<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>filsafat - The Suryakanta</title>
	<atom:link href="https://thesuryakanta.com/category/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Oct 2024 12:39:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2022/04/cropped-Suryakanta-Profile-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>filsafat - The Suryakanta</title>
	<link>https://thesuryakanta.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191672303</site>	<item>
		<title>Malam-Malam Janggal dalam Filsafat dan Budaya Populer</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2024/10/malam/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=malam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Daniel Aguira]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Oct 2024 12:39:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1276</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bronfen, Elisabeth. 2013. Night Passages: Philosophy, Literature, and Film (Melintas Gelap: Filsafat, Sastra, dan Film). Penerbit Universitas Columbia.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/10/malam/">Malam-Malam Janggal dalam Filsafat dan Budaya Populer</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/10/17416262.jpg?resize=200%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-1277 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/10/17416262.jpg?resize=200%2C300&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/10/17416262.jpg?w=267&amp;ssl=1 267w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" />Bronfen, Elisabeth. 2013. </span><i><span style="font-weight: 400;">Night Passages: Philosophy, Literature, and Film </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><span style="font-weight: 400;">Melintas Gelap: Filsafat, Sastra, dan Film</span><span style="font-weight: 400;">). Penerbit Universitas Columbia.</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Malam menempati ruang spesial dalam karya sastra dan seni.</span><span style="font-weight: 400;"> Kerap, malam dijadikan analogi untuk mengekspresikan kondisi getir, sebagai latar bagi ratapan eksistensialis para pujangga dalam puisi-puisi klasik Eropa, raungan kematian dalam lukisan ekspresionisme, rancu Salvador Dali-Luis Bunuel, menampung rintihan korban pembunuh berantai, dan melingkupi tawa kuntilanak dalam berbagai film horor Indonesia.</span><span style="font-weight: 400;"> Malam adalah singgasana bagi ketiadaan tatanan dan imoralitas; alegori bagi pesimisme, disorientasi, dan depresi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, faktor apa yang membuat malam begitu lekat dengan konsep-konsep di atas? Ini adalah salah satu gagasan utama yang ingin dikaji profesor feminisme dan seni dari Zurich University, Elisabeth Bronfen melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">Night Passages: Philosophy, Literature, and Film </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Melintas Gelap: Filsafat, Sastra, dan Film</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span> <span style="font-weight: 400;">Dengan menganalisis berbagai teori filsafat dan sastra seperti psikoanalisis dan </span><i><span style="font-weight: 400;">mythopoiesis</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pembentukan mitos), Bronfen melakukan pengamatan mendalam terhadap fenomena sosial mengenai malam dalam berbagai karya sastra dan seni di dunia. </span><span style="font-weight: 400;">Bagi Bronfen, karya sastra dan seni tak lain </span><i><span style="font-weight: 400;">mimesis </span></i><span style="font-weight: 400;">atau tiruan dari realitas, sehingga kajian dalam buku ini tidak hanya berpaku pada fiksi, tetapi juga kehidupan sehari-hari manusia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagi saya yang sering melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">nocturnal flaneur </span></i><span style="font-weight: 400;">atau jalan malam tanpa arah di kota-kota yang saya sambangi seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Malang, buku ini mencelikkan mata untuk menemukan lapisan-lapisan baru kehidupan malam melalui cakrawala lebih luas. Misalnya, saya meyakini bahwa terdapat berbagai dimensi sosial yang bisa dipelajari dari kehidupan para penghuni malam seperti tukang parkir, pekerja lembur, pekerja seks, pekerja diskotek, pedagang angkringan, pengais sampah, dan banyak lainnya. Buku ini menyibakkan konsepsi baru tentang simbol-simbol yang lekat dengan malam dan membabat segala stereotip negatif tentangnya.</span></p>
