan ke Afrika oleh penjajah hanyalah cara untuk melatih calon pekerja Afrika untuk dapat berkontribusi bagi kapitalis barat. Pendidikan Afrika yang sebelumnya berfokus pada subsistensi dan berdikari diri, menjadi sebuah ketergantungan pada simbiosis dengan sistem dan lembaga yang dibawa penjajah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendidikan yang seperti ini akhirnya memperkuat kuasa penjajah dalam relasi ini. Jutaan peserta didik yang tidak pernah diajarkan memiliki kemampuan bertahan hidup secara independen harus tunduk pada perintah penjajah (Rodney, 1972). Inilah salah satu faktor mengapa penjajah memiliki daya tawar kuat dalam mengatur bangsa-bangsa Afrika di luar daya militer mereka. Sebelumnya, seorang pemuda Afrika bebas menghabiskan waktunya bercocok tanam, membuat kerajinan tangan, berdansa, bercengkerama, atau berburu. Sekolah Barat merenggut otonomi itu dari mereka. Kehilangan peluang mengembangkan kemampuan artistik mereka, para pemuda Afrika akhirnya hanya bisa menjalankan perintah dari pemegang kuasa. Selain itu, segala kerja yang dilakukan bangsa-bangsa Afrika hanya menjadi transferensi kekayaan pada penjajah. Perbudakan bukan hanya pada tingkat pemaksaan kerja, tapi juga dependensi artifisial yang melenyapkan agensi bangsa-bangsa Afrika dalam menentukan arah hidup mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagi Rodney, ini adalah sebuah pemunduran (</span><i><span style="font-weight: 400;">underdevelopment) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang terikat pada proses sebaliknya di Eropa, yakni pembangunan ekonomi.</span><span style="font-weight: 400;"> Pembangunan tidak pernah bisa dilepaskan dari pemunduran. Ada hubungan dialektis di sini, di mana pemunduran akan menghasilkan pembangunan. Lewat transfer kekayaan yang dimungkinkan oleh perpindahan buruh dalam perdagangan budak dan perdagangan yang dikontrol Eropa, daya pembangunan berdikari Afrika menjadi lumpuh. </span><span style="font-weight: 400;">Jumlah tenaga kerja di Afrika mengalami penurunan drastis, sementara sumber daya yang ada tak dapat diolah karena dimonopoli Eropa yang kemudian menjadi semakin kaya. Pembangunan di benua Afrika akhirnya mengalami kemacetan artifisial bebarengan dengan penumpukan kekayaan di Eropa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Simbiosis parasitisme antara Eropa dan Afrika ini juga memungkinkan transisi dari feodalisme ke kapitalisme</span><span style="font-weight: 400;"> (Rodney, 1972). Tak hanya soal akumulasi kapital di Eropa, kebutuhan emas dalam jumlah besar yang ditambang di benua Amerika pada akhirnya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. </span><span style="font-weight: 400;">Ini menjadi awal salah satu perdagangan budak Afrika terbesar dalam sejarah, yakni </span><i><span style="font-weight: 400;">transatlantic slave trade.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Permintaan akan tenaga kerja dari Afrika meningkat drastis pada masa ini karena mereka akan dikirimkan ke benua Amerika untuk menjadi penambang.</span><span style="font-weight: 400;"> Eksodus tenaga kerja muda ini akhirnya menyisakan tetua di Afrika, memampetkan laju pertumbuhan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah semenjak dihapuskannya perbudakan di Inggris pada tahun 1807 dan Zimbabwe merengkuh kemerdekaannya pada 1980, kolonialisme dan perbudakan sudah lenyap? Dengan merenungkan tulisan Rodney, tentu jawabannya tidak. </span><span style="font-weight: 400;">Secara </span><i><span style="font-weight: 400;">de jure </span></i><span style="font-weight: 400;">atau status, perbudakan dan kolonialisme memang sudah tidak ada di Afrika. Tetapi, secara </span><i><span style="font-weight: 400;">de facto </span></i><span style="font-weight: 400;">atau praktiknya, ini masih terjadi. Sisa-sisanya pun tidak pernah lenyap.</span> <span style="font-weight: 400;">Relasi kuasa itu masih mengikat bangsa-bangsa Afrika, dalam bentuk ketergantungan ekonomi dan politik. </span><span style="font-weight: 400;">Dependensi artifisial itu sulit diputus. Afrika masih harus berkembang dan bertumbuh dalam arahan yang ditetapkan penjajah. Lihat saja apa yang terjadi sekarang di Sudan dan Kongo. Pembantaian Rwanda beberapa dekade silam dan banyak konflik Afrika lain juga merupakan buah turunan dari kolonialisme (Mattingly, 2011).