Ketika Ketimpangan Struktural Menimbulkan Luka Mental
Kohrt, Brandon A., dan Emily Mendenhall (eds). 2015. Global Mental Health: Anthropological Perspectives (Kesehatan Mental Global: Perspektif Antropologi). Routledge.
“Dok, pasien yang demam berdarah tadi mau dipindah ke ruangan?” Sekelumit percakapan yang kerap saya dengar sebagai tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat ini menggambarkan bagaimana sistem kesehatan seringkali mengatribusi seorang pasien pada penyakitnya. Di tengah sibuknya pelayanan pasien, saya kerap melupakan kondisi sosial yang berpengaruh besar pada kesehatan seseorang. Meski kurikulum kedokteran telah menyelipkan beberapa materi terkait determinan sosial yang mempengaruhi kesehatan, kecilnya proporsi materi tersebut membuat komponen ini seringkali terpinggirkan, hadir hanya sebagai komplemen untuk membantu menjelaskan kondisi pasien saat diagnosis akhir sulit didapat dari pengalaman individunya saja. Buku Global Mental Health: Anthropological Perspectives inilah yang akhirnya memberi andil besar dalam mengoreksi perspektif saya saat membacanya sebagai bacaan wajib dalam materi kuliah S2 tentang kesehatan mental global.
Buku ini menampilkan benang merah terkait masalah struktural dan ketimpangan sistem yang menjadi faktor pencetus kerentanan bagi masyarakat hingga akhirnya mengidap penyakit. Gangguan mental adalah salah satu contoh yang paling menggambarkan keterkaitan ini, karena masalah struktural seringkali luput dari perspektif medis yang cenderung mengatribusi kelainan tersebut pada masalah individu seperti lemahnya resiliensi personal dan kegagalan mekanisme adaptasi. Gerakan kesehatan mental global berusaha membuka mata masyarakat dan pemangku kebijakan terkait pentingnya menyelesaikan masalah sosial ini. Namun, pada prosesnya, gerakan global yang masih didominasi oleh pemangku kepentingan di negara maju ini seringkali justru makin memperburuk ketimpangan struktural yang dikritiknya itu.
Ragam debat dan perspektif dalam gerakan kesehatan mental global disajikan melalui lensa antropologi medis, yang dihadirkan dalam pengantar hingga bab 1 dan 2. Para penyunting buku, Brandon Kohrt dan Emily Mendenhall, dibarengi dengan Peter Brown, dengan baik mensituasikan pembaca tentang bidang-bidang ini. Pembagian buku dalam tiga bagian besar membawa pembaca memahami kelemahan metode identifikasi akar masalah yang saat ini bersandar pada perspektif biomedis, dilanjutkan dengan kekurangan pendekatan terapi dan layanan kesehatan bagi para penyintas, dan diakhiri dengan gambaran model alternatif yang telah diupayakan untuk menambal permasalahan ini di tingkat komunitas. Dalam kerangka tersebut, buku ini memulai pembahasan dari kondisi struktural yang membentuk kerentanan mental, sebelum menelusuri bagaimana layanan dan intervensi merespons, atau gagal merespons, kondisi tersebut.
Bagian I: Ketimpangan Struktural sebagai Akar Penderitaan Mental
Bagian pertama (Bab 3-8) membahas faktor-faktor sosial dan struktural dari kelainan mental. Pada Bab 3 Amber Wutich dkk. mengangkat isu iklim dan krisis air yang memberikan dampak negatif lebih banyak bagi masyarakat sosioekonomi. Pada akhirnya, mereka mendapatkan stigma dan tekanan psikologis berlapis lantaran ketiadaan air dapat menghambat kebutuhan dasar, higienitas diri, dan lingkungan tinggal mereka. Bab 4 dan 5 mengangkat isu kesehatan mental akibat rasa gagal dan ketidakpastian akan masa depan yang ternyata secara universal dialami oleh mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap lapangan pekerjaan, baik di luar negeri maupun di kampung halaman. Pengalaman ini tergambar dalam kisah pengungsi Iraq di negara transit yang disampaikan oleh Nadia El-Shaarawi, dan pada fenomena pengangguran pemuda di Ethiopia yang ditulis oleh Daniel Mains.