<p><b>Gelap sebagai pencerahan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini dibuka dengan bab pertama berjudul “</span><i><span style="font-weight: 400;">Cosmogonies of the Night” </span></i><span style="font-weight: 400;">yang</span> <span style="font-weight: 400;">membahas tentang kelahiran narasi tentang malam. Melalui kajian </span><i><span style="font-weight: 400;">mythopoiesis</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap </span><i><span style="font-weight: 400;">Theogony</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Hesiod, Bronfen menawarkan proposisi tentang dua emosi terkuat yang mengendalikan manusia: kecemasan dan rasa takut. </span><span style="font-weight: 400;">Bagi Hans Blumenberg, ketidaktahuan merupakan penyulut terbesar rasa takut seseorang. Ia menyatakan, bagi masyarakat primordial, malam mengandung ketidaktahuan yang dianggap ancaman atas eksistensi manusia. </span><span style="font-weight: 400;">Misalnya, ancaman dari predator buas yang menyelimuti insting bertahan hidup masyarakat di masa lalu, lantaran hewan-hewan biasanya keluar di malam hari saat gelap.</span><span style="font-weight: 400;"> Namun ternyata, ketakutan terhadap kemunculan predator buas tidak pernah begitu saja lenyap. </span><span style="font-weight: 400;">Bahkan, ketika kehidupan modern telah menawarkan pencahayaan artifisial yang menerangi malam hari, asosiasi malam sebagai wujud ketakutan masih menjadi perspektif yang menubuh di keseharian kita. Pertanyaannya, mengapa pandangan tersebut tidak berubah? </span></p>
<div id="attachment_1278" style="width: 239px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1278" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2024/10/800px-Roemerberggespraeche-2013-10-elisabeth-bronfen-ffm-372.jpg?resize=229%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="229" height="300" class="wp-image-1278 size-medium" /><p id="caption-attachment-1278" class="wp-caption-text">Elisabeth Bronfen</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Meski sering dianggap ancaman, malam sebetulnya tak melulu menyulut rasa takut. Misalnya, terdapat berbagai gagasan tentang malam yang memantik keberanian dalam revolusi-revolusi besar, baik dalam karya seni maupun keseharian kita. Voltaire misalnya, melalui</span><i><span style="font-weight: 400;"> Historical Praise of Reason (Pujian Historis pada Nalar), </span></i><span style="font-weight: 400;">menyatakan bahwa di tengah masyarakat dengan berbagai fakta sosial dan sejarah banyak disembunyikan oleh penguasa, penerimaan mereka akan ketidaktahuan justru yang akan membawa pengetahuan. Dengan berbagai alegori dan alusi–seperti digaungkan Plato dalam Alegori Gua–gagasan pencerahan (</span><i><span style="font-weight: 400;">enlightenment</span></i><span style="font-weight: 400;">) dalam filsafat digambarkan sebagai perjalanan dari gelap menuju terang. Sebagai wadah mengentaskan diri dari gelap, situasi malam dianggap fundamental untuk membicarakan berbagai perlawanan atas kesewenang-wenangan penguasa: misalnya dialog revolusioner di cafe </span><i><span style="font-weight: 400;">Les Deux Magots</span></i><span style="font-weight: 400;">, gerilya-gerilya Fidel Castro, atau bahkan Peristiwa Rengasdengklok di Indonesia– berbagai peristiwa sejarah yang dilangsungkan sepanjang malam. Dalam hal ini, saya berpendapat bagaimana malam berperan sebagai kanal yang mewadahi terwujudnya berbagai peristiwa sosial politik, bahkan membawa masyarakat pada pencerahan baru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><b>Tentang Gelap dan Feminitas</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab selanjutnya, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Gothic Night”, </span></i><span style="font-weight: 400;">Bronfen mengangkat gagasan mengenai malam yang kerap diasosiasikan dengan feminitas. Situasi malam dalam berbagai kebudayaan populer dianalisis sebagai entitas irasional, pembalas dendam, bersifat klenik atau romantis, dan kerap menjadi latar atas berbagai wacana seksual. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam khasanah seni populer yang dibawakan seniman maskulin tentang subjek feminin misalnya, perempuan kerap direpresentasikan sebagai objek liyan yang muncul di malam hari. Misalnya, bagaimana film-film horor di Indonesia menampilkan sosok hantu perempuan sebagai korban kekerasan oleh laki-laki yang hanya bisa membalas dendam ketika sudah tak memiliki raga, dan muncul sebagai hantu di malam hari. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Bronfen, sebagai penawar atas cara pandang patriarkis demikian, muncul beberapa antitesis tentang kekuatan perempuan yang muncul di malam hari dalam kebudayaan populer. Salah satunya melalui gagasan </span><i><span style="font-weight: 400;">femme fatale, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau perempuan mematikan</span> <span style="font-weight: 400;">dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">film noir</span></i><span style="font-weight: 400;">, di mana mereka digambarkan sebagai pemburu keadilan di malam hari, menghabisi para penjahat laki-laki penguasa yang biasanya tak bisa tersentuh hukum pada siang hari. Dalam konteks berbeda, film horor Indonesia tentang perempuan yang mencari keadilan dalam wujud hantu juga mengikuti tren ini, meski sebetulnya film-film tersebut kerap tidak membawa perspektif feminis.</span></p>
<p><b>Psikoanalisis tentang Malam</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bronfen membahas mengenai aspek psikis para subjek yang muncul pada malam hari di bab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Night Talks”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Pembahasan psikoanalisis terhadap pembentukan alegori malam, tambah Bronfen, tidak bisa dilepaskan dari ide mengenai represi mengenai diurnalitas atau peristiwa di siang bolong Sigmund Freud.</span><span style="font-weight: 400;"> Cerita-cerita anak sarat dengan kondisi ini. Dengan penuturan lincah, Bronfen menyatakan bahwa Peter Pan yang diterbitkan lima tahun setelah “</span><i><span style="font-weight: 400;">Interpretation of Dreams”</span></i><span style="font-weight: 400;"> merupakan gambaran mengenai represi terhadap ekspresi seorang anak ketika hari masih terang. Sebaliknya, malam, menurut Bronfen, menjadi suprastruktur atau wadah penampung mimpi mereka. Di dalamnya terdapat sebuah ruang di mana bagian tidak sadar yang direpresi tuntutan sosial pada hari siang terang, pada akhirnya bisa diekspresikan tanpa batas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fenomena yang terjadi di malam hari, baik dalam keseharian maupun sastra dan seni, dianggap sebagai refleksi dari realita, dan menurut Bronfen merupakan wahana untuk melepaskan berbagai aspek yang merepresi kehidupan orang dewasa.</span> <span style="font-weight: 400;">Misalnya di tengah peristiwa sehari-hari, seperti klitih, kerap terjadi di malam hari. </span><span style="font-weight: 400;">Seturut pengalaman saya sebagai seorang korban serangan klitih, saya pun berkali-kali berupaya menalar pikiran pelaku ketika menyabetkan celurit ke bahu. Apakah perilaku tersebut sejatinya merupakan katarsis atas keseharian mereka yang direpresi? Mungkinkah klitih tidak bisa dilepaskan dari luapan emosional seseorang, tuntutan ekonomi, opresi otoritas terhadap individu atau kelompok sosial tertentu, dan berbagai tekanan lain yang pelaku alami di keseharian yang menghalangi kebebasan berekspresi mereka? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, memiliki agensi sosial di siang hari merupakan privilese yang tak dimiliki kaum tertindas. Hingga akhirnya, malam pun mewujud sebagai ruang liyan di mana orang-orang merasa bebas mengekspresikan diri mereka. Dalam hal ini, malam menjelma sebuah ruang bebas berekspresi bagi mereka yang terpinggirkan dan terbungkam, terutama tatkala mereka yang berkuasa terus merepresi segala aspek kehidupan. </span><span style="font-weight: 400;">Salah satu contohnya yakni aktivisme LGBT seperti Stonewall Riots, ataupun </span><i><span style="font-weight: 400;">drag show </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dihelat pada malam hari. Di sana ada perlawanan terhadap penguasa siang yang membatasi ruang ekspresi pelaku malam melalui aksi-aksi yang dianggap provokatif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Bronfen, ekspresi demikian juga bisa kita lihat dalam fenomena </span><i><span style="font-weight: 400;">doppelganger </span></i><span style="font-weight: 400;">atau gandamuka</span> <span style="font-weight: 400;">yang marak dalam karya sastra hingga kebudayaan pop. Seorang tokoh panutan di siang hari bisa jadi berubah total menjadi amoral pada malam hari. Salah satu contohnya, misal kasus Dr. Jekyll yang melepaskan hasrat terpendam melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">alter ego</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai Mr. Hyde pada malam hari, seperti dikisahkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde </span></i><span style="font-weight: 400;">(1886) karangan Robert Louis Stevenson yang mengangkat tema kepribadian ganda. Kompleksitas tuntutan sosial dalam masyarakat Inggris era Victoria memaksa Dr. Jekyll untuk merepresi hasrat yang terpendam dalam dirinya. Kala matahari bersemayam di ufuk, ia adalah pria dermawan yang ramah pada semua orang. Setelah surya tenggelam dan namanya berubah menjadi Mr. Hyde, hasrat ia untuk membunuh terlepas bebas. </span></p>
<p><b>Malam sebagai Entitas yang ‘Aneh’</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menolak anggapan tentang malam sebagai amoral, Bronfen melakukan kajian filsafat etika pada bab terakhir buku ini, “</span><i><span style="font-weight: 400;">The Ethics of Awakening”.</span></i> <span style="font-weight: 400;">Kebebasan berekspresi di malam hari dalam konteks buku ini merupakan sekumpulan gagasan tentang transgresi atau penyimpangan atas norma-norma sosial masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam hal ini, Bronfen menuliskan istilah tersendiri, yakni </span><i><span style="font-weight: 400;">unheimlich </span></i><span style="font-weight: 400;">atau secara harfiah berarti aneh. Di tengah masyarakat Indonesia, mungkin pengistilahan yang serupa adalah penyimpangan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Unheimlich</span></i><span style="font-weight: 400;">, menurut Bronfen, merupakan sarana menuju perubahan. Malam, dalam berbagai lapisan gagasan dan praktiknya, baik pada budaya populer ataupun keseharian, menjadi ‘ruang’ yang menampung berbagai kejanggalan tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Meminjam pengistilahan oleh Michel Foucault (1984), malam dianggap menjadi lahan subur bagi tumbuhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">heterotopia</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau ruang lain yang berisi sekumpulan ritual atau aktivitas aneh yang sebenarnya merupakan cerminan masyarakat sebagai unit sosial. Namun demikian, dalam pandangan normatif, </span><i><span style="font-weight: 400;">heterotopia</span></i><span style="font-weight: 400;"> seringkali dianggap </span><i><span style="font-weight: 400;">unheimlich; </span></i><span style="font-weight: 400;">suatu hal yang menyimpang, janggal, dan sebuah transgresi sosial. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, malam bisa jadi merupakan suaka. Segala keabsurdan </span><i><span style="font-weight: 400;">unheimlich </span></i><span style="font-weight: 400;">mengenai malam adalah perlindungan bagi mereka yang terinjak-injak oleh otoritas kuasa—entah itu patriarki, subjek institusi negara, dan sebagainya. Selama ini, malam menjadi hantu yang menggentayangi status quo kehidupan sehari-hari kita yang penuh penyalahgunaan kuasa. </span><span style="font-weight: 400;">Ketika malam bertandang, dan normativitas sosial ikut terlelap, kita bisa melihat bagaimana perjuangan atas identitas yang direpresi, pelan-pelan menyeruak dalam berbagai wujud, seperti digambarkan oleh Bronfen. Maka, malam seharusnya mulai dilihat sebagai ruang di mana revolusi bertumbuh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, apakah mungkin? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika berkaca dari ekspresi seni, sastra, dan literatur tentang malam yang terus berevolusi sepanjang zaman, saya tetap meyakini, selalu akan ada perubahan sosial, budaya, bahkan politik yang dibawa oleh hembusan angin malam. </span><span style="font-weight: 400;"></span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2024/10/malam/">Malam-Malam Janggal dalam Filsafat dan Budaya Populer</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1276</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merawat Bukan Hal Remeh! Cerita tentang Pasien Diabetes Mengakses Layanan Kesehatan di Belanda</title>
		<link>https://thesuryakanta.com/2023/04/merawat-bukan-hal-remeh/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=merawat-bukan-hal-remeh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Franceline Anggia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Apr 2023 15:01:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesuryakanta.com/?p=1055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mol, Annemarie. 2008. The Logic of Care: Health and the Problem of Patient Choice (Logika Merawat: Kesehatan dan Masalah Pilihan Pasien). Penerbit Routledge.</p>
<p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/04/merawat-bukan-hal-remeh/">Merawat Bukan Hal Remeh! Cerita tentang Pasien Diabetes Mengakses Layanan Kesehatan di Belanda</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/The-Logic-of-Care.jpg?resize=194%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="194" height="300" class="size-medium wp-image-1057 alignright" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/The-Logic-of-Care.jpg?resize=194%2C300&amp;ssl=1 194w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/The-Logic-of-Care.jpg?w=350&amp;ssl=1 350w" sizes="(max-width: 194px) 100vw, 194px" /><strong>Mol, Annemarie. 2008. <em>The Logic of Care: Health and the Problem of Patient Choice</em> (Logika Merawat: Kesehatan dan Masalah Pilihan Pasien). Penerbit Routledge.</strong><br />
</span></p>
<hr />
<p><span style="font-weight: 400;">Apa itu perawatan </span><i><span style="font-weight: 400;">(care)</span></i><span style="font-weight: 400;">? Bagaimana menjelaskan praktik perawatan yang memadai </span><i><span style="font-weight: 400;">(good care)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam konteks layanan kesehatan? </span><span style="font-weight: 400;">Dalam buku </span><i><span style="font-weight: 400;">The Logic of Care: Health and the Problem of Patient Choice </span></i><span style="font-weight: 400;">(2008), </span><span style="font-weight: 400;">Profesor Antropologi Universitas Amsterdam, Annemarie Mol mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui uraian etnografis mengenai pengalaman pasien diabetes dan hubungan perawatan dalam praktik pengobatan di Belanda, baik di dalam maupun luar klinik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buku ini lahir dari keraguan Mol terhadap pilihan individu </span><i><span style="font-weight: 400;">(individual choice)</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang kerap dianggap sebagai proyeksi normatif paling ideal guna mewujudkan emansipasi individu terhadap keputusan mereka sendiri</span><span style="font-weight: 400;">. Termasuk, pilihan pribadi terhadap tubuh mereka sekalipun tubuh itu sedang sakit.  Dalam ide mengenai pilihan individu, tersirat sudut pandang bahwasannya setiap orang memiliki kesempatan setara dalam membuat keputusan berdasarkan kehendak mereka sendiri. </span><span style="font-weight: 400;">Pandangan ini menjadi ciri khas liberalisme yang menempatkan logika pilihan (</span><i><span style="font-weight: 400;">the logic of choice</span></i><span style="font-weight: 400;">), yakni kemampuan individu untuk memilih diasumsikan sebagai prasyarat dari manusia otonom</span><span style="font-weight: 400;"> (hlm. 62). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila logika pilihan dilekatkan pada konteks layanan kesehatan, keputusan atas preferensi gaya hidup, mekanisme pengobatan serta tujuan suatu praktik pengobatan yang dinilai ideal dan tidak ideal diserahkan sepenuhnya pada penilaian pasien secara individual. Alhasil, logika pilihan menilai layanan kesehatan sebagai persoalan privat, terisolasi dari relasi sosial yang lebih besar. Logika pilihan menggarisbawahi rasionalitas sebagai elemen krusial yang dimiliki individu bebas. Menurut Mol, logika pilihan menjadi mesin penggerak berbagai kampanye dan program kesehatan masyarakat yang mengarusutamakan emansipasi pasien. Logika tersebut dilakukan dengan memosisikan pasien sebagai konsumen yang bebas menentukan preferensi layanan kesehatan seakan-akan produk cepat saji yang siap dibeli. Secara tak langsung, logika pilihan memisahkan secara tegas antara kemampuan pasien sebagai individu dengan peranan komunitas, keluarga, serta tenaga kesehatan profesional yang berkontribusi pada praktik perawatan. </span></p>
<div id="attachment_1058" style="width: 310px" class="wp-caption alignleft"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1058" src="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/Annemarie-Mol-e1680706656674-300x200.jpg?resize=300%2C200&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="200" class="wp-image-1058 size-medium" srcset="https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/Annemarie-Mol-e1680706656674.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/Annemarie-Mol-e1680706656674.jpg?resize=360%2C240&amp;ssl=1 360w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/Annemarie-Mol-e1680706656674.jpg?resize=272%2C182&amp;ssl=1 272w, https://i0.wp.com/thesuryakanta.com/wp-content/uploads/2023/04/Annemarie-Mol-e1680706656674.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><p id="caption-attachment-1058" class="wp-caption-text">Annemarie Mol</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Melalui gaya penceritaan Mol yang luwes dan penuh kepekaan, ia menunjukkan bagaimana logika pilihan tak serta merta tidak bisa dipraktikkan secara ideal dalam situasi tertentu. Pasalnya, menitikberatkan logika pilihan dalam hubungan perawatan tidak lantas membangun kesejahteraan hidup seorang pasien. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam hal ini, kesejahteraan dipahami sebagai kesatuan kondisi fisik, emosional dan mental yang memadai untuk menunjang keberlangsungan hidup individu. Dalam konteks penelitian Mol, upaya memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi pasien diabetes untuk menentukan pilihan rutinitas pengobatan dan asupan makanan justru akan menggiring pasien mengalami kompleksitas penyakit, penurunan kualitas hidup, hingga kematian. Pada akhirnya, berbagai konsekuensi negatif yang timbul dari keputusan pasien dianggap merupakan tanggung jawab mereka seutuhnya sebagai subjek penentu pilihan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam bab pertama, pembaca dapat menangkap keberpihakan Mol untuk tidak menganggap keputusan individu dalam mengakses layanan kesehatan sebagai hal terberi </span><i><span style="font-weight: 400;">(self-evidently given). </span></i><span style="font-weight: 400;">Alih-alih, kita perlu menyorot kompleksitas situasi yang mendukung pilihan pasien dalam hubungan perawatan di sekitar mereka. </span><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, memberi kebebasan seluas-luasnya kepada pasien untuk memilih mekanisme pengobatan dan preferensi gaya hidup yang mereka inginkan, bisa jadi malah merupakan bentuk pengabaian. Padahal, pengabaian mestinya tidak terjadi dalam perawatan kesehatan. Bagi Mol, logika pilihan bukanlah prasyarat atas hubungan perawatan yang semestinya dapat mewujudkan kesejahteraan hidup pasien. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atas dasar keraguan dan kritik terhadap logika pilihan, Mol menawarkan sudut pandang yang ia kontraskan dengan logika pilihan, yakni logika perawatan (</span><i><span style="font-weight: 400;">the logic of care</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Melalui bingkai logika perawatan, Mol menyorot bagaimana pasien memiliki agensi dalam menentukan pengaturan perawatan mereka, tetapi tidak semata hadir sebagai subjek yang bebas sama sekali dalam menentukan pilihan dalam hubungan perawatan mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dari asumsi logika pilihan, logika perawatan berangkat dari kesadaran bahwa penerima perawatan bukanlah individu yang saling setara. Metabolisme tubuh pasien pengidap diabetes memang punya karakteristik serupa, yakni tidak cukup memproduksi insulin untuk mengolah gula darah. Akan tetapi, fakta biologis tersebut dialami secara spesifik antara individu pengidap penyakit diabetes. Maka dari itu, setiap pasien bisa jadi memiliki keinginan dan harapan berbeda dari perawatan yang mereka terima lantaran perbedaan tingkat keparahan dan tipe penyakit. Perbedaan pengalaman tersebut juga dibentuk oleh berbagai aspek kehidupan lainnya yang saling berkait. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam perbedaan pengalaman sakit tersebut, praktik perawatan yang memadai mestinya menyediakan ruang bagi pasien untuk menyuarakan apa-apa yang dianggap penting bagi mereka. Di waktu yang sama, pelayan kesehatan juga perlu membantu pasien mengkompromikan antara kepentingan pasien dan kebutuhan perawatan penyakit. Selain itu, logika perawatan juga mencakup bagaimana pengetahuan dan teknologi medis disesuaikan dengan pengalaman subjektif pasien.</span><span style="font-weight: 400;"> Dalam hal ini, perawatan disorot sebagai upaya kerja kolaboratif yang penuh tarikan dan tegangan, penyesuaian secara iteratif dan upaya menyeimbangkan keinginan dengan kebutuhan pasien dalam waktu tertentu. Hubungan perawatan yang berliku inilah yang gagal disorot oleh logika pilihan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa mendiskreditkan logika pilihan, Mol meyakini bahwa pasien bukanlah subjek pasif dalam hubungan perawatan. Argumen tersebut diperkuat melalui uraian etnografis Mol terhadap praktik perawatan yang melibatkan pasien diabetes dengan tenaga kesehatan. Pasien yang dijumpai Mol diajarkan untuk menginjeksi insulin, mengenali ritme mereka sendiri untuk mencatat kadar gula dengan mandiri, hingga berpantang. Kesemuanya merupakan inti dari latihan hidup berdampingan dengan penyakit. Pasalnya, sehat dan sembuh merupakan dua hal di luar jangkauan pasien diabetes, sebab mereka perlu menjalani pengobatan seumur hidup. Dengan demikian, esensi praktik perawatan melampaui penyediaan informasi dan penyebarluasan pengetahuan seputar penyakit serta cara mengatasinya. Alih-alih, praktik perawatan berupaya mendorong pasien untuk menjalani hidup berkualitas bersama penyakit yang mereka idap: </span><i><span style="font-weight: 400;">“life with diabetes may be tough, but it is life. It may, in many ways, be a good life too” </span></i><span style="font-weight: 400;">(hlm. 40). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diingat bahwa penelitian Mol hanya berpusat pada perawatan spesifik di kalangan pasien dengan penyakit kronis diabetes. Secara tidak langsung, buku ini membuka arena eksplorasi baru untuk menelusuri bagaimana logika pilihan dan logika perawatan berkonfigurasi secara unik dalam berbagai bentuk hubungan perawatan, alih-alih melihat keduanya sebagai gagasan berlawanan. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam corak hubungan perawatan lain, bisa jadi logika pilihan dan logika perawatan berada dalam spektrum bahwa dalam kondisi tertentu, intervensi dibutuhkan untuk mengisi kerapuhan kebebasan pilihan individu. Kritik terhadap logika pilihan dan elaborasi mengenai logika perawatan bisa menjadi menjadi evaluasi demi mewujudkan penyediaan perawatan secara memadai, dimaknai secara dinamis sesuai konteks. Tak kalah penting, praktik merawat sebagai kerja kolaboratif yang melibatkan waktu, sumber daya ekonomi, tenaga fisik dan kemampuan afektif pada akhirnya mengingatkan kita untuk mempertanyakan: mengapa kerja perawatan kerap kali dipandang sebagai kerja remeh dan tersembunyi?</span></p><p>The post <a href="https://thesuryakanta.com/2023/04/merawat-bukan-hal-remeh/">Merawat Bukan Hal Remeh! Cerita tentang Pasien Diabetes Mengakses Layanan Kesehatan di Belanda</a> first appeared on <a href="https://thesuryakanta.com">The Suryakanta</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1055</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