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan sulit membayangkan seperti apa wajah Afrika apabila ia tak pernah dilindas oleh keserakahan imperialisme, apalagi dengan pikiran kita yang sudah dijajah oleh pendidikan ala barat. Saya juga tidak akan mengklaim bahwa jika Afrika dibiarkan berkembang, ia akan menjadi lebih baik daripada barat. Kerajaan Zagwe dan Abyssinia sudah menunjukkan banyak pertanda sifat eksploitatif dan ekstraktif. Namun mengutip perjalanan Sisyphus yang mendapatkan hukuman abadi dari Zeus dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">The Myth of Sisyphus </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Albert Camus, setidaknya memiliki agensi atas penderitaan itu lebih baik daripada tidak memiliki kendali atasnya. Jika pun eksploitasi terjadi tanpa imperialisme, setidaknya kekayaan itu (mungkin) bertahan di tanah sumbernya berada.</span></p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Camus, A. (1955). </span><i><span style="font-weight: 400;">The Myth of Sisyphus</span></i><span style="font-weight: 400;">. Vintage International.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Freire, P. (1970). </span><i><span style="font-weight: 400;">Pedagogy of the Oppressed</span></i><span style="font-weight: 400;">. Continuum.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mattingly, D. (2011). </span><i><span style="font-weight: 400;">Imperialism, Power, and Identity: Experiencing the Roman Empire</span></i><span style="font-weight: 400;">. Princeton University Press.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Said, E. (1979). </span><i><span style="font-weight: 400;">The Question of Palestine</span></i><span style="font-weight: 400;">. Vintage.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/06/how-europe/">How Europe Underdeveloped Africa: Ihwal Nasib Afrika tanpa Imperialisme</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1224</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mencari Jati Diri dalam Reruntuhan Masa Lalu: Arkeologi, Kolonialisme, dan Relasi Israel-Palestina</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/05/reruntuhan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=reruntuhan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Stanley Khu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 May 2024 21:01:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Imperialisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1216</guid>

					<description><![CDATA[<p>Abu El-Haj, Nadia. 2002. Facts on the Ground: Archaeological Practice and Territorial Self-Fashioning in Israeli Society (Fakta di Tanah: Praktik Arkeologi dan Pencitraan Teritorial di Masyarakat Israel). Penerbit Universitas Chicago.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/05/reruntuhan/">Mencari Jati Diri dalam Reruntuhan Masa Lalu: Arkeologi, Kolonialisme, dan Relasi Israel-Palestina</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/05/Cover-Buku-1.jpg?resize=195%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="195" height="300" class="size-medium wp-image-1217 alignright" />Abu El-Haj, Nadia. 2002. <em>Facts on the Ground: Archaeological Practice and Territorial Self-Fashioning in Israeli Society </em>(Fakta di Tanah: Praktik Arkeologi dan Pencitraan Teritorial di Masyarakat Israel)</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Penerbit Universitas Chicago.</span></p>
<hr />
<p><b>1</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimanakah manusia menggunakan arkeologi untuk menyokong mitos tentang asal-usul dan eksistensinya?</span><span style="font-weight: 400;"> Jika kita percaya bahwa “sejarah ditulis oleh pemenang”, maka menanyakan pertanyaan ini adalah sama halnya dengan menyelidiki peran sains dalam menopang klaim kepemilikan sekelompok manusia atas wilayah tertentu, terutama wilayah yang secara historis dicirikan oleh konflik teritorial.    </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks inilah buku Abu El-Haj, </span><i><span style="font-weight: 400;">Facts on the Ground: Archaeological Practice and Territorial Self-Fashioning in Israeli Society</span></i><span style="font-weight: 400;">, menjadi relevan. Dalam bukunya ini, ia </span><span style="font-weight: 400;">menelusuri kelindan antara arkeologi dengan proyek-proyek kolonial-nasional dalam rekonstruksi historis atas Palestina dan pendudukannya oleh Israel</span><span style="font-weight: 400;">. Dengan demikian, studinya berfokus pada relasi antara arkeologi dan masyarakat, dan efek-efek yang ditimbulkan oleh relasi ini. Bagi Abu El-Haj, arkeologi adalah sains yang unik karena kemampuannya dalam memproduksi fakta-fakta yang bisa dilihat atau objek-objek yang menjelma (</span><i><span style="font-weight: 400;">embodied</span></i><span style="font-weight: 400;">); ini adalah fungsi yang tentunya tidak bisa dijalankan oleh, katakanlah, filologi atau teologi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan menyajikan secara jelas bagaimana contoh-contoh spesifik dari produksi arkeologis – proyek-proyek survei dan ekskavasi, organisasi museum, presentasi tur wisata – dapat menghasilkan sejarah, membenarkan praktik sosial, dan menentukan kebijakan politik seperti apa yang diambil negara, </span><span style="font-weight: 400;">secara khusus studinya hendak menunjukkan tata-cara sains dalam menghasilkan fenomena atau fakta yang, pada gilirannya, menentukan apa-apa saja yang dianggap benar atau nyata, yang selanjutnya akan dipakai oleh otoritas sebagai legitimasi atas aneka praktik dan kebijakan diskriminatif mereka.