Bab 6 dan 7 mengangkat isu gender pada dua konteks berbeda. Pada bab 6 misalnya, Eileen Anderson-Fye membahas bagaimana perempuan di Belize yang menjadi korban kekerasan seksual harus bertahan dalam sistem yang menormalisasi tekanan tersebut dalam kultur patriarki hingga akhirnya kemandirian ekonomi membebaskan para perempuan tersebut dari rantai kekerasan. Sementara pada Bab 7, Kristin Yarris menggambarkan bagaimana jalan menuju kemandirian ekonomi seorang anak perempuan di Nikaragua justru menjadi tantangan lintas generasi bagi orang tuanya yang mendapat limpahan tanggung jawab untuk merawat cucu mereka yang harus ditinggalkan akibat desakan migrasi. Bab 8 karya Daniel H. Lende dan Sarah Fishleder tentang adiksi di Kolombia menutup bagian pertama dengan menunjukkan kehidupan lokal para pengguna narkoba dan bagaimana konteks sosial-ekonomi, dan bukan sekedar pilihan individu, turut membentuk kerentanan terhadap adiksi.
Bagian II: Akses Layanan dan Diskriminasi Berlapis
Bagian kedua (Bab 9-14) menggeser fokus ke bagaimana layanan kesehatan mental diakses, atau justru tidak dapat diakses, baik dalam konteks negara berkembang maupun negara maju.
Bab 9 yang ditulis oleh Hunter Keys bercerita tentang diskriminasi berlapis dan rasisme yang dialami migran Haiti di Republik Dominika yang mengecilkan self-worth para migran dan menimbulkan kecemasan. Sayangnya, alasan yang menimbulkan kecemasan itu juga menjadi penyebab sulitnya mengakses layanan kesehatan yang sensitif secara kultur bagi populasi migran Haiti. Tema bab ini berkelindan dengan Bab 12 oleh Emily Mendenhall yang menggambarkan bagaimana kemiskinan menghambat layanan kesehatan pada komunitas imigran Meksiko di Amerika Serikat. Meskipun Republik Dominika dan Amerika Serikat berada di kategori pendapatan negara yang jauh berbeda, pengalaman dan tantangan yang dihadapi imigran tetap serupa: kesulitan mengakses pekerjaan dan layanan kesehatan yang sensitif secara kultur. Tema migrasi ini juga disentuh dalam Bab 10 oleh Jeffrey G. Snodgrass yang mengamati suku Sahariya di India yang dipaksa untuk relokasi dari rumahnya demi pembukaan lahan area konservasi alam.
Bab 11 karya Jack R. Friedman membawa pembaca ke post-socialist Romania, di mana sistem penanganan kesehatan mental melalui institusionalisasi atau rawat inap masih acap digunakan di tengah pergeseran menuju model perawatan komunitas. Friedman menemukan lonjakan signifikan penghuni perempuan yang dirawat dengan kasus depresi sejak transformasi ekonomi di akhir 1990-an, terutama pada mereka yang membesarkan anak akibat beban emosional dan finansial imbas krisis ekonomi yang dilimpahkan dari ranah politik ke ranah privat. Kerentanan perempuan ini juga dibahas dalam konteks Amerika Serikat pada Bab 13 karya Erin P. Finley yang menceritakan tidak memadainya penanganan post-traumatic stress disorder di kalangan veteran perang perempuan.
Terakhir, Bab 14 oleh Sarah S. Willen dengan Anne Kohler membahas kekurangan dari konsep kompetensi kultural dalam pelatihan residen psikiatri. Pendekatan kompetensi kultural yang superfisial tanpa upaya untuk benar-benar memahami konteks budaya pasien, justru memperkuat stereotip, alih-alih mengurangi stigma dalam pelayanan. Kritik ini bergema dengan temuan Friedman tentang bagaimana adopsi paradigma psikiatri Barat di Romania gagal mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi lokal yang membentuk beban mental masyarakatnya.
Bagian III: Task-Shifting dan Dilema Model Alternatif
Bagian ketiga (Bab 15-19) mengeksplorasi model layanan alternatif, khususnya task-shifting yang merupakan pergeseran layanan kesehatan dari profesional ke komunitas, namun dengan berbagai area khusus yang perlu diperhatikan.