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><b>2</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab satu dan dua menggambarkan ketenaran ilmu arkeologi dalam masyarakat Israel (yang akhirnya mendapat julukan ‘hobi nasional’) serta koneksinya dengan kolonialisme. Alkisah, selama dekade-dekade awal berdirinya negara Israel, arkeologi perlahan-lahan melampaui batasan sempit dari disiplin akademiknya. Tidak lagi sekadar dibayangkan secara teknis sebagai ilmu tentang batu, tulang, atau fosil, arkeologi juga merangkul sentimen publik dan imajinasi populer tentang jati diri bangsa. Kita bisa mengontraskan ini dengan eksistensi arkeologi di Indonesia. Misalnya, dari hasil berselancar di dunia maya, saya dapati bahwa studi arkeologi hanya ditawarkan oleh enam PTN di Indonesia, sementara Israel sendiri memiliki lima prodi arkeologi. Enam tentu lebih besar dari lima, tapi jika kita menimbang perbedaan luas geografis, angka ini bisa dikatakan sangat kecil. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa di Israel, arkeologi adalah medan utama bagi ketahanan identitas nasional. </span></p>
<p><div id="attachment_1218" style="width: 259px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1218" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/05/Nadia_Abu_El_Haj.png?resize=249%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="249" height="300" class="wp-image-1218 size-medium" /><p id="caption-attachment-1218" class="wp-caption-text">Nadia Abu El-Haj</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai objek studi, usaha pertama untuk mengkaji Palestina secara arkeologis dilakukan lewat Palestine Exploration Fund, yang didirikan di London pada bulan Mei 1865, dengan survei perdana yang dilakukan pada 1871</span><span style="font-weight: 400;">. Survei ini pertama-tama melibatkan proses pematokan batas-batas pasti dari Palestina sebagai sebuah kategori legal atau ‘kartografi’. Dalam hal ini, kartografi menyajikan Palestina sebagai sebuah tempat historis yang konkret dan koheren, yang bisa dikenali dengan segera di peta-peta modern dan terbedakan dengan jelas dari tempat lain. Tapi, karena survei ini baru terlaksana melalui kerjasama dengan militer Inggris (yang saat itu menguasai mayoritas Timur Tengah), </span><span style="font-weight: 400;">proyek arkeologi di Palestina sejak semula memang mengindikasikan kelindan antara sains dan kolonialisme.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelak, </span><span style="font-weight: 400;">survei kartografis inilah yang juga memungkinkan Inggris untuk menjanjikan sebuah ‘Palestina’ yang konkret dan tergambar jelas di peta sebagai rumah bagi warga Yahudi seluruh dunia, sebagaimana terkandung dalam Deklarasi Balfour pada 1917.</span><span style="font-weight: 400;"> Dengan demikian, survei arkeologis atas Palestina tidaklah sekadar membantu pemahaman atas tempat kelahiran Injil secara saintifik, tetapi juga mengintervensi dunia sosial-politik dengan cara yang imajinatif dan konkret. Hal ini bersifat ‘imajinatif’ karena melaluinya kaum Zionis mampu membayangkan secara pasti tanah yang mereka klaim telah dijanjikan kepada mereka sejak era Moses, dan bersifat ‘konkret’ karena orang Palestina sampai sekarang mengalami konsekuensi fisik-material dari survei yang dilakukan dua abad silam ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab tiga dan empat berargumen bahwa dalam proses memetakan dan menamakan ulang objek-objek dan tempat-tempat dalam lanskap Palestina, pemerintah Israel tidak hanya menghubungkan semua objek dan tempat ini dengan narasi biblikal, tetapi juga menulis ulang sejarah Palestina melalui pembayangan ihwal sebuah komunitas terbayang yang merentang dari masa kini sampai masa silam yang jaya (misalnya: periode David atau Herod). Pemetaan dan penamaan ulang ini mentransformasi </span><i><span style="font-weight: 400;">artefak</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">fakta</span></i><span style="font-weight: 400;">, yang melaluinya sebuah narasi yang kohesif dan historis tentang Palestina (dan klaim Israel terhadapnya) dapat mengambil bentuk yang empiris dan faktual – sesuatu yang disebut Abu El-Haj sebagai proses pengumpulan </span><i><span style="font-weight: 400;">arte(fakta). </span></i><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, </span><span style="font-weight: 400;">arkeologi di Israel bisa dibaca sebagai sebuah strategi epistemologis untuk menghadirkan Palestina sebagai rumah eksklusif bangsa Yahudi, baik secara material (melalui penentuan lokasi spesifiknya pada peta) maupun linguistik (melalui penamaan ulang atas hal-ihwal di dalamnya ke dalam istilah Yahudi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab lima dan enam menyoroti problema dari upaya politis untuk menyamakan temuan artefak di Palestina dengan kelompok etnik tertentu (baca: Yahudi). Penyamaan ini berisiko mengabaikan aspek-aspek dan momen-momen tertentu dalam sejarah untuk kemudian secara obsesif berfokus semata pada satu argumen tunggal (yakni: historisitas negara Israel), yang pada gilirannya bakal menuntun pada sirkularitas dalam argumen historis. Dengan kata lain, temuan-temuan arkeologis hampir pasti akan ditafsirkan menurut bias atau prakonsepsi yang telah dianut sebelumnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, </span><span style="font-weight: 400;">dengan merujuk pada sebuah periode abad-abad silam tertentu sebagai ‘periode Israel’, semua artefak yang ditemukan dalam cakupan periodik ini – puing-puing atap rumah, serpihan keramik, pecahan gerabah, dst. – bisa secara ideologis dan semantik dihubungkan dengan eksistensi Israel saat ini</span><span style="font-weight: 400;">. Kontraskan kekonstanan istilah ‘Israel’ ini dengan, misalnya, ‘Indonesia’, yang pastinya tidak eksis di zaman Sriwijaya atau Majapahit. Dengan kata lain, terlepas dari seruan Soekarno tentang kesinambungan historis antara Republik Indonesia dengan kerajaan-kerajaan Nusantara masa lampau, istilah ‘Indonesia’ sendiri telah menyibak modernitas dari republik. Di sisi lain, bagi otoritas Israel, negara kontemporer mereka dan era dua kerajaan dari Zaman Perunggu benar-benar dibayangkan sebagai satu entitas yang sama, sebuah situasi di mana apa yang </span><i><span style="font-weight: 400;">arkeologis</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mitologis</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkelindan tanpa bisa dibedakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab tujuh dan delapan menunjukkan bagaimana ketumpangtindihan dalam ranah-ranah praktik – legal, militer, politik, akademik (arkeologi, arsitektur, planologi, desain museum) – telah merajut kesejarahan dengan cara yang amat hegemonik dalam relasi Israel-Palestina. Satu contoh utamanya adalah penghancuran Maghariba Quarter (Harat al-Maghariba) pada 1967.</span><span style="font-weight: 400;"> Pertama kali didirikan pada 1193 oleh Malik al-Afdal, putra Saladin, situs ini difungsikan sebagai tanah wakaf bagi para sarjana dan peziarah Afrika Utara (</span><i><span style="font-weight: 400;">al-maghreb </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam bahasa Arab). Enam ratusan orang dipaksa mengungsi dan ratusan rumah dihancurkan menjadi sebuah lapangan. Alasan penghancuran situs yang telah berumur lebih dari tujuh abad ini adalah semata-mata karena letaknya yang bersebelahan dengan Tembok Barat (Tembok Ratapan), yang secara simbolik tentu bertolak belakang dengan autentisitas Yahudi yang dipancarkan oleh tembok ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain dari ketumpangtindihan ini adalah fakta bahwa semua situs arkeologis di Israel yang berhubungan dengan praktik religius dan religiusitas Yudaisme, semisal Tembok Barat dan terowongan yang terhubung dengannya, dikelola tidak oleh departemen/balai arkeologi, tetapi berada langsung di bawah kontrol kementerian agama. Dalam hal ini, sebuah situs tidak hanya dipahami sebagai warisan nasional dalam pengertiannya yang sekuler (baca: milik semua warga negara dengan KTP Israel), tapi utamanya, sebagai ruang religius yang eksklusif bagi orang Yahudi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bab sembilan dan sepuluh menuturkan nasib kerja-kerja arkeologi di Israel pasca perjanjian Oslo tahun 1993. Menurut perjanjian ini, pemerintah Israel harus menarik diri dari kota-kota seperti Jericho dan Gaza yang terletak di wilayah Tepi Barat dan menyerahkan kontrolnya kepada pemerintah Palestina. Satu pertanyaan yang segera muncul adalah: bagaimana nasib ekskavasi atas peninggalan arkeologis Israel kuno yang situs-situsnya kebetulan berada di wilayah ini? Apakah pemerintah Israel masih berhak melanjutkan upaya mereka mencari jati diri di reruntuhan masa lalu? Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah: bagaimana nasib artefak-artefak dari Tepi Barat yang selama puluhan tahun terakhir telah digali dan dipindahkan oleh pemerintah Israel ke museum-museum mereka? Apakah semua artefak ini harus dikembalikan kepada bangsa Palestina? Ataukah Israel berhak menyimpannya karena mereka adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">pewaris sah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari peninggalan purbakala ini? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tahu bahwa Perjanjian Oslo berumur pendek, dan cukup masuk akal untuk membayangkan peran arkeologi dalam berakhirnya perjanjian ini. </span><span style="font-weight: 400;">Melalui usaha gigihnya mengumpulkan dan membela klaim atas kepemilikan </span><i><span style="font-weight: 400;">arte(fakta),</span></i><span style="font-weight: 400;"> kita bisa menyimpulkan bahwa Palestina tidak sekadar dikolonisasi oleh Israel secara teritorial, tapi juga pada level makna.</span><span style="font-weight: 400;"> Dari sini, dengan nada yang pesimis, kita bisa menyimpulkan lebih lanjut bahwa </span><span style="font-weight: 400;">arkeologi telah berperan dalam menanamkan sebuah gagasan ihwal ‘Israel Raya’, yang membayangkan semua tanah yang di bawahnya terkandung objek-objek arkeologis yang terasosiasi dengan ‘Israel Kuno’ sebagai bagian dari negara Israel, dan yang tidak segan-segan dalam menerapkan genosida demi mencapai gagasan ini.</span></p>
<p><b>3</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kontribusi utama studi ini adalah caranya mempersoalkan penciptaan negara Israel </span><i><span style="font-weight: 400;">modern</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan, secara umum, isu tentang bagaimana paradigma historis yang lahir dari posisi ideologis tertentu menuntun penerapan studi-studi saintifik sekaligus terjelmakan secara fisik lewat studi-studi ini. Istilah ‘modern’ sengaja dipakai di sini, karena bagi Abu El-Haj (mengikuti Anderson), nasionalisme pada hakikatnya adalah sebuah fenomena yang artifisial dan dibayang-bayangkan. Terutama dalam kasus negara Israel, nasionalismenya pada dasarnya hanya setua proyek kolonial Zionis yang baru lahir pada akhir abad ke-19 di Eropa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, </span><span style="font-weight: 400;">studi Abu El-Haj adalah perihal hakikat politis dari sains, perihal bagaimana sains dapat beroperasi sebagai metafora bagi nilai-nilai nasional dan politis tertentu.</span><span style="font-weight: 400;"> Ini tidak hanya membuktikan kapasitas sains untuk terlibat dalam politik, tetapi juga fungsinya dalam memelihara atau bahkan memajukan kebijakan-kebijakan kolonialis ke level berikutnya. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam konteks Israel, boleh dibilang bahwa sains seperti arkeologi telah berperan dalam mengimbuhi keyakinan pada sejarah dengan semacam aura religius, di mana narasi historis tidak lagi sekadar diyakini, tapi, lebih tepatnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">diimani</span></i><span style="font-weight: 400;">, sebagaimana orang Israel mengimani narasi biblikal mereka.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/05/reruntuhan/">Mencari Jati Diri dalam Reruntuhan Masa Lalu: Arkeologi, Kolonialisme, dan Relasi Israel-Palestina</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1216</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan dan Kehancuran Politik Dunia Ketiga</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/10/dunia-ketiga/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dunia-ketiga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M. Taufik Poli]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Oct 2023 20:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Imperialisme]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1167</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prashad, Vijay. 2007. The Darker Nations: A People’s History of the Third World (Bangsa-bangsa yang Gelap: Sejarah Rakyat di Dunia Ketiga). The New Press.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/10/dunia-ketiga/">Kebangkitan dan Kehancuran Politik Dunia Ketiga</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/10/The-Darker-Nations.jpg?resize=191%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="191" height="300" class="size-medium wp-image-1168 alignright" />Prashad, Vijay. 2007. </span><i><span style="font-weight: 400;">The Darker Nations: A People’s History of the Third World </span></i><span style="font-weight: 400;">(Bangsa-bangsa yang Gelap: Sejarah Rakyat di Dunia Ketiga)</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">The</span> <span style="font-weight: 400;">New Press.