Bab 15 karya Kohrt dengan Reverend Bill Jallah membahas kesenjangan antropologi dalam kesehatan mental global. Bab 16 oleh Bonnie N. Kaiser dan Kristen E. McLean menggambarkan bagaimana solusi berupa apprenticeship psikiatri atau pendidikan dan pelatihan yang lebih singkat dapat memberikan harapan pulih bagi penyintas yang tinggal di pedalaman.
Potensi peningkatan akses layanan ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang konsekuensi bagi relawan kesehatan di komunitas yang seringkali terabaikan, seperti diceritakan di Bab 17 dan 18. Dengan mengambil tempat di dua negara berbeda, Kenneth Maes di Ethiopia dan Ippolytos Kalofonos di Mozambik, keduanya menyoroti relawan kesehatan dalam memberikan layanan tanpa dibayar untuk pasien HIV. Keduanya menggarisbawahi masalah yang sama, yaitu kurangnya rekognisi bagi para relawan dan keterbatasan sumber daya. Kondisi ini meningkatkan rasa cemas karena ketidakberdayaan mereka yang kuasanya terbatas sebagai penghubung antara sistem dengan pasien. Hal ini juga terjadi di Amerika Serikat, konteks negara maju yang disoroti Neely Myers di Bab 19, di mana konselor sebaya yang diberdayakan untuk membantu pemulihan pasien psikosis menghadapi tantangan serupa. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa meski task-shifting membawa “shared humanity” dan mendekatkan layanan ke komunitas, ada risiko eksploitasi dan ancaman keberlanjutan jika tidak disertai dengan dukungan memadai dari sistem.
Kritik terhadap Agenda Global yang Top-Down dan Keterbatasan Representasi
Di seluruh buku ini terlihat benang merah kritik terhadap pendekatan global yang kerap terlepas dari realitas di lapangan. Keterbatasan dana dan sumber daya mendorong pemerintah serta organisasi kesehatan mengikuti pola intervensi yang ditentukan donor meskipun tidak selalu sesuai kebutuhan lokal. Tekanan semacam ini melahirkan budaya yang meningkatkan akuntabilitas secara administratif, tetapi menggeser perhatian dari kualitas ke kuantitas. Contoh dari India Utara menunjukkan bagaimana penggunaan obat antipsikosis meningkat akibat overprescription untuk memenuhi target program serious mental illness, meskipun banyak pasien sebenarnya tidak membutuhkan obat tersebut.
Namun, kritik terhadap bias epistemik ini justru membawa kita pada ironi lain yaitu keterbatasan representasi dalam buku ini sendiri. Dari 19 bab, mayoritas penulis berafiliasi dengan institusi Global North. Dominasi ini mereproduksi ketimpangan yang dikritik oleh buku ini dan memunculkan kembali pertanyaan mendasar tentang siapa yang memiliki otoritas untuk berbicara mengenai kesehatan mental global. Jika dekolonisasi ingin diwujudkan secara substansial, suara-suara dari Global South, terutama mereka yang memiliki pengalaman hidup sebagai penyintas atau pekerja komunitas, perlu hadir sebagai penghasil pengetahuan, bukan sekadar objek etnografi. Kontribusi penulis dari Global North tetap penting karena menghadirkan analisis tajam dan etnografi mendalam. Namun, narasi global akan lebih kuat jika aktor-aktor dari Global South menjadi bagian sentral dalam produksi pengetahuan.
Pada akhirnya, bagi saya pribadi, buku ini mengubah cara saya memandang peran saya sebagai tenaga kesehatan untuk melihat penderitaan pasien tak hanya sebagai sekumpulan gejala yang perlu diobati, tetapi juga melihat jaringan relasi sosial, struktur ekonomi, dan sistem politik yang mencetuskan penderitaan tersebut. Pertanyaannya kini: akankah generasi berikutnya dari praktisi dan peneliti kesehatan mental global benar-benar memberikan panggung kepada suara-suara dari Global South? Atau kita akan terus terjebak dalam ironi yang sama, mengkritik kolonialisme epistemik sambil memproduksinya kembali?