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Selama ini, kita cenderung melihat pertarungan geopolitik pada masa Perang Dingin semata hanya pertarungan antara dua entitas kekuatan yang setara, yaitu blok kapitalis (Amerika Serikat dan Eropa Barat) melawan blok komunis (Uni Soviet dan Eropa Timur)</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Pandangan</span><span style="font-weight: 400;"> seperti </span><span style="font-weight: 400;">ini</span><span style="font-weight: 400;"> telah menciptakan pemahaman yang simplistik dalam menganalisis dinamika petarungan global pada masa Perang Dingin serta </span><span style="font-weight: 400;">mengabaikan signifikansi dari artikulasi politik negara Dunia Ketiga yang ingin terbebas dari bipolarisme tatanan dunia</span><span style="font-weight: 400;"> yang disebabkan oleh pertarungan blok kapitalis dan komunis </span><span style="font-weight: 400;">tersebut.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana yang dijelaskan oleh Vijay Prashad dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">“The Darker Nations: A People’s History of the Third World” </span></i><span style="font-weight: 400;">(2007), pasca 1945, Uni Soviet mengalami kerugian yang sangat besar akibat keberhasilannya memukul balik invasi rezim fasisme Jerman. Perang melawan fasisme Jerman telah mengorbankan 30 juta jiwa warga negara Uni Soviet, serta telah menghancurkan daya tahan ekonomi dan politik negara tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat hanya mengalami kerugian kecil, disebabkan oleh letaknya yang tidak terjangkau oleh invasi fasisme Jerman dengan jumlah korban jiwa sekitar 400 ribu tentara, serta daya tahan struktur ekonomi dan politik Amerika Serikat yang relatif lebih kokoh dibandung Uni Soviet. Situasi seperti ini memunculkan dilema bagi artikulasi politik negara Dunia Ketiga.</span></p>
<p><b>Dilema Perang Dingin</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Negara-negara Dunia Ketiga—yaitu negara-negara bekas jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang baru saja merdeka dan sedang menjalankan proyek dekolonisasi—mengalami dilema berhadapan dengan bipolarisme Perang Dingin. </span><span style="font-weight: 400;">Di satu sisi</span><span style="font-weight: 400;">, apabila kekuatan negara Dunia Ketiga mengharapkan dukungan Uni Soviet, </span><span style="font-weight: 400;">kondisi Uni Soviet pasca Perang Dunia Dua sedang mengalami kehancuran ekonomi maupun politik yang luar biasa</span><span style="font-weight: 400;">, sehingga mendorong Uni Soviet untuk lebih memprioritaskan perbaikan internal dan membangun solidaritas di kawasan Eropa Timur daripada berkonsentrasi di luar kawasan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Vijay Prashad, Uni Soviet sendiri pada faktanya tidak terlalu menaruh atensi terhadap gerakan pembebasan nasional di negara Dunia Ketiga, seperti yang terlihat dalam pertemuan Kominform 1947 yang dipimpin Andrei Zhdanov, dimana ia sendiri hanya membahas secara singkat mengenai gerakan pembebasan nasional di negara Dunia Ketiga. </span></p>
<p><div id="attachment_1169" style="width: 186px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1169" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/10/Prashad.jpg?resize=176%2C205&#038;ssl=1" alt="" width="176" height="205" class="wp-image-1169 size-full" /><p id="caption-attachment-1169" class="wp-caption-text">Vijay Prashad</p></div></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara </span><span style="font-weight: 400;">di sisi yang lain, blok kapitalis liberal tetap berkepentingan untuk melakukan kontrol dan dominasi ekonomi untuk melanjutkan keberlangsungan proses kapitalisme dan imperialisme</span><span style="font-weight: 400;">. Merdekanya negeri-negeri jajahan tidak menandakan berakhirnya proses penghisapan keuntungan ekonomi dan ketidaksetaraan politik. Kondisi struktural ekonomi-politik ini membuat negara Dunia Ketiga akan menjadi objek eksploitasi kekuatan blok kapitalis liberal, sehingga tidak memungkinkan bagi negara Dunia Ketiga untuk menaruh harapan kemerdekaan politik dan ekonomi terhadapnya. Dalam kondisi ini, bersikap netral terhadap pertarungan antar blok politik dunia bukanlah posisi yang menguntungkan bagi negara Dunia Ketiga, apalagi dalam pandangan geopolitik blok kapitalis liberal seperti Amerika Serikat yang tidak mengenal prinsip netralitas. Sehingga, bagi Amerika Serikat, lebih baik bergabung dalam blok kapitalis liberal atau menganggap negara Dunia Ketiga sebagai musuh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dilema ini selanjutnya telah mengantarkan negara Dunia Ketiga pada agensi politik internasional untuk menciptakan blok politik baru</span><span style="font-weight: 400;">, yaitu politik Dunia Ketiga, yang menentang bipolarisme Barat versus Timur. </span></p>
<p><b>Asal-usul Kemunculan Politik Dunia Ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bagian pertama buku ini, Vijay Prashad berupaya melacak asal-usul dari kelahiran politik dunia ketiga. </span><span style="font-weight: 400;">Istilah Dunia Ketiga sendiri dipopulerkan oleh Alfred Sauvy pada 1952, yang membagi tatanan dunia kedalam Dunia Pertama, Kedua, dan Ketiga.</span><span style="font-weight: 400;"> Dunia Pertama merujuk pada Amerika Serikat dan Eropa Barat, yang memilih jalur kapitalisme pasar sebagai basis kekuatan ekonomi-politiknya. Sedangkan Dunia Kedua merujuk pada Uni Soviet dan sekutu negara-negara sosialis yang berupaya melawan kapitalisme pasar untuk membangun perencanaan ekonomi yang sosialis. Sedangkan </span><span style="font-weight: 400;">Dunia Ketiga merupakan kekuatan negara-negara yang mewakili 2/3 mayoritas populasi dunia yang pernah mengalami proses kolonialisme dan sedang menempuh proses dekolonisasi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Vijay Prashad pada bab pertama menulis, poin inti dari </span><i><span style="font-weight: 400;">platform </span></i><span style="font-weight: 400;">Dunia Ketiga yaitu kemerdekaan politik, relasi internasional tanpa kekerasan, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai institusi penting untuk penyemaian keadilan skala planet. Baginya, </span><span style="font-weight: 400;">Dunia Ketiga bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah proyek politik yang hendak diwujudkan.</span><span style="font-weight: 400;"> Negara-negara di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin menuntut hal-hal prinsipil dalam kehidupan, seperti tanah, kedamaian, dan kebebasan. Untuk mencapai ini, kekuatan rakyat di Dunia Ketiga mengkonsolidasikan diri dalam ragam bentuk organisasi dan gerakan perlawanan pembebasan nasional. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tokoh-tokoh pembebasan nasional seperti Soekarno di Indonesia, Jawaharlal Nehru di India, Gamal Abdul Nasser di Mesir, Kwame Nkrumah di Ghana, serta Fidel Castro di Cuba, sangat berperan penting bagi pembangunan politik Dunia Keti</span><span style="font-weight: 400;">ga. Mereka mengawinkan nasionalisme progresif yang anti-kolonial, dengan semangat solidaritas internasional, sehingga bagi Vijay Prashad, corak nasionalisme Dunia Ketiga adalah nasionalisme-internasionalis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Politik Dunia Ketiga merupakan artikulasi politik yang hendak melihat sejarah masa lalu sebagai sejarah perjuangan melawan kolonialisme, dan hendak menatap masa depan sebagai dunia yang adil, setara, dan bebas dari dominasi. Pencarian model artikulasi politik Dunia Ketiga ini telah berlangsung sejak 1928 melalui perhelatan </span><i><span style="font-weight: 400;">League Against Imperialism </span></i><span style="font-weight: 400;">yang diadakan di Brussel, Belgia. Kongres ini dihadiri oleh partai komunis dan sosialis, termasuk gerakan pembebasan nasional, untuk membangun solidaritas internasional melawan imperialisme. Sebagaimana diutarakan Vijay Prashad pada bab dua, pertemuan di Brussel memainkan peran penting bagi konsolidasi ide Dunia Ketiga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Titik kulminasi politik Dunia Ketiga, bagi Vijay Prashad, adalah Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung (bab ketiga), yang dihadiri tokoh-tokoh penting seperti Ho Chi Min, U Nu, dan Zhou En Lai. Soekarno dalam pidatonya di KAA telah mengingatkan kepada para pemimpin negara Asia-Afrika, bahwa imperialisme masih berlangsung dengan bentuk yang baru, yaitu melalui kontrol ekonomi dan intelektual, sehingga membuatnya sulit menyerah. Menurut Vijay Prashad, apa yang signifikan dari KAA adalah sebuah kepercayaan bahwa 2/3 rakyat dunia memiliki hak untuk membangun kembali tanah air mereka berdasarkan gambaran mereka sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melalui KAA, pemimpin negara Asia-Afrika merumuskan proyek politik progresif, yaitu pelucutan senjata untuk perdamian dunia, perlawanan anti-kolonialisme dan imperialisme tanpa kekerasan, kooperasi ekonomi hingga kooperasi budaya. Hal inilah yang dikenal sebagai “Semangat Bandung”, yaitu upaya mengambil ruang dalam tatanan global sebagai pemain (bukan penonton) untuk mewujudkan hak-hak setiap bangsa bekas jajahan, yang didasari pada sikap anti terhadap suboordinasi politik, ekonomi, dan kebudayaan. Akan tetapi, kemunculan gerakan-gerakan reaksioner berbasis etnis, klan, agama, militer beserta tekanan dan intervensi politik negara kapitalis liberal, membuat kekuatan politik Dunia Ketiga berujung pada kehancuran.</span></p>
<p><b>Kontradiksi Internal dan Eksternal: Kehancuran Politik Dunia Ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum mengalami kehancuran, politik Dunia Ketiga telah berhasil dituangkan dengan baik melalui berbagai momentum solidaritas internasional melawan imperialisme. Seperti di Kairo, Mesir pada 1961, diadakan Konferensi Perempuan Asia-Afrika yang menekankan pentingnya perjuangan perempuan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">platform </span></i><span style="font-weight: 400;">politik Dunia Ketiga (bab keempat), Konferensi Gerakan Non-Blok di Belgrade, Serbia tahun 1961, yang menuntut adanya pelucutan senjata nuklir secara global serta upaya mendemokratisasikan PPB (bab ketujuh). Sementara itu, pada tahun 1966 di Havana, Cuba, politik Dunia Ketiga terartikulasi dalam Konferensi Trikontinental yang melibatkan Afrika, Asia, dan Amerika Latin, dimana terjadi perdebatan tentang strategi perlawanan yang efektif terhadap imperialisme (bab kedelapan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun demikian, </span><span style="font-weight: 400;">sebagaimana digambarkan dalam bagian dua buku ini, eksperimentasi politik Dunia Ketiga sering mengalami kontradiksi internalnya. Hal itu karena negara Dunia Ketiga sering terjebak pada otoritarianisme dan ketidakmampuan dalam perencanaan pembangunan sosialis.</span><span style="font-weight: 400;"> Misalnya, sosialisme tergesa-gesa yang dilakukan oleh Ahmed Ben Bella, presiden Aljazair, bersama partainya Front de Liberation Nationale (FLN) setelah berhasil mengusir Perancis pada tahun 1962. Ben Bella dan FLN berupaya mensentralisasi kekuasaan melalui sistem satu partai untuk membuat proses produksi tersosialisasi. Sosialisme yang dipaksakan ini menurut Vijay Prashad terjebak pada birokratisme pembangunan, sehingga, atas nama sosialisme, negara melakukan dominasi terhadap rakyatnya, dan kelas-kelas borjuis hingga sekutu militernya memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan mereka (bab sembilan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi yang lain, munculnya kekuatan-kekuatan reaksioner bebasis ras, etnis, klan, agama, serta militer di berbagai negara Dunia Ketiga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh politik Dunia Ketiga ketika menerapkan pembangunan bercorak progresif. Salah satu yang disoroti Vijay Prashad adalah proses asasinasi terhadap kekuatan komunis dan nasionalis progresif di Indonesia. Misalnya, manuver militer dan elemen sayap kanan Indonesia dalam pemberontakan PRRI/Permesta 1957-58 di Sumatera dan Sulawesi yang berupaya membangun teritori otonom di luar penguasaan pemerintahan Soekarno hingga berujung pada penangkapan terhadap kader-kader PKI (Partai Komunis Indonesia). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Soekarno berupaya melakukan dekolonisasi sebagai artikulasi politik Dunia Ketiga. Salah satunya ialah dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Proses ini dilakukan baik oleh militer maupun serikat-serikat buruh PKI, sehingga memperuncing konflik antara mereka. Puncaknya berujung pada pembantaian massal 1965-66 terhadap anggota maupun simpatisan PKI beserta elemen nasionalis progresif yang dilakukan oleh militer sayap kanan dan kekuatan sosial reaksioner. Konflik ini telah berhasil mendorong Soekarno jatuh dari kekuasaan digantikan oleh figur militer Soeharto yang dekat dan disukai oleh negara kapitalis liberal seperti Amerika Serikat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, kontradiksi eksternal yang harus dihadapi oleh negara Dunia Ketiga adalah proses ekspansi kapital lintas batas yang telah menekan struktur ekonomi-politik negara Dunia Ketiga sebagai lahan subur untuk akumulasi kapital internasional.</span><span style="font-weight: 400;"> Bagi Vijay Prashad, cara ini berlangsung melalui proses globalisasi neoliberal yang terutama dipimpin oleh lembaga keuangan internasional yaitu Internasional Monetary Fund (IMF) (bab enambelas). Vijay Prashad dalam buku ini berkesimpulan, hadirnya kekuatan reaksioner dan proses globalisasi neoliberal menjadi faktor penting bagi runtuhnya kekuatan politik Negara Dunia Ketiga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kekuatan buku ini terletak pada analisis materialisme-historis dinamika poltik Dunia Ketiga sebagai hasil dari pertarungan sosial yang melibatkan ragam kekuatan sosial. Walaupun demikian, buku ini terlalu fokus menjelaskan agensi pemimpin negara Dunia Ketiga dan tidak menaruh porsi lebih terhadap kekuatan rakyat di negara Dunia Ketiga. Akan tetapi, buku ini sangat berguna untuk merefleksikan kekuatan negara Dunia Ketiga hari ini dalam pusaran modal lintas batas.</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/10/dunia-ketiga/">Kebangkitan dan Kehancuran Politik Dunia Ketiga</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1167</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
